Dia
adalah : Ella Az-Zahra Aslina adalah warga pekan baru yang mati suri 24
Agustus 2006 lalu. Gadis berusia sekitar 25 tahun itu memberikan
kesaksian saat nyawanya dicabut dan apa yang disaksikan ruhnya saat mati
suri. Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam Effendi
memberikan penjelasan pembuka. Aslina berasal dari keluarga sederhana,
ia telah yatim. Sejak kecil cobaan telah
datang pada dirinya. Pada umur tujuh tahun tubuhnya terbakar api
sehingga harus menjalani dua kali operasi. Menjelang usia SMA ia
termakan racun.
Tampilkan postingan dengan label Tsaqafah Islamiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tsaqafah Islamiyah. Tampilkan semua postingan
Rabu, 23 Desember 2015
FAKTA MATI SURI : "Kesaksian Orang Mati Suri"
Dia
adalah : Ella Az-Zahra Aslina adalah warga pekan baru yang mati suri 24
Agustus 2006 lalu. Gadis berusia sekitar 25 tahun itu memberikan
kesaksian saat nyawanya dicabut dan apa yang disaksikan ruhnya saat mati
suri. Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam Effendi
memberikan penjelasan pembuka. Aslina berasal dari keluarga sederhana,
ia telah yatim. Sejak kecil cobaan telah
datang pada dirinya. Pada umur tujuh tahun tubuhnya terbakar api
sehingga harus menjalani dua kali operasi. Menjelang usia SMA ia
termakan racun.
Label:
Mawas Diri,
motivasi,
suplemen ruhiyah,
Tsaqafah Islamiyah
Selasa, 22 Desember 2015
12 Hal Tentang Shalat Yang Membuatmu Tak Lagi Menganggapnya Sepele
Tahukah Anda, dalam ibadah yang
satu ini terkandung keistimewaan yang luar biasa. Ternyata sholat adalah
ibadah yang memiliki kekhususan tersendiri dari ibadah-ibadah lainnya.
Dalam sehari semalam kita diwajibkan untuk menjalankan
sholat sebanyak lima kali. Tahukah Anda, dalam ibadah yang satu ini
terkandung keistimewaan yang luar biasa.
Label:
Akhlak,
amanah,
Mawas Diri,
motivasi,
Tarbiyah,
Tsaqafah Islamiyah
Senin, 21 Desember 2015
Subhanallah.. Suara Bacaan Al-Quran Dapat Menyembuhkan Beberapa Penyakit
Pembaca yang Insya Allah dikaruniai Allah. Saya dapat mengatakan dengan
yakin menurut pengalaman saya suatu perubahan dalam hidup Anda. Anda
bisa mendapatkan hasil yang besar yang tidak terduga dapat mengubah
hidup Anda benar-benar seperti yang terjadi pada diri saya sebelumnya.
20 tahun Mencari Kebenaran, AKhirnya Pria Yahudi Ini Menemukannya Di Agama Islam
Label:
Dunia Islam,
motivasi,
Tsaqafah Islamiyah
Luar Biasa Manfaat Membaca Al-Quran Setelah Maghrib dan Subuh
Tahukah Anda ? Ternyata Membaca Al-Qur'an Setelah Maghrib & Subuh
Itu Manfaatnya Luar Biasa, Menurut hasil penelitian, ternyata membaca
Al-Qur’an setelah waktu sholat Maghrib dan Subuh itu dapat meningkatkan
kecerdasan otak sampai 80 %. Hal ini karena disana ada pergantian dari
siang ke malam dan dari malam ke siang hari.
Label:
cerita penggugah jiwa,
Dunia Islam,
Pengetahuan,
suplemen ruhiyah,
Tarbiyah,
Tsaqafah Islamiyah
Minggu, 20 Desember 2015
Hillary Akui ISIS Rekayasa AS untuk Pecah Belah Timur Tengah
Terkait fenomena munculnya gerakan Islamic State of Iraq and Suriah
(ISIS), sebuah pernyataan mengejutkan dilontarkan mantan Menlu AS
Hillary Clinton. Dalam buku terbarunya, Hard Choice, Hillary mengakui
bahwa gerakan tersebut dibentuk oleh AS bersama sekutunya untuk membuat
Timur Tengah senantiasa bergolak. Demikian dilansir harian Mesir,
Elmihwar, Rabu (6/8).
Label:
Dunia Islam,
Duniaku,
Tsaqafah Islamiyah
Pangeran Charles: Kehancuran Umat Manusia karena Kehidupan yang Bertentangan dengan Prinsip Islam
Laporan dari Inggris mengungkapkan bahwa
Pangeran Charles, pewaris tahta kerajaan Inggris yang mengunjungi Arab
Saudi saat ini dalam turnya di Timur Tengah, mencoba belajar bahasa Arab
sejak enam bulan lalu agar bisa membaca Al-Qur’an dalam bentuk aslinya.
Juga, bisa berbicara beberapa kata bahasa Arab ketika kunjungannya ke
timur tengah. Sang Pangeran disebutkan sangat tertarik dengan wilayah
tersebut.
Badai Matahari Super Ancam Bumi, Tinggal Tunggu Waktu
Badai matahari super ini akan mendatangkan malapetaka di muka bumi. Ilmuwan menyebut peristiwa seperti itu tidak bisa dihindarkan lagi.
Seorang ilmuwan
memperingatkan terjadinya badai matahari super yang dapat mengancam
kehidupan di muka bumi. Badai tersebut disebabkan oleh letusan luar
biasa di permukaan matahari yang dampaknya bisa sampai ke bumi.
Label:
Dunia Islam,
Duniaku,
Pengetahuan,
Tsaqafah Islamiyah
9 Tanda Keberadaan Allah
Bahkan kejadian big bang sudah tercantum di dalam penjelasan surat AL-Anbiya ayat 30.
Dream - Meskipun sebagian orang
percaya dengan keberadaan Allah, tapi tidak ada yang pernah bisa
menunjukan bagaimana wujud-Nya. Berbagai doktrin agama, mengisi otak
manusia dengan kepercayaan mengenai Sang Maha Pencipta.
Label:
Pengetahuan,
Tarbiyah,
Tsaqafah Islamiyah
Selasa, 15 Desember 2015
Amerika, Negeri Muslim Yang Hilang (2)

Beberapa kepala suku Indian juga selalu mengenakan sorban, di antaranya Kepala Suku Sioux, Chippewa, Yuchi, Iowa, Sauk, Creek, Kansas, Miami, Potawatomi, Fox, Seminole, dan Winnebago. Sampai sekarang, foto-foto yang berasal dari tahun 1835 dan 1870 tersebut masih disimpan dengan rapi di sejumlah museum di Amerika dan juga di arsip nasional.
AGAMA INI BUKAN PRIORITAS PALING PENTING
"Maaf syaikh, saya gak sempat membuat tugasnya minggu ini", kata brother Yusuf kepada syaikh Muhammad, guru liqo Bahasa Arab yang berasal dari Yordania.
"Why brother Yusuf? Kenapa anda tidak mengerjakan tugas bahasa Arabnya, kita kan cuma belajar sekali seminggu?" tanya Syaikh Muhammad.
"Minggu ini saya sibuk sekali syaikh di kantor, sampai lembur, pulang ke rumah, badan saya sudah capek", jawab brother Yusuf.
Label:
motivasi,
Pengetahuan,
Tsaqafah Islamiyah
Senin, 14 Desember 2015
Amerika, Negeri Muslim Yang Hilang (1)
Suatu malam ditingkah rinai gerimis yang membasahi aspal jalan, saya
melangkah masuk ke sebuah resto besar dan cukup terkenal di daerah elit
Kemang, Jakarta Selatan. Ba’da Isya itu saya ada janji bertemu dengan
dua sahabat yang sudah beberapa bulan tidak pernah bertemu muka, kecuali
lewat media sosial saja. Yang pertama seorang Chef Selebritis yang
lengannya dipenuhi tatto namun telah menyandang gelar haji dan sekarang
tengah menekuni Islam dengan baik, bahkan sudah mengembalikan beberapa
sahabatnya ke jalan Islam. Yang kedua seorang lelaki muda yang punya
karir cemerlang sebagai direktur utama sebuah perusahaan
nasional-pribumi dengan jumlah karyawannya mencapai 16.000 orang.
Keislamannya pun cukup baik. Keduanya cucu dari tokoh-tokoh nasional
Indonesia di masa keemasan di zaman Bung Karno.
Label:
Pengetahuan,
Sejarah Islam,
Tsaqafah Islamiyah
Kamis, 26 November 2015
Awas, Ada “Penampakan” pada FilmProduksi Syi’ah “Ada Syurga Di Rumahmu”.!!
Oleh Nashihul Umam
Sahabat, masih ingatkah anda dengan Film “Ada Syurga Di Rumahmu” ?? (lihat https://www.nahimunkar.com/waspadalah-syiah-garap-film-bertajuk-islami/ ).
Film “Ada Syurga Di Rumahmu” yang
menitik beratkan pada suatu moral, yaitu berbakti kepada orang tua
banyak menjadi pembicaraan karena sebuah Broadcast (BC) di Whatsapp
belakangan ini.
Dalam BC tersebut menyeru kewaspadaan
agar berhati-hati dengan film produksi Syi’ah yang dimaksud. Karena
Mizan Production miliknya orang Syi’ah.
Sementara sebagian fihak dengan lugunya menyangkal, “Dari sisi mana ada ajaran Syi’ahnya?”
Masih ingatkah anda dengan Film
“Children Of Heaven” yang mengisahkan tentang seorang anak bernama Ali
yang berbakti kepada orang tuanya yang sakit dan juga
Label:
Dunia Islam,
motivasi,
Tsaqafah Islamiyah
Minggu, 04 Agustus 2013
10 Jenis Mayat Yang Tidak Akan Busuk Di Dalam Kubur
SEMUA yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan jika sudah mati, maka
jasad akan membusuk dalam tanah. Namun Rasulullah SAW menyebutkan bahwa
ada sepuluh orang yang mayatnya tidak akan busuk.
Disebutkan dalam hadits Rasulullah Saw bahwa sepuluh orang yang mayatnya tidak busuk dan akan bangkit dalam keadaan tubuh seperti semula pada hari kiamat sebagai berikut:
1. Para nabi.Disebutkan dalam hadits Rasulullah Saw bahwa sepuluh orang yang mayatnya tidak busuk dan akan bangkit dalam keadaan tubuh seperti semula pada hari kiamat sebagai berikut:
2. Para ahli jihad fisabilillah.
3. Para alim ulama yang menegakkan kalimat Allah.
4. Para syuhada yang sentiasa memperjuangkan Islam.
5. Para penghafal Alquran dan beramal dengan Alquran.
6. Imam atau pemimpin yang adil dalam menegakkan syariat Allah.
7. Muadzin yang tidak meminta imbalan.
8. Wanita yang meninggal sewaktu melahirkan anak serta senantiasa taat pada perintah Allah.
9. Orang mati dibunuh atau dianiaya karena mempertahankan kehormatan diri dan agama.
10. Orang yang mati di siang hari atau di malam Jumat jika mereka itu dari kalangan orang yang beriman yang sentiasa menjaga hukum agama semasa hidup di dunia. (HR Bukhari Muslim).
http://pribadimanfaat.blogspot.com
Label:
Hikmah,
Kisah nyata,
Tsaqafah Islamiyah
Rabu, 31 Juli 2013
Lailatul Qadr (Malam Kemuliaan)
Allah Ta ‘ala berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) saat Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Dan
tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik
dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat
Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu
(penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 1-5)
Allah SWT memberitahukan bahwa Dia menurunkan Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang penuh keberkahan. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi.” (QS. Ad-Dukhaan: 3). Dan malam itu berada di bulan Ramadhan, sebagaimana firman Allah Ta ‘ala: “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Ibnu Abbas -radhiallahu ‘anhu- berkata:
“Allah menurunkan Al-Qur’anul Karim keseluruhannya secara sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah (langit pertama) pada malam Lailatul Qadar. Kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai dengan konteks berbagai peristiwa selama 23 tahun.”
Malam itu dinamakan Lailatul Qadar karena keagungan nilainya dan keutamaannya di sisi Allah Ta ‘ala. Juga, karena pada saat itu ditentukan ajal, rezki, dan lainnya selama satu tahun, sebagaimana firman Allah: “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Ad-Dukhaan: 4). Kemudian, Allah berfirman mengagungkan kedudukan Lailatul Qadar yang Dia khususkan untuk menurunkan Al-Qur’anul Karim: “Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu?” Selanjutnya Allah menjelaskan nilai keutamaan Lailatul Qadar dengan firman-Nya: “Lailatul Qadar itu lebih baik dari pada seribu bulan.”
Beribadah di malam itu dengan ketaatan, shalat, tilawah, dzikir, doa dsb sama dengan beribadah selama seribu bulan di waktu-waktu lain. Seribu bulan sama dengan 83 tahun 4 bulan. Lalu Allah memberitahukan keutamaannya yang lain, juga berkahnya yang melimpah dengan banyaknya malaikat yang turun di malam itu, termasuk Jibril ‘alaihis salam. Mereka turun dengan membawa semua perkara, kebaikan maupun keburukan yang merupakan ketentuan dan takdir Allah. Mereka turun dengan perintah dari Allah. Selanjutnya, Allah menambahkan keutamaan malam tersebut dengan firman-Nya: “Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar” (QS. Al-Qadar: 5)
Maksudnya, malam itu adalah malam keselamatan dan kebaikan seluruhnya, tak sedikit pun ada kejelekan di dalamnya, sampai terbit fajar. Di malam itu, para malaikat -termasuk malaikat Jibril mengucapkan salam kepada orang-orang beriman. Dalam satu hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan keutamaan melakukan qiyamul lail di malam tersebut. Beliau bersabda: “Barangsiapa melakukan shalat malam pada saat Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih)
Tentang waktunya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan lainnya).
Yang dimaksud dengan malam-malam ganjil yaitu malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, dan malam dua puluh sembilan.
Adapun qiyamul lail di dalamnya yaitu menghidupkan malam tersebut dengan shalat tarawih, shalat tahajjud, membaca Al-Qur’anul Karim, dzikir, doa, istighfar dan taubat kepada Allah Ta ‘ala. Beberapa pelajaran dari surat Al-Qadr:
1. Keutamaan Al-Qur’anul Karim serta ketinggian nilainya, dan bahwa ia diturunkan pada Lailatul Qadar (malam kemuliaan).
2. Keutamaan dan keagungan Lailatul Qadar, dan bahwa ia menyamai seribu bulan yang tidak ada Lailatul Qadar di dalamnya.
3. Anjuran untuk mengisi kesempatan-kesempatan baik seperti malam yang mulia ini dengan berbagai amal shalih.
إِنَّا
أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴿١﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ
الْقَدْرِ ﴿٢﴾ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿٣﴾
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ
أَمْرٍ ﴿٤﴾ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴿٥﴾
Ilustrasi (photobucket.com)
Allah SWT memberitahukan bahwa Dia menurunkan Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang penuh keberkahan. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi.” (QS. Ad-Dukhaan: 3). Dan malam itu berada di bulan Ramadhan, sebagaimana firman Allah Ta ‘ala: “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Ibnu Abbas -radhiallahu ‘anhu- berkata:
“Allah menurunkan Al-Qur’anul Karim keseluruhannya secara sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah (langit pertama) pada malam Lailatul Qadar. Kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai dengan konteks berbagai peristiwa selama 23 tahun.”
Malam itu dinamakan Lailatul Qadar karena keagungan nilainya dan keutamaannya di sisi Allah Ta ‘ala. Juga, karena pada saat itu ditentukan ajal, rezki, dan lainnya selama satu tahun, sebagaimana firman Allah: “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Ad-Dukhaan: 4). Kemudian, Allah berfirman mengagungkan kedudukan Lailatul Qadar yang Dia khususkan untuk menurunkan Al-Qur’anul Karim: “Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu?” Selanjutnya Allah menjelaskan nilai keutamaan Lailatul Qadar dengan firman-Nya: “Lailatul Qadar itu lebih baik dari pada seribu bulan.”
Beribadah di malam itu dengan ketaatan, shalat, tilawah, dzikir, doa dsb sama dengan beribadah selama seribu bulan di waktu-waktu lain. Seribu bulan sama dengan 83 tahun 4 bulan. Lalu Allah memberitahukan keutamaannya yang lain, juga berkahnya yang melimpah dengan banyaknya malaikat yang turun di malam itu, termasuk Jibril ‘alaihis salam. Mereka turun dengan membawa semua perkara, kebaikan maupun keburukan yang merupakan ketentuan dan takdir Allah. Mereka turun dengan perintah dari Allah. Selanjutnya, Allah menambahkan keutamaan malam tersebut dengan firman-Nya: “Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar” (QS. Al-Qadar: 5)
Maksudnya, malam itu adalah malam keselamatan dan kebaikan seluruhnya, tak sedikit pun ada kejelekan di dalamnya, sampai terbit fajar. Di malam itu, para malaikat -termasuk malaikat Jibril mengucapkan salam kepada orang-orang beriman. Dalam satu hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan keutamaan melakukan qiyamul lail di malam tersebut. Beliau bersabda: “Barangsiapa melakukan shalat malam pada saat Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih)
Tentang waktunya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan lainnya).
Yang dimaksud dengan malam-malam ganjil yaitu malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, dan malam dua puluh sembilan.
Adapun qiyamul lail di dalamnya yaitu menghidupkan malam tersebut dengan shalat tarawih, shalat tahajjud, membaca Al-Qur’anul Karim, dzikir, doa, istighfar dan taubat kepada Allah Ta ‘ala. Beberapa pelajaran dari surat Al-Qadr:
1. Keutamaan Al-Qur’anul Karim serta ketinggian nilainya, dan bahwa ia diturunkan pada Lailatul Qadar (malam kemuliaan).
2. Keutamaan dan keagungan Lailatul Qadar, dan bahwa ia menyamai seribu bulan yang tidak ada Lailatul Qadar di dalamnya.
3. Anjuran untuk mengisi kesempatan-kesempatan baik seperti malam yang mulia ini dengan berbagai amal shalih.
Sumber: http://www.dakwatuna.com
Label:
Pengetahuan,
Tarbiyah,
Tsaqafah Islamiyah
Sabtu, 02 Februari 2013
Syaikh Ammar Penakluk Kemustahilan
Syeikh Ammar yang kelahiran Amerika Serikat sejak lahir sudah dalam
keadaan cacat. Tidak ada anggota tubuh yang bisa digerakkan kecuali mulut dan
mata. Dokter Amerika sendiri ketika kelahiran beliau bahkan menyampaikan bahwa
paling sang bayi (beliau) bisa hidup hingga usia 8 tahun saja. Namun atas
Qudratullah jua lah, hingga tua seperti sekarang beliau masih hidup bahkan
lebih unggul hidupnya dari kita yang tidak cacat secara fisik.
Cacat tidak menghalangi beliau untuk menuntut ilmu dan bersekolah
hingga kuliah dan mencapai predikat Professor. Sejak usia 11 tahun sudah mulai
menghafal Quran dan ketika menginjak 13 tahun sudah hafal Quran 30 Juz. Selain
itu, ketika Universitas mampu meraih nilai tertinggi (cumlaude) pada jurusan
penyiaran dan komunikasi. Beliau juga sebagai dosen di universitas yang ada di
AS dan Dubai. Yang menarik juga adalah bahwa beliau telah mempunyai anak yang
sekarang sudah 14 tahun usianya. Subhanallah! Sungguh mulia wanita yang mau dan
ridha bersuamikan beliau.
Sungguh keadaan Syaikh Ammar yang cacat dapat menjadi pelajaran bagi
kita yang sempurna secara fisik. Beliau yang cacat saja mampu berprestasi, lalu
bagaimana dengan kita? Sehingga menurut beliau bahwa cacat yang sesungguhnya
adalah orang yang cacat berpikir, cacat kemauan, cacat perjuangan dan
sejenisnya. Dan beliau pun menyampaikan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala akan
menanya kalian (jamaah yang hadir), yang cacat saja mampu menghafal, sedang
kalian yang bisa bergerak?
Bagi bangsa Indonesia, ihwal Syaikh Ammar ini pun dapat menjadi
pelajaran berharga. Biasanya di negeri kita orang cacat sering ditemui sebagai
pengemis. Ini bisa ditemui di kota besar semisal Jakarta atau Banjarmasin
sekalipun. Orang buta di negeri kita sering diarahkan kepada pengamen atau
menjadi penyanyi, bisa jadi artis hanya beberapa. Jarang sekali yang diarahkan
pada prestasi, terlebih pada keunggulan agama, semisal menjadi ulama ataupun
menjadi hafizh Al-Quran.
Diantara pesan yang disampaikan Syaikh Ammar untuk jamaah adalah agar
menunaikan rukun Islam yang lima: Bersaksi tiada tuhan selain Allah subhanahu
wa ta'ala dan Muhammad rasul-Nya, Sholat 5 waktu, puasa dan zakat serta naik
haji ke baitullah bagi yang mampu.
Banyak musuh Allah subhanahu wa ta'ala yang menghina Rasulullah
(baru-baru ini), maka pesan beliau bela lah Rasulullah dengan cara melaksanakan
Sunnah Rasulullah dalam kehidupan rumah tangga, masyarakat, sekolah, kantor,
pabrik dan sebagainya. Bukan dengan jalan teriak-teriak (demonstrasi) dan
kekerasan. Juga gunakan lah pula teknologi dalam membela Rasulullah, melalui
internet, twiter, facebook dan sejenisnya. Ceritakan keagungan pribadi
Rasulullah melalui kisah-kisah dan sebagainya.
Pada kaum wanita, beliau berpesan agar senantiasa menggunakan hijab
yang sesuai syariat. Karena wanita ibarat mutiara yang nilainya tinggi. Jika ia
mudah dilihat dan dipegang semua orang di jalan-jalan, niscaya murahlah
nilainya. Pada jamaah laki-laki beliau berpesan agar berbuat baik pada para
istri, jangan pernah mencaci, memukul atau menghinakan istri. Satu yang juga
beliau tekankan adalah jangan sampai jamaah pergi ke tukang sihir atau dukun.
Juga agar senantiasa beryukur atas nikmat Allah subhanahu wa ta'ala yang agung
(kesehatan).
Syaikh Ammar Bugis Sampaikan Ceramah di LIPIA
Bagi seorang muslim, dunia adalah tempat ujian dan ladang pahala.
Cobaan yang diberikan oleh Allah kepada para hamba-Nya bermacam-macam
bentuknya, salah satunya dengan ketidak sempurnaan fisik.
Sebagai seorang Muslim, cobaan tersebut hendaknya disikapi dengan hati
yang sabar dan ikhlas. Sebab di balik kekurangan, Allah pasti memberikan
kelebihan yang tidak dimiliki orang lain.
Adalah Syaikh Ammar Bugis, pria lumpuh berdarah Makassar yang lahir di
Amerika Serikat, 22 Oktober 1986. Nama Bugis diambil dari nama kakek buyutnya
yang berasal dari Sulawesi, Syeikh Abdul Muthalib Bugis. Beliau hijrah dari
Sulawesi ke Mekkah dan mengajar Tafsir di Masjidil Haram.
Syaikh Ammar lumpuh total sejak
usia 2 bulan, hanya mata dan mulutnya yang masih berfungsi, walau nada
bicaranya agak tidak jelas. Itu semua tak mengurangi semangatnya untuk hidup
dan berarti.
Luar biasa, ditengah keadaan yang serba mustahil, Ammar sudah hafal 30
juz Qur'an sejak usia 11 tahun dalam waktu 2 tahun saja. Tentunya ini adalah
kelebihan yang sangat jarang dimiliki oleh anak-anak zaman sekarang.
Mengawalai nasihatnya dihadapan para dosen dan mahasiswa LIPIA Jakarta,
Syaikh Ammar mengomentari sebuah pepatah yang mengatakan bahwa akal yang
selamat hanyalah terdapat pada badan yang sehat, menuurutnya hal ini kurang
tepat.
“Selama ini kita mendengar pepatah bahwa akal yang selamat itu terdapat
pada badan yang sehat, padahal semestinya adalah akal yang selamat hanyalah
terdapat pada hati yang sehat,”kata Ammar mengawali nasihatnya.
Hal ini, kata Ammar, terdapat didalam hadits “Jika sepotong daging itu
baik, maka baiklah seluruhnya. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.
Saat beliau menceritakan kesabaran dan ketelatenan ibunya dalam
mengurus dan menjaganya sehingga ia saat ini menjadi seorang hafidz Al Quran,
para mahasiswa yang hadir menangis tersedu-sedu, bahkan ada beberapa dosen yang
bertakbir keras sambil menangis menjerit.
Beliaupun menyayangkan banyak kaum muslimin yang memiliki fisik
sempurna tapi hatinya tidak sesempurna fisiknya.“Banyak diantara kita yang
memiliki fisik sempurna, tapi hatinya tidak sesuai dengan fisiknya, “katanya.
Beliaupun menyarankan kepada para Mahasiswa agar giat menghafal Al
Quran dan jangan mudah putus asa. “Hafalkan Al Quran, lakukan dengan ayat-ayat
yang pendek terlebih dahulu, sayapun dulu melakukannya demikian, sampai waktu
itu saya bisa menghafal satu juz dalam sehari,” ujarnya.
Setelah kurang lebih satu jam, ceramah di tutup, tiba-tiba seorang
dosen dan pakar Ushul Fiqih asal mesir,
DR. Azazi menemuinya dan mencium keningnya.
Ahmad Aris, seorang mahasiswa Fakultas Syari’ah yang mendengarkan
ceramah beliau, menangis terharu dan merasa termotivasi oleh nasihat Syaikh
Ammar.
“Alhamdulillah, ini motivasi yang sangat luar
biasa, saya merasa malu terhadap beliau, kondisi saya yang sempurna fisik ini
masih belum bisa apa-apa,” kata Aris saat dihubungi gema islam, Rabu malam
(26/12).
klik disini
Selasa, 15 Januari 2013
Renungan Kisah dan Pena Zainab Al-Ghazali
Jika kita berbicara tentang para mujahid yang dirindu para bidadari
syurga selayaknya Imam Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb, dan Abdullah Azzam,
rasanya belum lengkap apabila belum membahas ini dalam versi
muslimahnya. Ya, mujahidah abad ini yang menjadi salah satu orang yang
patut membuat cemburu para bidadari di syurga adalah Zainab Al-Ghazali.
Muslimah tangguh itu seorang aktivis dan pendiri Jamaat Al-Sayyidat
Al-Muslimat (Perhimpunan Perempuan Muslim) saat usianya masih sangat
muda, 18 tahun. Beliau juga biasa disebut sebagai pejuang wanita
Ikhwanul Muslimin.
Zainab Al-Ghazali adalah wanita yang sangat luar biasa. Tokoh perempuan asal Mesir ini begitu gigih memperjuangkan persamaan hak kaum perempuan berdasarkan keyakinannya, sesuai doktrin ajaran Islam yang benar. Dia tidak setuju dengan ide-ide sekuler tentang gerakan pembebasan perempuan. Perhimpunan yang didirikannya pun mampu melahirkan generasi dai-dai wanita yang mempertahankan status perempuan dalam Islam. Mereka meyakini dan mampu meyakinkan masyarakat bahwa agama Islam memberikan peluang sebesar-besarnya bagi perempuan untuk memainkan peranan penting di masyarakat, baik itu memiliki pekerjaan, terjun di dunia politik, dan bebas dalam mengeluarkan, namun tetap tidak mengesampingkan fungsi utama perempuan dalam mengurus rumah tangga dan sebagai ibu.
Zainab Al-Ghazali mengingatkan kita pada sosok yang begitu dekat dengan negeri ini, RA. Kartini. Begitu pun dengan tulisan-tulisannya. Jika kita ingat tulisan Kartini yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” mengandung gagasan dan kecaman terhadap Barat, maka buah pena dari Zainab Al-Ghazali mampu menyeret dirinya hingga ke dalam tahanan.
Suatu ketika ia melihat kondisi pemerintahan Mesir melakukan kezhaliman yang luar biasa. Dilandasi semangatnya yang mendalam, Zainab mengirimkan tulisan ke media massa nasional yang isinya mengkritisi kebijakan pemerintah Mesir. Tulisan Zainab serta-merta mendapat respons negatif dari pemerintah Mesir. Maka, pada suatu malam diculiklah Zainab oleh aparat pemerintah Mesir. Zainab lalu dimasukkan ke kamar sempit yang gelap gulita dalam kondisi terikat. Beberapa menit kemudian lampu kamar dinyalakan. Dan ternyata di dalam kamar tersebut telah berkumpul puluhan ekor anjing yang disiapkan untuk menyiksa Zainab. Dengan dibalut pakaian putih, Zainab tak henti-hentinya berdoa.
“Ya Allah, sibukkanlah aku dengan mengingati-Mu, sehingga hal yang lain tak terasakan olehku”
Anjing-anjing tadi pun menyerang Zainab. Menggigit sekujur tubuh Zainab. Ia hanya mampu memejamkan mata, tak sanggup menyaksikan puluhan anjing tadi menggerogoti tubuhnya. Tak berapa lama kemudian, pintu kamar dibuka kembali dan lampu dinyalakan. Subhanallah, dengan izin Allah, Zainab tak mendapati sedikit pun luka di sekujur tubuhnya. Allah Azza wa Jalla telah menunjukkan kekuasaan-Nya pada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dan Zainab sebagai juru dakwah tulisan telah melakukan hal yang patut menjadi renungan untuk para aktivis dakwah tulisan pada hari ini.” (Dalam “Tinta-Tinta Dakwah”, Dwi Suwiknyo dkk)
Zainab Al-Ghazali meninggalkan jejak perjuangannya, ia wafat pada 3 Agustus 2005 di usia 88 tahun. Zainab telah mengajarkan banyak hal, dari kekuatan aqidahnya, perjuangan kewanitaannya hingga goresan-goresan penanya. Bahkan saat bebas dari tahanan ia mampu melahirkan karya berjudul Ayyamun min Hayati (Hari-Hari dari Hidupku). Di dalamnya, ia melukiskan bagaimana ia menerima siksaan yang melampaui kekuatan kebanyakan laki-laki saat berada dalam tahanan. Salah satunya adalah saat ia dimasukkan ke dalam ruangan gelap yang dipenuhi anjing-anjing lapar. Dalam buku itu, Zainab menegaskan bahwa hanya pertolongan Allah dan keyakinanlah yang membuatnya tabah dan membuatnya dapat bertahan hidup.
Ya, hanya kekuatan aqidah yang menghujam dari hati seorang muslim yang mampu mengantarkan kita pada ridha-Nya, meskipun pengorbanan yang ada datang bertubi-tubi. Saya jadi teringat dengan kisah Sayyid Quthb saat menjelang eksekusi kematiannya. Saat itu Sayyid Quthb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Telunjuk yang senantiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalat, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukkan atau menyerah kepada rezim thawaghut….”
Semoga dari kisah perjuangan para mujahid dan mujahidah ini dapat membuat kita semakin mencintai perjuangan di jalan-Nya. Amin allahumma amin…
klik disini
Zainab Al-Ghazali adalah wanita yang sangat luar biasa. Tokoh perempuan asal Mesir ini begitu gigih memperjuangkan persamaan hak kaum perempuan berdasarkan keyakinannya, sesuai doktrin ajaran Islam yang benar. Dia tidak setuju dengan ide-ide sekuler tentang gerakan pembebasan perempuan. Perhimpunan yang didirikannya pun mampu melahirkan generasi dai-dai wanita yang mempertahankan status perempuan dalam Islam. Mereka meyakini dan mampu meyakinkan masyarakat bahwa agama Islam memberikan peluang sebesar-besarnya bagi perempuan untuk memainkan peranan penting di masyarakat, baik itu memiliki pekerjaan, terjun di dunia politik, dan bebas dalam mengeluarkan, namun tetap tidak mengesampingkan fungsi utama perempuan dalam mengurus rumah tangga dan sebagai ibu.
Zainab Al-Ghazali mengingatkan kita pada sosok yang begitu dekat dengan negeri ini, RA. Kartini. Begitu pun dengan tulisan-tulisannya. Jika kita ingat tulisan Kartini yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” mengandung gagasan dan kecaman terhadap Barat, maka buah pena dari Zainab Al-Ghazali mampu menyeret dirinya hingga ke dalam tahanan.
Suatu ketika ia melihat kondisi pemerintahan Mesir melakukan kezhaliman yang luar biasa. Dilandasi semangatnya yang mendalam, Zainab mengirimkan tulisan ke media massa nasional yang isinya mengkritisi kebijakan pemerintah Mesir. Tulisan Zainab serta-merta mendapat respons negatif dari pemerintah Mesir. Maka, pada suatu malam diculiklah Zainab oleh aparat pemerintah Mesir. Zainab lalu dimasukkan ke kamar sempit yang gelap gulita dalam kondisi terikat. Beberapa menit kemudian lampu kamar dinyalakan. Dan ternyata di dalam kamar tersebut telah berkumpul puluhan ekor anjing yang disiapkan untuk menyiksa Zainab. Dengan dibalut pakaian putih, Zainab tak henti-hentinya berdoa.
“Ya Allah, sibukkanlah aku dengan mengingati-Mu, sehingga hal yang lain tak terasakan olehku”
Anjing-anjing tadi pun menyerang Zainab. Menggigit sekujur tubuh Zainab. Ia hanya mampu memejamkan mata, tak sanggup menyaksikan puluhan anjing tadi menggerogoti tubuhnya. Tak berapa lama kemudian, pintu kamar dibuka kembali dan lampu dinyalakan. Subhanallah, dengan izin Allah, Zainab tak mendapati sedikit pun luka di sekujur tubuhnya. Allah Azza wa Jalla telah menunjukkan kekuasaan-Nya pada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dan Zainab sebagai juru dakwah tulisan telah melakukan hal yang patut menjadi renungan untuk para aktivis dakwah tulisan pada hari ini.” (Dalam “Tinta-Tinta Dakwah”, Dwi Suwiknyo dkk)
Zainab Al-Ghazali meninggalkan jejak perjuangannya, ia wafat pada 3 Agustus 2005 di usia 88 tahun. Zainab telah mengajarkan banyak hal, dari kekuatan aqidahnya, perjuangan kewanitaannya hingga goresan-goresan penanya. Bahkan saat bebas dari tahanan ia mampu melahirkan karya berjudul Ayyamun min Hayati (Hari-Hari dari Hidupku). Di dalamnya, ia melukiskan bagaimana ia menerima siksaan yang melampaui kekuatan kebanyakan laki-laki saat berada dalam tahanan. Salah satunya adalah saat ia dimasukkan ke dalam ruangan gelap yang dipenuhi anjing-anjing lapar. Dalam buku itu, Zainab menegaskan bahwa hanya pertolongan Allah dan keyakinanlah yang membuatnya tabah dan membuatnya dapat bertahan hidup.
Ya, hanya kekuatan aqidah yang menghujam dari hati seorang muslim yang mampu mengantarkan kita pada ridha-Nya, meskipun pengorbanan yang ada datang bertubi-tubi. Saya jadi teringat dengan kisah Sayyid Quthb saat menjelang eksekusi kematiannya. Saat itu Sayyid Quthb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Telunjuk yang senantiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalat, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukkan atau menyerah kepada rezim thawaghut….”
Semoga dari kisah perjuangan para mujahid dan mujahidah ini dapat membuat kita semakin mencintai perjuangan di jalan-Nya. Amin allahumma amin…
klik disini
Label:
Gerakan Islam,
Hikmah,
Ibroh,
Kisah nyata,
Tarbiyah,
Tsaqafah Islamiyah
Sabtu, 08 Desember 2012
Setia Hingga Akhir Hayat
![]() |
Sebuah pernikahan adalah sebuah keberanian untuk membuat komitmen bahwa akan setia hingga akhir hayat... |
Apapun bentuk dan
alasan dari sebuah perselingkuhan atau siapapun yang melakukannya, selingkuh
tetap merupakan sebuah perilaku yang menyimpang dari komitmen. Memang
terjadinya sebuah perselingkuhan biasanya disebabkan karena faktor internal
(dalam diri) misal disebabkan karena kepribadian seseorang atau obsesi, serta
faktor eksternal lebih kepada terjadinya hubungan yang kurang harmonis dengan
pasangan atau bisa juga karena adanya godaan dari luar.
Sebisa mungkin
kita harus bisa untuk selalu setia
dengan pasangan hidup kita. Jangan bertindak egois tanpa memikirkan perasaan
sang buah hati yang pastinya akan terkoyak. Oleh karenanya sebisa mungkin suatu
hubungan rumah tangga harus selalu dijaga keutuhannya dengan cara:
- Selalu mempunyai rasa saling menghargai. Mungkin diluar sana Anda akan banyak melihat kelebihan orang lain tapi ingatlah bahwa pasangan Anda adalah jodoh yang sudah diberikan Tuhan untuk Anda.
- Selalu ingat kelebihan pasangan. Ingatlah mengapa dahulu Anda tertarik dengan pasangan, tentunya karena adanya kelebihannya!
- Ikhlas dalam menjalankan mahligai rumah tangga. Niatkanlah bahwa pernikahan hanya akan menjadi pernikahan sekali dalam seumur hidup Anda.
- Selalu bersikap jujur. Pasangan kita ibarat 'pakaian' dalam hidup kita, Tidak ada yang perlu disembunyikan dari pasangan. Sikap menutup-nutupi 'sesuatu' hanya akan mendatangkan kondisi bagai 'gunung api' yang akan meletus.
- Jangan pernah mempunyai patokan atau ukuran berdasarkan materi. Sikap ini hanya akan membuat usia perkawinan tidak langgeng. Syukuri apa yang sudah didapat yang artinya itu adalah rejeki dari Nya.
- Tidak usah coba-coba untuk bermain api. Awalnya Anda coba-coba nanti Anda akan terbakar!
- Selalu ingat 'memory' indah. Pasti banyak kenangan indah sudah Anda lalui bersama pasangan. Kenang kembali saat-saat indah Anda bersamanya. Dengan begitu Anda akan semakin lebih menghargai komitmen yang sudah terbina.
Godaan di luar memang
banyak, jadi pandai-pandailah kita untuk menyikapi godaan-godaan tersebut.
Ingat untuk selalu berniat bahwa kesetiaan berumahtangga ini akan terus terjaga
hingga akhir hayat. (ICP)
Sumber : http://rumahpuan.com/mindsoul/detail/43
Label:
suplemen ruhiyah,
Tarbiyah,
Tsaqafah Islamiyah
Rabu, 05 Desember 2012
Mau Masuk Surga, Tempuhlah Jalannya!
Alhamdulillah, segala puji bagi
Allah yang telah menjanjikan surga bagi hamba-hamba yang taat
kepada-Nya. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah yang
telah menjelaskan semua jalan ke surga dan menyuruh umat untuk
menempuhnya, juga kepada para keluarga dan sahabatnya.
Allah telah menyiapkan surga bagi para hamba yang taqwa. Kenikmatannya tak ada bandingannya. Allah menggambarkannya sebagai kenikmatan yang tak pernah dilihat mata, didengar telinga, dan terbersit dalam hati hamba. Maka bayangan seseorang tentang kenikmatan surga tak akan pernah sama persis dengan hakikatnya.
Sesungguhnya semua yang ada di dunia tidak akan bisa menyamai sedikit saja dari kenikmatan surga. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan,
مَوْضِعُ سَوْطٍ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Satu tempat di surga yang sebesar cambuk lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. al-Bukhari, Ibnu Majah, Ahmad dan lainnya dari Sahal Bin Sa’id al-Sa’idi)
وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ
“Demi Allah! Tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian yang memasukkah satu jarinya ke laut, -hendaknya dia melihat, apa yang didapatkannya.” (HR. Muslim)
Maksudnya, bahwa bila pendeknya waktu dunia dan kenikmatannya yang fana dibandingkan dengan abadinya akhirat dan kenikmatannya, tidak lain kecuali seperti air yang menempel pada jari tangan seseorang setelah dicelupkan di laut dengan banyaknya air laut, sungguh tidak sebanding. (Lihat Syarah Shahih Muslim milik Imam Nawawi)
Dalam riwayat Thabrani yang disebutkan Syaikh Wahid Abdul Salam Bali dalam Shifat al-Jannah, perhiasan penghuni surga yang paling rendah kualitasnya lebih baik daripada seluruh perhiasan penduduk surga.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga pernah menjelaskan tentang beberapa macam pahala yang akan diberikan kepada orang yang mati syahid, beliau bersabda; “Dikepalanya dipakaikan mahkota kebesaran yang mana satu mutiara Yakutnya lebih baik daripada dunia seisinya.” (HR. al-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Maka siapa yang mengetahui keutamaan kenikmatan akhirat (surga) yang kekal dan tidak akan punah dibandingkan kenikmatan dunia -seindah dan sebanyak apapun itu- yang pasti akan hilang dan punah, maka dia tidak akan mengutamakan yang fana atas yang abadi. “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. Al-Nahl: 96)
Orang berakal pasti akan mengutamakan kebaikan akhiratnya dan menempuh jalan yang bisa menghantarkan ke sana dengan tetap melaksanakan kebutuhan materi dan dunianya. Allah Ta’ala berfirman,
وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)
Apa Amalan Ahli Surga?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah al-Harrani rahimahullaah menyatakan bahwa tidak mungkin mengungkap semua amalan-amalan ahli surga dengan rinci. Namun secara global amalan ahli surga semuanya masuk kategori ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan itu teringkas dalam iman dan takwa, yang mencakup amal batin dan dzahir.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ
“Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Nisa’: 13-14)
Berikut kami paparkan beberapa amalan ahli surga yang beliau rahimahullaah sebutkan secara rinci dalam Majmu’ Fa tawanya: 2/387-388:
Amalan-amalan ahli surga: iman kepada Allah, Para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasul-Nya, dan hari akhir serta beriman kepada qadar (takdir) yang baik maupun yang buruknya.
Amalan ahli surga: Bersyahadat Laa Ilaaha Illallah (Tiada Tuhan yng berhak diibadahi kecuali Allah) dan Muhammad rasulullah (Nabi Muhammad adalah utusan Allah), mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadlan, dan berhaji ke Baitullah. Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah meliha-Nya, dan jika tidak bisa, maka yakinilah bahwa Dia melihatmu.
Di antara amalan-amalan ahli surga: Berbicara jujur, menunaikan amanat, menepati janji, birrul walidain (berbakti kepada orang tua), menyambung hubungan kerabat, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, dan yang menjadi tanggungannya dari kalangan manusia atau binatang.
Di antara amalan ahli surga lainnya: Ikhlas beribadah kepada Allah, bertawakkal kepada-Nya, cinta kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, takut kepada Allah dan berharap rahmat-Nya, kembali kepada-Nya, bersabar menetapi hukum-Nya, dan menyukuri nikmat-nikmat-Nya.
Di antara amalan ahli surga: Suka membaca Al-Qur’an, berdzikir kepada Allah, berdoa kepada-Nya, meminta dan berharap kepada-Nya.
Di antara ahli surga: Beramar ma’aruf (menyuruh orang berbuat kebaikan), bernahi munkar (melarang orang dari berbuat buruk), berjihad di jalan Allah dalam memerangi orang kafir munafikin.
Di antara amalan ahli surga: Adil dalam semua urusannya, adil terhadap semua makhluk sampai terhadap orang kafir, dan amalan-amalan yan serupa.
Di antara amalan ahli surga: Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang yang pelit kepadamu, memaafkan orang yang menzalimimu, karena Allah menyediakan surga bagi orang-orang bertakwa, yaitu orang-orang yang tetap berinfak dalam kondisi lapang maupun sempit, menahan amarah, memaafkan manusia, dan Allah menyukai orang-orang yang senantiasa berbuat baik. Wallahu’ Ta’ala a’lam. [PurWD/voi]
Allah telah menyiapkan surga bagi para hamba yang taqwa. Kenikmatannya tak ada bandingannya. Allah menggambarkannya sebagai kenikmatan yang tak pernah dilihat mata, didengar telinga, dan terbersit dalam hati hamba. Maka bayangan seseorang tentang kenikmatan surga tak akan pernah sama persis dengan hakikatnya.
Sesungguhnya semua yang ada di dunia tidak akan bisa menyamai sedikit saja dari kenikmatan surga. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan,
مَوْضِعُ سَوْطٍ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Satu tempat di surga yang sebesar cambuk lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. al-Bukhari, Ibnu Majah, Ahmad dan lainnya dari Sahal Bin Sa’id al-Sa’idi)
وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ
“Demi Allah! Tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian yang memasukkah satu jarinya ke laut, -hendaknya dia melihat, apa yang didapatkannya.” (HR. Muslim)
Maksudnya, bahwa bila pendeknya waktu dunia dan kenikmatannya yang fana dibandingkan dengan abadinya akhirat dan kenikmatannya, tidak lain kecuali seperti air yang menempel pada jari tangan seseorang setelah dicelupkan di laut dengan banyaknya air laut, sungguh tidak sebanding. (Lihat Syarah Shahih Muslim milik Imam Nawawi)
Dalam riwayat Thabrani yang disebutkan Syaikh Wahid Abdul Salam Bali dalam Shifat al-Jannah, perhiasan penghuni surga yang paling rendah kualitasnya lebih baik daripada seluruh perhiasan penduduk surga.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga pernah menjelaskan tentang beberapa macam pahala yang akan diberikan kepada orang yang mati syahid, beliau bersabda; “Dikepalanya dipakaikan mahkota kebesaran yang mana satu mutiara Yakutnya lebih baik daripada dunia seisinya.” (HR. al-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Maka siapa yang mengetahui keutamaan kenikmatan akhirat (surga) yang kekal dan tidak akan punah dibandingkan kenikmatan dunia -seindah dan sebanyak apapun itu- yang pasti akan hilang dan punah, maka dia tidak akan mengutamakan yang fana atas yang abadi. “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. Al-Nahl: 96)
Orang berakal pasti akan mengutamakan kebaikan akhiratnya dan menempuh jalan yang bisa menghantarkan ke sana dengan tetap melaksanakan kebutuhan materi dan dunianya. Allah Ta’ala berfirman,
وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)
Apa Amalan Ahli Surga?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah al-Harrani rahimahullaah menyatakan bahwa tidak mungkin mengungkap semua amalan-amalan ahli surga dengan rinci. Namun secara global amalan ahli surga semuanya masuk kategori ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan itu teringkas dalam iman dan takwa, yang mencakup amal batin dan dzahir.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ
“Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Nisa’: 13-14)
Berikut kami paparkan beberapa amalan ahli surga yang beliau rahimahullaah sebutkan secara rinci dalam Majmu’ Fa tawanya: 2/387-388:
Amalan-amalan ahli surga: iman kepada Allah, Para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasul-Nya, dan hari akhir serta beriman kepada qadar (takdir) yang baik maupun yang buruknya.
Amalan ahli surga: Bersyahadat Laa Ilaaha Illallah (Tiada Tuhan yng berhak diibadahi kecuali Allah) dan Muhammad rasulullah (Nabi Muhammad adalah utusan Allah), mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadlan, dan berhaji ke Baitullah. Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah meliha-Nya, dan jika tidak bisa, maka yakinilah bahwa Dia melihatmu.
Di antara amalan-amalan ahli surga: Berbicara jujur, menunaikan amanat, menepati janji, birrul walidain (berbakti kepada orang tua), menyambung hubungan kerabat, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, dan yang menjadi tanggungannya dari kalangan manusia atau binatang.
Di antara amalan ahli surga lainnya: Ikhlas beribadah kepada Allah, bertawakkal kepada-Nya, cinta kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, takut kepada Allah dan berharap rahmat-Nya, kembali kepada-Nya, bersabar menetapi hukum-Nya, dan menyukuri nikmat-nikmat-Nya.
Di antara amalan ahli surga: Suka membaca Al-Qur’an, berdzikir kepada Allah, berdoa kepada-Nya, meminta dan berharap kepada-Nya.
Di antara ahli surga: Beramar ma’aruf (menyuruh orang berbuat kebaikan), bernahi munkar (melarang orang dari berbuat buruk), berjihad di jalan Allah dalam memerangi orang kafir munafikin.
Di antara amalan ahli surga: Adil dalam semua urusannya, adil terhadap semua makhluk sampai terhadap orang kafir, dan amalan-amalan yan serupa.
Di antara amalan ahli surga: Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang yang pelit kepadamu, memaafkan orang yang menzalimimu, karena Allah menyediakan surga bagi orang-orang bertakwa, yaitu orang-orang yang tetap berinfak dalam kondisi lapang maupun sempit, menahan amarah, memaafkan manusia, dan Allah menyukai orang-orang yang senantiasa berbuat baik. Wallahu’ Ta’ala a’lam. [PurWD/voi]
*)http://kabarhati.com/news/pandu-hati/12195/
Label : Senyum Rasulullah di Hari Arafah
Suatu ketika, di saat hari Arafah tiba, Nabi saw tersenyum. Ketika
beliau ditanya tentang hal ini, beliau menjawab dengan jawaban yang
menggembirakan umatnya sebagaimana terdapat dalam kisah berikut ini.
***
Diriwayatkan oleh al-Abbas bin Mirdas ra, bahwasanya ketika hari Arafah mulai sore, Rasulullah saw berdoa untuk umatnya supaya diberi ampunan dan kasih sayang oleh Allah SWT. Waktu itu Rasulullah saw banyak memanjaatkan doa untuk umatnya dan Allah SWT mengabulkannya.
Allah berfirman, "Aku telah memenuhi permintaanmu dan mengampuni umat mu, kecuali umatmu yang melakukan kezaliman terhadap sesamanya."
Rasul saw berdoa kembali, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau mampu mengampuni orang yang zalim dan Engkau juga mampu memberikan pahala kepada orang yang dizalimi."
Hanya doa ini saja yang dilantunkan berulang-ulang oleh Rasul saw pada sore di hari Arafah itu.
Keesokan harinya, di waktu pagi menjelang meninggalkan Mudzalifah, Rasulullah saw juga berdoa lagi untuk umatnya. Setelah lama berdoa kemudian beliau tersenyum. Sahabat-sahabat bertanya kepada beliau,
"Wahai Rasulullah, kami melihat anda tersenyum di waktu yang biasanya anda tidak tersenyum. Apakah gerangan yang terjadi?"
Rasulullah saw menjawab, "Saya tersenyum melihat tingkah polah musuh Allah, Iblis ketika ia tahu bahwa Allah SWT telah mengabulkan doaku untuk kebaikan umatku dan mengampuni umatku yang melakukan kezaliman. Ketika ia tahu hal itu, ia mengumpat, menghardik, dan menaburi kepalanya dengan debu. Saya tersenyum melihat ekspresi kesedihan dan keputusasaannya". [HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad]
*dikutip dari kitab Iqaadzul Ghaafiliin minal Halakah ilal Harakati lid-Diini karya Khalid Abdul Mu'thi Khalif
Langganan:
Postingan (Atom)












