Minggu, 31 Juli 2011

KETIKA ENGKAU BERSEMBAHYANG

  • Ketika engkau bersembahyang... Oleh takbirmu pintu langit terkuakkan.... Partikel udara dan ruang hampa bergetar... Bersama-sama mengucapkan Allahu Akbar .... Bacaan Al-Fatihah dan surah.. Membuat kegelapan terbuka matanya .... Setiap doa dan pernyataan pasrah ..... Membentangkan jembatan cahaya .... Tegak tubuh alifmu mengakar ke pusat bumi .... Ruku' lam badanmu memandangi asal-usul diri .... Kemudian mim sujudmu menangis ... Di dalam cinta Allah hati gerimis .... Sujud adalah satu-satunya hakekat hidup ..... Karena perjalanan hanya untuk tua dan redup ..... Ilmu dan peradaban takkan sampai .. Kepada asal mula setiap jiwa kembali ... Maka sembahyang adalah kehidupan ini sendiri .... Pergi sejauh-jauhnya agar sampai kembali .... Badan di peras jiwa dipompa tak terkira-kira .... Kalau diri pecah terbelah, sujud mengukuhkannya .... Sembahyang di atas sajadah cahaya ... Melangkah perlahan-lahan ke rumah rahasia .... Rumah yang tak ada ruang tak ada waktunya ... Yang tak bisa dikisahkan kepada siapapun .... Oleh-olehmu dari sembahyang adalah sinar wajah ... Pancaran yang tak terumuskan oleh ilmu fisika ... Hatimu sabar mulia, kaki seteguh batu karang ... Dadamu mencakrawala ..., seluas 'arasy sembilan puluh sembilan........ 
      
    Oleh :Emha Ainun Najib السلام عليكم ورحمة الله و بركاته بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم Bismillahir-Rahmanir-Rahim ..... "Barang siapa memelihara shalat, maka shalat tersebut akan menjadi cahaya, bukti dan penyelamat baginya di hari kiamat." ( HR. Ahmad & Ibnu Hibban) Rasulullah Saw. bersabda, "Permulaan perkara yang diwajibkan oleh Allah Azza Wajalla kepada umatku adalah shalat lima waktu, permulaan pahala amal pebuatan yang diangkat ke langit adalah shalat lima waktu. Permulaan amal perbuatan yang dimintai pertanggungjawaban adalah shalat." Imam Muslim dalam hadits shahihnya meriwayatkan: "Tiada seorang muslim yang menjumpai waktu shalat, kemudian ia berwudhu dengan baik, menjalankan shalat dengan khusu’ maka shalat itu akan menjadi penghapus dosa-dosa yang penah dijalankan selama ia tidak menjalakan dosa besar. Demkian terjadi sepanjang masa." Dijelaskan dalam hadits : Barang siapa yang memelihara shalat wajib dengan baik maka Allah akan memuliakan dengan lima perkara : 
    1. Ia akan terhindar dari kesempitan hidup.
    2. Ia akan tehindar / selamat dari siksa kubur.
    3. Ia akan menerima catatan amalnya dengan tangan kanan.
    4. Ia akan meliwati shirat dengan cepat laksana kilat.
    5. Masuk surga tanpa hisab. 
     
    Barang siapa mengabaikan shalat wajib maka akan menerima lima belas macam siksaan, enam siksaan di dunia, tiga siksaan ketika mati, tiga siksaan ketika di dalam kubur dan tiga sisaan ketika bangkit dari kubur. Enam siksaan yang akan terima di dunia adalah : 
     
    1. Berkah umurnya dicabut.
    2. Tanda-tanda orang Shalih di wajahnya sudah tidak ada 
    3. Setiap amal yang dilakukan tidak akan diberi pahala oleh Allah 
    4. Tidak dikabulkan do’anya
    5. Tidak mendapat do’a dari orang - orang yang shalih. 
    6. Dibenci oleh orang banyak 
     
    Tiga siksaan ketika menghadapi kematian adalah :
    1. Mati dalam keadaan terhina.
    2. Mati dalam keadaan lapar
    3. Mati dengan keadaan haus, meskipun diberi minum sebanyak satu lautan tidak akan bisa menyegarkan tenggorokannya. 
     
    Tiga Siksaan ketika dalam kubur adalah : 
     
    1. Kuburnya dipersempit hingga tubuhnya terjepit dan tulang rusuknya rusak.
    2. Ruang kuburnya terisi api, sehingga ia terus kesakitan bergelimang di atas bara. 
    3. Di dalam kuburnya akan bertemu dengan ular yang diperintahkan oleh Allah Azza Wajalla untuk menyiksa orang yang meninggalkan shalat tersebut. 
     
    Tiga siksaan yang diterima ketika bangkit dari kuburan adalah : 
    1. Hisab/perhitungan amal yang sangat ketat.
    2. Di benci oleh Allah
    3. Masuk ke dalam neraka.
     
    Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang memasuki pasar maka hendaklah ia membaca : "Laa ilaaha illallahu wahdahuu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumiitu, wa huwa hayyun laa yamuutu, biyadihil khoir, wa huwa 'alaa kulli syai'in qodiir..." (Tiada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian, Yangmenghidupkan dan Mematikan. Ia hidup dan tidak mati, di Tangan-Nya kebaikan dan Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu.), maka Allah akan menulis baginya satu juta kebaikan, dihapuskan darinya satu juta kejelekan dan diangkat dirajatnya satu juta dirajat." Dan dalam riwayat lain disebutkan: "Dan akan dibangun untuknya rumah di surga." (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim)
     
    Keutamaan shalat di awal Waktu Imam Thobroni meriwayatkan sebuah hadits: "Amal perbuatan yang paling dicintai di sisi Allah Azza Wajalla adalah menjalankan shalat wajib pada permulaan waktunya." Rasulullah saw. bersabda, "Bila seseorang menjalankan shalat pada permulaan waktu maka shalat itu dibawa ke atas, ia mempunyai cahaya hingga ke Arasy. 
     
    Lantas cahaya tadi memintakan ampun kepada orang yang memilikinya sampai hari kiamat, lantas berkata : semoga engkau dipelihara dengan baik sebagaimana engkau memeliharaku dengan baik. Namun bila seseorang menjalankan shalat di luar waktu yang telah ditentukan maka shalat itu diangkat ke langit dengan warna yang hitam kelam, setelah sampai di langit maka shalat itu dilipat sebagaimana dilipatnya pakaian yang lusuh, kemudian dilemparkan kewajah yang memilikinya." Seputar Menyia-nyiakan & mengakhirkan waktu shalat "Maka, datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui sesesatan. 
     
    Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh." (Maryam: 59--60).
    Ibnu Abbas berkata, "Makna menyia-yiakan salat salat bukanlah meninggalkannya sama sekali, tetapi mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya." Imam para tabi'in, Sa'id bin Musayyib berkata, "Maksudnya adalah orang itu tidak mengerjakan salat duhur sehingga datang waktu asar; tidak mengerjakan asar sehingga datang magrib; tidak salat magrib sampai datang isya; tidak salat isya sampai fajar menjelang; tidak salat subuh sampai matahari terbit. Barang siapa mati dalam keadaan terus-menerus melakukan hal ini dan tidak bertobat, Allah menjanjikan baginya Ghayy, yaitu lembah di neraka Jahanam yang sangat dalam dasarnya lagi sangat tidak enak rasanya." "Maka, kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lupa akan salatnya." Al-Maa'uun: 4--5). 
     
    Orang-orang lupa adalah orang-orang yang lalai dan meremehkan salat. Sa'ad bin Abi Waqqash berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang orang-orang yang lupa akan salatnya. Beliau menjawab, yaitu mengakhirkan waktunya." Mereka disebut orang-orang yang salat. Namun, ketika mereka meremehkan dan mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya, mereka diancam dengan Wail, azab yang berat. Ada juga yang mengatakan bahwa Wail adalah sebuah lembah di neraka Jahanam, jika gunung-gunung yang ada dimasukkan ke sana niscaya akan meleleh semuanya karena sangat panasnya. Itulah tempat bagi orang-orang yang meremehkan salat dan mengakhirkannya dari waktunya.
     
    Kecuali, orang-orang yang bertobat kepada Allah Taala dan menyesal atas kelalaiannya. "Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al-Munafiqun: 9). Para mufasir menjelaskan, "Maksud mengingat Allah dalam ayat ini adalah salat lima waktu. Maka, barang siapa disibukkan oleh harta perniagaannya, kehidupan dunianya, sawah ladangnya, dan anak-anaknya dari mengerjakan salat pada waktunya, maka ia termasuk orang-orang yang merugi." Rasulullah saw. bersabda yang artinya, "Amal yang pertama kali dihisab padahari kiamat dari seorang hamba adalah salatnya.
     
    Jika salatnya baik maka telah sukses dan beruntunglah ia, sebaliknya, jika rusak, sungguh telah gagal dan merugilah ia." (HR Tirmizi dan yang lain dari Abu Hurairah. Ia berkata, "Hasan Gharib.") "Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan 'Laa ilaaha illallah' (Tiada yang berhak diibadahi selain Allah) dan mengerjakan salat serta membayar zakat. Jika mereka telah memenuhinya, maka darah dan hartanya aku lindungi kecuali dengan haknya. Adapun hisabnya maka itu kepada Allah." HR Bukhari dan Muslim). Dan, "Barang siapa menjaganya maka ia akan memiliki cahaya, bukti, dan keselamatan pada hari kiamat nanti. Sedang yang tidak menjaganya, maka tidak akan memiliki cahaya, bukti, dan keselamatan pada hari itu. Pada hari itu ia akan dikumpulkan bersama Firaun, Qarun, Haman, dan ubay bin Khalaf." (HR Ahmad). Sebagian ulama berkata, "Hanyasanya orang yang meninggalkan salat dikumpulkan dengan empat orang itu karena ia telah menyibukkan diri dengan harta, kekuasaan, pangkat/jabatan, dan perniagaannya dari salat. Jika ia disibukkan dengan hartanya, ia akan dikumpulkan bersama Qarun. Jika ia disibukkan dengan kekuasaannya, ia akan dikumpulkan dengan Firaun.
     
    Jika ia disibukkan dengan pangkat/jabatan, ia akan dikumpulkan bersama Haman. Dan, jika ia disibukkan dengan perniagaannya akan dikumpulkan bersama Ubay bin Khalaf, seorang pedagang yang kafir di Mekah saat itu." Mu'adz bin Jabal meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa meninggalkan salat wajib dengan sengaja, telah lepas darinya jaminan dari Allah Azza wa Jalla." (HR Ahmad). Umar bin Khattab berkata, "Sesungguhnya tidak ada tempat dalam Islam bagi yang menyia-nyiakan salat." Umar bin Khattab meriwayatkan, telah datang seseorang kepada Rasulullah saw. dan bertanya, "Wahai Rasulullah, amal dalam Islam apakah yang paling dicintai oleh Allah Taala?" Beliau menjawab, "Salat pada waktunya. Barang siapa meninggalkannya, sungguh ia tidak lagi memiliki agama lagi, dan salat itu tiangnya agama." Kala Umar terluka karena tusukan, seseorang mengatakan, "Anda tetap ingin mengerjakan salat, wahai Amirul Mukminin?" "Ya, dan sungguh tidak ada tempat dalam Islam bagi yang menyia-nyiakan salat," jawabnya. Lalu, ia pun mengerjakan salat, meski dari lukanya mengalir darah yang cukup banyak. 
     
    Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan menyia-nyiakan salat, Dia tidak akan mempedulikan sautu kebaikan pun darinya." Ibnu Hazm berkata, "Tidak ada dosa yang lebih besar sesudah syirik, selain mengakhirkan salat dari waktunya dan membunuh seorang mukmin bukan dengan haknya." Aun bin Abdullah berkata, "Apabila seorang hamba dimasukkan ke dalam kuburnya, ia akan ditanya tentang salat sebagai sesuatu yang pertama kali ditanyakan. Jika baik barulah amal-amalnya yang lain dilihat. Sebaliknya, jika tidak, tidak ada satu amalan pun yang dilihat (dianggap tidak baik semuanya)." Rasulullah saw. bersabda, "Apabila seorang hamba mengerjakan salat di awal waktu, salat itu--ia memiliki cahaya--akan naik ke langit sehingga sampai ke Arsy, lalu memohonkan ampunan bagi orang yang telah mengerjakannya, begitu seterusnya sampai hari kiamat. Salat itu berkata, 'Semoga Allah menjagamu sebagaimana kamu telah menjagaku.' Dan, apabila seorang hamba mengerjakan salat bukan pada waktunya, salat itu--ia memiliki kegelapan--akan naik ke langit.
     
    Sesampainya di sana ia akan dilipat seperti dilipatnya kain yang usang, lalu dipukulkan ke wajah orang yang telah mengerjakannya. Salat itu berkata, 'Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana kamu telah menyia-nyiakanku." Rasulullah saw. bersabda, "Ada tiga orang yang salatnya tidak diterima oleh Allah: seseorang yang memimpin suatu kaum padahal kaum itu membencinya; seseorang yang mengerjakan salat ketika telah lewat waktunya; dan seseorang yang memperbudak orang yang memerdekakan diri." HR Abu Dawud dari Abdullah bin Amru bin Ash). 
     
    Beliau saw. juga bersabda, Barang siapa menjamak dua salat tanpa ada uzur, sungguh ia telah memasuki pintu terbesar di antara pintu-pintu dosa besar." Dalam sebuah hadis yang lain disebutkan, "Sesungguhnya orang yang selalu menjaga salat wajib niscaya akan dikaruniai oleh Allah SWT dengan lima karamah: ditepis darinya kesempitan hidup, dijauhkan ia dari azab kubur, diterimakan kepadanya cacatan amalnya dengan tangan kanan, ia akan melewati shirath seperti kilat yang menyambar, dan akan masuk surga tanpa hisab. 
     
    Sebaliknya, orang yang menyia-nyiakannya niscaya akan dihukum oleh Allah dengan empat belas (14) hukuman: lima di dunia,tiga ketika mati, tiga di alam kubur, dan tiga lagi ketika keluar dari kubur. Kelima hukuman di dunia adalah barakah dicabut dari hidupnya, tanda sebagai orang saleh dihapus dari wajahnya, semua amalan yang dikerjakannya tidak akan diberi pahala oleh Allah, doanya tidak akan diangkat ke langit, dan dia tidak akan mendapat bagian dari doanya orang-orang saleh. Hukuman yang menimpanya ketika mati adalah dia akan mati dalam kehinaan, dalam kelaparan, dan dalam kehausan. Meskipun ia diberi minum air seluruh lautan dunia, semua itu tidak mampu menghilangkan dahaganya. Hukuman yang menimpanya dikubur adalah kuburnya menyempit sehingga tulang-tulangnya remuk tak karuan, dinyalakan di sana api yang membara siang-malam, dan ia dihidangkan kepada seekor ular yang bernama As-Suja al-Aqra. Kedua bola matanya dari api, kuku-kukunya dari besi, dan panjang tiap kuku itu sejauh perjalanan satu hari. Ular itu terus-menerus melukai si mayit sambil berkata, 'Akulah As-Suja al-Aqra!' S eruannya bagaikan gemuruh halilintar, 'Aku diperintah oleh Rabku untuk memukulmu atas kelakuanmu yang menunda-nunda salat subuh sampai terbit matahari, juga atas salat zuhur yang kau tunda-tunda sampai masuk waktu asar, juga atas asar yang kau tunda-tunda sampai magrib, juga atas magrib yang kau tunda-tunda sampai isya, dan atas isya yang kau tunda-tunda sampai subuh.' Setiap kali ular itu memukulnya, ia terjerembab ke bumi selama 70 hasta. Demikian keadaannya sampai datangnya hari kiamat nanti. Adapun hukuman yang menimpanya sekeluarnya dari kubur pada hari kiamat adalah hisab yang berat, kemurkaan Rab, dan masuk ke neraka." Dikisahkan, seseorang dari kalangan salaf turut menguburkan saudara perempuannya yang mati. Tanpa ia sadari sebuah kantong berisi harta yang ia bawa jatuh dan turut terkubur. Begitu pula dengan mereka yang hadir, tidak satu pun menyadarinya. Sepulang darinya, barulah ia sadar. Maka, ia kembali ke makam dan ketika semua orang telah pulang ke tempat masing-masing ia bongkar kembali makam saudaranya itu. Dan ia pun terkejut begitu melihat api yang menyala-nyala dari dalam makam. Serta merta ia kembalikan tanah galian, dan pulang sambil bercucuran air mata. Mendapati ibunya, ia bertanya, "Duhai Ibunda, gerangan apakah yang telah dilakukan oleh saudara perempuanku?" "Mengapa kau menanyakan,anakku?" ibunya balik bertanya. Ia pun menjawab, "Bunda, sungguh aku melihat kuburnya dipenuhi kobaran api." Lalu, ibunya menangis dan berkata, "Wahaianakku, dulu saudara perempuanmu terbiasa meremehkan dan mengakhirkan salat dari waktunya." Ini adalah keadaan mereka yang mengakhirkan salat dari waktunya. Lalu, bagaimana dengan mereka yang tidak mengerjakannya? Marilah kita memohon pertolongan kepada Allah agar kita selalu dapat menjaga salat pada waktunya. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Pernah suatu ketika Rasulullah saw., mengirimkan satu pasukan jihad ke Nejd. Dalam tempo yang sangat singkat mereka telah kembali dengan membawa kemenangan dan harta rampasan yang sangat banyak. Salah seorang dari para sahabat merasa heran dan berkata, "Belum pernah kami melihat satu pasukan jihad pun yang begitu cepat kembali dengan membawa harta rampasan yang sangat banyak daripada pasukan ini." Rasulullah saw,. Bersabda, "Maukah aku beritahukan kepada kalian mengenai orang-orang yang memperoleh harta rampasan lebih banyak lagi dan lebih singkat waktunya? Mereka adalah orang-orang yang melaksanakan shalat subuh berjamaah kemudian setelah shalat duduk sambil berdzikir kepada Allah sampai terbit matahari. (setelah habis subuh makruh) mereka mengerjakan shalat dua rakaat. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan harta yang sangat banyak dalam waktu lebih cepat
    ." Syaqiq Balkhi, seorang syeikh dan ahli sufi yang masyur berkata, "kita akan mendapatkan lima hal melalui lima cara, yaitu :
    1) Keberkahan rejeki melalui shalat dhuha; 
    2) cahaya di alam kubur melalui shalat Tahajjud; 
    3) kemudahan menjawab pertanyaan munkar dan Nakir melalui bacaan Al-Quranl
    4) Kemudahan melintas titian shirath melalui shaum dan sedekah; 
    5) naungan 'Arsy Ilahi melalui dzikrullah." (Nazhatul Majalis).
     
    Di antara berbagai kitab hadits banyak sekali hadits yang menegaskan pentingnya shalat serta keutamaan-keutamaannya, sehingga sulit dan terlalu banyak jika ditulis keseluruhannya. Namun, sebagai berkahnya, di bawah ini saya sebutkan terjemahan dari beberapa hadits Rasulullah saw :
    1. Perintah pertama yang diwajibkan Allah SWT, atas umatku adalah shalat. Dan yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalat; 
    2. Takutlah kepada Allah dalam hal shalat! Takutlah kepada Allah dalam hal Shalat! Takutlah kepada Allah dalam hal shalat!
    3. Pemisah antara seseorang dengan syirik adalah shalat.
    4. Shalat adalah tanda ke-Islaman seseorang. Barangsiapa melakukan shalatnya dengan khusyu, mengerjakannya tepat pada waktunya, s erta memperhatikan rukun dan sunah-sunahnya, maka pastilah ia seorang mukmin.
    5. di antara seluruh perintah Allah, iman dan shalat merupakan kewajiban yang paling utama. Seandainya ada suatu yang lebih utama daripada itu, niscaya Allah Swt. Akan memerintahkan para malaikat-Nya yang sebagian dari mereka terus menerus siang dan malam melakukan ruku, dan sebagian lainnya terus menerus bertahajjud.
    6. Shalat adalah tiang agama.
    7. Shalat menghitamkan wajah syetan.
    8. Shalat adalah cahaya orang-orang yang beriman. 
    9. Shalat adalah jihad yang paling utama. 
    10. Selama seorang menjaga shalatnya, maka perhatian Allah Swt, selalu tercurah padanya. Tetapi jika ia melalaikan shalatnya, maka perhatian Allah akan terlepas darinya.
    11. Apabila suatu musibah turun dari langit, maka orang-orang yang memakmurkan masjid pasti selamat darinya. 1 Manfaat shalat tahajud tubuh Kebal daya tahan meningkat [Foto: Istimewa] 
    12. Apabila seorang masuk ke dalam neraka Jahanam disebabkan dosa-dosanya, maka api neraka tidak dapat membakar anggota tubuhnya yang telah digunakan untuk bersujud.
    13. Allah mengharamkan api neraka bagi anggota-anggota sujud.
    14. Amal yang paling disukai Allah adalah shalat tepat pada waktunya. 
    15. orang yang paling disukai Allah adalah orang yang bersujud kepadaNya dengan penuh rasa hina. 
    16. Sedekat-dekat Allah kepada hambaNya adalah ketika ia bersujud kepadaNya. 
    17. Shalat adalah kunci surga. 
    18. Apabila seorang berdiri untuk melakukan shalat, maka pintu-pintu surga akan terbuka. alu Allah menyingkapkan hijab (tabir) antara dia dengan orang itu selama ia tidak melakukan hal-hal yang dibenci dalam shalat.
    19. Orang yang sedang shalat ibarat sedang mengetuk pintu rumah Allah yang Maha Kuasa. Sebagaimana umumnya, setiap pintu yang diketuk pasti akan dibuka. 
    20. Kedudukan shalat dalam agama adalah seperti kepala pada badan
    21. Shalat adalah cahaya hati. Barangsiapa ingin agar hatinya selalu bersinar, maka hendaklah ia menyinarinya dengan shalat. Jihad dalam perang dan jihad dalam shalat 22. Barangsiapa berwudhu dengan sempurna, kemudian melakukan shalat dua atau empat rakaat dengan khusyu dan khudhu baik fardhu atau pun sunnat, dan ia menginginkan agar dosanya diampuni oleh Allah, niscaya Allah akan mengampuninya. 
    23. Setiap bumi yang di atasnya didirikan shalat untuk mengingat Allah, maka bagian bumi itu akan merasa bangga di antara bagian-bagian bumi lainnya.
     24. Barangsiapa melakukan shalat dua rakaat, lalu ia berdoa kepada Allah pastilah Allah mengabulkan doanya. Adakalanya dengan segera atau pun ditunda, sesuai dengan kepentingannya. Yang jelas doanya pasti dikabulkan.
    25. barangsiapa mengerjakan shalat (sunnat) dua rakaat seorang diri, tanpa seorang pun melihatnya kecuali Allah dan para malaikatNya, niscaya api neraka tidak akan menyentuhnya.
    26. Apabila seorang muslim mendirikan shalat fardhu, maka Allah pasti mengabulkan salah satu doanya.
    27.Barangsiapa melalukan shalat yang lima waktu dengan khyusu, ruku, sujud, wudhu, dan yang lainnya dilakukan dengan sempurna, maka wajiblah baginya surga dan haram baginya neraka.
    28. Selama seorang muslim menjaga shalat limat waktu dengan istiqoamah, maka syetan akan takut padanya. Tetapi, jika melalaikannya maka syetan akan bernai kepadanya dan akan menyesatkannya.
    29. Amal yang paling utama utama adalah shalat pada waktunya. 
    30. Shalat adalah pengorbanan setiap orang bertaqwa. 
    31. Amal yang paling disukai Allah adalah shalat pada awal waktu. 
    32. Barangsiapa pergi pada waktu subuh untuk melaksanakan shalat, berarti ia sedang membawa bendera iman di tangannya. Dan barangsiapa pada waktu subuh pergi ke pasar, berarti ia sedang membaw bendera syetan di tangannya. 
    33. Empat rakaat shalat Qabliyah sama pahalanya dengan empat rakaat shalat tahajjud. 
    34. Empat rakaat shalat Qabliyah Zhuhur sama dengan empat rakaat shalat Tahajjud. 
    35. Rahmat Allah selalu bercucuran ke atas seseorang yang sedang berdiri dalam shalat.
    36. seutama-utama shalat setelah shalat fardhu adalah shalat pada pertengahan malam, namun sangat sedikit orang yang melakukannya. 
    37. Jibril as, datang kepadaku dan berkata: "Wahai Muhammad, berapa pun lamanya engkau hidup, pasti engkau akan mati juga. Siapa pun yang engkau cintai suatu hari pasti engkau akan berpisah darinya. Dan apa pun yantg engkau lakukan (amal baik atau pun buruk), pasti engkau akan menerima balasannya." Tidak diragukan lagi bahwa kemuliaan seorang mukmin adalah pada Tahajjudnya, dan kehormatan seorang mukmin adalah pada sifat istighna-nya (tidak meminta-minta pada orang lain).
    38. Dua rakaat shalat Tahajjud adalah lebih berharga daripada seluruh kekayaan di dunia ini. 
     
    Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan mewajibkannya kepada mereka. 39. Jagalah shalat Tahajjud, karena Tahajjud adalah kebiasaan orang-orang saleh, jalan untuk mendekati Allah, penghalang perbuatan dosa, penyebab keampunan dosa, dan menyehatkan badan. 40. Allah berfirman, "Wahai anak Adam, janganlah kalian malas melakukan empat rakaat shalat pada permulaan hari, karena Allah akan memenuhi keperluanmu pada hari itu." Sesungguhnya masih banyak hadits-hadits mengenai keutamaan shala yang telah disebutkan dalam kitab-kitab hadits.
     
    Namun, 40 hadits yang disebutkan di atas kiranya sudah mencukup. Apabila ada yang ingin menghafalnya, maka dia akan mendapatkan keutamaan menghafal 40 hadits Nabi Saw. ( Sumber: Himpunan Kitab Ta'lim Fadhilah Amal; Maulana Muhammad Zakariyya Al Kandahlawi. Pustaka Ramadhan.)

Jumat, 22 Juli 2011

HIKMAH PUASA DALAM TINJAUAN AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN

(Oleh : Fajar Adi Kusumo)

Manusia merupakan makhluk yang tertinggi derajatnya, oleh karena itu manusia diutus oleh Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi. Sebagai makhluk yang tertinggi yang membedakan antara manusia dengan makhluk Allah yang lain adalah manusia dikaruniai oleh Allah dengan akal sedangkan makhluk Allah yang lain tidak. Dengan akalnya ini manusia berusaha sejauh mungkin untuk mengupas rahasia-rahasia alam karena alam semesta ini diciptakan oleh Allah dan tak akan lepas dari tujuannya untuk memenuhi kebutuhan makhluknya. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam salah satu firman-Nya :

"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini (langit dan bumi) dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka"

(QS. Ali Imran : 191)

Ayat inilah yang membuat orang mulai berpikir untuk mencari hikmah dan manfaat yang terkandung dalam setiap perintah maupun larangan Allah diantaranya adalah hikmah yang tersembunyi dari kewajiban menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang diperintahkan oleh Allah khusus kepada orang-orang yang beriman. Hal ini seperti disebutkan di dalam firman Allah yaitu :

"Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa"

(QS. Al Baqarah : 183)

Sudah barang tentu hikmah puasa tersebut sangat banyak baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan umat (masyarakat) pada umumnya. Diantara hikmah-hikmah tersebut yang terpenting dan mampu dijangkau oleh akal pikiran manusia sampai saat ini antara lain :

a. Memelihara kesehatan jasmani (Badaniyah)

Sudah menjadi kesepakatan para ahli medis, bahwa hampir semua penyakit bersumber pada makanan dan minuman yang mempengaruhi organ-organ pencernaan di dalam perut. Maka sudah sewajarnyalah jika dengan berpuasa organ-organ pencernaan di dalam perut yang selama ini terus bekerja mencerna dan mengolah makanan untuk sementara diistirahatkan mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari selama satu bulan.

Dengan berpuasa ini maka ibarat mesin, organ-organ pencernaan tersebut diservis dan dibersihkan, sehingga setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan Insya Allah kita menjadi sehat baik secara jasmani maupun secara rohani. Hal ini memang sudah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim yaitu :

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :

"Berpuasalah maka kamu akan sehat"

(HR. Ibnu Suny dan Abu Nu’aim)

Juga dalam hadits yang lain dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :

"Bagi tiap-tiap sesuatu itu ada pembersihnya dan pembersih badan kasar (jasad) ialah puasa"

(HR. Ibnu Majah)

Dalam penelitian ilmiah, kebenaran hadis ini terbukti antara lain :

1. Fasten Institute (Lembaga Puasa) di Jerman menggunakan puasa untuk menyembuhkan penyakit yang sudah tidak dapat diobati lagi dengan penemuan-penemuan ilmiah dibidang kedokteran. Metode ini juga dikenal dengan istilah "diet" yang berarti menahan / berpantang untuk makanan-makanan tertentu.

2. Dr. Abdul Aziz Ismail dalam bukunya yang berjudul "Al Islam wat Tibbul Hadits" menjelaskan bahwa puasa adalah obat dari bermacam-macam penyakit diantaranya kencing manis (diabetes), darah tinggi, ginjal, dsb.

3. Dr. Alexis Carel seorang dokter internasional dan pernah memperoleh penghargaan nobel dalam bidang kedokteran menegaskan bahwa dengan berpuasa dapat membersihkan pernafasan.

4. Mac Fadon seorang dokter bangsa Amerika sukses mengobati pasiennya dengan anjuran berpuasa setelah gagal menggunakan obat-obat ilmiah.

b. Membersihkan rohani dari sifat-sifat hewani menuju kepada sifat-sifat malaikat

Hal ini ditandai dengan kemampuan orang berpuasa untuk meninggalkan sifat-sifat hewani seperti makan, minum (di siang hari). Mampu menjaga panca indera dari perbuatan-perbuatan maksiat dan memusatkan pikiran dan perasaan untuk berzikir kepada Allah (Zikrullah). Hal ini merupakan manifestasi (perwujudan) dari sifat-sifat malaikat, sebab malaikat merupakan makhluk yang paling dekat dengan Allah, selalu berzikir kepada Allah, selalu bersih, dan doanya selalu diterima.

Dengan demikian maka wajarlah bagi orang yang berpuasa mendapatkan fasilitas dari Allah yaitu dipersamakan dengan malaikat. Hal ini diperkuat oleh sabda Rasulullah dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Turmudzi yaitu :

"Ada tiga golongan yang tidak ditolak doa mereka yaitu orang yang berpuasa sampai ia berbuka, kepala negara yang adil, dan orang yang teraniaya"(HR. Turmudzi).

Juga dalam hadits lain dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘As, Rasulullah SAW bersabda :

"Sesungguhnya orang yang berpuasa diwaktu ia berbuka tersedia doa yang makbul"

(HR. Ibnu Majah)

Disamping itu hikmah yang terpenting dari berpuasa adalah diampuni dosanya oleh Allah SWT sehingga jiwanya menjadi bersih dan akan dimasukkan ke dalam surga oleh Allah SWT. Hal ini diperkuat dengan hadits Nabi yaitu :

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda :

"Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan perhitungannya (mengharapkan keridla’an Allah) maka diampunilah dosa-dosanya.

(HR. Bukhari)

Juga dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari yaitu :

Dari Sahl r.a dari Nabi SAW beliau bersabda :

"Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pintu yang disebut dengan Rayyan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga dari pintu itu. Tidak seorangpun masuk dari pintu itu selain mereka. (Mereka) dipanggil : Mana orang yang berpuasa ? Lalu mereka berdiri. Setelah mereka itu masuk, pintu segera dikunci, maka tidak seorangpun lagi yang dapat masuk"

(HR. Bukhari)

Dengan demikian maka dapatlah disimpulkan bahwa berpuasa membawa manfaat yang sangat besar bagi manusia baik sebagai makhluk pribadi maupun makhluk sosial. Sehingga setelah seseorang selesai menjalankan ibadah puasa di Bulan Suci Ramadhan diharapkan ia menjadi bersih dan sehat baik jasmani maupun rohani dan kembali suci bagai bayi yang baru lahir. Amiin.

Sudahkah Engkau Ikhlas Bekerja, Anakku?

Wushhh……

KRL Ekonomi berlalu melewati. Kibaran rambutnya yang lebat masih terlihat. Lembayung senja mulai menyembunyikan diri di atas cakrawala. Pertanda waktu Maghrib akan terlewati sebentar lagi. Burung-burung pun sudah sejak sore tadi kembali ke sarangnya. Banyak orang berlalu lalang pulang dari kewajiban mereka berusaha bekerja. Merealisasikan salah satu  ajaran Islam yang universal. Agar memiliki kesadaran untuk memiliki sikap iffah pada diri setiap insan.

Ia dan ayah masih berdiri menunggu. Kereta tadi bukan yang mereka akan naiki untuk pulang. Tujuan mereka adalah kota hujan berjuta angkot. Ini pengalaman pertamanya menemani ayah yang selama ini mendidiknya dengan baik bekerja. Tidak seperti biasa, mereka pulang dengan kereta. Padahal dari cerita yang biasa ia dengar, ayah sering pulang menaiki bis. Tapi, ia tak mempedulikannya karena akan mendapatkan kelelahan dalam berpikir. Peluh dan keringat sudah sejak tadi keluar turun menyusuri setiap kulit mereka.
Pernah ia berpikir dalam benaknya, “aku sangat tergugah mengamati kehidupan ayah. Setiap hari pulang pergi mencari penghasilan untuk menghidupi keluarga. Aku memiliki banyak adik yang masih membutuhkan biaya untuk bersekolah. Ia terlihat sangat lelah setiap pulang dari bekerja. Keletihan selalu disembunyikan ketika menghadapi anak-anaknya. Padahal aku dapat melihat dari raut wajahnya yang sangat kelelahan setiap pulang kerja. Satu hal yang kusukai dari cara ia mendidik anak-anaknya. Ayah suka bercerita tentang kehidupan masa kecilnya. Kadangkala juga menceritakan pengalaman yang baru ia dapatkan. Ia selalu berharap anak-anaknya dapat memiliki kehidupan yang lebih baik darinya. Secara tidak langsung dalam alam bawah sadarku muncul sebuah energi jiwa untuk menjadi yang terbaik dari yang lain. Itulah salah satu alasan mengapa aku sangat menginginkan menjadi orang yang diharapkan kedatangannya untuk merubah dunia jauh lebih baik pada saatnya nanti.”

Ia melihat ayah masih berdiri tegak berjiwa tegar. Sesekali terlihat singgungan senyum di bibir ketika ia menatap wajah ayah. Dulu ia tidak mengetahui tentang apa arti dari tanggung jawab seorang ayah dalam berkeluarga. Kini, ia sudah memahaminya. Sudah menjadi sunnatullah bahwasanya manusia tidak akan memperoleh nikmat, rezeki, dan makanan yang ada di atas dan di bawah tanah kecuali dengan kerja keras dan usaha yang sungguh-sungguh. Dari sanalah ia pun menjadi mengerti, mengapa seorang ayah berjuang keras menghidupi keluarga. Ia memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dirinya maupun keluarga. Bukankah sudah diketahui akan hal ini?
كفى بالمرء إثما أن يضيّع من يقوت.رواه أبو داود
“Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.” (H.R Abu Daud)
Tanpa sadar mereka sudah berdiri lebih dari seperempat jam. Kereta yang ditunggu-tunggu ternyata terlambat dari apa yang dikira. Ia dan ayah masih kuat membawa tas di punggung. Dari arah utara tiba-tiba terdengar suara kereta bergerak melambat. KRL Ekonomi AC yang sejak tadi ditunggu telah datang. Suara decitan rem sedikit mengganggu pendengaran beberapa saat. Dengan agak terburu-buru mereka memasuki kereta dengan segera. Takut tak mendapatkan tempat duduk kosong untuk menunggu kereta sampai tujuan. Setelah susah payah berjuang saling mendahului, akhirnya mereka mendapatkan tempat duduk walau sempat bersikukuh dengan seorang penumpang.

Sssshhhh……………
Pintu otomatis di setiap sisi berhadapan mulai menutup. KRL Ekonomi AC yang mereka naiki mulai berjalan meninggalkan stasiun Jakarta Kota. Tujuan mereka adalah tempat pemberhentian stasiun terakhir di Pasar Anyar. Beruntung sekali mereka mendapatkan gerbong yang tak begitu sesak. Dengan keadaan seperti itu bercengkerama bukanlah hal riskan di hadapan penumpang lain. Tapi tetap dengan catatan tidak mengganggu suasana tentunya.

Sepanjang perjalanan mereka berdua menitikberatkan barang yang dibawa. Penjagaan perlu diperketat agar tak lepas dari pegangan. Ayah selalu memperingatkannya bahwa hidup ini selalu berada dalam koridor perjuangan. Ia tahu akan hal itu. Setiap insan lahir ke dunia ini berawal dari perjuangan dengan jutaan kromosom dari spermatozoid seorang ayah. Dan ketika ada satu spermatozoid berhasil menembus ovum dengan akrosom yang dimilikinya melalui proses pembentukan apparatus golgi, saat itulah 2 kromosom haploid dari ayah dan ibu melebur menjadi sebuah zigot diploid yang pada akhirnya akan berkembang menjadi janin di dinding endometrium ibu. Hingga Allah mengisi raga janin itu dengan ruh jiwa di saat kandungan berumur 4 bulan. Itulah masa perjuangan setiap insan sampai pada saat ditentukan akan lahir ke dunia menyongsong koridor perjuangan baru.
Tiba-tiba bahu kanan dirinya ditepuk telapak tangan ayah. Dengan wajah tetap cerah dan singgungan senyum yang khas ia berkata, “nak, ayo kita membaca wirid petang hari. Masih ada waktu sampai adzan Isya berkumandang. Tadi kita belum sempat membacanya. Ada sekitar satu setengah jam lagi hingga kita sampai tujuan.”

Itu benar. Ia dan ayah belum sempat melakukan aktivitas yang biasa dilakukan pagi dan petang. Dengan senyuman pun ia mengikuti ayah membaca wirid harian tersebut. Dengan syahdu suara mereka dengan lembut tanpa sadar menyentuh hati setiap penumpang yang ada di gerbong tersebut. Hingga sekitar dua puluh menit kemudian mereka akhirnya selesai dari wirid mereka. Langit dan bumi beserta isinya mengaminkan apa yang dipanjatkan dari wirid tersebut. Adzan Isya pun berkumandang memanggil setiap muslim untuk menunaikan kewajibannya.

“Ayah, adzan Isya sudah berkumandang. Alhamdulillah tadi kita sudah berinisiatif untuk menjamak taqdim Isya dengan Maghrib di masjid depan stasiun tadi. Oya, sekarang keretanya sudah masuk daerah mana, yah?” Dengan sopan dan dijaga ia bertanya kepada ayah. Beliau hanya melihat wajahnya dengan lekat. Wajahnya cerah tak terlihat sedetik waktu pun kecapekan yang ayah tampakkan kepadanya.
“Anakku, alhamdulillah kita sudah melewati stasiun Pondok Cina. Mungkin sekitar beberapa stasiun lagi kita sampai di Bogor Kota. Ayah mengingat satu hal. Ini dipicu oleh pernyataanmu tadi. Maukah engkau mendengar cerita ayah kembali? Ini tentang salah satu kisah tentang keikhlasan yang ayah alami. Kisah ini terjadi sekitar sepekan yang lalu di masjid yang sama kita singgahi tadi. Jadi, maukah engkau mendengarnya, anakku?”

 Wajah ayah yang teduh. Dengan anggukan kecil ia menerima permintaan ayah untuk mendengar dengan baik apa yang akan disampaikan kepadanya. Mereka memperbaiki posisi duduk agar nyaman bercengkerama. Tas di punggung dipindah ke pangkuan mereka. Keadaan gerbong kereta masih terasa sunyi hingga ayah mulai bercerita dengan deheman khasnya dan membaca bismillah.

“Anakku, tentunya engkau masih mengingat tentang sifat iffah. Yaitu menjaga harga diri dan kehormatan. Kisah yang akan ayah ceritakan berhubungan dengan kerja. Banyak hadits yang menyebutkan akan hal ini. Tahukah engkau salah satu dari hadits tersebut?” Pikirannya melayang mengingat kembali hadits-hadits yang ia tahu mengenai hal tersebut. Dengan satu hentakan kaki dan kepalan tangan ia mengingatnya. Dengan kepercayaan diri ia menyebutkan hadits yang ia ketahui.

لأن يحتزم أحدكم حزمة من حطب فيحملها على ظهره فيبيعها خير له من أن يسأل رجلا فيعطيه أو يمنعه. متفق عليه بلفظ مسلم
“Apabila salah seorang di antara kamu mencari kayu bakar dan mengikatnya lalu memikulnya kemudian menjualnya, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik memberinya ataupun tidak.” (H.R. Bukhari, Muslim)
اليد العليا خير من اليد السفلى و العليا هي المنفقة و السفلى هي السائلة. متفق عليه
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, di atas adalah yang memberi, sedangkan di bawah yang meminta-minta.” (H.R Bukhari, Muslim)

“Tepat sekali, anakku. Islam mengajarkan kita untuk menjaga harga diri dan kehormatan. Begitu pun juga Islam tidak menganggap keengganan bekerja dan berusaha dengan mengharap rezeki dari arah yang tak diduga-duga termasuk tawakkal, sebagaimana dipahami sebagian orang awam yang tidak berilmu seperti yang dikatakan Imam Ahmad. Sebaliknya, Islam menganggap sikap itu sebagai tawakkul (bergantung).”
“Bergantung dan enggan berusaha merupakan mentalitas yang tidak dikehendaki Islam. Ini merupakan tuntutan agar kita umat Islam tidak terjerumus ke dalam jurang kehinaan. Kita sebagai umat pilihan yang diamanahi untuk memimpin harus bisa menyeleraskan antara kemuliaan Islam dan kepribadian moral kita. Dalam hal ini juga mempengaruhi bahwasanya eksistensi Islam bergantung terhadap umatnya. Bagaimana jadinya jika kita menjadi orang yang hanya bisa meminta-minta? Bukankah itu sebuah kehinaan bagi diri dan agama Islam, wahai anakku?”

 Dengan bijak ayah memberikan wejangan kepadanya. Tapi ini belum selesai. Baru pembukaan yang baru ia dengar…
“Begitulah, anakku. Ayah tahu engkau pasti bisa memahaminya. Islam mengajarkan kita untuk tidak enggan berusaha. Jika kita menginginkan sesuatu, maka kita harus berusaha mendapatkannya. Gabungkanlah antara keinginanmu dan kehendak Allah SWT. Jika engkau benar-benar berusaha mencapai apa yang kau inginkan, maka Allah pun pasti akan memberikannya dengan qadar-Nya yang baik. Tentunya tetap dalam kebaikan dan kemaslahatan dirimu dan masyarakat luas.”
Ayah kembali memperbaiki posisi duduknya. Gelagat ayah terlihat ingin mulai menceritakan kisahnya. Ia tahu wejangan awal tadi sebagai pemahaman awal untuk dapat menghayati cerita yang akan disampaikan ayah kepadanya. Dan sekarang cerita akan segera dimulai.
“Pekan lalu merupakan salah satu pengalaman yang tak bisa dilupakan bagi ayah. Ini merupakan kisah tentang bagaimana keikhlasan yang sepatutnya kita tunjukkan pada kepribadian kita. Tahukah engkau, anakku? Sejak saat itu ayah berusaha untuk selalu menjadi hamba yang selalu ikhlas hanya mengharapkan ridha Allah Taala. Awal kisah ini dimulai saat ayah pulang sore dari kantor tempat ayah bekerja.”
Ayah dalam keadaan letih sekali. Tidak biasanya tubuh terasa lemah. Hampir saja ayah jatuh ketika berjalan menuruni tangga. Alhamdulillah saat itu ada teman yang menahan ayah agar tidak jatuh. Dalam keadaan seperti itu ayah memutuskan untuk tidak pulang menaiki bis seperti biasa. Ayah keluar dari gerbang kantor saat langit sudah menampakkan lembayung senjanya. Melihat waktu sudah mulai gelap dan adzan Maghrib pun sudah mulai berkumandang, ayah memutuskan untuk shalat Maghrib dahulu di masjid depan stasiun dan jam tujuh lebih nanti pulang menaiki kereta.
Ayah menitipkan sepatu dan beranjak untuk mengambil air wudhu. Dengan kesegaran berwudhu wajah ayah terlihat sedikit lebih cerah. Segera ayah memasuki masjid agar tidak tertinggal shalat berjamaah dan menjadi masbuq. Setelah imam salam, ayah berdzikir dan berdoa kepada Allah meminta diberikan anak-anak dan keturunan yang qurrata ‘ayun. Tak lupa ayah melaksanakan sunnah rawatib ba’da Maghrib. Dan ayah pun berkemas untuk pergi meninggalkan masjid untuk pulang.
Pikiran ayah tiba-tiba terlintas terhadap seorang bapak yang tadi shalat di samping ayah. Bukankah bapak tersebut tadi duduk di depan masjid sepanjang sore hingga akhirnya adzan Maghrib berkumandang? Ayah ingat bapak itu bekerja sebagai tukang pijat dan urut. Dengan segala pertimbangan antara keberangkatan kereta dan keletihan, ayah mendekati bapak tersebut untuk mendapatkan jasanya.
“Bapak, tolong bisa pijatkan saya? Kebetulan sekali badan saya terasa letih sekali.”
Ayah meminta jasa bapak itu sambil menyerahkan uang sepuluh ribuan. Sebelum memijat tubuh ayah, bapak itu terlihat kurang bersemangat memulai kerjanya. Mungkin karena uang sepuluh ribuan yang ayah berikan. Tapi, tak apa. Ayah tak mempedulikannya. Walaupun sebenarnya ayah kurang mendapatkan manfaat dari pijatan bapak tersebut.
Detik-detik berganti menjadi hitungan menit. Sudah sekitar 5 menit ayah dipijat tanpa merasakan manfaatnya sekalipun. Sempat ayah melihat barang-barang bawaan bapak itu. Terlihat minyak urut berjejer tampak di atas sehelai kain. Ayah mengambil salah satu minyak tersebut.
“Bapak, ini minyak yang digunakan untuk memijat?”
“Iya, betul.”
Dengan wajah kurang senang bapak tersebut menjawab pertayaan ayah. Akhirnya sambil bapak itu bekerja, ayah sedikit bercakap-cakap dengan bapak itu.
“Pak, minyak ini sering saya lihat dijual di beberapa tempat. Di toko kelontongan sempat juga saya melihatnya. Apakah minyak ini bagus untuk pijat dan urut?”
“Benar, minyak ini sudah teruji dengan baik. Saya sendiri nyaman bekerja menggunakan minyak tersebut. Kalau yang sekarang saya gunakan ini campuran antara minyak dengan beberapa ramuan alami.”
Dengan baik bapak tersebut menjelaskan khasiat minyak tersebut kepada ayah. Wajah tidak senangnya sedikit berubah dengan pertanyaan dan tanggapan yang baik dari ayah. Tanpa sadar akhirnya percakapan ayah dengan bapak tersebut berlanjut hingga kehidupan bapak itu yang serba tak mencukupi. Ayah mendengarkan dengan khidmat celotehan bapak tersebut hingga akhir. Hingga ayah pun teringat minyak tersebut dapat bermanfaat jika ayah beli untuk digunakan di rumah.
“Pak, minyak ini dijual berapa? Saya tertarik untuk membelinya. Bisa jadi di rumah nanti bermanfaat.”
“Ooh… itu harganya sepuluh ribuan. Murah. Tak bisa ditawar-tawar lagi.”
“Kalau begitu sepuluh ribu yang tadi untuk beli minyak ini saja. Boleh kan, pak?”
“Oya, boleh-boleh. Baiklah, pak.”
Dengan wajah sangat sumringah bapak itu menerima tawaran ayah untuk membeli minyak tersebut dari uang sepuluh ribuan yang pada awalnya untuk membayar jasa pijatan bapak itu. Saat-saat itu menjadi masa yang nyaman sekali bagi ayah ketika dipijat. Setelah uang sepuluh ribuan itu dipakai untuk membeli minyak, bapak itu terlihat senang sekali. Ia merubah cara pandangnya terhadap ayah dan berusaha semaksimal mungkin melakukan kerjanya. Tahukah engkau, anakku? Baru setelah itu ayah merasakan manfaat pijatan dari bapak tersebut. Dari pijatan yang awalnya hanya di kaki, ayah meminta bapak tersebut untuk memijat kepala ayah. Ada kenikmatan tersendiri saat ayah dipijat dengan ketulusan dari bapak itu. Tapi, ada kejadian yang perlu diketahui. Kejadian ini membuat ayah tergugah. Ini mengalir apa adanya. Ayah tak merekayasakannya dari awal.
“Bapak, pijatannya enak sekali. Sudah berapa lama bekerja seperti ini? Sepertinya bapak sudah berpengalaman.”
“Oh, ya. Kira-kira saya sudah bekerja sekitar 2 tahunan. Sebelumnya saya tak memiliki pekerjaan apapun. Kehidupan saya amburadul. Tapi alhamdulillah sekarang saya sudah sadar akan tanggung jawab yang saya pikul.”
“Itu benar, pak. Setiap manusia memiliki tanggung jawab masing-masing yang dipikulkan kepadanya. Alhamdulillah ternyata sudah hampir setengah jam saya dipijat. Terima kasih banyak, pak. Pijatannya enak dan sekarang badan saya terasa lebih segar. Apalagi ditambah dengan hadiah minyak yang bapak berikan. Bahkan uang sepuluh ribu pun bapak berikan kepada saya. Padahal bapak sudah memijat saya dengan hebat. Sekarang minyaknya sudah ada di tangan saya. Uang sepuluh ribuan tadi, mana? Kembalikan lagi kepada saya, pak.”
Setelah mendengar perkataan ayah, wajah bapak itu terlihat melas sekali. Cemberut di bibirnya sama sekali tak nyaman dilihat. Dia sangat bingung kenapa uang sepuluh ribu yang sudah diberikan kepadanya harus dikembalikan?. Bapak itu memegang uang sepuluh ribuan itu sambil memandangnya dengan tatapan berharap. Ia sama sekali tak ingin melepaskannya. Ayah hampir saja tertawa karena saking lucunya kejadian tersebut. Lama sekali bapak itu memandang uang sepuluh ribuan itu, anakku. Ia sama sekali tak ingin melepaskan dengan mudah hasil jerih payahnya. Akhirnya dengan masih penuh keheranan dan kasihan bapak itu menyerahkan uang sepuluh ribuan itu kepada ayah.
“Baiklah, pak. Terima kasih atas segalanya. Bapak sudah memijat saya ditambah dengan hadiah minyak sekaligus memberikan ongkos uang sepuluh ribu kepada saya. Bapak baik sekali.”
Ayah berkata dengan menampakkan senyuman kepada bapak itu seraya memperbaiki posisi duduk. Dengan wajah yang masih melas saja bapak itu menundukkan pandangannya. Ia kebingungan dengan aksi yang ayah lakukan. Ayah hanya bisa tersenyum saja dan tertawa dalam hati. Kenapa bisa ya? Bapak itu melakukan hal yang tak dikira. Jika ada di sana, engkau akan melihat kejadiannnya dengan seksama, anakku. Ayah pastikan engkau pun juga akan bingung dengan sikap ayah dan tertawa atas tanggapan yang diberikan bapak tersebut. Tapi ini belum selesai, anakku.
Kemudian, ayah merogoh saku celana mengambil uang lima puluh ribuan dan menggabungkannya dengan uang sepuluh ribuan tadi untuk diberikan kepada bapak itu. Awalnya ia bingung, tapi akhirnya pun bapak itu mengerti akan pelajaran yang ayah berikan kepadanya. Bapak itu menerima uang enam puluh ribu tersebut sambil mengucapkan terima kasih dan menciumi beberapa kali tangan ayah. Ayah berusaha mengelak tapi pegangan bapak tersebut sangat kuat di pergelangan tangan ayah.
“Sudahlah, pak. Jangan berlebihan. Saya mohon lepaskan pegangan tangan bapak dan berhenti menciumi tangan saya. Saya hanya ingin memberikan pelajaran berharga untuk bapak. Jadilah seorang pekerja yang tulus dan ikhlas hanya mengharapkan ridha Allah SWT. Jangan bekerja hanya karena mendapatkan selembar uang sepuluh ribuan. Tapi bekerjalah dengan semaksimal mungkin dengan memberikan semua usaha yang kita miliki. Keridhaan Allah yang seharusnya kita cari. Bukan bekerja mengharapkan pamrih dari orang lain. Dan bekerjalah dengan hati yang berbahagia karena kita menyelesaikan tugas kita dengan baik. Karena dengan keikhlasan saat bekerja, Allah pasti melihatnya dengan memberikan balasan yang setimpal kepada kita. Bapak bisa memahaminya, kan?”
“Iya, saya bisa memahaminya. Terima kasih atas nasihatnya. Insya Allah saya akan melakukan semua nasihat yang bapak berikan untuk ke depannya. Sekarang saya mengerti. Bekerja itu harus mengharapkan ridha Allah. Walaupun manusia ridha, tapi belum tentu Allah ridha atas usaha dan kerja kita.”
“Benar, pak. Kita sebagai seorang muslim sudah sepantasnya menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama kita. Tentang keridhaan manusia terhadap diri kita, itu menjadi hal lain yang sepatutnya kita renungi. Setiap manusia di dunia ini memiliki cara pandang yang berbeda. Tergantung dari banyaknya ilmu yang ia miliki. Bisa jadi ada seseorang yang tidak menyukai sikap dan kepribadian kita. Tapi Allah menyukainya dan memuliakan kita dibanding orang lain dengan meninggikan derajat kemuliaan di sisi-Nya.”
Tanpa sadar air mata mulai mengucur deras di pelupuk mata bapak tersebut. Ayah merasa terharu dengan pernyataan bapak itu. Dari kejadian ini ayah berharap bisa menjadi seorang yang ikhlas dalam segala sesuatu. Khususnya ketika bekerja mempertanggungjawabkan keluarga.
“Bapak, bekerjalah dengan sebaik mungkin. Curahkanlah seluruh upaya untuk memaksimalkan kerja kita. Sungguh Allah pasti melihat apa yang kita lakukan. Allah pasti akan memberikan balasan atas segala usaha kita untuk mendapatkan kebaikan bagi diri dan keluarga. Ingatlah! Di setiap kesusahan itu pasti ada kemudahan. Allah selalu menguji kita apakah kita sudah benar-benar menjadi hamba yang beriman serta ikhlas? Allah selalu berada di dekat hamba-Nya.”
“Dan yang terakhir, pak. Setiap amal yang kita kerjakan akan diterima di sisi Allah jika kita sudah memiliki dua hal; yaitu keikhlasan dan lurusnya niat serta bekerja secara ihsan berdasarkan perintah Nabi Muhammad saw. Kebenaran batin dalam bekerja akan tercapai jika kita memiliki keikhlasan dan kelurusan niat. Sedangkan kebenaran lahir dalam bekerja akan tercapai jika kita ihsan dalam melakukan sesuatu sesuai ajaran Rasulullah saw. Itu semua terangkum dalam firman Allah SWT.”
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُور.لقمان آية  22
“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.” (QS. Luqman : 22)
Pada akhirnya ayah dan bapak itu saling merangkul berpelukan. Air mata bapak itu belum berhenti sejak tadi. Ia terharu dengan sikap dan nasihat yang telah ayah berikan kepadanya. Dalam hati ayah berjanji untuk bisa meluangkan waktu agar dapat berinteraksi dengan orang-orang seperti bapak itu di kemudian hari.
Masih banyak orang awam yang tidak memiliki kecukupan ilmu akan pemahaman mereka tentang Islam secara menyeluruh. Tugas kitalah yang telah mendapatkan pemahaman tersebut untuk menyampaikannya kepada orang lain. Jadilah seorang muslim yang sadar akan eksistensi panji Islam yang kita bawa. Jangan hanya menjadi muslim yang biasa-biasa saja. Kita hidup mengemban tugas menyampaikan Islam kepada umat manusia. Itulah salah satu konsekuensi karena kita dilahirkan di dunia ini dalam keadaan muslim. Bersyukurlah karena engkau dapat mengecap manisnya pendidikan Islam sejak dini, anakku. Selanjutnya adalah tugas engkau menyampaikan segala hal yang telah engkau dapatkan kepada orang lain khususnya teman-temanmu, tentang pemahaman Islam yang kaffah di kemudian hari nanti. Ayah selalu mendoakan untuk kebaikanmu.
Sepertinya ayah hampir bercerita setengah jam. Kereta sekarang telah melewati stasiun Cilebut. Hanya tinggal menunggu beberapa saat sampai kereta sampai dan berhenti di stasiun terakhir Bogor Kota, Pasar Anyar. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih. Kereta sampai tepat waktu dari jadwal walaupun keberangkatan tadi agak telat. Ia tersenyum menuruni kereta di belakang ayah. Ia bahagia setelah mendengar cerita yang membuat ia jauh lebih memahami hakikat hidup ini.
Begitulah. Ia mendapatkan pemahaman yang baik dari cerita yang ayah sampaikan kepadanya. Ia mengerti bahwasanya setiap keinginan akan kebutuhan hidup dapat tercapai dengan berusaha tidak enggan untuk bekerja. Seperti yang dikatakan Rasulullah saw. Bahwasanya ”Allah telah menjadikan rezekiku di bawah naungan tombakku”. Karena dengan bekerja sama saja kita telah menjaga kehormatan kita untuk tidak meminta-minta. Sikap iffah harus selalu dijaga dalam kepribadian diri. Allah pun telah menjanjikan bahwasanya bumi ini telah dimudahkan bagi kita.
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ.الملك آية 15
“Dialah (Allah) yang telah menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezekinya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Mulk : 15)
Tidak hanya itu, ia juga dapat memantapkan slogan abadi setiap muslim tentang keikhlasan. Bahwasanya Allah adalah tujuan utama hidup. Seyogianya ia bisa mengorientasikan perkataan, perbuatan dan perjuangannya hanya kepada Allah SWT; mengharapkan keridhaan-Nya dan memperoleh pahala-Nya. Bukan hanya sekedar mendapatkan keuntungan duniawi seperti materi, prestise, pangkat, gelar, kemajuan atau kemunduran. Dengan itulah ia menjadi tentara muslim sejati dengan landasan aqidah yang kuat. Bukan tentara kepentingan dan hanya mencari manfaat dunia. Dunia dan segala isinya sebenarnya adalah hadiah bagi seorang muslim jika dapat selalu istiqamah di atas jalan yang benar. Yang diharapkan adalah seorang muslim itu selayaknya dapat menggenggam dunia dan isinya, bukan dunia yang menggenggamnya dengan cengkeraman syahwat. Akhirnya hanya keridhaan Allah yang sepantasnya kita cari di sepanjang perjalanan hidup kita.

Dengan-Mu ada kelezatan, meski hidup terasa pahit
Kuharapkan ridho-Mu, meski seluruh manusia marah
Kuharapkan hubunganku dengan-Mu tetap harmonis
Meski hubunganku dengan seluruh alam berantakan
Bila cinta-Mu kudapatkan, semua terasa ringan
Sebab, semua yang ada diatas tanah adalah tanah belaka
Untuk seluruh ayah di dunia. Kami selalu menunggu kedatanganmu. Mendengar cerita-cerita yang kau berikan. Luangkanlah waktu untuk kami. Kami tahu engkau sibuk bekerja untuk mendapatkan penghasilan menghidupi keluarga. Tetap kami berharap agar engkau berusaha untuk selalu berada di dekat kami. Kami sangat bahagia ketika engkau bercerita tentang masa kecilmu, atau mungkin pengalaman-pengalaman yang baru kau dapatkan. Ayah, kami selalu menunggu kedatanganmu.

Ayah adalah orang terbaik seluruh dunia. Ia memberikan kami pemahaman untuk bisa hidup. Tak hanya sekedar mendapatkan manfaat dunia. Tapi mengajarkan kepada kami untuk bisa menikmati hidup dengan bahagia. Sejatinya hanyalah kebahagiaan yang selalu dicari setiap insan di dunia.

Ayah. Tahukah engkau? Ada pepatah mengatakan bahwasanya jika ingin melihat kepribadian seseorang lihatlah ayahnya. Kami tahu engkau pasti mengetahui itu. Kesuksesan seseorang bukanlah dilihat dari pencapaian hidupnya. Tapi dilihat dari bagaimana ia bisa mendidik anaknya sebaik mungkin. Agar anak-anaknya bisa menikmati sekaligus menggenggam dunia lebih baik darinya. Jika pada saatnya nanti anaknya lebih baik, berarti saat itulah ia pantas disebut sebagai orang yang sukses. Untuk membangun generasi masa depan yang membanggakan.

Ayah adalah orang yang selalu tegar menghadapi hidup. Ia mengorbankan segala sesuatu agar anak-anaknya bisa bahagia. Dia tidak berbohong atas hakikat yang sebenarnya. Sesungguhnya segala yang dia katakan dan perbuat hanya menginginkan untuk kebutuhan anak-anaknya. Janganlah pernah berprasangka terhadap perlakuan ayah terhadap kita.

Ayah. Kami di sini tetap menunggumu. Di atas bumi Allah yang tiada artinya melainkan untuk kemaslahatan umat manusia. Walau kami harus menunggu hingga batas waktu, kami kan selalu menantimu. Agar bisa mendengar cerita-ceritamu yang membuat kami selalu senang, tersenyum dan bahkan membuat kami kami tertawa lepas. Berikanlah kami pemahaman untuk mendapatkan kehidupan yang berbahagia. Seperti hikmah yang diberikan kepada anak Luqman melalui perantara ayahnya.
Sungguh, kami selalu menunggu cerita-ceritamu.
http://www.dakwatuna.com 

Isra’ Mi’raj: Inspirasi Mengintegrasikan Sains dalam Aqidah dan Ibadah

Isra’ mi’raj bukanlah kisah perjalanan antariksa. Aspek astronomis sama sekali tidak ada dalam kajian Isra’ mi’raj. Namun, Isra’ mi’raj mengusik keingintahuan akal manusia untuk mencari penjelasan ilmu. Aspek aqidah dan ibadah berintegrasi dengan aspek ilmiah dalam membahas Isra’ mi’raj. Inspirasi saintifik Isra’ Mi’raj mendorong kita untuk berfikir mengintegrasikan sains dalam aqidah dan ibadah.

Mari kita mendudukkan masalah Isra’ mi’raj sebagai mana adanya yang diceritakan di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih. Kemudian sekilas kita ulas kesalahpahaman yang sering terjadi dalam mengaitkan Isra’ mi’raj dengan kajian astronomi. Hal yang juga penting dalam mengambil hikmah peringatan Isra’ mi’raj adalah menggali inspirasi saintifik yang mengintegrasikan sains dalam memperkuat aqidah dan menyempurnakan ibadah.

Kisah dalam Al-Qur’an dan Hadits
Di dalam QS. Al-Isra’:1 Allah menjelaskan tentang Isra’:  “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Dan tentang mi’raj Allah menjelaskan dalam QS. An-Najm:13-18:  “Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada surga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”

Sidratul muntaha secara harfiah berarti ‘tumbuhan sidrah yang tak terlampaui’, suatu perlambang batas yang tak seorang manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur’an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu.

Kejadian-kejadian sekitar Isra’ dan mi’raj dijelaskan di dalam hadits-hadits nabi. Dari hadits-hadits yang shahih, didapati rangkaian kisah-kisah berikut. Suatu hari malaikat Jibril datang dan membawa Nabi, lalu dibedahnya dada Nabi dan dibersihkannya hatinya, diisinya dengan iman dan hikmah.

Kemudian didatangkan Buraq, ‘binatang’ berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Dengan Buraq itu Nabi melakukan Isra’ dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Nabi SAW shalat dua rakaat di Baitul Maqdis, lalu dibawakan oleh Jibril segelas khamr (minuman keras) dan segelas susu; Nabi SAW memilih susu. Kata malaikat Jibril, “Engkau dalam kesucian, sekiranya kau pilih khamr, sesatlah umat engkau.”

Dengan Buraq pula Nabi SAW melanjutkan perjalanan memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang di kanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya Baitul Ma’mur, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.
 
Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam (‘pena’). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia:  sungai Efrat dan sungai Nil. Lalu Jibril membawa tiga gelas berisi khamr, susu, dan madu, dipilihnya susu. Jibril pun berkomentar, “Itulah (perlambang) fitrah (kesucian) engkau dan umat engkau.” Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur’an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya.

Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib. Mulanya diwajibkan shalat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi SAW meminta keringanan dan diberinya pengurangan sepuluh-sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, “Aku telah meminta keringanan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah.” Maka Allah berfirman, “Itulah fardhu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku.”

Urutan kejadian sejak melihat Baitul Ma’mur sampai menerima perintah shalat tidak sama dalam beberapa hadits, mungkin menunjukkan kejadian-kejadian itu serempak dialami Nabi. Dalam kisah itu, hal yang fisik (zhahir) dan non-fisik (bathin) bersatu dan perlambang pun terdapat di dalamnya. Nabi SAW yang pergi dengan jasad fisik hingga bisa shalat di Masjidil Aqsha dan memilih susu yang ditawarkan Jibril, tetapi mengalami hal-hal non-fisik, seperti pertemuan dengan para Nabi yang telah wafat jauh sebelum kelahiran Nabi SAW dan pergi sampai ke surga. Juga ditunjukkan dua sungai non-fisik di surga dan dua sungai fisik di dunia. Dijelaskannya makna perlambang pemilihan susu oleh Nabi Muhammad SAW, dan menolak khamr atau madu. Ini benar-benar ujian keimanan, bagi orang mukmin semua kejadian itu benar diyakini terjadinya. Allah Maha Kuasa atas segalanya.

“Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia”. Dan Kami tidak menjadikan pemandangan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi  manusia….” (QS. 17:60).
“Ketika orang-orang Quraisy tak mempercayai aku (kata Nabi SAW), aku berdiri di Hijr (menjawab berbagai pertanyaan mereka). Lalu Allah menampakkan kepada saya Baitul Maqdis, aku dapatkan apa yang aku inginkan dan aku jelaskan kepada mereka tanda-tandanya, aku memperhatikannya….” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Hakikat Tujuh Langit
Peristiwa Isra’ mi’raj yang menyebut-nyebut tujuh langit mau tak mau mengusik keingintahuan kita akan hakikat langit, khususnya berkaitan dengan tujuh langit yang juga sering disebut-sebut dalam Al-Qur’an.  Bila kita dengar kata langit, yang terbayang adalah kubah biru yang melingkupi bumi kita. Benarkah yang dimaksud langit itu lapisan biru di atas sana dan berlapis-lapis sebanyak tujuh lapisan?
Warna biru hanyalah semu, yang dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh partikel-partikel atmosfir. Langit (samaa’ atau samawat) berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak ada.

Bilangan ‘tujuh’ sendiri dalam beberapa hal di Al-Qur’an  tidak  selalu menyatakan  hitungan  eksak  dalam  sistem desimal. Di dalam Al-Qur’an ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh  puluh’ sering mengacu  pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al-Baqarah:261 Allah menjanjikan: “Siapa  yang  menafkahkan  hartanya di  jalan  Allah  ibarat  menanam  sebiji benih yang menumbuhkan tujuh tangkai  yang masing-masingnya     berbuah    seratus    butir. Allah  melipatgandakan pahala orang-orang yang dikehendakinya….” Juga di dalam Q.S. Luqman:27: “Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai  pena dan  lautan  menjadi tintanya dan  ditambahkan tujuh lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah….” Jadi  ‘tujuh langit’ lebih mengena bila  difahamkan  sebagai  tatanan  benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.

Lalu, apa hakikatnya langit dunia, langit ke dua, langit ke tiga, … sampai langit ke tujuh dalam kisah Isra’ mi’raj?  Mungkin ada orang mengada-ada penafsiran, mengaitkan dengan astronomi. Para penafsir dulu ada yang berpendapat bulan di langit pertama,  matahari di langit ke empat, dan planet-planet lain di lapisan lainnya. Kini ada sembilan planet yang sudah diketahui, lebih dari tujuh. Tetapi, mungkin masih ada orang yang ingin mereka-reka. Kebetulan, dari jumlah planet yang sampai saat ini kita ketahui, dua planet dekat matahari (Merkurius dan Venus), tujuh lainnya –termasuk bumi– mengorbit jauh dari matahari.
Pengertian langit dalam kisah Isra’ mi’raj bukanlah  pengertian langit secara fisik. Karena, fenomena yang diceritakan Nabi pun bukan fenomena fisik, seperti perjumpaan dengan para Nabi yang hakikatnya telah wafat. Langit dan Sidratul Muntaha dalam kisah Isra’ mi’raj adalah alam ghaib yang tak bisa kita ketahui hakikatnya dengan keterbatasan ilmu manusia. Hanya Rasulullah SAW yang berkesempatan mengetahuinya. Isra’ mi’raj adalah mukjizat yang hanya diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.

Perjalanan Keluar Dimensi Ruang Waktu
Isra’ mi’raj jelas bukan perjalanan seperti dengan pesawat terbang antarnegara dari Mekkah ke Palestina dan penerbangan antariksa dari Masjidil Aqsha ke langit ke tujuh lalu ke Sidratul Muntaha. Isra’ Mi’raj adalah perjalanan keluar dari dimensi ruang waktu. Tentang caranya, iptek tidak dapat menjelaskan. Tetapi bahwa Rasulullah SAW melakukan perjalanan keluar ruang waktu, dan bukan dalam keadaan mimpi, adalah logika yang bisa menjelaskan beberapa kejadian yang diceritakan dalam hadits shahih. Penjelasan perjalanan keluar dimensi ruang waktu setidaknya untuk memperkuat keimanan bahwa itu sesuatu yang lazim ditinjau dari segi sains, tanpa harus mempertentangkannya dan menganggapnya sebagai suatu kisah yang hanya dapat dipercaya saja dengan iman.

Kita hidup di alam yang di batas oleh dimensi ruang-waktu (tiga dimensi ruang –mudahnya kita sebut panjang, lebar, dan tinggi –, serta satu dimensi waktu ). Sehingga kita selalu memikirkan soal jarak dan waktu. Dalam kisah Isra’ mi’raj, Rasulullah bersama Jibril dengan wahana “Buraq” keluar dari dimensi ruang, sehingga dengan sekejap sudah berada di Masjidil Aqsha. Rasul bukan bermimpi karena dapat menjelaskan secara detail tentang masjid Aqsha dan tentang kafilah yang masih dalam perjalanan. Rasul juga keluar dari dimensi waktu sehingga dapat menembus masa lalu dengan menemui beberapa Nabi. Di langit pertama (langit dunia) sampai langit tujuh berturut-turut bertemu (1) Nabi Adam, (2) Nabi Isa dan Nabi Yahya, (3) Nabi Yusuf, (4) Nabi Idris, (5) Nabi Harun, (6) Nabi Musa, dan (7) Nabi Ibrahim. Rasulullah SAW juga ditunjukkan surga dan neraka, suatu alam yang mungkin berada di masa depan, mungkin juga sudah ada masa sekarang sampai setelah kiamat nanti.

Sekadar analogi sederhana perjalanan keluar dimensi ruang waktu adalah seperti kita pergi ke alam lain yang dimensinya lebih besar. Sekadar ilustrasi, dimensi 1 adalah garis, dimensi 2 adalah bidang, dimensi 3 adalah ruang. Alam dua dimensi (bidang) dengan mudah menggambarkan alam satu dimensi (garis). Demikian juga alam tiga dimensi (ruang) dengan mudah menggambarkan alam dua dimensi (bidang). Tetapi dimensi rendah tidak akan sempurna menggambarkan dimensi yang lebih tinggi. Kotak berdimensi tiga tidak tampak sempurna bila digambarkan di bidang yang berdimensi dua.

Sekarang bayangkan ada alam berdimensi dua  (bidang) berbentuk U. Makhluk di alam “U” itu bila akan berjalan dari ujung satu ke ujung lainnya perlu menempuh jarak jauh. Kita yang berada di alam yang berdimensi lebih tinggi dengan mudah memindahkannya dari satu ujung ke ujung lainnya dengan mengangkat makhluk itu keluar dari dimensi dua, tanpa perlu berkeliling menyusuri lengkungan “U”.

Alam malaikat (juga jin) bisa jadi berdimensi lebih tinggi dari dimensi ruang waktu, sehingga bagi mereka tidak ada lagi masalah jarak dan waktu. Karena itu mereka bisa melihat kita, tetapi kita tidak bisa melihat mereka. Ibaratnya dimensi dua tidak dapat menggambarkan dimensi tiga, tetapi sebaliknya dimensi tiga mudah saja menggambarkan dimensi dua. Bukankah isyarat di dalam Al-Quran dan Hadits juga menunjukkan hal itu. Malaikat dan jin tidak diberikan batas waktu umur, sehingga seolah tidak ada kematian bagi mereka. Mereka pun bisa berada di berbagai tempat karena tak di batas oleh ruang.

Rasulullah bersama Jibril diajak ke dimensi malaikat, sehingga Rasulullah dapat melihat Jibril  dalam bentuk aslinya (baca QS 53:13-18). Rasul pun dengan mudah pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya, tanpa terikat ruang dan waktu. Langit dalam konteks Isra’ Mi’raj pun bukanlah langit fisik berupa planet atau bintang, tetapi suatu dimensi tinggi. Langit memang bermakna sesuatu di atas kita, dalam arti fisik maupun non-fisik.

Sains Terintegrasi dengan Aqidah dan Ibadah
Bagaimanapun ilmu manusia tak mungkin bisa menjabarkan hakikat perjalanan Isra’ mi’raj. Allah hanya memberikan ilmu kepada manusia sedikit sekali (QS. Al-Isra: 85). Hanya dengan iman kita mempercayai bahwa Isra’ mi’raj benar-benar terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah SAW. Rupanya, begitulah rencana Allah menguji keimanan hamba-hamba-Nya (QS. Al-Isra:60) dan menyampaikan perintah shalat wajib secara langsung kepada Rasulullah SAW.

“…dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: ‘Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia’ dan Kami tidak menjadikan penglihatan (saat Isra’ mi’raj) yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia …”
Pemahaman dengan pendekatan konsep ekstra dimensi sekadar pendekatan sains untuk merasionalkan konsep aqidah terkait Isra’ mi’raj, walau belum tentu tepat. Tetapi upaya pendekatan saintifik sering dipakai sebagai dalil aqli (akal) untuk memperkuat keyakinan dalam aqidah Islam. Sains seharusnya tidak kontradiktif dengan aqidah dan aqidah bukan hal yang bersifat dogmatis semata, tetapi memungkinkan dicerna dengan akal. Mengintegrasikan sains dalam memahami aqidah dapat menghapuskan dikotomi aqidah dan sains, karena Islam mengajarkan bahwa kajian sains tentang ayat-ayat kauniyah tak terpisahkan dari pemaknaan aqidah.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS 3:190-191).

Pada sisi lain Isra’ mi’raj mengajarkan makna mendalam dalam hal ibadah. Makna penting Isra’ mi’raj bagi umat Islam ada pada keistimewaan penyampaian perintah shalat wajib lima waktu. Ini menunjukkan kekhususan shalat sebagai ibadah utama dalam Islam. Shalat mesti dilakukan oleh setiap Muslim, baik dia kaya maupun miskin, dia sehat maupun sakit. Ini berbeda dari ibadah zakat yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu secara ekonomi, atau puasa bagi yang kuat fisiknya, atau haji bagi yang sehat badannya dan mampu keuangannya.

Shalat lima kali sehari semalam yang didistribusikan di sela-sela kesibukan aktivitas kehidupan, mestinya mampu membersihkan diri dan jiwa setiap Muslim. Allah mengingatkan:
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab  (Al  Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat  Allah  (shalat) adalah  lebih  besar  (keutamaannya  dari  ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut:45).

Isra’ dan mi’raj juga memberikan inspirasi untuk merenungi makna ibadah shalat, termasuk aspek saintifiknya. Umat Islam telah membuktikan bahwa sains pun bisa diintegrasikan dalam urusan ibadah, untuk menyempurnakan pelaksanaan ibadah. Demi kepentingan ibadah shalat, umat Islam mengembangkan ilmu astronomi atau ilmu falak untuk penentuan arah kiblat dan waktu shalat. Tuntutan ibadah mendorong kemajuan sains astronomi pada awal sejarah Islam. Kini astronomi telah menjadi alat bantu utama dalam penentuan arah kiblat dan waktu shalat. Konsepsi astronomi bola digunakan untuk penentuan arah kiblat. Perhitungan posisi matahari digunakan untuk mencari waktu istimewa dalam penentuan arah kiblat dan jadwal shalat harian. Kita cukup melihat jadwal shalat, tidak lagi direpotkan harus melihat langsung fenomena cahaya matahari atau bayangannya setiap akan shalat. Kini semua umat Islam Indonesia, apa pun ormasnya, secara umum bisa bersepakat dengan kriteria astronomis dalam penyusunan jadwal shalat.

Inspirasi pemanfaatan sains dalam ibadah juga diperluas untuk ibadah-ibadah lainnya terkait dengan penentuan waktu. Penentuan awal Ramadhan dan hari raya kini sudah banyak memanfaatkan pengetahuan astronomi atau ilmu falak, baik untuk keperluan perhitungannya (hisab) maupun untuk pengamatannya (rukyat). Penentuan awal Ramadhan atau hari raya yang kadang berbeda saat ini bukan lagi disebabkan oleh perbedaan metode hisab dan rukyat, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan kriteria astronomisnya. Alangkah indahnya kalau pelajaran kesepakatan kriteria astronomis dalam penentuan jadwal shalat juga diterapkan untuk penentuan awal Ramadhan dan hari raya sehingga potensi perbedaan dapat dihilangkan. Tanpa kesepakatan kriteria itu, tahun ini dan beberapa tahun ke depan kita akan menghadapi lagi persoalan perbedaan awal Ramadhan dan hari raya.

Upaya menuju titik temu kriteria astronomi sudah mulai dilakukan. Tinggal selangkah lagi kita bisa mendapatkan kriteria hisab rukyat Indonesia yang mempersatukan umat. Isra’ mi’raj pun mengajarkan upaya menuju “titik temu” menurut cara pandang manusiawi antara Allah dan Rasulullah terkait dengan jumlah shalat wajib yang semula 50 kali menjadi 5 kali sehari semalam. Satu sisi itu menunjukkan kemurahan Allah, tetapi pada sisi lain kita bisa mengambil pelajaran bahwa kompromi untuk mencapai titik temu adalah suatu keniscayaan. Kita tidak boleh memutlakkan pendapat kita seolah tidak bisa berubah, termasuk untuk mencapai titik temu. Kriteria astronomis hisab rukyat juga bukan sesuatu yang mutlak, mestinya bisa kita kompromikan untuk mendapatkan kesepakatan ada ketenteraman dalam beribadah shaum Ramadhan dan ibadah yang terkait dengan hari raya (zakat fitrah, shalat hari raya, Shaum di bulan Syawal,  shaum Arafah)
Isra’ mi’raj memberikan inspirasi mengintegrasikan sains dalam memperkuat aqidah dan menyempurnakan ibadah, selain mengingatkan pentingnya shalat lima waktu.
http://www.dakwatuna.com

Keutamaan Hari Jum'at

1. Hari Terbaik Abu Hurairah z meriwayatkan bahwa Rasulullah y bersabada: "Hari terbaik dimana pada hari itu matahari terbit adalah hari Jum'at. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan surga serta dikeluarkan darinya. Dan kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jum'at 

2. Terdapat Waktu Mustajab untuk Berdo'a. Abu Hurairah z berkata Rasulullah y bersabda: " Sesungguhnya pada hari Jum'at terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya. Rasululllah y mengisyaratkan dengan tangannya menggambarkan sedikitnya waktu itu (H. Muttafaqun Alaih) Ibnu Qayyim Al Jauziah - setelah menjabarkan perbedaan pendapat tentang kapan waktu itu - mengatakan: "Diantara sekian banyak pendapat ada dua yang paling kuat, sebagaimana ditunjukkan dalam banyak hadits yang sahih, pertama saat duduknya khatib sampai selesainya shalat. Kedua, sesudah Ashar, dan ini adalah pendapat yang terkuat dari dua pendapat tadi (Zadul Ma'ad Jilid I/389-390). 

3. Sedekah pada hari jum'at lebih utama dibanding sedekah pada hari-hari lainnya. Ibnu Qayyim berkata: "Sedekah pada hari itu dibandingkan dengan sedekah pada enam hari lainnya laksana sedekah pada bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya". Hadits dari Ka'ab  menjelaskan: "Dan sedekah pada hari itu lebih mulia dibanding hari-hari selainnya".(Mauquf Shahih)

4. Hari tatkala Allah l menampakkan diri kepada hamba-Nya yang beriman di Surga. Sahabat Anas bin Malik  dalam mengomentari ayat: "Dan Kami memiliki pertambahannya" (QS.50:35) mengatakan: "Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jum'at".

5. Hari besar yang berulang setiap pekan. Ibnu Abbas z berkata : Rasulullah y bersabda: "Hari ini adalah hari besar yang Allah tetapkan bagi ummat Islam, maka siapa yang hendak menghadiri shalat Jum'at hendaklah mandi terlebih dahulu ......". (HR. Ibnu Majah)

6. Hari dihapuskannya dosa-dosa Salman Al Farisi z berkata : Rasulullah y bersabda: "Siapa yang mandi pada hari Jum'at, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke masjid, dan masuk masjid tanpa melangkahi diantara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jum'at". (HR. Bukhari). 

7. Orang yang berjalan untuk shalat Jum'at akan mendapat pahala untuk tiap langkahnya, setara dengan pahala ibadah satu tahun shalat dan puasa. Aus bin Aus z berkata: Rasulullah y bersabda: "Siapa yang mandi pada hari Jum'at, kemudian bersegera berangkat menuju masjid, dan menempati shaf terdepan kemudian dia diam, maka setiap langkah yang dia ayunkan mendapat pahala puasa dan shalat selama satu tahun, dan itu adalah hal yang mudah bagi Allah". (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan, dinyatakan shahih oleh Ibnu Huzaimah).

8. Wafat pada malam hari Jum'at atau siangnya adalah tanda husnul khatimah, yaitu dibebaskan dari fitnah (azab) kubur. Diriwayatkan oleh Ibnu Amru , bahwa Rasulullah y bersabda:"Setiap muslim yang mati pada siang hari Jum'at atau malamnya, niscaya Allah akan menyelamatkannya dari fitnah kubur". (HR. Ahmad dan Tirmizi, dinilai shahih oleh Al-Bani,,, semoga bisa menambah amalan kita,,,, (¯`v´¯) Aamiin ya Robbal 'alamiin (¯`v´¯) `·.¸.·`(´'`v´'`)♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥(´'`​v´'`)`·.¸.·` ....♥♥..♥`•.¸.•´(¯`v´¯)(¯`v´¯)​`•.¸.•´♥..♥♥.. …….…….……... •.¸.•´♥………….…♥♥♥♥♥ 

Selasa, 19 Juli 2011

"Jika Telur Pecah"

Oleh: Ust. Musyaffa Abdurrahim, Lc.
Jika telur pecah karena faktor eksternal
Berarti kehidupannya berakhir
Jika telur pecah karena faktor internal
Berarti ada kehidupan baru dimulai

"SESUATU YANG AGUNG SELALU DIMULAI DARI DALAM"

DR. Salman Audah, seorang ulama' dan pemikir dari Saudi Arabia berkata:
Kita wajib percaya bahwa kita diciptakan bukan:
Untuk gagal
Untuk bersedih, atau
Untuk menjadi manusia-manusia tanpa tujuan
Kita wajib percaya bahwa keberadaan kita bukanlah kebetulan
Bukan pula sekedar suatu angka
Keberadaan kita adalah karena adanya suatu keperluan
"SAYA ADA KARENA ALAM SEMESTA MEMERLUKAN SAYA"
Ambillah ibrah dari harimu
Jadikan kemaren sebagai pengalaman

Dunia adalah persoalan matematik
Bubuhkan tanda - capek dan sengsara
Bubuhkan tanda + cinta dan kesetiaan
Niscaya Tuhan pemilik langit akan menolong dan memberikan taufiq kepadamu

Jika engkau sujud, sampaikan kepada-Nya seluruh rahasiamu
Jangan dengarkan orang-orang di sekelilingmu
Bisiki Dia dengan air matamu
Dan hatimu adalah kekayaanmu
Dan Dia melihat kepadanya

Jangan berkata: dari mana aku mulai
Ketaatan kepada-Nya adalah titik awal

Jangan berkata: mana jalanku
Syari'at Allah adalah penunjuk jalan

Jangan berkata: di mana kenikmatanku
Cukulah syurga Allah sebagai jawabannya

Jangan berkata: besok aku akan memulai
Bisa jadi itulah akhir perjalananmu

Dunia itu tiga hari:
Sehari telah kita lalui dan tidak akan kembali
Hari ini yang tidak akan abadi, dan
Besok, yang kita tidak tahu akan bersama siapa? Dan di mana?

Saat seseorang mengucapkan kata-kata yang tidak pantas kepadamu
Jangan marah..senyumlah..sebab ia telah mengungkapkan jati dirinya, sehingga engkau tidak perlu capek menggalinya

Dan biasakan lidahmu untuk mengucapkan:
Allahummaghfirli (ya Allah, ampuni daku)
Sebab ada saat-saat tertentu Allah SWT tidak menolak permohonan siapa pun.

 
 

Kamis, 14 Juli 2011

Rabbaniyyah Versus Materialisme

Di dalam bukunya yang berjudul Fiqh Da’wah jilid dua, Syaikh Musthafa Masyhur, menulis mengenai dua pemahaman mendasar yang senantiasa bertarung dalam kehidupan manusia. Kedua pemahaman tersebut ialah Rabbaniyyah versus Materialisme. Rabbaniyyah merupakan sebuah ajaran yang senantiasa dianut dan disebarluaskan oleh kaum beriman. Sedangkan Materialisme adalah ajaran yang dianut oleh kaum kafir dan munafik lalu mereka senantiasa mempromosikannya.

Inti daripada ajaran Rabbaniyyah ialah menjalani kehidupan di dunia yang fana ini dengan menjadikan Allah سبحانه و تعالى Rabbul ‘aalamiin sebagai pusat perhatian, puncak kebahagiaan bahkan pusat pengabdian. Sedemikian rupa sehingga panganut Rabbaniyyah hanya mau menjalankan kehidupan di dunia berdasarkan bimbingan petunjuk Allah سبحانه و تعالى beserta utusan-Nya yakni Rasulullah صلى الله عليه و سلم . Bahkan tolok-ukur keberhasilan kaum penganut Rabbaniyyah ialah seberapa jauh manusia dan masyarakat berjalan konsisten mengikuti petunjuk Rabb mereka, Sang Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa alam semesta.
Sedangkan ajaran Materialisme ialah menjalani kehidupan di dunia yang fana ini dengan menjadikan berbagai materi ciptaan Allah سبحانه و تعالى , bahkan terkadang hasil karya manusia, sebagai pusat perhatian, puncak kebahagiaan bahkan pusat pengabdian. Sedemikian rupa sehingga kaum penganut Materialisme memandang bahwa tolok-ukur keberhasilan hidup di dunia ialah seberapa jauh manusia dan masyarakat dapat terpuaskan hidupnya secara material. Manusia merasa puas dan bahagia bilamana bebrbagai kebutuhan syahwat-jasadinya telah terpenuhi. Tidak perlu mengkaitkan dengan Allah سبحانه و تعالى Sang Pencipta berbagai materi tersebut. Penganut Materialisme pada ghalibnya terdiri dari kaum ateis alias tidak percaya kepada Allah سبحانه و تعالى dan tidak menganut agama. Tetapi di zaman penuh fitnah ini bisa juga penganut materialisme terdiri dari kaum yang mengaku bertuhan Allah سبحانه و تعالى bahkan beragama Islam, hanya saja mereka tidak menjadikan Allah سبحانه و تعالى sebagai pusat perhatian dan tujuan kehidupan, apalagi memandang perlu menjalani hidup berdasarkan petunjukNya.

Kemerosotan Rabbaniyah dewasa ini berbanding terbalik dengan semakin memuncaknya dominasi Materialisme dalam kehidupan ummat manusia pada umumnya, ummat Islam pada khususnya. Kelalaian masyarakat dunia akan hakikat adanya Rabb yang mencipta, memiliki, memelihara dan mengawasi mereka, telah menyebabkan masyarakat menjadi hina bagaikan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Semua ini tidak terlepas dari usaha musuh-musuh Allah سبحانه و تعالى yang selalu bertujuan menjauhkan ummat Islam dari petunjuk Allah سبحانه و تعالى yaitu ajaran Islam. Namun sebab yang paling hakiki ialah karena kaum muslimin sendiri membiarkan dirinya memperturutkan kemauan musuh Allah سبحانه و تعالى sekaligus musuh orang beriman, yakni syetan.

لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا
 وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ
“...mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.” (QS Al-A’raf 179)
Manusia hidup antara dua kekuatan yang saling tarik menarik. Antara tuntutan-tuntutan syahwat jasadi yang rendah dengan tuntutan-tuntutan ruh yang mulia dan tinggi.

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“...dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy-Syams 7-10)
Orang beriman sibuk memenuhi tuntutan-tuntutan ruhnya sehingga mereka disebut Allah سبحانه و تعالى sebagai “orang yang mensucikan jiwanya”. Merekalah yang beruntung. Sedangkan kaum kafir dan munafiq sibuk memenuhi berbagai tuntutan syahwat-jasadinya sehingga Allah سبحانه و تعالى sebut mereka sebagai “orang yang mengotori jiwanya”. Merekalah kaum yang merugi. Kaum Rabbaniyyun (penganut ajaran Rabbaniyyah) itulah kaum yang beriman. Sedangkan kaum Materialis (penganut ajaran Materialisme) itulah kaum kafir dan munafiq.

Kaum Rabbaniyyun sibuk memperjuangkan tegaknya berbagai nilai-nilai yang bersumber dari Allah سبحانه و تعالى Rabbul ‘aalamiin. Mereka sangat yakin bahwa hanya dan hanya dengan menegakkan ajaran Islam yang bersumber dari Rabbul ‘aalamiin sajalah hidup ummat manusia bakal menjadi baik dan benar. Malah hanya dengan jalan itu sajalah Islam baru benar-benar akan dirasakan oleh semua orang menjadi Rahmatan lil ‘aalamin (rahmat bagi segenap alam semesta). Mereka tidak rela mencampuradukkan agama Rabbul ‘aalamiin dengan ajaran produk manusia karena mereka sangat yakin bahwa ajaran Allah سبحانه و تعالى sudah pasti sempurnanya. Jika mereka menambahkan ajaran lain kepada ajaran Allah سبحانه و تعالى dengan maksud agar menghasilkan sebuah pedoman hidup yang lebih akomodatif (dapat memuaskan bukan saja kaum muslimin tetapi juga kaum non-muslim), maka itu sama saja artinya dia telah bersangka buruk kepada Allah سبحانه و تعالى . Berarti ia memandang bahwa agama Allah سبحانه و تعالى tidak cukup sempurna untuk mampu mengayomi seluruh ummat manusia dengan segenap keaneka-ragamannya.

Sedangkan kaum Materialis memandang yang penting adalah memastikan bahwa berbagai tuntutan syahwat-jasadinya terpenuhi. Oleh karenanya, mereka tidak pernah memperdulikan eksistensi Allah سبحانه و تعالى dalam kehidupan. Mereka hanya tahunya kehidupan sebatas dunia yang fana. Mereka sibuk menguji-coba berbagai pedoman hidup produk manusia. Kalaupun mereka sempat menghiraukan agama Allah سبحانه و تعالى biasanya mereka berusaha mencocok-cocokkannya dengan ajaran produk manusia. Yang jelas, dominasi kehidupan dunia begitu hebat mencengkeram cara berfikir kaum Materialis. Mereka sangat ragu bahkan mengingkari adanya kehidupan lain di luar dunia fana ini. Mereka tidak percaya adanya alam akhirat.

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS Ar-Ruum 7)
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلا الدَّهْرُ
Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa",(QS Al-Jaatsiyah 24)
http://www.eramuslim.com/suara-langit/undangan-surga/rabbaniyyah-versus-materialisme.htm