Tampilkan postingan dengan label Gerakan Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gerakan Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 September 2013

ISRAEL SANGAT TAKUT DENGAN PENGHAFAL AL-QUR'AN


 SEPERTI yang telah kita ketahui bersama bahwa perang antara Israel-Palestina (HAMAS) tidak akan ada hentinya entah sampai kapan. Israel  terus menerus melakukan pembantaian-pembantaian terhadap warga Palestina, entah dengan cara sadis ataupun menggunakan siasat licik yang lemah lembut.
Perlu diketahui bahwa dari sekian ribu jiwa korban keganasan perang Israel, 75% diantara mereka adalah anak-anak dan wanita. Berbagai alasan disampaikan oleh Israel mengenai korban tersebut, inilah, itulah bahkan sebagian besar alasannya sangat tidak masuk akal sama sekali dan terkesan mengada-ada. Lebih parahnya lagi Negara-negara dunia seakan tidak mampu menghentikan ini semua, termasuk negara-negara arab sendiri.

Banyak dari kita yang mempertanyakan kenapa Israel tega menghabisi nyawa anak-anak Palestina? Ada yang bilang memang tabiat Israel yang kejam dan biadab, ada juga yang bilang Israel takut akan pertumbuhan anak-anak Palestina. Karena anak-anak yang terlahir adalah generasi masa datang yang gemilang. Mungkin pendapat yang kedua ada benarnya dan masuk akal juga.

Berikut ini akan dijelaskan mengapa Israel menjadikan anak-anak Palestina sebagai target operasi mereka selain kelompok HAMAS tentunya.

Pada penyerangan Israel terhadap Palestina pada Desember 2008 yang bertepatan dengan bulan suci Ramadhan tahun 1429 H, pimpinan HAMAS Ismail Haniyah melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang telah hafal Al-Qur’an. Dan ternyata anak-anak yang sudah hafal 30 juz Al-Quran ini menjadi sumber ketakutan Zionis Yahudi.

“Jika dalam usia semuda itu mereka sudah menguasai Al-Quran, bayangkan 20 tahun lagi mereka akan jadi seperti apa?” Demikian pemikiran yang berkembang di dalam pikiran orang-orang Yahudi.

Tidak heran jika-anak Palestina menjadi para penghafal Al-Quran. Kondisi Gaza yang diblokade dari segala arah oleh Israel, menjadikan mereka terus intens berinteraksi dengan Al-Qur’an. Tidak ada main Play Station atau game bagi mereka.

Namun kondisi tersebut memacu mereka untuk menjadi para penghafal Al-Quran yang masih begitu belia. Dan pada saat itu, karena ketakutan Zionis Yahudi, sekitar 500 bocah penghafal Quran itu telah syahid.

Itulah sebagian alasan mengapa HAMAS memberlakukan syarat-syarat yang amat berat untuk menjadi anggota mereka, diantaranya Hafidz Al-Qur’an dan tidak pernah meninggalkan shalat fardhu terutama shalat subuh.

Teringat sejarah emas tentang kejayaan Islam di masa kekhalifahan dahulu. Dan rahasia besar yang perlu dicatat dalam masa itu adalah umat Islam tidak pernah jauh dengan Al-Quran, tidak pernah melepaskan hadits Rasulullah saw menjadi pedoman. Seperti dalam sebuah hadits Rasulullah Saw. pernah bersabda.

“Telah kutinggalkan untuk kalian dua hal. Jika kalian berpegang teguh dengan keduanya, maka kalian tidak akan pernah sesat, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya” (HR. Malik).

Perang panjang dengan Yahudi akan berlanjut entah sampai berapa generasi lagi. Ini cuma masalah giliran. Sekarang Palestina dan besok bisa jadi Indonesia. Apa yang telah dilakukan pemerintah Indonesia untuk membina generasi penerus bangsa?

Belajarlah dari Palestina, walaupun mereka dikurung oleh penjajahan Zionis, nyawa mereka terancam setiap saat, setiap menit bahkan setiap detik, tapi itu semua tidak menyurutkan niat mereka untuk dekat dengan Sang Khalik dan mendalami lebih dalam dan lebih jauh tentang Agama Islam.

Israel memang unggul dalam segi jumlah pasukan dan perlengkapan tempur yang berteknologi paling tinggi. Tapi rakyat Palestina memiliki semangat juang yang tinggi, mereka berani mati demi kebebasan mereka, anak cucu mereka. Mendapat syahid dengan janji bertemu Rabb dengan leluasa tanpa tabir apapun

sumber : http://muslimina.blogspot.com

Selasa, 15 Januari 2013

Renungan Kisah dan Pena Zainab Al-Ghazali

Jika kita berbicara tentang para mujahid yang dirindu para bidadari syurga selayaknya Imam Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb, dan Abdullah Azzam, rasanya belum lengkap apabila belum membahas ini dalam versi muslimahnya. Ya, mujahidah abad ini yang menjadi salah satu orang yang patut membuat cemburu para bidadari di syurga adalah Zainab Al-Ghazali. Muslimah tangguh itu seorang aktivis dan pendiri Jamaat Al-Sayyidat Al-Muslimat (Perhimpunan Perempuan Muslim) saat usianya masih sangat muda, 18 tahun. Beliau juga biasa disebut sebagai pejuang wanita Ikhwanul Muslimin.

Zainab Al-Ghazali adalah wanita yang sangat luar biasa. Tokoh perempuan asal Mesir ini begitu gigih memperjuangkan persamaan hak kaum perempuan berdasarkan keyakinannya, sesuai doktrin ajaran Islam yang benar. Dia tidak setuju dengan ide-ide sekuler tentang gerakan pembebasan perempuan.  Perhimpunan yang didirikannya pun mampu melahirkan generasi dai-dai wanita yang mempertahankan status perempuan dalam Islam. Mereka meyakini dan mampu meyakinkan masyarakat bahwa agama Islam memberikan peluang sebesar-besarnya bagi perempuan untuk memainkan peranan penting di masyarakat, baik itu memiliki pekerjaan, terjun di dunia politik, dan bebas dalam mengeluarkan, namun tetap tidak mengesampingkan fungsi utama perempuan dalam mengurus rumah tangga dan sebagai ibu.

Zainab Al-Ghazali mengingatkan kita pada sosok yang begitu dekat dengan negeri ini, RA. Kartini. Begitu pun dengan tulisan-tulisannya. Jika kita ingat tulisan Kartini yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” mengandung gagasan dan kecaman terhadap Barat, maka buah pena dari Zainab Al-Ghazali mampu menyeret dirinya hingga ke dalam tahanan.

Suatu ketika ia melihat kondisi pemerintahan Mesir melakukan kezhaliman yang luar biasa. Dilandasi semangatnya yang mendalam, Zainab mengirimkan tulisan ke media massa nasional yang isinya mengkritisi kebijakan pemerintah Mesir. Tulisan Zainab serta-merta mendapat respons negatif dari pemerintah Mesir. Maka, pada suatu malam diculiklah Zainab oleh aparat pemerintah Mesir. Zainab lalu dimasukkan ke kamar sempit yang gelap gulita dalam kondisi terikat. Beberapa menit kemudian lampu kamar dinyalakan. Dan ternyata di dalam kamar tersebut telah berkumpul puluhan ekor anjing yang disiapkan untuk menyiksa Zainab. Dengan dibalut pakaian putih, Zainab tak henti-hentinya berdoa.

“Ya Allah, sibukkanlah aku dengan mengingati-Mu, sehingga hal yang lain tak terasakan olehku”
Zainab Al-Ghazali dan Hamidah Quthb (inet)
Anjing-anjing tadi pun menyerang Zainab. Menggigit sekujur tubuh Zainab. Ia hanya mampu memejamkan mata, tak sanggup menyaksikan puluhan anjing tadi menggerogoti tubuhnya. Tak berapa lama kemudian, pintu kamar dibuka kembali dan lampu dinyalakan. Subhanallah, dengan izin Allah, Zainab tak mendapati sedikit pun luka di sekujur tubuhnya. Allah Azza wa Jalla telah menunjukkan kekuasaan-Nya pada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dan Zainab sebagai juru dakwah tulisan telah melakukan hal yang patut menjadi renungan untuk para aktivis dakwah tulisan pada hari ini.”  (Dalam “Tinta-Tinta Dakwah”, Dwi Suwiknyo dkk)

Zainab Al-Ghazali meninggalkan jejak perjuangannya,  ia wafat pada 3 Agustus 2005 di usia 88 tahun.  Zainab telah mengajarkan banyak hal, dari kekuatan aqidahnya, perjuangan kewanitaannya hingga goresan-goresan penanya. Bahkan saat bebas dari tahanan ia mampu melahirkan karya berjudul Ayyamun min Hayati (Hari-Hari dari Hidupku). Di dalamnya, ia melukiskan bagaimana ia menerima siksaan yang melampaui kekuatan kebanyakan laki-laki saat berada dalam tahanan. Salah satunya adalah saat ia dimasukkan ke dalam ruangan gelap yang dipenuhi anjing-anjing lapar. Dalam buku itu, Zainab menegaskan bahwa hanya pertolongan Allah dan keyakinanlah yang membuatnya tabah dan membuatnya dapat bertahan hidup.

Ya, hanya kekuatan aqidah yang menghujam dari hati seorang muslim yang mampu mengantarkan kita pada ridha-Nya, meskipun pengorbanan yang ada datang bertubi-tubi.  Saya jadi teringat dengan kisah Sayyid Quthb saat menjelang eksekusi kematiannya. Saat itu Sayyid Quthb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Telunjuk yang senantiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalat, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukkan atau menyerah kepada rezim thawaghut….”

Semoga dari kisah perjuangan para mujahid dan mujahidah ini dapat membuat kita semakin mencintai perjuangan di jalan-Nya. Amin allahumma amin…
klik disini 

Rabu, 01 Juni 2011

Hasil Kerja Keras Budak Muslim Brasil

     Islam pertama kali dkenalkan di Brasil oleh budak Afrika. Di masa lalu, Brasil terkenal akan perbudakan terbesar di dunia. Sejarah Islam di Brasil dimulai dengan impor tenaga kerja para budak dari Afrika ke negara itu. Brasil memperoleh 37% dari seluruh budak Afrika yang diperdagangkan, dan lebih dari 3 juta budak yang dikirim ke negeri ini. Mulai sekitar tahun 1550, Portugis memulai perdagangan budak Afrika untuk bekerja di perkebunan gula setelah hubungan dengan para pribumi memburuk.

Awal dari migrasi para budak ini ke Brasil sendiri dimulai ketika terjadi pergolakan di Bahia pada tahun 1835. Bahia pada abad ke-19 memang terkenal sebagai daerah Afrika yang penduduknya Muslim.
Sejak malam 24 Januari 1835, sekelompok budak lahir Afrika menduduki jalan-jalan Salvador dan selama lebih dari tiga jam mereka berhadapan dengan tentara dan warga sipil yang bersenjata. Pergolakan ini tidak berlangsung lama sebenarnya, dan korban yang tewas ketika diperkirakan mencapai jumlah 50 sampai dengan 100 orang. Banyak Muslim yang dijatuhi hukuman mati, penjara, cambuk, atau deportasi.
Namun, masyarakat Muslim Afrika tidak terhapus semalam, dan akhir 1910 diperkirakan masih ada beberapa 100.000 Afrika Muslim yang tinggal di Brasil.

Imigran Muslim di BraziL



     Setelah asimilasi masyarakat Muslim Afro-Brasil, periode Islam berikutnya di negara itu adalah hasil dari imigrasi Muslim dari Timur Tengah dan Asia Tenggara. Jumlah Muslim terbesar ditemukan di wilayah São Paulo.
   Para Muslim Brasil konon tidak mempunyai halangan dalam soal makanan. Makanan Arab cukup terkenal di sini, bahkan rantai makanan cepat saji terbesar kedua di Brazil adalah Habib, yang tentu saja menyajikan makanan halal. Bisnis industri tekstil, didominasi oleh pedagang asal Suriah-Lebanon.

    Dewan Kota Sao Paulo bahkan memiliki Penasihat Muslim yang bernama Muhammad Murad, ia adalah seorang pengacara. Sejumlah masjid bisa terlihat di São Paulo. Yang tertua dan paling populer ini ditemukan di Av. Do Estado.

    Sejak didirikan lebih dari tujuh puluh tahun yang lalu, masjid ini sekarang dilengkapi dengan sebuah institusi sekolah Quran, perpustakaan, dapur dan ruang pertemuan untuk berbagai fungsi.

Muslim Brasil Hari ini


     Menurut sensus Brasil tahun 2000 terdapat 27.239 Muslim yang tinggal di negara ini, terutama terkonsentrasi di negara bagian São Paulo dan Paraná. Pemimpin komunitas Muslim di Brazil memperkirakan bahwa ada antara 700.000 sampai tiga juta Muslim, dan mereka semua aktif dalam mempraktikan agama mereka. Ada juga komunitas Muslim di pinggiran kota São Paulo dan di kota pelabuhan Santos, serta dalam komunitas kecil di Paraná.

Masyarakat Muslim Brasil dikenal sebagai Islam Sunni, dan hampir sepenuhnya berasimilasi ke dalam masyarakat yang lebih luas. Ada sekitar 60 masjid, pusat-pusat agama Islam, dan asosiasi Islam.
Akhir-akhir ini, sebuah tren terjadi. Banyak warga Brasil non-Arab yang masuk Islam. Sebuah sumber Muslim baru-baru ini memperkirakan terdapat hampir 10.000 Muslim yang baru masuk tinggal di Brazil.Selama 30 tahun terakhir, Islam telah menjadi semakin nyata dalam masyarakat Brasil. Perkembangan Islam di Brasil ini ditunjukkan bahwa 2 dari 3 terjemahan Portugis dalam Al-Qur'an diciptakan oleh penerjemah Muslim di Sao Paulo.http://www.eramuslim.com

Dan Rakyat Meksiko Pun Melirik Islam

    Meksiko hari ini mungkin tengah meretas jalan menuju sebuah revolusi monoteis. Kecenderungan baru yang muncul dari perkembangan terakhir, dan mencerminkan perubahan yang begitu jelas di negara-negara Amerika Selatan lain; ribuan orang memeluk Islam, meninggalkan ajaran Katolik dan mulai mengenal peninggalan nenek moyang orang Meksiko di Spanyol: Islam.

     Tahun 2011, jemaah salat di Mexico City's Centro Cultural Islamico de Mexico (CCIM) meningkat sampai tiga kali lipat dibandingkan dengan pertama kalinya dibuka enam tahun yang lalu. Bisa jadi angka ini lebih tinggi. Namun, sebagian besar orang Meksiko masih belum memiliki pengetahuan tentang Islam.
 
     CCIM menyebarkan keesaan Allah di semua tingkat masyarakat dan memublikasikan terjemahan tentang Islam ke bahasa Spanyol. Ada beberapa aktivis Islam yang merupakan lulusan dari universitas Arab Saudi yang fasih berbahasa Arab. Satu-satunya yang membuat penyebaran Islam agak tersendat di Meksiko adalah kurangnya dana. Misalnya saja, program radio Islam Publik Center harus ditunda karena kendala ini.
Dalam 3 tahun terakhir, CCIM membangun dua masjid baru di dua kota dekat ibukota. Tujuan utamanya memang membangun masjid di setiap kota besar Meksiko.

Sejarah Awal
 


     Meksiko memiliki sejarah yang kaya. Orang-orang Meksiko pra-Columbus, bangsa Maya, menjalani kehidupan yang mirip dengan suku asli Amerika yaitu orang Indian. Mereka semua adalah orang-orang pantheists dan mempunyai imam tinggi untuk memediasi dengan alam dan dewa-dewa mereka. Mereka terjebak dalam perang dan kekurangan makanan, kemudian berangsur-angsur dihapuskan dan diganti oleh Aztec.

    Orang-orang ini dikenal percaya akan agama politeistik berdasarkan penciptaan konstan di dunia dan kehancuran. Agama mereka mengajarkan bahwa bencana dapat dihindari melalui pengorbanan alat perang dan manusia. Pada abad keenam belas, suku Aztec memerintah sebagian besar Meksiko.
Pada 1500-an, orang Spanyol dari Kuba datang untuk menjarah sumber daya alam Meksiko, yaitu emas, dan menemukan kejayaan. Cortez, conquistador (penakluk) paling terkenal, diklaim sebagai dewa Aztec dan membingungkan orang hingga bergabung dengannya. Ia menaklukkan Aztec dalam waktu kurang dari 3 tahun, dan mendirikan "Spanyol Baru."

    Pada 1535, pengadilan kerajaan pertama didirikan untuk memberikan kontrol kolonis Spanyol terhadap buruh. Gereja Katolik Roma bersekutu dengan monarki Spanyol, bekerja untuk menciptakan tanah yang bebas dari perbedaan pendapat agama dan untuk mengonversi agama rakyat.

    Selama 300 tahun kekuasaan Spanyol di Meksiko, para penjajah menguasai semua kekayaan dan kekuasaan politik, dan orang pribumi tidak memiliki pilihan lain selain menuruti perintah atau untuk menghadapi kematian.
Pada abad ketujuh belas, Spanyol Baru runtuh, dan rakyat Indian Meksiko sekarat oleh jutaan penyakit impor dan kerja keras yang diberlakukan oleh penindas mereka. Dari hampir 11 juta orang di tahun 1520, tersisa kurang dari 1 juta pada tahun 1550. Ternak dan ternak domba yang dibawa oleh orang Spanyol hancur, lahan pertanian dan sumber daya air habis, sehingga hampir tidak mungkin bagi pribumi Meksiko untuk mendapatkan makanan.
Pada tahun 1900-an, rakyat Meksiko berjuang dan merebut kembali kontrol atas Meksiko pada awal 1900-an.
Meksiko Hari Ini

     Saat ini, Meksiko memiliki lebih dari 90 juta orang, yang sebagian besar mengikuti ajaran Katolik peninggalan Spanyol. Namun, kesulitan hidup telah membuka pikiran rakyat dan orang-orang Meksiko tergerak untuk mempelajari agama lain,terutama Islam.
    Ada sangat sedikit pengetahuan tentang asal-usul Islam di Meksiko. Beberapa sumber mengatakan imigran Suriah yang membawanya, yang lainnya mengatakan oleh imigran Turki.

    Saat ini, organisasi-organisasi Islam fokus pada dakwah akar rumput di Meksiko. Organisasi-organisasi kecil yang paling efektif di tingkat masyarakat, pergi dari desa ke desa dan berbicara langsung kepada rakyat. Sebagai hasil dari kerja keras itu, orang Meksiko sangat ingin belajar tentang Islam, dan banyak yang menyatakan Syahadah mereka.
Jumlah orang Islam di Meksiko saat ini diperkirakan mencapai 110,000 orang. http://www.eramuslim.com

Geliat Muslim Di Negara Kartun Penghina Nabi

     Tidak seperti di negara-negara Barat lainnya, di Denmark tidak ada pemisahan gereja dan negara. Di Denmark, gereja mempunyai kedudukan istimewa yang tidak dimiliki oleh kelompok minoritas lainnya, seperti Islam misalnya. Bagaimana Islam berkembang di negara yang pernah menerbitkan kartun penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw ini?

     Di Denmark, diperkirakan ada sekitar 3,7% umat Muslim. Mayoritas Muslim yang tinggal di Denmark adalah imigran generasi pertama dari negara-negara mayoritas Muslim. Dalam hal ini, ada tiga fase dalam imigrasi Muslim ke Denmark: para pekerja asing, pencari suaka dan orang-orang yang memeluk Islam melalui perkawinan.

    Pada awal 1970-an, banyak orang Muslim beremigrasi dari Turki, Pakistan, Maroko dan Bosnia untuk mencari pekerjaan di Denmark. Denmark sendiri kemudian menghentikan kebebasan imigrasi pada tahun 1973, setelah melihat begitu meluapnya para imigran.

    Selama 1980-an dan 1990-an, sejumlah pencari suaka Muslim datang ke Denmark. Pada tahun 1980 sebagian besar pencari suaka berasal dari Iran, Irak, Gaza dan Tepi Barat, dan pada tahun 1990-an sebagian besar pencari suaka berasal dari Somalia dan Bosnia. Beberapa dari mereka yang mencari suaka di Denmark biasanya mereka yang dituduh dengan alas an terorisme di negara asal mereka.

    Para pencari suaka terdiri dari sekitar 40% dari populasi Muslim Denmark. Sebelumnya, mayoritas Muslim yang berimigrasi ke Denmark melakukannya sebagai bagian dari reunifikasi keluarga. Pada 2002, parlemen Denmark mengesahkan undang-undang yang menyatakan bahwa reunifikasi keluarga akan dipantau lebih mendalam lagi. Dengan undang-undang itu, maka di Denmark orang menikah harus melewati usia 24 tahun paling tidak.

    Pada tahun 1967, Masjid Nusrat Djahan dibangun di Hvidovre, pinggiran Kopenhagen. Konon ini menjadi masjid pertama di Denmark. Ada beberapa masjid yang lain tetapi tidak dibangun untuk tujuan eksplisit. Memang tidak dilarang untuk membangun masjid atau bangunan agama lain di Denmark, tetapi ada hukum zonasi yang sangat ketat. Muslim Denmark sendiri tidak ingin membangun masjid dengan menggunakan uang dari luar, seperti dari Saudi misalnya.

    Di seantero Denmark saat ini hanya ada tujuh pemakaman untuk umat Islam. Sebagian besar Muslim Denmark dimakamkan di pemakaman tersebut, dan sekitar 70 diterbangkan ke luar negeri untuk dimakamkan di negara asal mereka. Pada September 2006, sebuah pemakaman Muslim terpisah dibuka di Brondby, dekat Kopenhagen.

    Pada tahun 2009, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan laporan tentang kebebasan beragama di Denmark. Satu penemuan menyatakan bahwa ada beberapa insiden diskriminasi terhadap imigran, termasuk penodaan terhadap pemakaman: Ada insiden sentimen anti-imigran, termasuk grafiti, serangan tingkat rendah, penolakan layanan, dan diskriminasi kerja atas dasar ras. Di Denmark, diskriminasi masyarakat terhadap kelompok minoritas agama sulit untuk dibedakan. Pemerintah Denmark sendir mengkritik insiden-insiden itu dan segera mengadakan penyelidikan, tetapi hanya beberapa kasus saja yang dibawa ke pengadilan khusus atas tuduhan diskriminasi ras atau kejahatan kebencian.

    Sekolah Islam swasta pertama didirikan pada tahun 1978 yaitu Den Islamisk Arabiske Skole (Sekolah Islam Arab) di Helsingør dan menerima siswa dari negara manapun. Saat ini ada sekitar 20 muslim sekolah, yang sebagian besar terletak di kota-kota besar. Sekolah-sekolah Muslim besar hari ini memungkinkan melayani siswa sesuai dengan negara asal mereka. Pada 1980-an, sekolah untuk mereka yang berasal dari Pakistan, Turki dan Arab didirikan. Selanjutnya, untuk orang Somalia, sekolah Palestina dan Irak didirikan pada 1990-an. Hari ini, 6 atau 7 negara mendominasi sekolah-sekolah Islam.

    Sebagai negara dengan populasi yang sangat homogen, Denmark, seperti kebanyakan negara di dunia, berurusan dengan kehadiran minoritas besar dan terlihat. Sebagai imigran generasi pertama dan kedua, beberapa kelompok Muslim di Denmark dinilai belum berhasil mencapai kekuatan ekonomi dan politik yang sebanding dengan populasi mereka.

    Beberapa etnis Denmark merasa terancam oleh aspek budaya Muslim. Pada September 2005, sebuah surat kabar Denmark, Jyllands-Posten menerbitkan 12 karikatur Nabi Muhammad. Kartun ini yang berisi penghinaan jelas langsung memicu kontroversi internasional, dan akhirnya mengakibatkan pemboiotan produk-produk Denmark di beberapa negara. http://www.eramuslim.com

Hamburg, Pertama Mengakui Islam



     Dengan ini Islam di Jerman akan semakin semarak, di tengah-tengah kekawatiran (phobi) terhadap Islam. Apalagi, sekarang yang menerima Islam, bukan hanya pendatang, tetapi orang-orang "pribumi" sudah banyak yang masuk Islam.

     Jerman diperkirakan memiliki 4 juta Muslim, kebanyakan dari mereka berasal dari Turki. Tentu, jumlah masih sedikit jumlah 4 juta dibandingkan dengan jumlah penduduk Jerman, yang penduduknya sekarang mencapai 82 juta jiwa. Sekalipun, masih minoritas jumlah penduduk Muslim di Jerman terus bertambah secara signifikan, dan rata-rata setiap hari orang yang masuk Islam dapat mencapai 100 orang, menurut statistik, yang dikeluarkan oleh Dewan Muslim Eropa.

     Karena populasi umat Islam di Hamburg yang turus tumbuh, dan jumlahnya semakin banyak, maka pemerintah Hamburg akan segera menjadi negara Jerman pertama yang secara resmi mengakui Islam sebagai sebuah komunitas agama dan umat Islam, dan pemerintah akan memberikan hak-hak hukum yang sama dengan orang Kristen dan Yahudi dalam berurusan dengan administrasi lokal.

     Kesepakatan itu dicapai setelah melalui perdebatan nasional tentang hak-hak yang harus diakomodiri oleh pemerintah lokal terkait dengan umat Islam, dan penerimaan hak-hak umat Islam ini akan merubah sistem politik lokal, yang kemungkinan akan membuat persetujuan yang lebih sulit dari yang diharapkan, ujar pemimpin Muslim.
"Sangat penting bagi kita bahwa perjanjian ini membuat jelas bahwa kita adalah bagian dari masyarakat Jerman," kata Zekeriya Altug, ketua cabang DITIB Hamburg, jaringan masjid Turki-Jerman yang merupakan salah satu organisasi Muslim terbesar di Jerman.
"Kami sudah dekat dengan organisasi ini," kata Norbert Mueller, seorang Jerman yang merupakan anggota dewan Syura, asosiasi masjid terbesar di kota pelabuhan Jerman utara itu.

     Jerman memiliki 4 juta Muslim diperkirakan, kebanyakan dari mereka berasal dari Turki, diantara 82 juta penduduknya. Sekalipun, kebanyakan penduduk imigran asal Turki, ada diantara mereka yang tidak selamanya menetap di Jerman, dan kemudian mereka kembali ke negaranya. Tetapi, umumnya imigran asal Turki, mereka tetap diperlakukan sebagai pekerja migran, karena akhirnya mereka kembali ke negara asal mereka. Sekalipun mereka telah menjadi minoritas yang mapan, dan mendapatkan persamaan hak.
Perjanjian di kota besar terbesar kedua Jerman itu, sebuah kota yang merupakan negara dalam sistem federal itu akan menetapkan hak-hak mereka dan juga tugas mereka, seperti melakukan konsultasi warga lingkungan sebelum membangun masjid atau mendirikan menara.

   Tetapi, langkah-langkah mengakomodasi kepentingan dan hak Muslim di Hamburg ini, kehilangan pendukungnya kuat, ketika Walikota Ole von Beust mengundurkan diri pada bulan Agustus.
"Saya berharap untuk dapat berhasil, tetapi pandangan ini tidak sebagus seperti yang sebelumnya," kata Wolfgang Beuss. Agama urusan yang berkuasa, yaitu Partai Uni Demokratik Kristen (CDU), ujar juru bicara pemeritah Hamburg.

   Altug mengatakan banyak hak sudah diperbolehkan menurut hukum Jerman, atau diberikan sebagai pengecualian lokal. "Kesepakatan ini harus membawa semua ini bersama dalam sebuah teks tunggal," katanya.
Perjanjian Hamburg akan mengintegrasikan Muslim cara-cara praktis di dalam berbagai aktivitas yang nyata di masyarakat. Sebagai contoh, sekolah-sekolah umum kota Hamburg akan dapat mengangkat seorang guru Muslim untuk mengajar agama Islam di kelas yang terdapat muridnya yang beragama Islam. Sekarang ini sudah ijalankan oleh para guru dari gereja Lutheran setempat.

     Keputusan ini akan menjamin hak-hak penguburan pemakaman kota Hamburg bagi Muslim, sehingga umat Islam bisa dikebumikan di kafani, dan dimasukkan ke dalam peti mati dan tidak memiliki simbol-simbol agama Islam. Banyak imigran ingin dimakamkan di negara asli mereka untuk memastikan dapat dikubur secara Muslim.
Siswa Muslim akan bebas untuk tidak masuk sekolah di 2 atau 3 hari, selama hari libur Islam dan imam Muslim mengajar di penjara-penjara. Ini adalah sebuah perubahan penting bagi kaum Muslimin di Jerman.

     Orang-orang Palestina, Mesir, Irak, dan Turki, sekarang mereka mendirikan berbagai organisasi Islam, yang menjadi payung aktivitas mereka, dan berkolaborasi dengan para penduduk setempat yang sudah masuk Islam, dan menyelenggarakan aktivitas dakwah, yang hampir merata di seluruh wilayah Jerman. Ini merupakan tanda-tanda bangkitnya Islam di wilayah negara Nazi-Hitler itu.

    Dua negara lain, Lower Saxony dan Nordrhein-Westfalen, juga mempertimbangkan mengakau agama Islam. Sejak pengakuan agama adalah masalah negara di bawah hukum Jerman, beberapa negara lain dapat mengikuti contoh Hamburg. Inilah perkembangan yang menarik di Jerman. Perkembangan Islam di sebuah "continent" Eropa, yang terus bergerak.http://www.eramuslim.com