2011
lalu, ketika Piore vogel sang mantan kristiani dan sosok anti islam,
berdiri di atas mimbar dan memberikan presentasi Diinul islam di hadapan
rakyat jerman yang kebanyakan menganut kristiani juga komunis,
Tampilkan postingan dengan label mualaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mualaf. Tampilkan semua postingan
Selasa, 22 Desember 2015
SOSOK MUALLAF “PIORE VOGEL” YANG MENDAPATKAN JULUKAN SANG BRILIAN
2011
lalu, ketika Piore vogel sang mantan kristiani dan sosok anti islam,
berdiri di atas mimbar dan memberikan presentasi Diinul islam di hadapan
rakyat jerman yang kebanyakan menganut kristiani juga komunis, Senin, 21 Desember 2015
Ini Dia Para Pesohor yang Memutuskan Menjadi Mualaf
London. Tiga puluh tahun lalu, publik Barat hanya mencatat
beberapa nama yang memutuskan menjadi Muslim. Di antara sedikit nama
itu, ada juara tinju dunia, Muhammad Ali, atau legenda basket, Karim
Abduljabbar.
Beberapa tahun kemudian, beberapa nama disebut-sebut menjadi mualaf, antara lain Michael Jackson, Ice Cube, dan Snoop Dogg.
Semua berkulit hitam? Tidak juga. Saat ini,
banyak kulit putih yang juga menjadi mualaf. Sebut Cat Steven, yang
memutuskan menjadi Muslim pada tahun 1977 dan mengubah namanya menjadi
Yusuf Islam.
Minggu, 20 Desember 2015
Lima Alasan Mualaf Tertarik pada Islam
Populasi Muslim di seluruh dunia meningkat
pesat. Di Eropa, sejumlah lembaga survei mencatat ada kenaikan meski
tidak lantas membuat populasi Muslim menjadi mayoritas.
Pertanyaan menarik yang muncul, apa yang
menyebabkan masyarakat dunia mulai tertarik memeluk Islam. Pertanyaan
ini yang kemudian menjadi bahan survei yang dilakukan Shannon Abulnasr,
dalam makesurvey.net
Kamis, 01 September 2011
Ketika Hidayah Islam Merengkuh Jiwaku
Namaku Erlina, aku ingin berbagi cerita kepada saudariku muslimah, bukan untuk mengajarkan tentang fiqih atau hadits atau hal lainnya yang mungkin ukhti muslimah telah jauh lebih dulu mengetahuinya daripada aku sendiri. Karena di masa lalu, aku beragama Kristen…Sejak kecil aku beserta kedua adikku dididik secara kristen oleh kedua orangtuaku, bahkan aku telah dibaptis ketika masih berumur 3 bulan dan saat berusia 18 tahun aku telah menjalani sidhi, yaitu pengakuan setelah seseorang dewasa tentang kepercayaan akan iman kristen di depan jemaat gereja. Aku juga selalu membaca Alkitab dan membaca buku renungan –semacam buku kumpulan khotbah– bersama keluargaku di malam hari. Seluruh keluargaku beragama Kristen dan termasuk yang cukup taat dan aktif. Bahkan dari keluarga besar ayah, seluruhnya beragama Kristen dan sangat aktif di gereja sehingga menjadi pemuka dan pengurus gereja. Sedang dari keluarga ibu, nenekku dulunya beragama Islam, namun kemudian beralih menjadi Katholik.
Sejak kecil aku adalah anak yang sangat aktif dalam kegiatan keagamaan. Tentu saja kegiatan keagamaan yang aku anut saat itu beserta keluarga besarku. Kecintaanku pada agama Kristen demikian kuat mengakar dan terus bertambah kuat seiring pertumbuhanku menjadi wanita dewasa. Sedari kecil aku sangat rajin ikut Sekolah Minggu, bahkan hampir tidak pernah absen. Aku selalu ingin mendengarkan cerita agama Kristen atau cerita dari Alkitab di Sekolah Minggu. Setiap pelajaran Sekolah Minggu kucatat dalam sebuah buku khusus. Cerita-cerita tersebut kuhafal sampai detail, sehingga setiap perayaan Paskah dan Natal aku selalu menjadi juara lomba cerdas tangkas Sekolah Minggu. Pernah suatu ketika, karena aku sering sekali menang, seorang juri memberikan tes tersendiri. Hal ini untuk memastikan bahwa aku layak mendapatkan juara pertama, apalagi saat itu aku masih lebih muda dari peserta dan juara lainnya. Ternyata aku bisa menjawab pertanyaan juri tersebut. Akhirnya aku tetap mendapatkan hadiah, namun hadiah khusus di luar juara satu sampai tiga. Kebijakan ini untuk memberikan kesempatan pada peserta lain untuk menjadi pemenang.
Ketika aku menginjak usia SMP dan SMA, aku tetap aktif dalam kegiatan persekutuan remaja dan pemuda di sekolah. Aku juga aktif di tingkat yang lebih besar yaitu kegiatan persekutuan antar siswa Kristen dari sekolah-sekolah se-kota Magelang, juga persekutuan remaja di gereja. Bahkan aku juga ditunjuk menjadi ketua persekutuan remaja di gereja. Setiap minggu aku disibukkan dengan kegiatan persekutuan, mempersiapkan acara, topik, pembicara, membuat undangan dan menyebar undangan. Aku tidak pernah bosan mengundang rekan-rekan untuk hadir. Walaupun aku tahu ada di antara mereka yang malas hadir, aku tetap memberikan undangan kepada mereka. Betapa semangatnya aku saat itu…
Setelah lulus SMA, aku meneruskan kuliah di FKG UGM. Dan seperti sebelum-sebelumnya, aku kembali aktif di kegiatan keagamaan (Kristen). Kali ini aku mengikuti kegiatan persekutuan mahasiswa di FKG dan di tingkat UGM. Aku sangat senang dan menikmati kegiatanku tersebut saat itu. Bermacam-macam aktifitas, perayaan Natal, Paskah, panitia lomba vokal grup lagu gerejawi dan lainnya aku ikuti. Aku sering mengajak teman-teman-teman satu kos untuk menyanyi bersama lagu-lagu gerejawi di kos, berdiskusi pemahaman kitab dan lainnya.
Ternyata keaktifanku dalam kegiatan keagamaan ini semakin masuk ke dalam ketika aku diajak bergabung dengan pelayanan “Para Navigator”. Pesertanya sebagian besar mahasiswa. Di sini kami belajar banyak hal tentang kekristenan, dibimbing oleh pembimbing rohani dalam satu kelompok, mengadakan diskusi pemahaman Alkitab setiap minggu dengan menggunakan buku panduan seperti kurikulum yang bertingkat dari dasar ke tingkat tinggi. Di sini kami juga diajarkan dan diminta untuk menghafal ayat-ayat Alkitab –dengan diberikan panduan berupa kartu yang berisi ayat untuk dihafalkan-, dan setiap minggu harus bertambah ayat yang kami hafal. Akhirnya aku dapat menyelesaikan paket kurikulum dan diminta membimbing anak rohani. Metode pelayanan ini biasa dikenal dengan metode sel, belajar berkelompok, kemudian berkembang dengan masing-masing anggota yang akan memiliki anak-anak lain untuk dibimbing, sehingga orang-orang yang terlibat di dalamnya akan berkembang dan bertambah banyak. Dalam pelayanan ini, terkadang kami pun diajarkan dan dianjurkan untuk berdakwah mengajak orang lain mengenal dan mengikuti ajaran Kristen.
Entah mengapa, setelah aku masuk stase (tingkatan) klinik, mulai ada beberapa teman (muslim) yang mendekati dan ingin memperkenalkan Islam kepadaku. Reaksiku? Jelas marah dan kutolak mentah-mentah. Pernah juga aku dipinjami Al-Qur’an dan diminta untuk membacanya oleh seorang teman. Sungguh aku sangat marah terhadapnya sampai-sampai aku tak ingin berbicara dengannya.
Sampai akhirnya aku bertemu dengan dia –sebut saja A– yang alhamdulillah kini telah menjadi suamiku. Kalau teman-teman lain ingin memperkenalkan Islam dengan cara langsung dengan Al-Qur’an dan hal-hal lainnya yang jelas-jelas berbau Islam, maka A mengenalkan Islam dari sisi yang beraroma Kristen. Dan aku sangat antusias saat itu. Apalagi ia menyatakan bahwa jika Kristen lebih benar dari Islam, maka dia akan mengikuti agama Kristen. Kesempatan emas! Pikirku. A juga banyak bertanya tentang Bible, bahkan ia katakan telah tamat membaca Alkitab Perjanjian Baru sebanyak tiga kali! Aku pikir, orang ini benar-benar tertarik akan agama Kristen. Aku saja belum pernah membaca dari awal hingga akhir kitab tersebut secara berurutan. Aku semakin bersemangat saat itu. Banyak yang dia ketahui tentang Alkitab Kristen dan tentang Kristen. Ternyata sejak kecil ia bersekolah di sekolah Katholik dan mempelajari agama Katholik serta sejarahnya, dan ketika ia kuliah di UGM, ia juga terkadang berkunjung ke toko buku Kristen untuk membaca.
Namun, yang terjadi selanjutnya ternyata di luar dugaanku. A memang banyak tahu tentang agamaku, namun ia juga memiliki pengetahuan tentang Islam. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang diajukan olehnya dan berkaitan dengan agamaku, yang terkadang pertanyaan itu begitu mudah, namun aku sangat kesulitan menjawabnya. Diskusi-diskusi yang kami lakukan membuat kami menjadi dekat. Aku pun telah lulus kuliah dan bekerja. Begitu pula A, hanya saja dia bekerja di Jakarta. Namun, kami masih terus melanjutkan diskusi tentang agama Kristen yang telah kami lakukan sebelumnya. Ya… masih berlanjut seperti itu, pengenalan tentang agama Islam yang dilakukan dengan cara tidak langsung.
Dari diskusi-diskusi itulah ia terkadang memasukkan sentilan Islam secara tidak langsung dan tidak aku sadari (karena pertanyaan dan hal-hal yang didiskusikan sebenarnya telah jelas jawabannya di Islam). Banyak bentrok di antara kami dalam diskusi tersebut. Kadang bahkan membuat aku marah, menangis, jengkel. Namun diskusi itu terus berlanjut. Masih ada rasa penasaran, jengkel dan marah yang berbaur menjadi satu. Namun… banyak sekali pertanyaan darinya yang tidak bisa aku jawab. Akhirnya A mengusulkan agar meminta pendeta yang ahli untuk diajak diskusi bersama. Wah!! Betapa senangnya aku mendengar sarannya itu. Orang ini benar-benar bersemangat belajar Kristen. Aku sangat berharap akhirnya nanti dia bisa beragama Kristen. Rasanya bahagia jika aku berhasil membuat ia mengikuti iman Kristen.
Dengan sebab tersebut, aku mencari dan menghubungi pendeta yang terkenal, senior dan sangat berkualitas di Jogja. Sebut saja pendeta X. Aku berharap pendeta X dapat membantuku ‘memberi pelajaran’ tentang Kristen kepada A. Keluargaku pun ikut bersemangat dan sangat mendukung rencanaku ini. Saat itu, aku bersyukur bapak pendeta ini mau dan bersedia membantu rencanaku. Akhirnya, kami melakukan diskusi bertiga. Keadaannya saat itu, bukanlah sebagaimana seseorang yang ingin saling berdebat antar agama. Tidak. Kondisi saat itu, baik A maupun aku sama-sama sebagai orang yang belajar dan mencari kebenaran. Walaupun tidak ada pernyataan sebagaimana yang A lakukan bahwa jika Islam lebih benar aku akan mengikuti agamanya.
Mulailah kami berdiskusi setiap pekan di hari Sabtu. Beberapa pertanyaan yang A ajukan antara lain adalah:
Kapan dan bagaimana cara Yesus berpuasa? Mengapa orang Kristen tidak berpuasa?
Tentang penghapusan hukum Taurat (Yesus menolak membasuh tangan sebelum masuk rumah).
Benarkah kisah yang menceritakan Yesus berdoa dengan bersujud? Dan bagaimana orang Kristen berdoa saat ini? Dahulu, orang Yahudi termasuk Yesus dikhitan. Mengapa orang Kristen sekarang tidak? Pendeta menjawab, orang Kristen ada yang berkhitan tapi bukan untuk mengikuti hukum Tuhan (Taurat), tetapi untuk alasan kesehatan.
Mengapa orang Kristen tidak mengenal najis? Padahal hal najis di Taurat lebih berat daripada hukum Islam. Pendeta menjawab, dalam Kristen hal itu tidak perlu karena di dalam tubuh kita juga ada najis.
Apakah surga itu bertingkat-tingkat menurut Kristen?
Pendeta menjawab, “Tidak, dalam Kristen surga tidak bertingkat-tingkat.”
Lalu kami bertanya, “Mengapa dalam injil dikatakan ada surga rendah dan surga tinggi?”
Terdapat ramalan dalam Alkitab tentang kedatangan anak manusia ‘Ia akan berada di perut bumi tiga hari tiga malam’ seperti kejadian nabi Yunus di dalam perut ikan. Siapakah dia?
Pendeta menjawab, “Jelas ramalan untuk Yesus setelah kematian di kayu salib dan dikubur di gua.”
Akhirnya kami bertiga sama-sama menghitung. Dan berkali-kali, hasil perhitungan itu adalah dua hari dua malam atau maksimal adalah tiga hari dua malam dengan konsekuensi memasukkan hari minggu sebagai satu hari penuh, padahal minggu pagi –sebelum matahari terbit- , kubur Yesus telah kosong. Karena perhitungan tersebut tidak cocok dengan ramalan tiga hari tiga malam, pertanyaan tersebut ditunda untuk didiskusikan pekan berikutnya.
Saat kami datang pekan berikutnya, pendeta sudah memiliki jawaban, yaitu perhitungan hari orang Yahudi berbeda dengan kita.
Waktu itu kami tercengang, heran namun akhirnya tersenyum mengerti bahwa sebenarnya pertanyaan ini tidak dapat dijawab oleh sang pendeta. Padahal kejadian nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam gua selama tiga hari tiga malam mestinya lebih bisa menjawab ramalan tersebut.
Ah, saudariku… sebenarnya masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang kami diskusikan saat itu. Kiranya ini cukup untuk menggambarkan diskusi yang terjadi saat itu. Pertanyaan-pertanyaan kami bukanlah pertanyaan yang berat yang berkaitan dengan akidah. Bukan tentang trinitas ataupun ketuhanan Yesus. Namun, itupun banyak yang tidak terjawab. Dan dalam diskusi ini, A tidak pernah mendebat dengan dalil-dalil Islam, Al-Qur’an dan hadits. Sehingga memang terkesan bahwa kami berdua sedang berguru kepada pendeta tersebut.
Kami tidak pernah berdebat, menyalahkan atau mempermalukan beliau. Kami tetap hormat, dan pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan berkesan layaknya konfirmasi, “Apakah ini benar”, “Mengapa seperti ini”, dan semacamnya, kemudian menilai jawaban yang pendeta tersebut berikan. Dan jika kami tahu sebenarnya beliau tidak dapat menjawab pertanyaan kami, dan tampak jawabannya dipaksakan, tidak logis (seperti tentang ramalan tiga hari tiga malam), maka kami hanya tersenyum dan tidak memperpanjang pembahasan hal tersebut. Saat itu, pendeta tersebut menganjurkan agar kami membaca buku karangan seorang Pastor yang berjudul Gelar-Gelar Yesus. Namun, aku malah mendapati, si pengarang justru mengatakan bahwa di Alkitab tidak ada yang secara langsung menyebutkan bahwa Yesus itu Tuhan dan dia tidak pernah menyatakan diri sebagai Tuhan. Sehingga anjuran ini justru menjadi semakin menambah pertanyaanku dan memperbesar keraguanku akan iman Kristen.
***
Setelah diskusi berlangsung beberapa kali, pendeta tersebut minta maaf karena tidak bisa melanjutkan diskusi lagi karena akan pergi ke luar negeri selama beberapa waktu. Beliau merekomendasikan dua orang pendeta untuk menggantikan posisi beliau selama beliau tidak ada. Pendeta pertama adalah seorang yang dulunya beragama Islam namun keluar (murtad) dari agama Islam dan menjadi pendeta. Saat kami mendatangi rumah pendeta ini, dari pembicaraan dengannya terkesan bahwa beliau menolak dan menghindar dengan alasan yang tidak jelas. Pendeta kedua adalah seorang doktor teologia ahli perbandingan agama dan memiliki kedudukan yang cukup tinggi di sebuah universitas. Karena kesibukan dan kedudukan beliau inilah, kami agak kesulitan menemui beliau. Ketika akhirnya kami berhasil menemuinya, ternyata beliau keberatan dan tidak bersedia berdiskusi bersama kami dengan alasan sibuk. Pendeta kedua ini menyarankan agar kami kembali berdiskusi dengan pendeta X. Karena proses diskusi ini (yang tadinya aku berharap begitu banyak para pendeta ini dapat memberi pelajaran pada A) ternyata sedikit terhambat, akhirnya aku mendatangi pendeta X seorang diri. Aku menceritakan semua hal berkenaan dengan latar belakang diskusi ini dan aku memohon kepada beliau untuk membantuku meneruskan proses diskusi dengan A. Sayangnya… ternyata beliau menolak permintaanku dengan alasan yang tidak jelas –bahkan bisa dikatakan tanpa alasan-. Sebagaimana harapan besar lainnya – yang jika tertumpu pada seseorang namun ternyata tidak dipenuhi oleh orang tersebut-, maka kekecewaan yang besar pun kurasakan waktu itu. Ketika aku pamit pulang, pendeta tersebut masih sempat berpesan kepadaku,
“Apapun yang terjadi, jangan sampai kamu menikah dengan dia (A). Kalau dia tidak mau masuk agama Kristen, pertahankan imanmu (iman Kristen).”
Gundah, bingung, sedih, dan kekecewaan yang menumpuk, semua bergumul menjadi satu setelah mendapat berbagai penolakan dari pihak-pihak yang aku harapkan dapat membantuku memberi penjelasan tentang agama Kristen ini kepada A. Bahkan pihak-pihak ini adalah orang yang kuanggap pakar dan ahli sehingga dapat membantuku menjawab dan menjelaskan tentang agama Kristen kepada A. Aku pun merasakan sesuatu yang janggal dari pesan terakhir dari pendeta X. Aku simpulkan bahwa sebenarnya mereka tidak memiliki argumen dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dan aku merasakan bahwa ada sesuatu yang kurang dari agama ini (Kristen).
Sejak itulah, aku berusaha melihat dan menilai Islam dan Kristen sebagai dua agama yang sejajar kedudukannya, dan aku berusaha berada pada posisi netral seakan-akan sedang menjadi juri untuk keduanya. Berat dan tertekan. Itu yang aku rasakan ketika harus bergumul dan berusaha keras untuk melepaskan diri dari doktrin Kristen. Doktrin yang telah aku cintai sejak kecil dan telah kuikat secara sungguh-sungguh. Namun, dari sinilah aku mulai membuka diri dengan selain Kristen. Aku baru bisa mulai mempelajari seperti apa Islam sebenarnya. Kesan pertama yang kudapatkan dalam penilaianku adalah, ‘Apa yang jelek dari Islam? Kelihatannya ajarannya ok ok saja.’ Sambil melakukan ini, aku tetap terus membaca Alkitab Kristen.
Suatu ketika, A mengajukan suatu ayat dalam Alkitab yang mengatakan, ”Jangan sampai kita sudah setiap hari menyeru ‘Tuhan-Tuhan,’ tetapi tidak selamat seperti yang tertulis dalam Injil.”
Kata-kata ini terpatri dalam benakku. Malam harinya, aku mencari ayat itu dalam Alkitab dan menemukannya, yaitu pada Matius 7:21, yang isinya, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, ‘Tuhan, Tuhan!’ akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-ku yang di sorga.”
Aku termenung seakan-akan tak percaya yang aku baca. Perlahan-lahan ‘ku tutup Alkitab yang sedang kubaca tersebut.
Keesokan harinya dan hari-hari sesudahnya terasa seperti hari penuh perenungan untuk pikiran dan benakku. Walaupun aku (berusaha) beraktifitas seperti biasa, namun pikiranku tidak tenang memikirkan ayat tersebut. Untuk meyakinkan diriku, ‘ku baca kembali ayat tersebut berulang-ulang, namun ternyata aku justru menjadi ketakutan setelah memikirkan makna yang terkandung di dalamnya. Sepertinya ayat ini sangat berkaitan dengan apa yang telah aku lakukan selama ini, dan aku takut ternyata aku termasuk yang pada akhirnya tidak masuk surga. Jangan-jangan apa yang kulakukan selama ini walaupun dengan kecintaan dan kesungguhan dan penuh perjuangan adalah hal sia-sia.
Sejak itu, aku mulai tertarik dengan Islam dan menjadikannya alternatif pengganti agamaku. Aku mulai bekerja di luar kota Yogyakarta di sebuah Puskesmas di Banjarnegara. Sendirian… tanpa sanak saudara ataupun teman dekat dan sahabat yang dapat kuajak diskusi tentang Islam. Aku belajar tentang Islam dari pengajian-pengajian masjid di desa yang terdengar dari pengeras suara atau acara desa dan kecamatan yang biasanya terdapat sentilan tentang ajaran Islam. Dan tentu saja tak ketinggalan, aku belajar dari diskusi yang sangat sangat banyak dengan A.
Sampai pada akhirnya, A menawarkanku untuk masuk Islam, dan akupun menyetujuinya walaupun tidak langsung melaksanakannya. Aku masih terus berdiskusi, belajar dan berpikir sehingga aku benar-benar merasa yakin dan mantap untuk memeluk agama Islam. Dan ketika keyakinan ini bertambah kuat, aku merasa ada kebutuhan mendesak yang harus kulakukan, yaitu aktifitas menyembah Allah. Rasanya keyakinanku akan sia-sia dan terasa hampa jika tidak ada aktifitas ibadah yang harus aku lakukan untuk menyembah Allah. Namun, aku sama sekali belum bisa cara beribadah yang ada pada Islam.
Dengan melihat orang sholat di televisi dan memperhatikan teman sholat, akhirnya aku berusaha meniru gerakan sholat. Tentu saja segala sesuatunya masih kacau saat itu. Dengan hanya memakai piyama tidur (tanpa tahu ada aturan harus menutup seluruh aurat saat shalat) menggelar selimut untuk dijadikan sajadah, dan berdiri tidak mengetahui harus menghadap kemana, aku sholat. Ya! Aku sholat! Hanya dengan tiga kalimat yang aku ketahui, bismillahirrahmanirrahim, allahu akbar, dan alhamdulillah dan dengan gerakan yang tanpa urutan dan aturan. Rasanya melegakan karena aku melepaskan keinginan untuk menyembah satu Ilah dan hanya Ilah inilah yang harus aku sembah. Aku lakukan ini berkali-kali tanpa diketahui oleh siapapun. Aku masih belum mengetahui tentang pembagian sholat yang lima waktu. Aku masih sendirian saat itu, menjadi kepala Puskesmas, dan aku pun masih merahasiakan statusku dari siapapun termasuk staf di kantor bahkan Si A tidak tahu kalau aku melakukan sholat karena aku masih malu, takut dan masih menutup diri. Sehingga tidak ada seorangpun yang dapat mengajariku.
Sampailah waktunya…
Aku dan A memberanikan diri datang kepada orangtuaku. Di situ, A mengutarakan keinginanku untuk memeluk agama Islam kepada orangtuaku. Dapat dibayangkan apa yang terjadi. Kekagetan luar biasa, marah, tidak percaya mengelegak keluar. Orangtua memintaku mengutarakan sendiri hal tersebut, dan aku pun mengatakan hal yang sama, “Aku ingin masuk Islam.” Mereka tetap tidak percaya dan memintaku memikirkannya kembali. Aku kembali ke Banjarnegara dan A juga kembali ke Jakarta tempat ia bekerja.
Beberapa waktu kemudian, Bapak, Ibu dan adikku menemuiku di Banjarnegara. Menanyakan kembali keputusan akhirku. Saat itu, aku meminta A menemaniku, karena aku dalam kondisi sangat takut dan kalut. Jawabanku pun tetap sama, “Aku ingin masuk Islam.”
Betapa orangtuaku marah mendengarnya. Sebuah kemarahan yang aku belum pernah menyaksikan sebelumnya. Ibu berkata, “APA KAMU SANGGUP MENGHIANATI YESUS!!! TEGANYA ENGKAU DENGAN YESUS!!!”
Rasanya hatiku teriris mendengar teriakan marah dan kekecewaan yang luar biasa dari kedua orangtuaku tersebut. Aku pun memahami jika akan seperti ini, karena seluruh keluarga besar beragama Kristen dan hampir seluruhnya adalah aktivis-aktivis gereja, sering berkhotbah di gereja. Tidak ada satupun yang beragama lain. Dan… aku yang diperkirakan juga akan mengabdi dengan sesungguhnya pada agama Kristen ternyata menjadi orang pertama yang masuk ke agama Islam. Tentu ini hal yang sangat berat terutama untuk kedua orangtuaku. Anggapan-anggapan negatif baik dari pihak keluarga, jemaat gereja, keluarga besar lainnya tentu akan datang bertubi-tubi menekan mereka. Dengan keputusanku yang tidak berubah ini, akhirnya hubunganku dengan keluarga menjadi agak renggang.
Derai air mata sejak itu masih terus mengalir. Aku sempat ragu ketika mengingat perkataan ibuku,
“Sanggupkah engkau mengkhianati Yesus.”
“Tegakah pada Tuhan Yesus.”
Pikiranku terus berkecamuk, ‘Benarkah itu? Benarkah aku harus menyembah Yesus? Benarkah jika aku memeluk Islam, Yesus akan marah?’ Berkutat pada kebimbangan antara perkataan orangtuaku dan apa yang telah kupelajari dalam Islam. Dalam puncak kebingunganku, aku bermimpi…
Aku hendak pergi tidur. Tiba-tiba… terdengar ketukan dari jendela kayu yang bersebelahan dengan tempat tidurku. Kubuka jendela tersebut dan aku kaget karena ternyata di depanku ada sesosok Yesus (wajahnya memang tidak jelas, namun berjubah dan dalam mimpi itu aku dipahamkan bahwa itu adalah Yesus). Sosok itu tidak berbicara apa-apa namun tampak seperti tersenyum, tidak marah dan mengulurkan tangannya (seperti) hendak menyalamiku. Sosok tersebut tidak berbicara namun aku dipahamkan bahwa maksud beliau adalah mengucapkan selamat kepadaku. Setelah itu sosok tersebut berlalu.
Aku pun terbangun dalam keadaan bingung dan takut. ‘Apa maksud mimpi ini?’ pikirku. Apakah ini suatu tanda bahwa pilihanku benar.
Waktupun berlalu dan aku semakin mengokohkan keputusanku untuk memeluk agama Islam. A yang hampir selalu hadir dalam perjalananku menggapai hidayah Islam ini akhirnya melamarku. Alhamdulillah… akhirnya orangtuaku pun mengizinkan kami menikah. Hubungan kami dengan keluargaku sudah baik kembali sampai saat ini. Kami menikah dengan wali dari KUA. Rasa haru dan bahagia menyelimutiku saat itu. Setelah menikah, aku langsung minta dibelikan mukena dan minta diajarkan shalat. Dan A terus mendampingiku dan mengajarkanku shalat lima waktu. Sampai aku telah dapat melakukan shalat sendiri, A baru bisa menjalankan kewajibannya untuk shalat di masjid.
Perjalananku dalam memahami Islam tentu saja tidak berhenti sampai di situ. Setelah lima tahun sejak aku masuk ke dalam agama Islam, aku melanjutkan studi S2 di FK UGM, jurusan Ilmu Kedokteran Dasar dan Biomedis (minat Histologi dan Biologi Sel) dan aku seperti tersentak untuk kedua kalinya. Aku baru menyadari dan memahami betapa Allah mengatur segala sistem dalam tubuh kita dengan begitu rapi, canggih, teratur, beralasan dan sempurna sampai ke tahap molekuler, tanpa kita sadari. Aku banyak termenung saat menyadari hal itu, namun juga menjadikanku banyak bertanya kepada dosen pakar saat itu. Subhanallah, Dia-lah pencipta, pengatur, pemelihara yang sedemikian rupa rumitnya. Dan tidak mungkin semua itu berjalan, berproses dan bermekanisme dengan sendirinya. Mulai saat itulah aku lebih terpacu lagi untuk belajar dengan membaca dan memahami Al-Qur’an.
Dan proses belajar itu terus berlangsung sampai sekarang. Dahulu aku telah mengetahui bahwa Allah-lah, Ilah yang disembah dalam agama Islam. Namun, perlu waktu bertahun-tahun untuk aku memahami bahwa hanya Allah-lah Ilah yang BERHAK untuk disembah. Dan pemahaman ini ternyata suatu perkembangan, semakin kita belajar mengenal Rabb kita, insya Allah semakin bertambahlah pemahaman dan ketauhidan kita, dan akan semakin sadar bahwa masih banyak sekali hal yang tidak kita ketahui. Dari proses pembelajaran inilah aku semakin memahami siapakah Allah yang selama ini aku sembah, mengapa hanya Allah yang harus aku sembah. Kini aku sedikit lebih paham (karena masih banyak hal yang belum aku pahami), tentang kekuatan rububiyah Allah (sebagai pencipta, yang berkuasa) yang melazimkan bahwa hanya Dia-lah yang berhak disembah dan mengapa aku tidak boleh mempersekutukan-Nya karena jika aku melakukan kesyirikan maka ia akan menjadi dosa yang tak terampuni (jika tidak bertaubat).
Saudariku… agama Islam terlalu tinggi, canggih dan terlalu sempurna, dengan konsepnya yang sangat jelas, sehingga agama-agama lain menjadi sangat lemah untuk menjadi pembandingnya, termasuk agama Kristen yang aku anut dahulu.
***
Kisah di atas diceritakan langsung oleh Erlina kepada redaksi Muslimah.or.id, dan redaksi KisahMuslim.com juga mengenal Erlina. Semoga Allah menjaga hamba-hamba-Nya yang beriman…
sumber : http://kisahmuslim.com/mualaf-masuk-islam/
Rabu, 01 Juni 2011
Mengapa Adikku Menjadi Islam Ekstrim?
Saat itu sebuah surat kabar nasional menulis tentang perubahan kehidupan Richard yang menjadi seorang Muslim, dan kemudian berganti nama menjadi Salahuddin. Nama Salahuddin sangat bersejarah, dan mengalahkan pasukan Romawi dan membebaskan Al-Aqsha.
Surat kabar itu juga menulis artikel tentang "Orang paling berbahaya di Inggris", yaitu Anjem Choudary. Anjem menjadi pemimpin umat Islam di Inggris, dan sekarang dilarang pemerintah. Kelompok ini dituduh sebagai kelompok ekstrim, karena ingin menegakkan hukum Islam di negeri Inggris, yang menganut hukum sekuler. Di bawah judul itu, ada bagian paragraf yang menyebut nama Richard, dan alamatnya, Weymouth, di Dorset.
Rupanya Richard menjadi murid Choudary, yang sangat ditakuti oleh pemerintah Inggris, yang dianggap sangat ekstrim. Richard memilih nama baru dengan hati-hati, namun ironisnya, nama baru yang ia pilih itu membuat orang lain menjadi takut. Tokoh Salahuddin adalah seorang pembebas yang paling terkemuka di abad 12 M. Sultan yang mengalahkan Raja Richard si Hati Singa.
Keluarga yang Hancur
Orangtua kami menikah pada tahun 1992 dan kami tumbuh bersama di Dorset. Richard pindah ke London lima tahun yang lalu, dan keluarga kami mulai terpisah, dan kemudian keluarga kami tumbuh dengan alamiah. Pada tahun 2008 kami menghabiskan waktu dua minggu berlibur sekeluarga ke Siprus, dan bermain voli di pantai. Menikmati suasana pantai Siprus yang indah, dan teriknya matahari serta menjelang sunset. Indah sekali pantai Siprus, menjelang senja, dan burung-burung camar berterbarangan kembali ke tempatnya.
Tentu yang sangat mengejutkan, setahun kemudian ia dimuat di sebuah surat kabar nasional, dan berbicara tentang kesediaannya untuk berjuang dan mati syahid, di negeri yang jauh dari tempat kelahirannya. Ini tidak pernah dimengerti oleh siapapun. Ia ingin berperang membebaskan negeri-negeri Islam yang sekarang sedang diduduki oleh orang-orang kafir, katanya.
Salahuddin (17), sering membagikan buku dan selebaran Islam di London timur. Keluarga kami sangat terpukul. Tidak ada yang tahu apa pun tentang perubahan-perubahan itu, peristiwa itu benar-benar tidak diketahui, meskipun itu peristiwa besar dan sangat menarik.
Kemudian saya memutuskan membuat film dokumenter, dan sebagai cara mengatasi situasi yang ada, dan memberikan gambaran kepada masyarakat, yang selama ini tidak mengerti tentang apa yang saya maksudkan.
Tetapi, saya yakin ini tidak mudah, dan masyarakat tetap saja tidak percaya, atau menolak, sampai saat saya bertemu dengan dia beberapa minggu kemudian. Saya melakukan perjalanan dari Weymouth dan bertemu dengannya di luar sebuah stasiun kereta bawah tanah di London timur.
Ia mengenakan sebuah jubah (pakaian Islam) dan dengan jenggotnya yang mengejutkan serta berkembang dengan baik. "Kaulihat semua kotoran ini, semua kemunkaran ini akan hilang ketika Syariah Islam datang," ucapnya, dan ia sangat jijik melihat sekelilingnya.
Salahuddin mengatakan, bahwa dengan melakukan "munkar" berarti dia berbuat dosa, dan jahat. Salahuddin jijik dengan apa yang mengelilinginya. Kami berjalan kembali di mana selama lima jam ia berbicara tentang hukum syariah, api-neraka dan bagaimana mayoritas Muslim itu banyak yang sesat. Kemudian saya ditinggalkan di sebuah rumah, dan saya yakin dalam hati bahwa ia telah dicuci otak.
"Allah mengatakan dalam Quran bahwa orang-orang beriman dilarang menjadikan orang kafir sebagai teman dan pembantu serta pelindung, dan meminta pertolongan kepada mereka, karena mereka pasti akan menyesatkan kamu," ujar Salahuddin mengutip ayat al-Qur'an.
Sebuah pertanyaan hadir dalam benak saya berulang kali; bagaimana semua itu bisa terjadi dan mengapa?
Ini adalah pertanyaan saya yang masih sulit dijawab. Richard, atau Salahuddin tidak pernah mengungkapkan kepada saya, saat ketika ia memutuskan untuk meninggalkan masa lalunya yang jahiliyah dan menjadi seorang mukmin yang sejati, dan kami berdua hidup secara normal sejak kecil.
Seperti banyak orang, Richard meninggalkan kampung halamannya untuk mencari sesuatu yang lebih - yaitu tentang tujuan dan arti hidup, sesuatu yang ditemukan dalam merek ekstrim agaman (Islam).
Banyak orang mencari bentuk perubahan (transformasi) yang tepat, apa itu tuntutan Islamisme - Rich untuk Salahuddin. Rasa kekecewaan di masyarakat Barat secara luas jelas antara Kaya dan "saudara"nya.
Abdul Dean, seorang pria kulit putih, yang pernah menjadi pemain drum dan bass, menjadi seorang Muslim setelah adiknya meninggal karena overdosis kokain berusia 18, sementara Zacariah, musisi dan dikenal Charles, masuk Islam karena ia tidak bisa berhubungan dengan mantan Presiden AS George W Bush, dan ia menolak serangan 11 September. Salahuddin melakukan protes di Barking, saat pasukan Inggris kembali dari Afghanistan
Dia berkata: "Pada dasarnya yang mendorong saya membaca tentang Islam adalah George Bush", cukup lucu ungkapannya itu. Ketika saya pertama mulai membuat dokumenter dan memulai perjalanan saya, kemudian ada kecurigaan, permusuhan serta sikap dingin dari orang-orang dalam grup Rich.
Ini tidak akan lama meskipun sebelum mereka merencanakan demonstrasi yang lain, di mana, di bawah sorotan media, orang-orang berteriak: "Pembunuh", di mana saat tentara Inggris kembali, atau mereka membakar bunga poppy saat berlangsung demonstrasi.
Salahuddin berkhotbah: "Kamu orang jahil mempertaruhkan hidup anda untuk penguasa yang fasik, orang-orang yang berkomplot untuk menyesatkan anda ke dalam api neraka." ketika Kaya (Salahuddin) telah menjadi Muslim hanya beberapa bulan, semuanya baru baginya, meninggalkan masa lalu yang jahiliyah.
Ia hidup dengan kekawatiran dan dia tidak sepenuhnya tahu apa yang dibolehkan untuk dilakukan dan apa yang dilarang sesuai dengan syariat Islam. Hubungan dengan non-Muslim seperti saya adalah salah satu daerah abu-abu, dan saya menemukan hubungan kami untuk menjadi yang hanya formalitas.
Kaya berkata: "Allah mengatakan dalam Quran, orang mukmin tidak boleh mengambil kafir sebagai teman dan pembantu, karena mereka berusaha untuk menyesatkan anda", ujarnya.
Kemudian, seiring dengan waktu, secara bertahap ia menjadi lebih santai dan kami menikmati saat-saat sejak banyak tawa bersama. Tapi keyakinan dan sikap ekstremnya selalu mengintai tepat di bawah sadarny.
Ada saat-saat yang membuat kekagetan dan terluka, seperti ketika Kaya berkata bahwa dia tidak akan menjabat tangan saya karena saya adalah "kafir dan kotor", atau ketika aku melihat dia dan para kelompoknya membakar bendera Amerika pada hari peringatan 9 / 11.
Namun sejak pembuatan film dokumenter, ada saat-saat harapan nyata juga. Saya baru bertemu Rich setelah ia diberi kesempatan langka preview film saya. Perasaan bercampur, tapi kami selesai berbicara dan kembali ke mobil, dan saya melihat ia berjalan kembali ke arahku.
Aku mematikan mesin dan keluar. Dia menjabat tanganku. "Maaf, sambil berjabat tangan" katanya. "Aku tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan."
Aku melaju pergi dengan senyum di wajah saya. Sangat melegakan bahwa hal-hal bisa berubah, bahkan jika hanya dengan jabat tangan sekilas. http://www.eramuslim.com
Rupanya Richard menjadi murid Choudary, yang sangat ditakuti oleh pemerintah Inggris, yang dianggap sangat ekstrim. Richard memilih nama baru dengan hati-hati, namun ironisnya, nama baru yang ia pilih itu membuat orang lain menjadi takut. Tokoh Salahuddin adalah seorang pembebas yang paling terkemuka di abad 12 M. Sultan yang mengalahkan Raja Richard si Hati Singa.
Keluarga yang Hancur
Orangtua kami menikah pada tahun 1992 dan kami tumbuh bersama di Dorset. Richard pindah ke London lima tahun yang lalu, dan keluarga kami mulai terpisah, dan kemudian keluarga kami tumbuh dengan alamiah. Pada tahun 2008 kami menghabiskan waktu dua minggu berlibur sekeluarga ke Siprus, dan bermain voli di pantai. Menikmati suasana pantai Siprus yang indah, dan teriknya matahari serta menjelang sunset. Indah sekali pantai Siprus, menjelang senja, dan burung-burung camar berterbarangan kembali ke tempatnya.
Tentu yang sangat mengejutkan, setahun kemudian ia dimuat di sebuah surat kabar nasional, dan berbicara tentang kesediaannya untuk berjuang dan mati syahid, di negeri yang jauh dari tempat kelahirannya. Ini tidak pernah dimengerti oleh siapapun. Ia ingin berperang membebaskan negeri-negeri Islam yang sekarang sedang diduduki oleh orang-orang kafir, katanya.
Salahuddin (17), sering membagikan buku dan selebaran Islam di London timur. Keluarga kami sangat terpukul. Tidak ada yang tahu apa pun tentang perubahan-perubahan itu, peristiwa itu benar-benar tidak diketahui, meskipun itu peristiwa besar dan sangat menarik.
Kemudian saya memutuskan membuat film dokumenter, dan sebagai cara mengatasi situasi yang ada, dan memberikan gambaran kepada masyarakat, yang selama ini tidak mengerti tentang apa yang saya maksudkan.Tetapi, saya yakin ini tidak mudah, dan masyarakat tetap saja tidak percaya, atau menolak, sampai saat saya bertemu dengan dia beberapa minggu kemudian. Saya melakukan perjalanan dari Weymouth dan bertemu dengannya di luar sebuah stasiun kereta bawah tanah di London timur.
Ia mengenakan sebuah jubah (pakaian Islam) dan dengan jenggotnya yang mengejutkan serta berkembang dengan baik. "Kaulihat semua kotoran ini, semua kemunkaran ini akan hilang ketika Syariah Islam datang," ucapnya, dan ia sangat jijik melihat sekelilingnya.
Salahuddin mengatakan, bahwa dengan melakukan "munkar" berarti dia berbuat dosa, dan jahat. Salahuddin jijik dengan apa yang mengelilinginya. Kami berjalan kembali di mana selama lima jam ia berbicara tentang hukum syariah, api-neraka dan bagaimana mayoritas Muslim itu banyak yang sesat. Kemudian saya ditinggalkan di sebuah rumah, dan saya yakin dalam hati bahwa ia telah dicuci otak.
"Allah mengatakan dalam Quran bahwa orang-orang beriman dilarang menjadikan orang kafir sebagai teman dan pembantu serta pelindung, dan meminta pertolongan kepada mereka, karena mereka pasti akan menyesatkan kamu," ujar Salahuddin mengutip ayat al-Qur'an.
Sebuah pertanyaan hadir dalam benak saya berulang kali; bagaimana semua itu bisa terjadi dan mengapa?
Ini adalah pertanyaan saya yang masih sulit dijawab. Richard, atau Salahuddin tidak pernah mengungkapkan kepada saya, saat ketika ia memutuskan untuk meninggalkan masa lalunya yang jahiliyah dan menjadi seorang mukmin yang sejati, dan kami berdua hidup secara normal sejak kecil.
Seperti banyak orang, Richard meninggalkan kampung halamannya untuk mencari sesuatu yang lebih - yaitu tentang tujuan dan arti hidup, sesuatu yang ditemukan dalam merek ekstrim agaman (Islam).
Banyak orang mencari bentuk perubahan (transformasi) yang tepat, apa itu tuntutan Islamisme - Rich untuk Salahuddin. Rasa kekecewaan di masyarakat Barat secara luas jelas antara Kaya dan "saudara"nya.
Abdul Dean, seorang pria kulit putih, yang pernah menjadi pemain drum dan bass, menjadi seorang Muslim setelah adiknya meninggal karena overdosis kokain berusia 18, sementara Zacariah, musisi dan dikenal Charles, masuk Islam karena ia tidak bisa berhubungan dengan mantan Presiden AS George W Bush, dan ia menolak serangan 11 September. Salahuddin melakukan protes di Barking, saat pasukan Inggris kembali dari Afghanistan
Dia berkata: "Pada dasarnya yang mendorong saya membaca tentang Islam adalah George Bush", cukup lucu ungkapannya itu. Ketika saya pertama mulai membuat dokumenter dan memulai perjalanan saya, kemudian ada kecurigaan, permusuhan serta sikap dingin dari orang-orang dalam grup Rich.
Ini tidak akan lama meskipun sebelum mereka merencanakan demonstrasi yang lain, di mana, di bawah sorotan media, orang-orang berteriak: "Pembunuh", di mana saat tentara Inggris kembali, atau mereka membakar bunga poppy saat berlangsung demonstrasi.
Salahuddin berkhotbah: "Kamu orang jahil mempertaruhkan hidup anda untuk penguasa yang fasik, orang-orang yang berkomplot untuk menyesatkan anda ke dalam api neraka." ketika Kaya (Salahuddin) telah menjadi Muslim hanya beberapa bulan, semuanya baru baginya, meninggalkan masa lalu yang jahiliyah.
Ia hidup dengan kekawatiran dan dia tidak sepenuhnya tahu apa yang dibolehkan untuk dilakukan dan apa yang dilarang sesuai dengan syariat Islam. Hubungan dengan non-Muslim seperti saya adalah salah satu daerah abu-abu, dan saya menemukan hubungan kami untuk menjadi yang hanya formalitas.
Kaya berkata: "Allah mengatakan dalam Quran, orang mukmin tidak boleh mengambil kafir sebagai teman dan pembantu, karena mereka berusaha untuk menyesatkan anda", ujarnya.
Kemudian, seiring dengan waktu, secara bertahap ia menjadi lebih santai dan kami menikmati saat-saat sejak banyak tawa bersama. Tapi keyakinan dan sikap ekstremnya selalu mengintai tepat di bawah sadarny.
Ada saat-saat yang membuat kekagetan dan terluka, seperti ketika Kaya berkata bahwa dia tidak akan menjabat tangan saya karena saya adalah "kafir dan kotor", atau ketika aku melihat dia dan para kelompoknya membakar bendera Amerika pada hari peringatan 9 / 11.
Namun sejak pembuatan film dokumenter, ada saat-saat harapan nyata juga. Saya baru bertemu Rich setelah ia diberi kesempatan langka preview film saya. Perasaan bercampur, tapi kami selesai berbicara dan kembali ke mobil, dan saya melihat ia berjalan kembali ke arahku.
Aku mematikan mesin dan keluar. Dia menjabat tanganku. "Maaf, sambil berjabat tangan" katanya. "Aku tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan."
Aku melaju pergi dengan senyum di wajah saya. Sangat melegakan bahwa hal-hal bisa berubah, bahkan jika hanya dengan jabat tangan sekilas. http://www.eramuslim.com
Rabu, 18 Mei 2011
Putri Pendeta Menjadi Daiyah
Aku dilahirkan di New England pada bulan Januari tahun 1959, Ayahku seorang pendeta yang mengabdi di sebuah gereja. Sudah lama aku banyak meragukan gereja, terlebih setelah Ayahku ingin agar aku menjadi misionaris. Akan tetapi Allah SWT menghendakiku sesuatu yang lebih baik dan kekal. Sementara sejak kecil aku sama sekali tidak mengenal tentang Islam. Hal ini terus berlangsung hingga usiaku 20 tahun dan mulai melanjutkan kuliah di Universitas. Di samping itu aku juga mendapat kuliah tambahan tentang strategi politik wilayah Timur Tengah, ternyata kuliah ini menjadi pintu kebaikan dan kebahagiaan untukku.
Dari mata kuliah itu aku banyak mengetahui tentang negara-negara Arab-Islam. Ternyata apa yang aku dapatkan sebelumnya informasi tentang Islam sangat jauh dari kenyataan. Karena sejak 1400 tahun yang lalu Islam telah mewarnai kehidupan sosial politiknya dan telah mengukir sejarahnya dengan gilang genilang. Aku bertanya kepada diriku, “Anda lihat mengapa mereka sengaja mendelete Islam dan menjauhkan para mahasiswa dari pemahaman yang benar terhadap Islam?” Dampaknya para mahasiswa menganggap Islam sebagai agama yang berbahaya bagi struktur pemahaman dunia Barat umumnya dan bagi pemikran kaum muda Nasrani khususnya
.
Meskipun ditentang oleh Ayahku, aku mulai terus membaca literatur tentang Islam. Sehingga aku dapatkan prinsip-prinsip agama yang agung ini menghunjam dalam hatiku dan mendomonasi pikiranku. Aku mulai memahami akidah Tauhid dan meyakini bahwa Isa adalah manusia biasa seperti Musa, Ibrahim, dan Muhammad. Aku juga mulai mengerti bahwa khamr, zina, dan, judi adalah sesuatu yang diharamkan. Hal ini amat kontras dengan kehidupan yang berlangsung di Eropa dan Amerika. Akupun mulai semakin banyak mempelajari ibadah dalam Islam; seperti shalat, puasa, zakat, dan haji bagi yang mampu.
Aku mulai mengumumkan keislamanku. Meskipun ayahku marah dan sedih aku memutuskan untuk pergi ke Mesir agar bisa hidup di sana bersama umat Islam. Di sanalah aku mempelajari Al-Qur’an lebih dalam. Di Kairo aku juga bertemu dengan pemuda muslim yang memiliki komitmen kuat dengan agamanya, ia menawarkan dirinya untuk menikahiku, akupun menerima dan menyetujuinya, dan perkawinanku dengannya telah berlangsung dua tahun. Allah telah menganugrahkan kepadaku seorang anak yang kuberikan nama islami, Toha. Aku berdoa kepada Allah Azza wa jalla agar ia tumbuh menjadi anak yang baik, dan menjadi penyedap pandanganku dan suamiku.
Laila berkeinginan untuk meneruskan studi Islamnya, menghapal Al-Qur’an dan hadits nabi agar memperoleh maslahat dari pengetahuan dan wawasannya yang sahih.http://www.dakwatuna.com
Sabtu, 14 Mei 2011
Kristiane Backer, Menemukan Islam dan Quran yang Begitu Rasional
Berawal dari ketertarikan mengkaji Islam melalui diskusi bersama sang suami, mantan presenter MTV, Kristiane Backer, menemukan Islam sebagai agama yang logis dan rasional. Menurut dia, Islam berpihak kepada perempuan dan laki-laki.
Dia menambahkan, dalam Islam, perempuan telah memiliki hak untuk memilih pada tahun 600 Masehi. Perempuan dan laki-laki di dalam Islam pun berpakaian dengan cara yang sopan.
Kristiane Backer lahir dan tumbuh dewasa di tengah keluarga Protestan di Hamburg, Jerman. Kariernya sebagai presenter dimulai pada usia 21 tahun. Kala itu ia bergabung dengan radio Hamburg sebagai wartawati. Dua tahun kemudian, ia terpilih sebagai presenter MTV Eropa di antara ribuan pelamar. Dunia yang dipilihnya itu, mengantarkan Kristiane bertemu dengan banyak pesohor dari berbagai negara. Ia pun merasakan sebuah kehidupan yang glamor. Di tengah kehidupan glamornya, ia mengalami keguncangan spiritual.
Kemudian di tahun 1992, Kristiane bertemu dengan Imran Khan, yang akhirnya menjadi suaminya. Imran Khan adalah anggota tim kriket Pakistan. Pertemuan itu adalah yang pertama kali antara Kristiane dengan seorang bintang yang beragama Islam. Kristiane dan Khan senantiasa berdiskusi tentang Islam.
Saat mengkaji agama samawi itu bersama suami, Kristiane menemukan Islam dan Quran yang begitu rasional. Ia mengaku apa yang dikatakan lingkungan dan orang-orang terdekatnya cenderung salah tentang Islam. Ia menilai Islam begitu menjunjung tinggi hak-hak wanita, yang sekarang tengah diperjuangkan di seluruh dunia. Jauh sebelumnya, Islam telah menjunjung tinggi hak-hak wanita sejak ratusan tahun yang lalu.
Semenjak itu, Kristine secara perlahan mulai menyesuaikan kehidupannya dengan nilai-nilai Islam. Akhirnya, ia menerima Islam setelah mengucap syahadat. Ia pun mempelajari shalat lima waktu dan berpuasa Ramadhan, sebagaimana kewajiban Muslim pada umumnya.
Meski begitu, keputusannya masuk Islam menuai berbagai macam cobaan. Saat itu, Kristiane tidak lagi dipercaya menjadi presenter. Tak hanya itu, kawan-kawan dan kerabatnya pun mengucilkannya. Beruntung, kedua orang tua Backer tak mempermasalahkan jalan hidup yang dipilih anaknya itu. Bahkan, suasana keluarganya kian hangat oleh diskusi-diskusi seputar keislaman.http://www.republika.co.idl
Pergolakan di Timor Leste Antarkan Orlando Pada Islam
MuhammadOrlando
Suasana Timor-Timur, kini Timor Leste, memasuki tahun 1999 begitu mencekam. Saat itu pula diputuskan bahwa Timor-Timur memisahkan diri dari bingkai negara Kesatuan Republik Indonesia.
Arnaldo Pinto, saat itu masih duduk di sekolah dasar kelas 6, tengah menikmati liburan di kota Dili. Orlando kecil tidak tahu bahwa Timor-timur sudah menjadi negara Merdeka. Liburan belum berakhir, dia dan keluarga tak kembali ke kampungnya, tapi mengungsi ke Nusa Tenggara Timur.
Hijrah mendadak Orlando bersama orang tua angkatnya itu, merupakan awal dari perkenalan Orlando terhadap Islam. Orlando kecil tinggal bersama orang tua angkatnya di pengungsian eks Timor-timur di NTT.
Di pengungsian, Orlando menemukan "dunia" baru; senang mendengar teman-temannya di pengungsian mengaji dan belajar Iqro. Suatu malam, orang tua angkatnya, menyatakan ia harus mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan keyakinan yang dipeluknya. Namun, Orlando kecil menolak.
Ia malah datang ke masjid saat Jumat. Hal yang pertama dilakukan, adalah berwudlu. “Karena baru pertama masuk masjid, rasanya sangat aneh. Biasanya saat ke gereja ada nyanyian atau apa, di sini (masjid) tidak ada. Juga harus melepaskan sandal, duduk dengan rapi,” ungkapnya. Tanpa tahu bacaannya, ia mengikuti gerakan shalat. Ia sempat menjadi bahan tertawaan ketika pada rakaan pertama langsung sujud, tanpa ruku terlebih dulu.
Setelah selesai shalat jumat, Orlando mendatangi ustadz minta diislamkan. Sang ustadz sempat kaget dan menanyakan apa motivasinya. "Saya langsung menjawab, karena kesadaran sendiri. Lalu ustad bertanya lagi, usai mengucapkan dua kalimat syahadat apakah Orlandoikhlas mengikuti ajaran Islam? Jawab saya, siap pak ustadz,” kata Orlando mengisahkan pada Republika.co.id.
Sang ustadz menawarkan padanya nama baru. Orlando pun mengiyakan. Nama lama, Arnaldo Pinto, menjadi Muhammad Orlando. “Saya waktu itu mempersilahkan ustad untuk memberikan nama apapun buat saya. Cuma saya bilang waktu itu, banyak teman memanggil saya Aldo, atau sahabat saya memanggil saya Orlando. Saat itu, ustadz akhirnya memberi nama saya Muhammad Orlando,” ungkap dia. Setelah itu, Orlando diajarkan wudhu, shalat, dan doa.
Babak baru keislaman Orlando terus berlanjut, saat orang tua angkatnya mengirim dia ke sebuah pesantren di Jawa Timur. Di awal, Orlando yang sudah berusia 15 tahun dipanas-panasi agar tidak masuk pesantren."Ada seseorang yang berbisik kepada saya. Kamu nanti, kalau masuk sana bakalan tidak betah. Makan diatur, jam tidur sedikit. Kamu pasti tidak akan betah,” cerita Orlando.
Hasutan-hasutan itu rupanya tidak menggentarkan niat Orlando. "Awalnya saya takut, tapi karena jiwa saya seorang perantau. Maka saya memutuskan berangkat. Di sana aaya belajar Iqra, dan Islam setiap hari,” papar dia.
Di pesantren itu, pengetahuan Orlando meluas. Enam bulan mondok, Orlando sudah bisa membaca sejumlah surat Alquran. Tahun 2002, dia pun mahir membaca Alquran. “Di awal, saya banyak ditertawakan teman-teman. Al Fatihah bacaanya tidak jelas. Sudah begitu, Bahasa Indonesia saya juga terbata-bata, baru belajar,” kenang dia. Di pesantren itu pula, Orlando dikhitan.
Setelah mengeyam pendidikan di pesantren Al-Ikhlas, Mojokerto, Orlando segera membantu ustadz-ustadz membimbingmualaf baru. Berkat pengalamannya menjadi mualaf, dia tahu betul cara mendidik saudara-saudaranya yang baru memeluk Islam.
Tak lama, orang tua angkatnya meminta dia kebali ke NTT untuk mengamalkan ilmunya. Kebetulan pula saat itu, ada seorang dermawan, tengah membangun masjid megah berikut wismanya. Selama tujuh bulan Orlando mengabdi di sana. “Saya baru sadar, menghadapi masyarakat itu tidaklah mudah,” kata dia.
Dari situlah, lantaran merasa ilmunya yang kurang, Orlando memutuskan untuk hijrah ke Jakarta, untuk menempuh pendidikan S1 di LPIA, Jakarta Selatan. Beruntung baginya, lantaran dia berasal dari Timor-timur maka dia dimudahkan masuk LPIA.
Dua bulan di kampus, Orlando bisa bahasa arab, pengetahuan tenang Islam bertambah, begitupula dengan Alquran dan hadis.
Ke depan, usai menyelesaikan studinya, Orlando berharap bisa kembali ke NTT untuk membantu dakwah di sana. Kebetulan orang tua angkatnya tengah membangun masjid. “ Saya juga berharap menghantar hidayah kepada keluarga,” ujarnya.
Keluarganya di Timor Leste masih memeluk agama lama. Namun, ia hubungan mereka tak terputus. “Satu minggu yang lalu, setelah 11 tahun, saya dihubungi ibu. Walaupun saya sudah berpindah keyakinan, mereka tidak masalah. Tapi wajar bila ada yang tidak senang,” ungkap Orlando.http://www.republika.co.id
Melalui Anak Kecil Penyemir Sepatu, Hidayah Datang pada Idris Tawfiq
\
Sebelumnya, Idris Tawfiq adalah seorang pastor gereja Katholik Roma di Inggris. Mulanya, ia memiliki pandangan negatif terhadap Islam. Baginya saat itu, Islam hanya identik dengan terorisme, potong tangan, diskriminatif terhadap perempuan, dan lain sebagainya
Namun, pandangan itu mulai berubah, ketika ia melakukan kunjungan ke Mesir. Di negeri Piramida itu, Idris Tawfiq menyaksikan ketulusan dan kesederhanaan kaum Muslimin dalam melaksanakan ibadah dan serta keramahan sikap mereka.
Berikut pengakuan Idris tentang keputusannya memilih Islam:
Apa yang membuat Anda tertarik pada Islam?
Perkenalan saya dengan Islam datang dari seorang anak kecil di jalanan di Kairo, membersihkan sepatu dengan sandal jepit di kakinya. Dia melihat kulit putih saya dan menyapa saya dengan assalamu alaikum. Selama 40 tahun di Inggris, saya pernah melihat Muslim; saya melihat mereka di jalan-jalan, dan saya catat apa yang televisi katakan pada saya tentang Muslim yang akan memotong tangan saya atau memukuli para wanita; tapi anak kecil itu sungguh membuka jendela yang lain tentang Islam.
Setelah saya menjadi Muslim beberapa tahun kemudian, saya katakan pada audiens saya di Manchester Metropolitan University tentang anak itu. Saya memberitahu mereka bahwa pada Hari Penghakiman ia akan mendapatkan kejutan dalam hidupnya.
Apa yang Anda tangkap tentang Islam setelah itu?
Dia sangat membekas di hati saya. Apa yang saya sukai tentang Islam adalah kesederhanaannya. Sayangnya, umat Islam memperumit agama mereka, baik untuk diri mereka sendiri dan ketika menjelaskan kepada non-Muslim. Padahal, Islam dapat diringkas dalam dua pernyataan sederhana: satu, ada Allah, dan dua, bahwa Allah berbicara kepada ciptaan-Nya. Itu adalah Islam. Itulah pesan Islam yang ada sejak awal waktu.
Kesederhanaan Islam memastikan daya tarik universal. Islam berbicara kepada hati semua orang, di mana-mana. Tapi sebagai Muslim, kadang kita berkonsentrasi pada hal-hal sepele, hal-hal yang tidak penting ketika dunia pada umumnya adalah haus akan Allah. Mereka tidak tahu bahwa mereka sedang haus untuk Allah, dan kekosongan dalam hidup mereka diisi oleh mabuk, kekerasan, premanisme, sepatu, belanja, dan segala hal.
(Dia melihat reaksi terhadap kematian Putri Diana sebagai indikasi kerinduan ini. "Ketika Putri Diana meninggal, orang menangis di jalanan. Aku bisa melihat sekarang bahwa orang-orang tidak berkabung atas kematian putri. Mereka berkabung atas kematian kebaikan, hilangnya keindahan dalam hidup kita, dan mereka menangis. Karena orang menginginkan kebaikan, mereka mencari kebaikan, dan untuk perdamaian kebahagiaan, dan dan keindahan)
Perenungan apa yang Anda dapat setelah pertemuan itu?
Ketika saya kembali ke Inggris, saya mulai mengenal Islam dan Muslim. Saya mulai mengajar di sebuah sekolah di mana ada banyak Muslim anak-anak, dan saya datang untuk melihat secara langsung bahwa mereka tidak seperti yang diberitakan media massa. Islam tiba-tiba merasuk dalam hidup saya. Di sekolah, ketika saya akan mengajar tentang Nabi Muhammad, saya menemukan air mata di mata saya atau benjolan di tenggorokan saya ketika saya berbicara tentang rukun Islam.
Dari sini kemudian Tawfiq mempelajari Alquran. Ia membaca ayat-ayat Alquran dari terjemahannya. Dan ketika membaca ayat 83 surah Al-Maidah, ia pun tertegun. ''Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Alquran).'' (Al-Maidah ayat 83).
Dari sini, Tawfiq mengaku makin intensif mempelajari Islam. Bahkan, ketika terjadi peristiwa 11 September 2001, dengan dibomnya dua menara kembar World Trade Center (WTC) di Amerika Serikat, dan ketika banyak orang menyematkan pelakunya kalangan Islam. Ia menjadi heran. Kendati masih memeluk Kristen Katholik, ia yakin, Islam tidak seperti itu.
Ia menjadi rajin berkunjung ke Masjid terbesar di London. Di sana berbicara dengan Yusuf Islam tentang Islam. Ia pun kemudian memberanikan diri bertanya pada Yusuf Islam. ''Apa yang kamu lakukan saat menjadi Muslim?''
Yusuf Islam menjawab. ''Seorang Muslim harus percaya pada satu Tuhan, shalat lima kali sehari, dan berpuasa selama bulan Ramadhan,'' ujar Yusuf.
Tawfiq berkata, ''Semua itu sudah pernah saya lakukan.'' Yusuf berkata, ''Lalu apa yang Anda tunggu?''
Saya katakan, ''Saya masih seorang pemeluk Kristiani.''
Pembicaraan terputus ketika akan dilaksanakan Shalat Zhuhur. Setelah shalat selesai dilaksanakan, Tawfiq segera mendatangi Yusuf Islam. Dan, ia menyatakan ingin masuk Islam di hadapan umum. Ia meminta Yusuf Islam mengajarkan cara mengucap dua kalimat syahadat. Beberapa menit setelah itu, ia resmi menjadi penganut Islam.
Di berbagai kesempatan, Anda selalu bicara tentang Islam sebagai agama yang toleran dan pentingnya toleransi. Mengapa?
Ini bukan tentang menyerah atau apapun. Kejujuran adalah penting. Saya telah bertemu dengan beberapa tokoh agama yang sangat penting dari seluruh dunia dan kadang-kadang Anda perlu untuk mengatakan kepada mereka sejak awal, "Meskipun saya sepenuhnya Muslim dan Saya menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah nabi-Nya, saya masih menghormati agama Anda."
Penghormatan terhadap agama lain dan kepercayaan mereka secara fundamental adalah penting. Orang akan mendengar Anda jika Anda menghormati mereka. Jika Anda keras kepada orang-orang, mereka menjadi defensif dan tidak ingin mendengar apa yang Anda katakan.http://www.republika.co.id
Sebelumnya, Idris Tawfiq adalah seorang pastor gereja Katholik Roma di Inggris. Mulanya, ia memiliki pandangan negatif terhadap Islam. Baginya saat itu, Islam hanya identik dengan terorisme, potong tangan, diskriminatif terhadap perempuan, dan lain sebagainyaNamun, pandangan itu mulai berubah, ketika ia melakukan kunjungan ke Mesir. Di negeri Piramida itu, Idris Tawfiq menyaksikan ketulusan dan kesederhanaan kaum Muslimin dalam melaksanakan ibadah dan serta keramahan sikap mereka.
Berikut pengakuan Idris tentang keputusannya memilih Islam:
Apa yang membuat Anda tertarik pada Islam?
Perkenalan saya dengan Islam datang dari seorang anak kecil di jalanan di Kairo, membersihkan sepatu dengan sandal jepit di kakinya. Dia melihat kulit putih saya dan menyapa saya dengan assalamu alaikum. Selama 40 tahun di Inggris, saya pernah melihat Muslim; saya melihat mereka di jalan-jalan, dan saya catat apa yang televisi katakan pada saya tentang Muslim yang akan memotong tangan saya atau memukuli para wanita; tapi anak kecil itu sungguh membuka jendela yang lain tentang Islam.
Setelah saya menjadi Muslim beberapa tahun kemudian, saya katakan pada audiens saya di Manchester Metropolitan University tentang anak itu. Saya memberitahu mereka bahwa pada Hari Penghakiman ia akan mendapatkan kejutan dalam hidupnya.
Apa yang Anda tangkap tentang Islam setelah itu?
Dia sangat membekas di hati saya. Apa yang saya sukai tentang Islam adalah kesederhanaannya. Sayangnya, umat Islam memperumit agama mereka, baik untuk diri mereka sendiri dan ketika menjelaskan kepada non-Muslim. Padahal, Islam dapat diringkas dalam dua pernyataan sederhana: satu, ada Allah, dan dua, bahwa Allah berbicara kepada ciptaan-Nya. Itu adalah Islam. Itulah pesan Islam yang ada sejak awal waktu.
Kesederhanaan Islam memastikan daya tarik universal. Islam berbicara kepada hati semua orang, di mana-mana. Tapi sebagai Muslim, kadang kita berkonsentrasi pada hal-hal sepele, hal-hal yang tidak penting ketika dunia pada umumnya adalah haus akan Allah. Mereka tidak tahu bahwa mereka sedang haus untuk Allah, dan kekosongan dalam hidup mereka diisi oleh mabuk, kekerasan, premanisme, sepatu, belanja, dan segala hal.
(Dia melihat reaksi terhadap kematian Putri Diana sebagai indikasi kerinduan ini. "Ketika Putri Diana meninggal, orang menangis di jalanan. Aku bisa melihat sekarang bahwa orang-orang tidak berkabung atas kematian putri. Mereka berkabung atas kematian kebaikan, hilangnya keindahan dalam hidup kita, dan mereka menangis. Karena orang menginginkan kebaikan, mereka mencari kebaikan, dan untuk perdamaian kebahagiaan, dan dan keindahan)
Perenungan apa yang Anda dapat setelah pertemuan itu?
Ketika saya kembali ke Inggris, saya mulai mengenal Islam dan Muslim. Saya mulai mengajar di sebuah sekolah di mana ada banyak Muslim anak-anak, dan saya datang untuk melihat secara langsung bahwa mereka tidak seperti yang diberitakan media massa. Islam tiba-tiba merasuk dalam hidup saya. Di sekolah, ketika saya akan mengajar tentang Nabi Muhammad, saya menemukan air mata di mata saya atau benjolan di tenggorokan saya ketika saya berbicara tentang rukun Islam.
Dari sini kemudian Tawfiq mempelajari Alquran. Ia membaca ayat-ayat Alquran dari terjemahannya. Dan ketika membaca ayat 83 surah Al-Maidah, ia pun tertegun. ''Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Alquran).'' (Al-Maidah ayat 83).
Dari sini, Tawfiq mengaku makin intensif mempelajari Islam. Bahkan, ketika terjadi peristiwa 11 September 2001, dengan dibomnya dua menara kembar World Trade Center (WTC) di Amerika Serikat, dan ketika banyak orang menyematkan pelakunya kalangan Islam. Ia menjadi heran. Kendati masih memeluk Kristen Katholik, ia yakin, Islam tidak seperti itu.
Ia menjadi rajin berkunjung ke Masjid terbesar di London. Di sana berbicara dengan Yusuf Islam tentang Islam. Ia pun kemudian memberanikan diri bertanya pada Yusuf Islam. ''Apa yang kamu lakukan saat menjadi Muslim?''
Yusuf Islam menjawab. ''Seorang Muslim harus percaya pada satu Tuhan, shalat lima kali sehari, dan berpuasa selama bulan Ramadhan,'' ujar Yusuf.
Tawfiq berkata, ''Semua itu sudah pernah saya lakukan.'' Yusuf berkata, ''Lalu apa yang Anda tunggu?''
Saya katakan, ''Saya masih seorang pemeluk Kristiani.''
Pembicaraan terputus ketika akan dilaksanakan Shalat Zhuhur. Setelah shalat selesai dilaksanakan, Tawfiq segera mendatangi Yusuf Islam. Dan, ia menyatakan ingin masuk Islam di hadapan umum. Ia meminta Yusuf Islam mengajarkan cara mengucap dua kalimat syahadat. Beberapa menit setelah itu, ia resmi menjadi penganut Islam.
Di berbagai kesempatan, Anda selalu bicara tentang Islam sebagai agama yang toleran dan pentingnya toleransi. Mengapa?
Ini bukan tentang menyerah atau apapun. Kejujuran adalah penting. Saya telah bertemu dengan beberapa tokoh agama yang sangat penting dari seluruh dunia dan kadang-kadang Anda perlu untuk mengatakan kepada mereka sejak awal, "Meskipun saya sepenuhnya Muslim dan Saya menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah nabi-Nya, saya masih menghormati agama Anda."
Penghormatan terhadap agama lain dan kepercayaan mereka secara fundamental adalah penting. Orang akan mendengar Anda jika Anda menghormati mereka. Jika Anda keras kepada orang-orang, mereka menjadi defensif dan tidak ingin mendengar apa yang Anda katakan.http://www.republika.co.id
Mualaf Perempuan Lebih Aktif Mendalami Islam
Sebuah riset di Eropa menyebutkan jumlah mualaf perempuan jauh lebih banyak dari laki-laki. Meski demikian, riset yang dilansir oleh Christian Science Monitor beberapa waktu lalu itu tidak menyebut angka statistik yang pasti.

Deputi Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Prof Dr Amany Lubis, menuturkan secara umum perempuan mualaf memeluk Islam didasarkan atas dua hal, yakni Islam memberikan jaminan keseteraan hak dan penghargaan terhadap perempuan. “Kedua hal ini merupakan daya tarik yang besar bagi mereka. Sebabnya, mereka tidak ragu untuk memeluk Islam,” kata dia kepada Republika.co.id, Jumat (6/5).
Namun, yang menjadi catatan lain Amany soal tren mualaf perempuan adalah keaktifan mereka saat mendalami Islam. Menurut dia, dalam sejumlah kasus banyak perempuan yang selain mendapatkan dukungan dari dirinya sendiri juga mendapatkan dukungan dari keluarganya. Kendati keluarga mereka tidak memeluk Islam.
“Dari berbagai kasus, ada keluarga yang mensyaratkan kepada anak perempuan mereka saat berpindah agama untuk mendalami agama yang dipilihnya. Kondisi itu menjadi motivasi mereka,” papar dia. Sekalipun tidak didukung, Amany menambahkan, mualaf perempuan akan terus melanjutkan usahanya untuk mendalami Islam dengan konsekuensi tertentu.
Keaktifan itu, kata Amany, juga merujuk pada posisi perempuan sebagai calon ibu yang tentu berpikir bahwa mereka perlu memperkuat iman mereka sebagai bekal mendidik keimanan buah hatinya.”Sudah menjadi fitrah buat kaum perempuan untuk membina keluarga dan mendidik anak-anak mereka,” kata dia.
Disinggung apakah keaktifan itu lantaran banyaknya waktu luang, Amany tidak sependapat. Menurut dia, perempuan itu cerdas. Mereka akan memanfaatkan waktu yang demikian sempit untuk bisa mendalami Islam. Jadi, kata Amany, kendati tidak ada waktu luang, perempuan bisa mencari celah. “Mereka bisa jadi sibuk. Namun, ketika niatan mendalami Islam sudah terpatri maka mereka tetap mendalami Islam,” pungkas dia.sumber : http://www.republika.co.id

Deputi Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Prof Dr Amany Lubis, menuturkan secara umum perempuan mualaf memeluk Islam didasarkan atas dua hal, yakni Islam memberikan jaminan keseteraan hak dan penghargaan terhadap perempuan. “Kedua hal ini merupakan daya tarik yang besar bagi mereka. Sebabnya, mereka tidak ragu untuk memeluk Islam,” kata dia kepada Republika.co.id, Jumat (6/5).
Namun, yang menjadi catatan lain Amany soal tren mualaf perempuan adalah keaktifan mereka saat mendalami Islam. Menurut dia, dalam sejumlah kasus banyak perempuan yang selain mendapatkan dukungan dari dirinya sendiri juga mendapatkan dukungan dari keluarganya. Kendati keluarga mereka tidak memeluk Islam.
“Dari berbagai kasus, ada keluarga yang mensyaratkan kepada anak perempuan mereka saat berpindah agama untuk mendalami agama yang dipilihnya. Kondisi itu menjadi motivasi mereka,” papar dia. Sekalipun tidak didukung, Amany menambahkan, mualaf perempuan akan terus melanjutkan usahanya untuk mendalami Islam dengan konsekuensi tertentu.
Keaktifan itu, kata Amany, juga merujuk pada posisi perempuan sebagai calon ibu yang tentu berpikir bahwa mereka perlu memperkuat iman mereka sebagai bekal mendidik keimanan buah hatinya.”Sudah menjadi fitrah buat kaum perempuan untuk membina keluarga dan mendidik anak-anak mereka,” kata dia.
Disinggung apakah keaktifan itu lantaran banyaknya waktu luang, Amany tidak sependapat. Menurut dia, perempuan itu cerdas. Mereka akan memanfaatkan waktu yang demikian sempit untuk bisa mendalami Islam. Jadi, kata Amany, kendati tidak ada waktu luang, perempuan bisa mencari celah. “Mereka bisa jadi sibuk. Namun, ketika niatan mendalami Islam sudah terpatri maka mereka tetap mendalami Islam,” pungkas dia.
Langganan:
Postingan (Atom)

