Tampilkan postingan dengan label Dunia anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia anak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Oktober 2011

Meletakkan Anak Dalam Pelukan atau Pangkuan


عن عائشة ـ رضي الله عنها ـ ” أن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ وضع صبياً في حجره يُحنكه ، فبال عليه ، فدعا بماء فأتبعه ” رواه البخاري .Dari Aisyah RA, bahwa Nabi Muhammad SAW meletakkan anak kecil di pelukannya kemudian mentahniknya (menyuapi dengan kurma yang telah dikunyahnya), lalu anak itu kencing di pelukannya, lalu meminta air dan mengguyurnya. (HR. Al Bukhari)
Penjelasan:
عن عائشة ـ  Istri Nabi Muhammad SAW
أن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ وضع صبياً  Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW meletakkan anak kecil, yaitu Abdullah bin Az Zubair, seperti yang diriwayatkan oleh Ad Daru Quthniy, atau anak itu adalah Al Husain bin Ali seperti dalam riwayat Al Hakim.
حجره  Ha’ dibaca kasrah, ada pula yang membacanya fathah, dan jim dibaca sukun/mati. Keterangan keadaan ketika Nabi يُحنكه mentahniknya, yaitu menyuapinya kurma setelah kurma itu dikunyahnya, untuk mendapatkan berkah ludah Nabi Muhammad saw, yang bercampur dengan rasa kurma yang manis.
فبال عليه  Lalu anak itu mengencingi bajunya, فدعا بماء فأتبعه lalu Nabi mengguyur bekas kencing itu dengan air.
Dari hadits ini dapat diambil pelajaran, antara lain:
  1. Menyayangi anak kecil, dan memperhatikannya. Nabi Muhammad saw meletakkan anak itu dalam pelukannya dan mentahniknya
  2. Bersabar menghadapi perilakunya, tidak membalasnya, karena belum mukallaf (bertanggung jawab).

عن أسامه بن زيد ـ رضي الله عنهما ـ قال : ” كان رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ يأخذني فيقعدني على فخذه ، ويقعد الحسن ابن عليّ على فخذه الأخرى ، ثم يضمهما ، ثم يقول : اللهم ارحمهما ، فإني أرحمهما ”  رواه البخاري
Dari Usamah bin Zaid RA, berkata: Rasulullah saw pernah mengangkatku dan mendudukkan aku di atas pahanya, dan Hasan bin Ali duduk di paha yang lain, kemudian Rasulullah saw memeluk kami berdua, dan bersabda: Ya Allah sayangilah keduanya, karena sesungguhnya aku menyayanginya. (HR. Al Bukhari)
Penjelasan:
عن أسامه بن زيد Dari Usamah bin Zaid bin Haritsah, dipanggil pula
الحِب ابن الحِب      kesayangan putra kesayangan Rasulullah SAW, -lalu Rasulullah mendudukkan aku di atas pahanya dan Al Hasan bin Ali duduk di paha lainnya. Hal ini menunjukkan perhatian dan cinta Rasulullah kepada keduanya.
Usamah lebih tua dari Al Hasan. Mayoritas pendapat tentang umur Al Hasan adalah ketika Rasulullah saw wafat ia berusia  8 (delapan) tahun, sedangkan Usamah ketika itu berusia 19 (sembilan belas) tahun. Rasulullah saw memeluk keduanya kemudian berdoa: ”Ya Allah sayangilah keduanya, karena sesungguhnya kami menyayanginya dan mengasihinya.
Hadits ini berisi tentang keutamaan Usamah bin Zaid dan Hasan bin Ali, dengan curahan cinta Rasulullah saw kepada keduanya.
Dari hadits ini dapat diambil pelajaran, antara lain:
Bahwa meletakkan anak kecil di pangkuan adalah salah satu bentuk rahmat dan kasih sayang. Hal ini membuktikan rasa cinta.

Sabtu, 10 September 2011

cara agar Membuat IQ Anak Tinggi yaitu dengan berenang

Ajaklah si kecil berenang. Sekalipun masih bayi, tak masalah. Bahkan, bayi baru lahir pun tak akan tenggelam kalau dicemplungkan ke dalam air.

Hasil penelitian di Melbourne, Australia, menunjukkan, secara statistik IQ anak-anak yang diajarkan berenang sejak bayi lebih tinggi ketimbang anak-anak yang tak diajarkan berenang atau diajarkan berenang setelah usia 5 tahun.

Anak-anak tersebut diukur IQ-nya ketika mereka berusia 10 tahun. Tak hanya itu, pertumbuhan fisik, emosional, dan sosialnya pun lebih baik.
Penelitian lain menunjukkan, bayi lebih gampang diajarkan berenang ketimbang orang dewasa karena bayi tak pernah memiliki faktor X, semisal bahaya. Bukankah bayi belum mengerti bahaya?

Lagi pula, bayi sangat menyukai air sehingga ia pun akan suka diajak berenang. Nah, hal ini membuatnya jadi lebih mudah belajar berenang.

Selain itu, bayi baru lahir hingga usia 3 bulan bisa langsung nyemplung ke dalam air tanpa takut tenggelam karena pada usia tersebut ia memiliki refleks melangkah yang banyak kegunaannya untuk berenang.

"Refleks melangkah merupakan salah satu refleks yang menyertai bayi seperti halnya refleks menggenggam dan refleks berjalan," jelas Dr Karel Staa dari RS Pondok Indah, yang juga mantan perenang pemegang rekor 200 meter gaya dada pada 1960-1962.

Jadi, bila kita meletakkan bayi usia di bawah 3 bulan di dalam air, secara otomatis ia akan menggerak-gerakkan kakinya menyerupai paddle dog sehingga tak tenggelam. Bisa dikatakan, pada usia di bawah 3 bulan bayi sudah bisa berenang dengan gaya primitif. Bukan berarti setelah usia tersebut bayi tak bisa berenang lagi, lho.

http://armcandyconfessions.files.wordpress.com/2010/07/swimming-babies-10.jpg
Kendati refleksnya sudah menghilang, ia tetap bisa melakukan gerakan berenang walaupun tak terorganisasi atau acak-acakan. Soalnya, dengan ada gaya gravitasi, ia merasa ditekan dari bawah air sehingga ia bisa mengambang. Ia pun jadi senang. Apalagi sejak di perut ibu, bayi sebenarnya juga sudah berenang dalam air ketuban selama 9 bulan.

Setelah lahir, kemampuannya berenang tinggal ditingkatkan saja. Bahkan, saking populernya berenang ini, di luar negeri sampai ada proses melahirkan yang dilakukan di dalam air, lho.

"Secara medis, hal ini tak akan menimbulkan masalah karena merupakan proses alami." Jadi, tak ada alasan lagi untuk ragu-ragu mengajak si kecil berenang."

Harus aman

Yang penting diperhatikan, ketika berenang, bayi harus merasa aman dan memang harus ada pengaman. Jadi, orangtua harus mendampinginya. "Jika orangtua sama-sama masuk ke dalam air dan sama-sama berenang dengan bayi, maka selain merasa aman, bayi pun bisa merasakan ada respons dari orangtua," tutur Karel.

Di samping dengan orangtua mendampingi, juga bisa bermain dengan bayi sehingga ada interaksi antarmanusia. "Ini merupakan salah satu keunggulan berenang."
http://www.life-times.net/gallery/1/Swimming_Baby.jpg
Coba bandingkan kala bayi baru belajar duduk atau berjalan, apakah orangtua akan mendampingi dan melakukan gerakan yang sama terus-menerus dengan anak? Kan, enggak. "Nah, berenang lain. Mereka sama-sama masuk air, sama-sama berenang sehingga rasa enjoy-nya lebih.

Ini akan berguna untuk perkembangan psikologis anak." Itulah mengapa, kedua orangtua sebaiknya ikut bersama bermain di dalam air. Tentunya, berenang juga berguna untuk pertumbuhan.

"Motoriknya berkembang lebih pesat ketimbang ia hanya bermain di lantai." Bukankah saat berenang semua otot bekerja? Nah, kalau di lantai, hanya otot-otot tertentu yang bekerja.

Apalagi jika ibu memberikan baby walker sehingga bayi jadi terbiasa berjalan dengan alat itu. Akhirnya, gerakan-gerakan ototnya jadi terbatas karena hanya otot-otot tertentu yang bekerja.
 sumber : http://www.uniquenews.net

Minggu, 04 September 2011

Ceritakanlah Dongeng pada anak

Membacakan cerita dongeng kepada anak anda walaupun kelihatan sepele tapi sangat memberikan efek yang besar. Dengan memberikan cerita dongeng untuk anak, maka sang anak bisa berimajinasi yang ber efek pada berkembangn otaknya atau kemampuan berfikirnya.

cerita dongeng anakBerikut ini penjelasan yang agak lengkap yang berhasil saya dapatkan dan sekaligus sumbernya di sini.

David McClelland, seorang pakar psikologi sosial, mengungkapkan hasil penelitiannya yang menyimpulkan sebuah teori bahwa cerita dongeng untuk anak sebelum tidur sangat mempengaruhi prestasi suatu bangsa. McClelland memaparkan penelitiannya terhadap dua negara terkuat abad 16 yaitu Inggris dan Spanyol.

Cerita anak di negara Inggris kaya akan muatan spritualitas dan motivasi untuk maju. Sebaliknya, Cerita anak di Spanyol penuh dengan muatan yang membuat anak terlelap dan ternina-bobokan. Dari begitu banyak cerita dari berbagai negara yang dikumpulkan McClelland dan kemudian diteliti, menunjukkan bahwa negara yang pertumbuhan ekonominya sangat tinggi adalah negara yang memiliki cerita dongeng anak mengandung need for achievement ( kebutuhan berprestasi) yang tinggi.

Cerita si Kancil dan Mental Bangsa Indonesia

Kemudian salah satu guru besar fakultas budaya universitas Indonesia, Ismail Marahaimin, mengungkapkan hasil penelitian yang senada. Dongeng si Kancil Mencuri Mentimun yang sangat populer di Indonesia bisa jadi adalah salah satu penyebab bobroknya mental pemimpin bangsa. Kancil mencerminkan tokoh yang cerdas tapi licik. Secara tidak disadari cerita ini akan melekat dalam alam bawah sadar anak-anak bahwa mental tokoh seperti kancil patut ditiru.

Oleh karena itu,perlu digalakkan kembali dongeng anak-anak yang memotivasi untuk berprestasi, yang mendidik dan menumbuhkan keinginan untuk maju.

Tugas Para Penulis, Pendidik, dan Orang Tua

Sudah selayaknya menjadi tugas para penulis Indonesia, untuk menciptakan cerita-cerita anak yang bermutu. Jika mulai hari ini saja Indonesia mampu menerbitkan karya sastra anak seperti yang dimiliki Inggris, maka jika merujuk pada penelitian McClelland, 25 tahun ke depan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tumbuh pesat.

Tentu hal ini juga tidak terlepas peran dari para pendidik dan orang tua, untuk membiasakan siswa dan putra-putrinya membaca cerita dongeng anak yang bermutu, yang mengandung semangat berprestasi lebih banyak lagi. Karena disadari atau tidak, mental bangsa beberapa tahun ke depan, adalah sangat dipengaruhi oleh mental yang disiapkan untuk anak-anak sekarang.

Para pendidik dan orang tua hendaknya benar-benar memilihkan bacaan-bacaan yang bagus untuk anak dan bisa dibacakan sebagai pengantar tidur atau saat anak mengalami kejenuhan belajar.

The last but not least... saat ini pun ada begitu banyak tontonan di TV yang sangat tidak mendidik (meski tidak semua), dari mulai tontonan sinetron, berita miring, dan masih banyak lagi.

Oleh sebab itu, sangat disarankan Anda untuk bisa memilah-milah yang mana yang layak ditonton dan yang mana yang tidak. Karena tanpa disadari, setiap tontonan bisa mempengaruhi mental Anda, dan juga keluarga.

Dan, saat ini metode memberikan cerita anak sudah mulai berkembang, dengan tidak hanya kita membacakan cerita kepada anak, tetapi kita bisa memutarkan kaset atau CD yang berisi cerita cerita dongeng anak. Seperti yang telah dikembangkan oleh bukik, dosen fakultas psikologi unair yang membuat blog http://indonesiabercerita.org/ yang berisi kumpulan rekaman cerita anak yang bisa anda download dengan gratis.
sumber : http://rabbani79.blogspot.com/2011/09/cetitakanlah-dongeng-pada-anak.html

Senin, 20 Juni 2011

STRATEGI UNTUK MENCERDASKAN EMOSI Anak

kecerdasan emosi anak
Anak pada usia dini belum memiliki pengertian, mereka hanya bisa menirukan ekspresi dari orangtua atau orang-orang yang dekat dengannya. Untuk itu Anak harus belajar bagaimana mengeksplorasi perasaannya. Fungsi dari mengeksplorasi perasaan adalah untuk membantu anak mengenali dan memahami dirinya sendiri untuk membantu anak membentuk suatu pengertian akan perasaan-perasaannya sendiri tentang berbagai peristiwa, harapan-harapannya akan sesuatu, cita-citanya, minatnya dan potensinya. Untuk mencerdaskan emosi anak bisa kita lakukan dengan strategi sbb:1. Memancing  Anak Mengeksplorasi Perasaan

Pencerdasan Emosi bisa dimulai dengan mengajak anak mengungkapkan perasaannya.  Untuk memamcing anak untuk mengungkapkan emosinya orantua bisa menggunakan model misalnya tokoh dalam buku atau film, menceritakan kejadiaan yang dialami teman, atau dengan menjadi orangtua sediri sebagai model.

2. Menggunakan model dalam buku atau film
Ajari anak bagaimana mengekspresikan rasa marah dari membaca buku, menonton TV atau mencotohkan bagaimana ekspresi muka kita kalau sedang marah dan alasan kenapa marah. Suruh anak menirukan mimik muka kalau sedang marah.

3. Menggunakan kejadian yang dialami oranglain atau teman
Pancing anak untuk mengeksplorasi perasaannya saat melihat orang yang sedang marah.

4. Menggunakan orangtua sebagai model
Ajak anak bercakap-cakap untuk memancing anak mengeksplorasi perasaannya dengan menceritakan kejadian yang di alami baik kejadian nyata ataupun rekaan.

5. Membantu Anak Memahami Perasaannya
Pada tahap ini orangtua harus berusaha menjadi fasilitator dan bukan sebagai mentor. Sebagai Fasilitator berarti membangkitkan keinginan anak untuk menemukan sendiri jawaban bukan menunjukkan jawabannya. Juga mengajari anak untuk melakukan logika terus menerus dan komunikasi dapat terjalin dua arah.

6. Membantu Anak Mengekspresikan Amarah dan Mengendalikannya
Pengendalikan emosi merupakan hal yang penting untuk membuat anak berkembang secara normal. Pola ekspresi emosi sudah dipelajari anak sejak kecil dari orang-orang terdekat dan kelompok bergaulnya. Semakin dini anak belajar mengendalikan emosinya semakin mudah pula ia mengendalikan emosinya di masa yang akan datang.
Jika kita sudah mampu membuat anak mengerti tentang perasaannya, selipkan nasihat kita ke dalam pengertian anak dalam memahami emosinya.
  1. Ingatkan anak saat anak marah secara negative
  2. Ingatkan pula cara untuk mengatasi marahnya
  3. Ajarkan anak cara positif untuk mengendalikan amarahnya seperti:
  • Menggambar, mencoret-coret kertas, mewarnai gambar untuk menunjukkan kemarahannya
  • Merobek kertas dan membuangnya jaauh-jauh
  • Berteriak ditempat yang sepi
  • Melemparkan batu jauh-jauh ke sungai atau laut
  • Ajarkan anak melakukan relaksasi seperti menghela napas dan menghembuskannya dikala kemarahannya memuncak
  • Tunjukkan sikap bahwa kita selalu siap mendengarkan keluhannya saat marah sepanjang anak mengekspresikan kemarahannya secara positif.
“Semua orang bisa marah, hal itu mudah saja. Namun, marah kepada orang yang tepat, dengan tingkat kemarahan yang tepat, disaat yang tepat, dengan tujuan yang tepat, dan cara yang tepat tidaklah mudah” Aristoteles.
Sumber: “ MembantuAnak Balita Mengelola Amarahnya”. Dr. Seto Mulyadi, M. Psi