Selasa, 06 Desember 2011

Seribu Manfaat Jambu Biji, Dari Penangkal Flu hingga Cegah Kanker

Jambu biji memang tidak sepopuler jeruk atau semahal apel. Jika Anda berpikir jeruk adalah yang terbaik untuk vitamin C, Anda perlu mencoba jambu biji.

Satu jambu biji memiliki 165 miligram (mg) vitamin C. Sementara, satu jeruk hanya mengandung 69 mg saja. Kandungan vitamin C pada jambu biji ini efektif dalam mengobati infertilitas pria.
Di bawah kulitnya yang hijau, jambu biji memiliki banyak manfaat yang ditawarkan. Satu buah jambu sehari berguna mengurangi resiko penyakit mulai dari flu biasa, gusi bengkak, tekanan darah tinggi, obesitas, diabetes sampai kanker.
Jambu biji memiliki serat makanan berlimpah sehingga baik dikonsumsi bagi yang mengalami sembelit. Bagi yang sedang mencoba untuk menurunkan berat badan, tingginya kandungan serat jambu biji juga sangat bermanfaat.

Buah ini kaya vitamin, serat dan mineral. Jika dijadikan bagian dari makanan sehari-hari, penelitian menunjukkan jambu biji sangat efektif mencegah kanker dan penyakit jantung. Buah yang memiliki nama latin Psidium guajava ini membantu tubuh memerangi radikal bebas yang dihasilkan selama metabolisme.
Para peneliti bekerja untuk departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) telah menemukan bahwa jambu biji mungkin di antara buah terkaya antioksidan. Buah yang lezat ini juga memiliki beta karoten, kalium dan serat larut.

Jambu biji dapat meningkatkan kesehatan jantung dengan mengendalikan tekanan darah dan kolesterol. Kemampuan jambu biji untuk menurunkan tekanan darah disebabkan adanya kandungan kalium. Kalium merupakan elektrolit yang penting untuk reaksi listrik dalam tubuh termasuk pada jantung.
Buah ini juga dikenal bisa menyembuhkan luka eksternal serta mengobati pendarahan hidung dan gusi. Buah yang hidup di daerah tropis ini bisa juga mencegah penyakit 'orang tua' seperti pikun dan katarak. Adanya karbohidrat kompleks dan kandungan serat yang tinggi bisa bermanfaat untuk menurunkan kadar kolesterol dan gula darah.

Makan satu jambu biji untuk sarapan memberikan dosis harian yang sangat dibutuhkan seperti zat besi, asam folat, kalsium, serat, protein, karbohidrat, vitamin A, B dan banyak vitamin C. Kandungan lemak total satu jambu biji sekitar 0,9 gram atau 84 kalori. Dibandingkan dengan apel, buah ini memiliki 38 persen lemak dan 42 persen kalori yang lebih sedikit.

 sumber : klik disini

Rabu, 02 November 2011

Cuek Pada Qur’an Adalah Bencana

Cuek Pada Qur’an Adalah Bencana
Selalu bersama al-Quran dalam hidup kita merupakan bagian yang teramat vital. Bersama al-Qur’an sepanjang hayat dalam arti selalu berinteraksi dengannya pada setiap keadaan. Artinya kita akan bahagia dalam hidup ini selama interaksi dengan ajaran al-Qur’an diberikan dalam porsi yang cukup besar. Sebaliknya, menerlantarkan interaksi dengan al-Quran berarti bagian dari musibah atas agama ini. Karena bagi Rasulullah, tidak ada yang lebih mendekatkan kaum muslimin di dunia ini selain selalu bersama al-Qur’an dalam setiap gerak dan langkah hidup.

Begitulah dahulu yang dirasakan oleh sahabat-sahabat Rasulullah dan kaum muslimin generasi awal.
Dikisahkan ketika Rasulullah berada dalam kondisi kritis menghadapi sakaratul maut dan kembali kepada kekasihnya, Allah swt, para sahabat dihadapkan dengan keadaan yang demikian dahsyat. Imam Qurthubi -rahimahullah- mengatakan bahwa wafatnya Rasulullah adalah musibah terbesar umat Islam sejak saat itu hingga hari kiamat kelak. Mengapa? Menurut beliau, setidaknya ada beberapa hal menjadikan kewafatan Rasulullah adalah musibah besar dalam kehidupan kaum muslimin:

1. Terputusnya wahyu Allah. 
Wahyu Allah adalah kitabullah, al-Qur’an al-Karim, pusaka umat Islam sampai akhir zaman. Wafatnya Rasulullah sebagai nabi terakhir berarti terputus sudah kelangsungan wahyu yang merupakan petunjuk bagi hidup manusia. Tidak ada lagi yang namanya komunikasi langsung antara seorang hamba dengan Tuhannya dalam bentuk yang komunikatif. Selama Rasulullah hidup, wahyu seolah sebagai respon atas apa yang terjadi antara kejadian, wahyu, Rasulullah dan Allah swt. Tapi, setelah Rasulullah telah tiada semua itu terputus habis. Oleh karena itu, kebanyakan para sahabat menangis dan sedih dengan kepergian Rasulullah. Dan kita diperintahkan untuk selalu teringat dengan musibah wafatnya Rasulullah saw ini ketika dihadapkan dengan musibah hidup yang sebenarnya tidak seberapa dengan musibah kepergiannya beliau ke haribaan Allah swt. Hal ini bertujuan agar kita sadar dan memandang bahwa musibah sebesar apapun yang kita hadapi masih ringan dan harus dihadapi dengan sabar, ikhlas dan ridho.

Rasulullah saw bersabda:
إذا أصاب أحدكم مصيبة فليذكر مصابه بى فإنها أعظم المصائب
“Apabila salah seorang di antara kalian tertimpa musibah hendaknya ia mengingat musibahnya dengan musibah (kewafatan) ku. Karena musibahku itu adalah musibah terbesar umat ini.” (Silsilah Shahihah oleh Albani No. 1106)
Rasulullah wafat berarti tidak ada lagi nabi setelah beliau saw. Dan di sini kita patut sedih. Rasulullah yang meninggalkan hadits dan siroh beliau saja yang dicatat oleh para sahabat setia beliau. Dengan al-Quran dan hadits nabi ini Insya Allah kita akan selamat dunia dan akhirat.

2. Berhentinya estafet kenabian.
Apabila ketika beliau saw wafat saja banyak para sahabat yang terguncang hebat, maka apa lagi dengan kita yang sudah sangat lama ditinggal beliau dan jauh dari ajaran yang dibawanya. Tentunya akan sangat besar musibah yang kita hadapi sekarang.

Perhatikan bagaimana hebatnya guncangan yang terjadi pada para sahabat Rasulullah. Ketika Rasulullah wafat, Ali menyendiri hening di rumah istrinya Fathimah ra. Utsman sendiri terdiam karenanya. Umar bin Khattab ra tidak terima beliau wafat dengan menyebut-nyebut kepada kaum muslimin bahwa Muhammad tidak wafat. Tapi ia pergi sebentar kepada Tuhannya seperti halnya nabi Musa alaihissalam. Dan kelak akan kembali lagi ke dunia ini. (Lihat Kitab al-Awashim minal Qowashim hal. 38)
Sementara Abu Bakar tetap tenang, tegar dan ridho. Baik ketika melepas kekasihnya, Rasulullah saw ataupun ketika menghadapi ‘sikap’ Umar yang tidak terima kepergian Rasulullah.

3. Terputusnya kebaikan dan awal berkurangnya segala kebaikan manusia.
Tentu saja kewafatan Rasulullah sebagai nabi akhir zaman dan pembawa petunjuk Allah meninggalkan jejak yang begitu menyedihkan. Bagaimana tidak? Al-Qur’an sebagai petunjuk dan sumber kebaikan telah terputus dari tengah-tengah hausnya para sahabat dan umat Islam.
Begitu pula, wafatnya beliau menandakan awal dari kurangnya kebaikan dan awal dari proses pergiliran munculnya kejahatan. Baca kembali bagaimana guncangnya dunia Arab. Yang paling parah adalah munculnya kaum murtaddin (orang-orang murtad) dari agama Allah.

Umat Islam saat itu bagaikan anak-anak domba di malam hari karena kehilangan nabinya. (Siroh Ibnu Hisyam)
Lalu bagaimana sebagai umat Rasulullah yang hidup di akhir zaman kita berbuat?
Hanya ada satu jawaban. Yakni kembali kepada al-Qur’an. Membaca, merenungi, menghayati dan menghafalkannya semampu mungkin. Insya Allah dengan melakukan interaksi intensif seperti ini kelangsungan wahyu Allah akan tetap kita rasakan. Kebaikan pun pasti selalu peroleh lewat tadabbur dan penghayatan yang mendalam. Karena memang al-Qur’an ini akan selalu relevan dengan waktu dan zaman. Hafalkan al-Quran sebanyak dan semampu kita. Jangan lewatkan ia sebagai wirid harian bagi anda yang sudah hafal beberapa juz dan halaman.

Dari tadabbur dan interaksi yang baik ini, akan lahir keinginan untuk meniti siroh beliau saw dalam amaliah praktek operasional. Tanpa hadits-hadits nabi yang shahih tidak ada petunjuk Allah yang bisa kita timba. Karena siroh Rasulullah bagaikan buku panduan sebuah barang baru yang telah kita beli. Tanpa buku panduan itu mustahil kita bisa benar dalam menggunakan barang baru itu. Atau mungkin malah rusak tidak karuan.
Begitu pula peran sunnah, hadits dan siroh Rasulullah yang harum dan mutawatir. Rasulullah saw telah wafat, wahyu sudah terputus, kebaikan sudah mulai berkurang dan banyak umat, paham dan aliran muncul ke permukaan hidup manusia. Hingga saat ini dan sampai akhir zaman nanti. Mari kita pegang kuat-kuat pesan Rasulullah saw yang sudah wafat dan meninggalkan kita untuk tetap setia dan komitmen bersama al-Qur’an dan sunnah. Insya Allah nuansa wahyu, kenabian dan kebaikan Allah selalu bersama kita. Amiin.
Wallahu a’lam bish-showab.
sumber : http://www.fimadani.com

Godaan Setan Terhadap Pembaca Al Quran

Iblis telah bersumpah atas nama Allah untuk menyesatkan manusia dan menggiring mereka ke neraka. Ia tidak akan membiarkan generasi umat ini mewariskan Al Quran kepada generasi selanjutnya. Ia tidak ingin keimanan mereka tumbuh agar mereka mudah tergoda, tidak ingin mereka berada di jalan yang lurus, dan tidak ingin mereka masuk surga.

Iblis sudah mengetahui betapa hebat pengaruh Al Quran terhadap generasi sahabat Rasulullah saw. Jika hal itu juga terjadi pada generasi selanjutnya (dan umat ini secara keseluruhan) jelas akan mempersulit langkah iblis menggoda umat. Sementara, iblis sama sekali tak mungkin merekayasa Al Quran, sebab Allah sendiri yang menjamin akan menjaganya.
Allah berfirman,  “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al Quran, dan sungguh Kami pula yang akan menjaganya.“(QS Al Hijr: 9).

Lalu, apa yang dilakukan setan terhadap Al Quran?!
Setan melancarkan aksinya sedikit demi sedikit. Pelan-pelan, ia menjauhkan umat Islam dari Al Quran. Pun jika ada yang berinteraksi dengannya, itu pada hal-hal yang tidak substantif. Al Quran hadir di tengah umat dalam bentuk mushaf, namun nilai-nilainya hilang tanpa berbekas. Umat tidak menyadari jika Al Quran sesungguhnya telah tersisih dalam kehidupan mereka.

Mushaf Al Quran dijumpai di mana-mana. Ayat-ayatnya berkumandang di mana-mana. Tak terhitung lembaga yang telah berhasil mencetak puluhan ribu para penghafal Al Quran. Sepanjang bulan Ramadhan, umat Islam rajin membacanya, berlomba-lomba mengkhatamkannya sebanyak mungkin untuk mendapatkan kebaikan dan pahalanya.

Itulah yang terjadi di tengah-tengah umat saat ini. Umat lebih menaruh perhatian kepada mushaf, bacaan dan hafalan Al Quran. Ketika ada seruan untuk kembali kepada nilai-nilai hakiki Al Quran, tidak ada respon dari mereka. Mereka tuli. Bahkan, dengan bangga mereka berkata, “Apalagi yang harus kami lakukan terhadap Al Quran setelah apa yang sudah kami lakukan sekarang? Bukankah jerih payah dan usaha keras kami sudah cukup?”

Tipu Daya Iblis
Setan benar-benar telah berhasil membuat umat Islam secara pelan-pelan berpaling dan tak lagi mau memetik manfaat Al Quran. Itu tidak terjadi hanya dalam sehari, tetapi melalui proses dan telah berlangsung berabad-abad hingga sampai ke masa kita sekarang ini.

Yang dijadikan pintu masuk tipu daya setan adalah kebodohan dan hawa nafsu. Dari dua pintu itu muncul pintu-pintu lain yang mengantarkan seseorang ke tujuan yang diinginkan setan.
Sebenarnya setan tidak mempunya kekuatan langsung atas diri manusia. Kekuatan setan akan berpengaruh hanya jika bertemu hawa nafsu atau kebodohan. Buta terhadap hakikat dan tujuan Al Quran adalah pintu besar tempat setan masuk untuk membujuk dan memperdayai manusia.

Pintu-pintu yang merupakan cabang dari dua pintu utama di atas -kebodohan dan hawa nafsu- sungguh tak terhitung jumlahnya. Semua menuju satu titik: membuat manusia berpaling dan tidak memetik manfaat hakiki Al Quran.

Setan Pantang Menyerah
Yang pertama kali dilakukan setan agar umat Islam tak menghidupkan Al Quran adalah membujuk mereka untuk tidak membacanya, atau berbuat mereka menunda-nunda membacanya, atau menyibukkan mereka dengan pekerjaan lain.

Jika tak mampu menahan umat membaca Al Quran, setan akan menggoda mereka dengan membuat mereka lelah dan mengantuk, atau mendorong mereka membacanya karena hawa nafsu mendapatkan pahala tanpa merenungkan maknanya, atau membuat lidah mereka sulit membaca ayat-ayat, atau mengingatkan mereka tentang urusan-urusan lain sehingga mereka segera mengurungkan niat membacanya, atau mengarahkan mereka berfokus hanya kepada cara baca yang bagus.

Ibnu Hubairah mengatakan, di antara tipu daya setan adalah menjauhkan orang dari kemauan merenungi Al Quran. Setan tahu, petunjuk kebenaran Al Quran diraih dengan cara merenunginya. Setan berbisik, “Bahaya!” Orang pun akan berkata, “Aku tidak membaca Al Quran justru karena berhati-hati.” (Tadabbur Al Quran, Al Sunaidi, hal 48, dinukil dari Dzayl Thabaqot Al Hanabilah, Ibnu Rajab, 3/273).

Imam Al Ghazali berkata, “Di antara cara setan menjadikan orang-orang tidak mempedulikan kandungan Al Quran adalah membuat mereka menekuni secara berlebihan tata cara baca Al Quran. Setan selalu membisikkan bahwa mereka salah membaca huruf-huruf. Jika sudah begitu, bagaimana mereka punya waktu untuk mengungkap kandungan makna Al Quran?! Setan akan tertawa gembira.” (Ihya Ulumuddin, 1/439. 440)

Dalam kesempatan lain Al Ghazali berkata, “Jika merenungi petunjuk Nabi soal membaca Al Quran, bagaimana beliau tak menyalahkan model-model bacaan para sahabat, kita akan tahu, perhatian berlebihan terhadap cara membaca huruf Al Quran bukan termasuk hal yang pernah dicontohkan beliau.”(Ighatsah Al Lahfan, 1/254)

Setan Pasti Menggoda
Sudah menjadi janji setan bahwa ia akan menjauhkan umat dari pengaruh Al Quran -sejak surah pertama turun sampai kapan pun, agar mereka tersesat dari jalan yang lurus. Kita pun menjadi paham kenapa hanya ketika hendak membaca Al Quran saja seseorang diperintahkan membaca doa ta’awwudz atau memohon perlindungan dari godaan setan.

Allah berfirman, “Jika hendak membaca Al Quran, mohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”(QS An Nahl: 98)
Suatu perintah khusus yang tidak dikaitkan dengan ritual lain seperti berzikir, berpuasa, bersedekah dan sebagainya.

Ini menjadi bukti jika setan akan selalu berusaha menjauhkan manusia dari Al Quran, menghalangi mereka memetik manfaat darinya. Setan tahu nilai yang dikandung Al Quran, kemampuannya menjadi terapi jiwa dan mengubah keadaan seseorang.

Ibnu Qayyim -rahimahullah- mengatakan, “Setan menyeret pembaca Al Quran dengan sekawanan kuda sampai pembaca itu lupa pada tujuan pokok Al Quran: untuk direnungkan, dipahami, dan diketahui kehendak Allah terhadap Al Quran. Setan akan menghalangi pembaca untuk memahami tujuan Al Quran, sehingga ia tidak dapat memetik manfaat secara maksimal darinya. Itu sebabnya kita diperintahkan memohon perlindungan Allah dari setan ketika hendak membaca Al Quran.”( Ighatsah Lahfan, 1/149)

Kita jadi mengerti mengapa ketika hendak membaca Al Quran terkadang kita teringat hal-hal yang sebelumnya tidak terpikirkan, membuat kita bingung, tenggelam memikirkannya, sampai kemudian tidak jadi membacanya. Atau terkadang kita tiba-tiba terserang kantuk ketika memulai membacanya.
sumber : http://www.fimadani.com

Minggu, 30 Oktober 2011

Ingin Berumur Panjang, Menikahlah!

Ternyata, menikah bukan hanya sebuah penyaluran sifat fitrah manusia, namun sangat bagus dari segi kesehatan. Sebuah penelitian menunjukkan menikah dapat memperpanjang umur seseorang hingga 17 tahun. Luar biasa kan?
 
“The American Journal Of Epidemiology” merilis berbagai data hasil dari 90 penelitian yang dilakukan para peneliti dari University of Louisville. Ternyata pria lajang memiliki risiko kematian 32 % lebih tinggi dibandingkan pria yang menikah. Itu artinya, mereka kemungkinan meninggal 8 – 17 tahun lebih cepat dari rata-rata pria yang sudah menikah. Penilitian juga menunjukkan bahwa wanita lajang memiliki harapan hidup sebanyak 23 %, atau 7 – 15 tahun lebih rendah dibandingkan mereka yang telah memiliki pasangan hidup.

Para lajang yang masih muda punya resiko kematian dini yang lebih tinggi lagi. Resiko kematian untuk mereka yang masih lajang dan berusia 30-39 tahun sebesar 128 % lebih tinggi dibandingkan mereka yang sudah menikah dengan kisaran umur yang sama. Di sisi lain, para lajang yang sudah berusia 70 tahun hanya memiliki resiko kematian 16 % lebih tinggi. Mungkin ini disebabkan karena mereka telah “sukses” melalui masa lajang di usia muda (baca ulasannya di http://id.berita.yahoo.com/menikah-bikin-umur-lebih-panjang.html).

Hal ini semakin menguatkan pemahaman bahwa menikah adalah jalan penyaluran fitrah kemanusiaan. Pernikahan merupakan sebuah ajaran yang sesuai dengan fitrah manusia, yang akan menghindarkan manusia dari penyimpangan. Baik penyimpangan yang disebabkan karena kecenderungan nafsu yang dibebaskan, maupun karena dikekangnya kecenderungan nafsu tanpa adanya penyaluran. Agama telah memberikan jalan keluar yang sangat manusiawi berupa pernikahan.

Ketika gejolak syahwat dibiarkan bebas untuk memilih cara penyaluran, akan berdampak kepada berkembangnya berbagai penyakit seksual menular yang telah terbukti melemahkan kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Penyakit AIDS merupakan salah satu contohnya. Penyakit ini telah menjadi momok yang menakutkan di kalangan para pemuja kebebasan, pada saat yang sama menjadi ancaman bagi kekokohan dan ketahanan sosial secara lebih luas. Menyalurkan kecenderungan nafsu secara liar dan bebas, tanpa aturan dan etika moral, terbukti telah mempercepat kematian.

Namun jika kecenderungan syahwat dikekang dan dimatikan tanpa penyaluran, hal inipun membahayakan kesehatan jiwa. Fitrah manusia menjadi tidak tersalurkan, dan memunculkan desakan keinginan yang terpendam. Kecuali apabila mereka bisa menyalurkan dengan jalan iman, sehingga tetap memiliki ruang penyaluran yang bercorak spiritual.

Apabila tidak ada ruang penyaluran sama sekali, yang terjadi hanyalah ketidakseimbangan yang berdampak kepada kesehatan jiwa. Sumbatan ini bisa membuat keguncangan jiwa, karena tumpukan keinginan tanpa ada jalan penyaluran.

Hasil penelitian sosial sudah barang tentu sangat relatif, tidak bisa dijadikan sebagai acuan yang bersifat mutlak. Kita tidak dituntut untuk “beriman” dengan hasil penelitian. Namun penelitian di atas bisa memberikan gambaran dan penjelasan yang lebih rasional tentang manfaat pernikahan secara lebih akademis. Bukan hanya tinjauan agama, moral, sosial dan psikologi, namun bahkan dikuatkan dengan tinjauan ilmiah hasil dari serangkaian studi dan riset.

Maka, jika ingin berumur panjang, menikahlah wahai para bujangan. Survei telah memberikan data dan hasilnya. Tinggal kita melaksanakan sesuai ketentuan agama, dan sesuai pula dengan aturan dari negara.

3 langkah kebahagiaan dalam Rumah Tangga

 

وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (الروم21(
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” Ar Rum:21

Menikah Bukti Keagungan Allah
Ayat ini sebenarnya bagian dari cerita tanda-tanda keagungan Allah swt. dan kekuasaan-Nya. Bahwa semua yang ada di langit dan di bumi dan segala yang terjadi datang dari-Nya. Termasuk diciptakannya manusia berpasang-pasangan yang dengannya terjadi kelanjutan hidup, seperti yang disebutkan pada ayat di atas. Karenanya hakikat pernikahan dan rumah tangga bagi Allah swt. adalah ikatan yang sangat agung. Karena dengannya nampak keagungan-Nya.

Sebaliknya, ketika manusia hidup di alam perzinaan, yang nampak hanyalah kebinatangan. Bila kebinatangan yang menonjol dalam hidup manusia, kerusakan pasti akan meraja lela. Paling tidak yang pertama kali hancur adalah kemanusiaan. Manusia tidak lagi perduli dengan rumah tangga. Bila rumah tangga hancur, garis nasab akan hilang. Lama ke lamaan manusia tidak tahu lagi siapa sebenarnya yang ia gauli. Tidak mustahil suatu saat – bahkan ini sudah banyak terjadi – akan lahir seorang anak dari hubungan ayah dengan anaknya, atau hubungan ibu dengan anaknya, atau hubungan antara saudara seayah dan sebagainya.

Karena itu pada ayat di atas, Allah swt. menjadikan hakikat berpasang-pasangan sebagai bukti keagungan-Nya, supaya manusia tidak begitu mudah merendahkan dirinya dengan menganggap bahwa berhubungan dengan siapa saja boleh-boleh saja. Tidak, janganlah sekali-kali perbuatan ini dilakukan. Sebab dengan melakukan perzinaan seseorang tidak saja mengahancurkan kemanusiaannya sendiri melainkan lebih dari itu ia telah merendahkan Allah swt. dengan meremehkan tanda-tanda keagungan-Nya.
Jelasnya bahwa dari ayat di atas setidaknya ada tiga langkah yang bisa kita bahas secara mendalam dalam tulisan ini untuk mencapai kebahagiaan dalam rumah tangga:

(a) Bangun Jiwa Sakinah
(b) Hidupkan Semangat Mawaddah
(c) Pertahankan Spirit Rahmah.
Dan ketiga langkah ini adalah bekal utama setiap rumah tangga. Bila salah satunya hilang, rumah tangga akan rapuh dan mudah retak. Karena itu hendaklah ketiga langkah tersebut benar-benar dicapai secara maksimal, atau paling tidak mendekatinya.

Bangun Jiwa Sakinah
Allah berfirman: litaskunuu ilaihaa, artinya agar kau berteduh wahai para suami kepada istrimu. Kata litaskunuu diambil dari kata sakana yaskunu artinya berdiam atau berteduh. Dari kata sakana ini di ambil istilah sakinah yang kemudian diartikan tenang. Memang bisa saja kata sakana diartikan tenang, tetapi pengertian dalam ayat ini lebih dalam lagi dari sekedar tenang.
Syaikh Ibn Asyur dalam tafsirnya At Tahrir wat Tanwiir mengartikan kata litaskunuu dengan dengan tiga makna:
(1) lita’lafuu artinya agar kamu saling mengikat hati, seperti uangkapan ta’liiful quluub. Dalam surah Al Anfal: 63 Allah berfirman: wa allafa baina quluubihim (Dialah Allah yang telah mempersatukan hati di antara mereka). Dengan makna ini maka antara suami istri hendaknya benar-benar membangun ikatan hati yang kuat. Dan sekuat-kuat pengikat hati adalah iman. Maka semakin kuat iman seseorang, semakin kuat pula ikatan hatinya dalam rumah tangganya. Sebaliknya semakin lemah iman seseorang, bisa dipastikan bahwa rumah tangga tersebut akan rapuh dan mudah retak.
(2) Tamiiluu ilaihaa artinya kau condong kepadanya. Condong artinya pikiran, perasaan dan tanggung jawab tercurah kepadanya. Dengan makna ini maka suami istri bukan sekedar basa-basi untuk bersenang-senang sejenak. Melainkan benar-benar dibangun di atas tekad yang kuat untuk membangun masa depan rumah tangga yang bermanfaat. Karenanya harus ada kecondongan dari masing-masing suami istri. Tanpa kecondongan pasti akan terjadi keterpaksaan.

Karena itu orang tua jangan memaksakan kehendaknya jika memang ternyata dalam diri anaknya tidak ada kecondongan. Saya sering menemukan seorang anak muda mengeluh karena dipaksa orang tuanya untuk menikah dengan si fulanah. Sementara dalam diri anak muda tersebut tidak ada kecondongan sama sekali. Tapi orang tuanya mengancam dan bahkan menganggap ia bukan anaknya jika tidak mengikuti keinginannya.
Ini tentu sikap yang tidak pada tempatnya. Orang tua harus tahu bahwa sakinah dalam rumah tangga tidak akan di capai tanpa adanya kecondongan. Pun orang tua harus tahu bahwa yang akan hidup bersama istrinya adalah sang anak. Maka tidak benar menggunakan kartu merah orang tua, untuk memaksakan kecondongannya supaya anak mengikutinya.

Seringkali rumah tangga hancur karena orang tua tidak meperhatikan kecondongan sang anak. Karena itu untuk membangun sakinah harus ada dalam diri masing-masing suami istri kecondongan.
(3) Tathma’innuu biha artinya kau merasa tenang dengannya.
Dalam surah Ar Ra’d:28 Allah berfirman: alaa bidzikrillahi tathma’innul quluub (Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram). Dari sini nampak bahwa untuk mencapai ketenangan dalam rumah tangga hanya dengan banyak berdzikir kepada Allah.

Para ulama menyebutkan bahwa dzikir ada tiga dimensi: dzikurullisan (dzikir dengan lidah), dzikrul qalb (dzikir dengan hati) maksudnya hatinya selalu sadar dan ingat kepada Allah, dan dzikrul haal (dzikir dengan perbuatan), maksudnya seluruh perbuatannya selalu dalam ketaatan kepada Allah swt. Maka sungguh tidak mungkin mencapai sakinah rumah tangga yang penuh dengan kemaksiatan kepada Allah swt.

Termasuk kemaksiatan ketika masing-masing suami suka berbohong. Banyak rumah tangga yang retak karena ketidak jujuran masing-masing suami istri. Bila seorang suami suka berbohong pasti sang istri akan gelisah. Selanjutnya ketenangan akan hilang dalam rumah tangga. Sebaliknya bila istri suka berbohong, sang suami pasti tidak akan merasa tenang bersamanya. Bila suami tidak tenang, bisa jadi kelak rumah tangga akan terancam. Dari sini perceraian demi perceraian terjadi. Asal muasalnya karena kebiasaan tidak jujur dan dosa-dosa.

Hidupkan Semangat Mawaddah
Mawaddah artinya cinta. Imam Hasan Al Bashri mengartikan kata mawaddah sebagai metafor dari hubungan seks. Jelasnya bahwa mawaddah adalah perasaan cinta dan senang dengannya rumah tangga menjadi bergairah dan penuh semangat. Tanpa mawaddah rumah tangga akan kering. Mawaddah biasanya sangat personal. Ia tidak tergantung kepada kecantikan istri atau ketampanan suami. Boleh jadi di mata banyak orang wanita itu tidak cantik, tetapi sang suami sangat mencintainya. Pun boleh jadi wanita itu disepakati sebagai wanita cantik, tetapi sang suami ternyata sangat membencinya.
Sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa cinta biasanya sering menggebu di masa muda atau di awal-awal pernikahan. Lama ke lamaan setelah masuk dalam rutinitas rumah tangga, getaran cinta menjadi melemah. Karenanya Allah swt. bekali rahmah sebagai pengimbangnya, supaya ketika sinyal cinta mulai redup, masih ada semangat rahmah yang akan menyelamatkan rumah tangga tersebut. Lain halnya dengan orang-orang yang membangun rumah tangga hanya dengan modal cinta, rumah tangga rentan mudah roboh dan tidak kokoh.
Ibarat mesin, mawaddah adalah dinamo penggerak yang mengairahkan. Dengan mawaddah rumah tangga menjadi dinamis dan produktif. Sebaliknya bila jiwa mawaddah hilang, rumah tangga akan menjadi monoton tanpa dinamika sama sekali. Dalam penelitian saya minimal ciri mawaddah ada tiga:

(a) Katsratut tahaady (selalu saling memberi hadiah), karena seperti kata Nabi saw. dengan saling memberi hadiah cinta akan selalu hangat.
(b) Katsratu dzikrihi (selalu saling mengingat kebaikannya). Sebab dengan mengingat kebaikannya seseorang akan selalu merasa berhutang budi. Hindari melihat keburukan dan kekurangannya, karena itu akan menumbuhkan kebencian dan perselisihan tiada henti.
(c) Katsratul ittishaali ma’ahu (selalu saling berkomunikasi) sebab dari kemunikasi akan hilang prasangka. Banyak hal yang sebenarnya dimaksudkan untuk kebaikan, tetapi karena lemahnya komunikasi seringkali kesalahpahaman terjadi.
Pertahankan Spirit Rahmah
Rahmah artinya kasih sayang, diambil dari kata rahima yarhamu. Dari kata ini pula diambil kata ar rahmaan salah satu nama Allah swt. Bahwa Allah Maha Penyayang. Para ahli tafsir mengatakan bahwa rahman-Nya Allah meliputi seluruh mahluk-Nya: manusia, binatang, dan mahluk-mahluk lainnya. Termasuk orang-orang yang tidak beriman, karenanya mereka masih bisa hidup dan bisa menikmati fasilitas kehidupan dari Allah, padahal mereka setiap hari tidak mentaati-Nya. Kata rahmah lebih bermakna kesungguhan untuk berbuat baik kepada orang lain, apa lagi kepada keluarga.

Memang setiap orang mempunyai kekurangan, dan tidak ada seorang pun yang mecapai kesempurnaan. Maka jika setiap manusia selalu mempersepsikan adanya pasangan yang sempurna, pasti pada akhirnya ia tidak akan pernah punya pasangan. Dalam pepatah Arab dikatakan: “Man talaba akhan bilaa ‘aibin laqiya bilaa akhin (orang yang mencari kawan tanpa cacat, pasti pada akhirnya ia tidak akan punya kawan).
Kata rahmah lebih mencerminkan sikap saling memahami kekuarangan masing-masing lalu berusaha untuk saling melengkapi. Sikap rahmah menekankan adanya sikap saling tolong menolong dalam bersinergi, sehingga kekurangan berubah menjadi kesempurnaan.

Sikap rahmah seringkali berperan ketika semangat cinta mulai menurun. Biasanya itu terjadi setelah usia suami istri sama-sama mencapai tahap tua. Cucu sudah mulai banyak. Badan banyak sakit-sakitan. Pada saat itu kebertahanan rumah tangga sangat ditopang oleh kekuatan rahmah (kasih sayang).
Karena itu mawaddah dan rahmah ibarat dua sayap bagi burung. Bila kedua sayap itu berfungsi dengan baik, maka rumah tangga akan berjalan penuh kebahagiaan. Ibarat burung terbang di angkasa, ia menikmati keindahan alam semesta dan penuh dengan kelapangan dada. Tanpa sedikit pun ada beban di hatinya. Terbang ke mana saja ia mau, tidak ada hambatan dan kesulitan.
Kesadaran Akhirat
Pada penutup ayat di atas Allah swt. berfirman: inna fiidzaalika laayatil liqawmiyyatafakkaruun maksudnya bahwa itu semua merupakan bukti bagi orang-orang yang berpikir. Yaitu orang-orang yang menggunakan akalnya untuk memahami ajaran Allah swt.

Dalam Al Qur’an banyak sekali penegasan bahwa kelak di hari Kiamat banyak manusia menyesal karena selama di dunia tidak menggunakan akalnya. Allah swt. berfirman,
“Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” Al Mulk:10

Dari sini nampak bahwa yang membedakan antara manusia dan mahluk lainnya adalah karena manusia Allah bekali akal. Dan di antara ciri orang-orang berakal bahwa ia selalu menegakkan kedamaian dalam hidupnya terutama minimal dalam rumah tangganya. Maka ketika ia tidak bisa membangun kedamaian dalam rumah tangganya, bisa dipastikan ia akan gagal dalam lapangan kehidupan yang lain.

Bila seseorang gagal dalam rumah tangga otomatis ia menyesal. Menyesal karena telah menyia-nyiakan kesempatan untuk berbuat baik selama di dunia. Penyesalan itu terjadi kelak setelah ia tahu bahwa ternyata Allah tidak menyia-nyiakan sekecil apapun yang dilakukan manusia. Famayya’mal mitsqaal dzarratin khairay yarah wamay ya’mal mitsqaala dzarratin syarray yarah (Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” Qs. Az Zalzalah:7-8.
Kesadaran akhirat seperti inilah yang harus selalu dicamkan oleh setiap suami istri, karena hanya dengan kesadaran ini semua prilaku akan menjadi baik dan rumah tangga akan dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Wallahu’ alam bishshwab.

Sumber:klik disini

Bagaimana Berdandan ala Al-Qur’an?

Di setiap kesempatan manusia senantiasa ingin memperlihatkan penampilan baik mereka. Namun, sering kali kita merasakan keanehan dalam diri jika tampil tidak layak, beda dengan penampilan yang lahir dari kehendak hati nurani dan fitrah kita sendiri. Olehnya itu, Al-Qur’an sejak dini meletakkan petunjuk kehidupan bagi mereka yang ingin tampil dengan menampilkan keindahan pesona Al-Qur’an, dan memberikan cerminan hidup bagi mereka yang ingin menangkap sinyal-sinyal keindahan dan kesempurnaan penciptaan Allah SWT.
Petunjuk dan cerminan hidup ini disimpulkan dalam firman-Nya berikut ini:
وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ
 Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. al-A’raf [7]: 26)
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ
Dan firman-Nya:
Dan berbekallah! Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. (QS. al-Baqarah [2]: 197)
Ayat pertama masih dalam rangkaian alur cerita Nabi Adam dan istrinya Hawa yang dikeluarkan dari surga setelah menanggalkan dari diri mereka pakaian ketaqwaan karena tergoda oleh rayuan manis setan yang menjanjikan kekekalan abadi di surga tersebut, sebab dari nampaknya aib dan aurat mereka berdua.
Para pakar tafsir berbeda pendapat dalam memaknai kalimat (لِبَاسُ التَّقْوَى), pakaian ketaqwaan. Ini dapat dilihat di tafsir Imam Ibn Jarir at-Thabari sebagaimana berikut:
“Di antara mereka ada yang menafsirkan (لِبَاسُ التَّقْوَى) dengan iman, seperti Qatâda, as-Sudiyyi, dan Ibn Juraij. Ada juga dari mereka yang memaknainya dengan makna malu, seperti: Ma’bad al-Juhni. Ada pula yang mengartikannya dengan amal shalih, seperti: Ibn Abbâs. Sementara itu, di periwayatan lain beliau menafsirkannya dengan pribadi baik, dan  Urwah bin az-Zubair sendiri dengan takut kepada Allah. Penafsiran-penafsiran ini diperkaya dengan penafsiran Ibn Zaid yang lebih memilih makna menutup aurat terhadap kalimat tersebut.”[[1]]
Penafsiran terhadap kalimat ini tidak berhenti sampai di sini. Di sana ada kelompok lain yang menyuguhkan terhadapnya makna alat-alat perang, seperti perisai dan baju perang. Di antara mereka itu: Zaid bin Ali bin al-Husain dan Abu Muslim al-Ashfahâni.[[2]]
Penafsiran ini dilegitimasi Ustadz Muhammad Rasyid Ridha dalam pernyataannya berikut ini:
“Tidak ada larangan bagi kami untuk mempergunakan ketaqwaan dalam kedua makna tersebut: ketaqwaan terhadap Allah dengan iman dan amal shalih, dan takut terhadap ancaman musuh dengan mengenakan baju besi dan perisai. Pemaknaan ini boleh-boleh saja dilihat dari kata at-Taqwa itu sendiri (التَّقْوَي) yang mempunyai makna ganda: makna hakiki dan majazi.”[[3]]
Hemat penulis, dengan mengedepankan makna yang dikehendaki sistematika Al-Qur’an, maka makna yang paling sesuai dengan konteks cerita Nabi Adam dan Hawa adalah makna ketaqwaan yang meliputi seluruh perilaku dan sifat terpuji, seperti yang dinukil al-Hafidzh Ibn Jarir at-Thabari dari para pakar tafsir terdahulu.
Jika ada yang bertanya dan berkata: “Kenapa Anda lebih cenderung memilih makna tersebut, bukan makna lain? Bukankah makna-makna tersebut layak mewakili penafsiran terhadap ketaqwaan yang ada pada  (لِبَاسُ التَّقْوَى)?”
Kepada Anda ayat ini memberikan jawaban seperti ini:
“Kata tunjuk (ذَلِكَ) dipergunakan untuk menunjuk sebuah benda yang berada di tempat yang jauh dari orang yang sedang menunjuknya. Hematnya, kata ini tidak dipergunakan kecuali untuk mengisyaratkan bahwa di sana ada dua pakaian: pakaian yang menutupi aurat, dan pakaian ketaqwaan. Akan tetapi, pakaian ketaqwaan jauh lebih baik dan mulia dari pakaian materi yang hanya menutupi jasmani saja, pakaian yang setiap waktu ditanggalkan dan usang. Olehnya itu, mengembalikan kata tunjuk tersebut kepada pakaian ketaqwaan jauh lebih tepat dari makna-makna lain sesuai dengan konteks sistematika cerita Adam dan Hawa.”

Jika Anda belum puas dengan jawaban ini dan ingin bukti lain, maka ayat lain pun menjawab keragu-raguan Anda sebagaimana berikut ini:
وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِّنْ عِندِ اللَّهِ خَيْرٌ ۖ لَّوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ ﴿١٠٣﴾
“Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertaqwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.” (QS. al-Baqarah [2]: 103)

Hemat penulis, pakaian materi hanya menutupi cacat dan aib lahiriah di dunia saja, sedangkan, pakaian ketaqwaan menjaga Anda dari aib yang menyebabkan murka Sang Maha Pencipta. Bukan hanya itu, pakaian ketaqwaan sarana efektif dalam menjaga harkat dan martabat manusia untuk tidak tercoreng oleh rasa malu dari dekadensi moral dan akhlaq. Jadi, pakaian akhlaq selain memberikan rasa aman terhadap jiwa, ia juga menutupi aurat lahiriah dengan sendirinya, meski kadang tidak disadari.

Syekh Mutawalli as-Sya’râwi berkata:
“Jika kita melihat ketelitian Al-Qur’an dalam memaparkan makna ayat di atas, maka kita menjumpai kalimat (مَثُوْبَة), yang artinya pahala, berasal dari makna sejenis kata (الثَّوْبُ), yang berarti pakaian. Penjelasannya seperti ini: manusia dahulu kala mengambil kulit binatang sebagai materi dasar terhadap pakaian mereka. Pemilik binatang menyerahkan kulit yang telah disamak kepada mereka yang pintar mengolahnya menjadi pakaian yang siap pakai. Proses seperti ini dikatakan (مَثُوْبَة) karena kebaikan kembali kepada pemilik bahan baku dari pakaian tersebut, sehingga dengan sendirinya dia memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Demikian pula dengan pahala dari amal baik, ia senantiasa kembali menyapa Anda dengan membawa mega kebaikan.
Berangkat dari sini, Allah SWT memberitahu kita bahwa pakaian gunanya menutup aurat, dan amal baik menutupi penyakit-penyakit maknawi dan kejiwaan dalam diri manusia. Dan tentunya, Pakaian ketaqwaan jauh lebih baik dari pakaian yang hanya menutupi aurat. Itu karena pahala ketaqwaan sendiri datang langsung dari Allah SWT.”[[4]]

Tentunya, dengan menelaah lebih jauh hakikat pemaparan Al-Qur’an tentang tema ketaqwaan di kedua ayat tersebut, saya yakin keragu-raguan Anda pergi dengan sendirinya. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan Anda untuk bertanya dan berkata: “yah benar sekali, tetapi bagaimanakah cara aku memakai pakaian-pakaian yang mahal dan indah itu tanpa menanggalkan pakaian ketaqwaan dalam diriku. Bukankah puji diri kadang muncul di balik rayuan keindahan penampilan dan berkata: “wahai diriku! Sungguh indah penampilanmu dengan baju itu. Engkau akan tampil beda dan memukau jika mengenakan kostum ini””

Ustadz Said Nursi menjawab pertanyaan Anda di salah satu pernyataan monumental beliau berikut ini:
“Sesungguhnya tujuan terpenting dari penciptaan semua entitas kehidupan adalah melihat Sang Maha Pencipta. Artinya, mereka dituntut memperlihatkan kesempurnaan penciptaan diri mereka, ukiran-ukiran manifestasi nama-nama-Nya (Asmaul husna), hikmah penciptaan, dan hadiah kasih sayang-Nya yang sangat luas. Semuanya itu diperlihatkan di hadapan-Nya, sehingga dengan sendirinya ia menjadi cermin yang melukiskan keindahan dan kesempurnaan-Nya.”[[5]]

Hemat penulis, tidak ada larangan terhadap seseorang untuk tidak memakai jenis produk pakaian tertentu, selagi ia masih memenuhi standar syariat. Akan tetapi, hendaknya penampilan itu tidak didasari oleh ujub dan rasa percaya diri yang berlebihan, melainkan ia menjadi cermin terhadap keindahan dan kesempurnaan penciptaan Allah kepada orang lain. Artinya, Anda wajib berniat seperti ini di setiap kali dandan dan bersolek. Karena hanya dengan itu, Anda akan mendapatkan pahala berpakaian yang senantiasa dihiasi oleh ketaqwaan.
Kemudian, dengan dandanan seperti ini orang lain bisa jadi menemukan pancaran ukiran-ukiran manifestasi nama-nama Allah SWT yang bisa menuntun mereka untuk lebih dekat lagi dengan-Nya. Karena dengan penampilan yang indah, orang lain menemukan keindahan mutlak Sang Pencipta, keindahan itu tidak lain kecuali percikan dari muara keindahan yang tidak kunjung habis, keindahan yang tidak pernah menjenuhkan, dan keindahan yang memberitahu bahwa yang indah itu tatkala Anda telah menemukan sumber keindahan itu sendiri, bukan hanyut dari keindahan yang dibiaskan oleh materi tertentu, dan terjebak oleh batasan ruang waktu dan tempat.

Selanjutnya, dengan penampilan apik dan anggun, orang lain menemukan kesempurnaan ciptaan-Nya. Mereka menyadari bahwa tidak satu pun dari anggota tubuh Anda yang menunjukkan ketidakserasian dengan anggota tubuh lain sebelum dan sesudah menghias diri. Setiap dari anggota tubuh itu terlihat oleh mereka tersenyum dan berkata: “Wahai sobatku! Lihat aku dan temukan kesempurnaan penciptaan Zat yang menciptakanku! Sungguh sangat jelas bagimu, lebih jelas dari terik sinar matahari di siang hari. Adakah aku mengganggu keindahan dan kesempurnaan penciptaan yang dilukiskan anggota tubuh lain? Tentu tidak, karena tujuan terciptaku sama dengan tujuan penciptaannya. Setiap dari kami melukiskan keindahan manifestasi keagungan, kesempurnaan dan keindahan penciptaan-Nya. Jika Anda tidak melihat itu atau sulit menangkap sinyal tersebut, maka bercerminlah kepada dirimu sendiri, niscaya engkau akan menemukannya.”

Dan jika engkau melihat kearifan budi, ketegasan sikap dan toleransi antar sesama terpancar darinya, maka ketahuilah bahwa semua itu terilhami dari pesan-pesan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW!
Di penghujung tulisan singkat ini, saya mengajak pemerhati tema-tema keislaman untuk menyuarakan makna yang dilukiskan ayat-ayat di atas:

“Anda boleh saja bersolek dengan mode dan gaya apapun. Akan tetapi, hendaknya dandanan itu menjadi cermin terhadap orang lain untuk melihat keindahan Sang Maha Indah yang telah memberi Anda keindahan penciptaan. Anda jika berhias, jangan lupa sertakan niat itu! Jangan bercermin hanya untuk melihat keindahan wajah Anda sendiri, mempertontonkan keindahan yang Allah titipkan di wajah itu kepada orang lain. Jika seseorang kagum kepada ketampanan dan kecantikan Anda, maka kembalikan pujian itu kepada Allah yang Maha Mulia dan berkata: (هَذَا مِنْ فَضْل رَبِّيْ)“, ini adalah kemuliaan dari Tuhan-Ku.” Dengan sikap seperti ini, Anda senantiasa berpakaian dengan hiasan ketaqwaan yang menjanjikan pahala tersendiri. Maka dari itu, mari kita mengingat dan membaca doa di bawah ini setiap kali bercermin: 

اللَّهُمَّ أَغْنِنِي بالعِلْمِ، وَزَيِّنِّي بِالحِلْم، وَأَكْرِمْنِي بِالتَّقْوَى، وَجَمِّلْنِي بِالْعَافِيَةِ.
“Ya Allah, anugerahi aku ilmu, hiasi aku dengan kesopansantunan, muliakan aku dengan ketaqwaan, dan percantik diriku dengan kesehatan, baik jasmani maupun rohani.”

Sumber: klik disini

Subhanallah, Fakta Mengagumkan Seputar Adzan

Pembahasan tentang 5 fakta mengagumkan seputar adzan berikut ini mungkin bisa menambah wawasan anda terutama bagi anda yang beragama Islam.

Adzan adalah media luar biasa untuk mengumandangkan tauhid terhadap yang Maha Kuasa dan risalah (kenabian) Nabi Muhammad saw. Adzan juga merupakan panggilan shalat kepada umat Islam, yang terus bergema di seluruh dunia lima kali setiap hari.

Betapa mengagumkan suara adzan itu, dan bagi umat Islam di seluruh dunia, adzan merupakan sebuah fakta yang telah mapan. Indonesia misalnya, sebagai sebuah negara terdiri dari ribuan pulau dan dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

1 . Kalimat Penyeru Yang Mengandung "Kekuatan Supranatural"
Ketika azan berkumandang, kaum yang bukan sekedar muslim, tetapi juga beriman, bergegas meninggalkan seluruh aktivitas duniawi dan bersegera menuju masjid untuk menunaikan salat berjamaah. Simpul-simpul kesadaran psiko-religius dalam otak mereka mendadak bergetar hebat, terhubung secara simultan, dan dengan totalitas kesadaran seorang hamba (abdi) mereka bersimpuh, luruh dalam kesyahduan ibadah shalat berjamaah.

2. Asal Mula Yang Menakjubkan:
Pada jaman dulu, Rasulullah Saw. kebingungan untuk menyampaikan saat waktu shalat tiba kepada seluruh umatnya. Maka dicarilah berbagai cara. Ada yang mengusulkan untuk mengibarkan bendera pas waktu shalat itu tiba, ada yang usul untuk menyalakan api di atas bukit, meniup terompet, dan bahkan membunyikan lonceng. Tetapi semuanya dianggap kurang pas dan kurang cocok.

Adalah Abdullah bin Zaid yang bermimpi bertemu dengan seseorang yang memberitahunya untuk mengumandangkan adzan dengan menyerukan lafaz-lafaz adzan yang sudah kita ketahui sekarang. Mimpi itu disampaikan Abdullah bin Zaid kepada Rasulullah Saw. Umar bin Khathab yang sedang berada di rumah mendengar suara itu. Ia langsung keluar sambil menarik jubahnya dan berkata: "Demi Tuhan Yang mengutusmu dengan Hak, ya Rasulullah, aku benar-benar melihat seperti yang ia lihat (di dalam mimpi). Lalu Rasulullah bersabda: "Segala puji bagimu." yang kemudian Rasulullah menyetujuinya untuk menggunakan lafaz-lafaz adzan itu untuk menyerukan panggilan shalat.

3. Adzan Senantiasa Ada Saat Peristiwa2 Penting:
Adzan Digunakan islam untuk memanggil Umat untuk Melaksanakan shalat. Selain itu adzan juga dikumandangkan disaat-saat Penting. Ketika lahirnya seorang Bayi, ketika Peristiwa besar .

Peristiwa besar yang dimaksud adalah
- Fathu Makah : Pembebasan Mekkah merupakan peristiwa yang terjadi pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H, dimana Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan, sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka'bah. Lalu Bilal Mengumandangkan Adzan Diatas Ka'bah

- Perebutan kekuasaan Konstatinopel : Konstantinopel jatuh ke tangan pasukan Ottoman, mengakhiri Kekaisaran Romawi Timur. lalu beberapa perajurit ottoman masuk kedalam Ramapsan terbesar Mereka Sofia..lalu mengumandangkan adzan disana sebagai tanda kemenagan meraka.

4. Adzan Sudah Miliyaran kali Dikumandangkan:
Sejak pertama dikumandangkan sampai saat ini mungkin sudah sekitar 1500 tahunan lebih adzan dikumandangkan. Anggaplah setahun 356 hari . berarti 1500 tahun X 356 hari= 534000 dan kalikan kembali dengan jumlah umat islam yang terus bertambah tiap tahunnya. Kita anggap umat islam saat ini sekitar 2 miliyar orang dengan persentase 2 milyar umat dengan 2 juta muadzin saja. Hasilnya =
534.000 x 2.000.000 = 1.068.000.000.000 dikalikan 5 = 5.340.000.000.000

5. Adzan Ternyata Tidak Pernah Berhenti Berkumandang
Proses itu terus berlangsung dan bergerak ke arah barat kepulauan Indonesia. Perbedaan waktu antara timur dan barat pulau-pulau di Indonesia adalah satu jam. Oleh karena itu, satu jam setelah adzan selesai di Sulawesi, maka adzan segera bergema di Jakarta, disusul pula sumatra. Dan adzan belum berakhir di Indonesia, maka ia sudah dimulai di Malaysia. Burma adalah di baris berikutnya, dan dalam waktu beberapa jam dari Jakarta, maka adzan mencapai Dacca, ibukota Bangladesh. Dan begitu adzan berakhir di Bangladesh, maka ia ia telah dikumandangkan di barat India, dari Kalkuta ke Srinagar. Kemudian terus menuju Bombay dan seluruh kawasan India.

Srinagar dan Sialkot (sebuah kota di Pakistan utara) memiliki waktu adzan yang sama. Perbedaan waktu antara Sialkot, Kota, Karachi dan Gowadar (kota di Baluchistan, sebuah provinsi di Pakistan) adalah empat puluh menit, dan dalam waktu ini, (Dawn) adzan Fajar telah terdengar di Pakistan. Sebelum berakhir di sana, ia telah dimulai di Afghanistan dan Muscat. Perbedaan waktu antara Muscat dan Baghdad adalah satu jam. Adzan kembali terdengar selama satu jam di wilayah Hijaz al-Muqaddas (Makkah dan Madinah), Yaman, Uni Emirat Arab, Kuwait dan Irak.

Perbedaan waktu antara Bagdad dan Iskandariyah di Mesir adalah satu jam. Adzan terus bergema di Siria, Mesir, Somalia dan Sudan selama jam tersebut. Iskandariyah dan Istanbul terletak di bujur geografis yang sama. Perbedaan waktu antara timur dan barat Turki adalah satu setengah jam, dan pada saat ini seruan shalat dikumandangkan.

Iskandariyah dan Tripoli (ibukota Libya) terletak di lokasi waktu yang sama. Proses panggilan Adzan sehingga terus berlangsung melalui seluruh kawasan Afrika. Oleh karena itu, kumandang keesaan Allah dan kenabian Muhammad saw yang dimulai dari bagian timur pulau Indonesia itu tiba di pantai timur Samudera Atlantik setelah sembilan setengah jam.

Sebelum Adzan mencapai pantai Atlantik, kumandang adzan Zhuhur telah dimulai di kawasan timur Indonesia, dan sebelum mencapai Dacca, adzan Ashar telah dimulai. Dan begitu adzan mencapai Jakarta setelah kira-kira satu setengah jam kemudian, maka waktu Maghrib menyusul. Dan tidak lama setelah waktu Maghrib mencapai Sumatera, maka waktu adzan Isya telah dimulai di Sulawesi! Bila Muadzin di Indonesia mengumandangkan adzan Fajar, maka muadzin di Afrika mengumandangkan adzan untuk Isya.
sumber : klik disini

Kualitas Ibu Menentukan Kualitas Anak

Kualitas Ibu Menentukan  Kualitas Anak adalah tema Seminar Online Kharisma pada pekan terakhir  bulan Mei 2008. Diikuti lebih dari 50 peserta dari berbagai negara di dunia, di antaranya adalah Inggris, Belanda, Jerman, Austria, Jepang, Australia dan tentunya Indonesia. Acara ini di selenggarakan di  Chatroom Paltalk dan Yahoo Messenger selama kurang lebih 90  menit.
Tema tersebut dibawakan oleh Ibu Dra. Wirianingsih yang  sangat kompeten menceritakan pengalaman beliau dalam mendidik dan membesarkan putra/i-nya hingga mereka terbukti tidak hanya berprestasi secara akademik namun juga menjadi penghafal Al Qur’an. Dalam surat  An Nisa’: 9, Allah mengingatkan agar orangtua tidak meninggalkan anak yang lemah di kemudian hari, baik itu lemah iman, lemah akal, lemah  pikiran, lemah fisik, ataupun lemah mental. Hal ini jelas sangat  berkaitan dengan ibu. Karena anak melekat erat pada ibunya secara  fisik, maupun secara psikis.
Beliau juga mengingatkan bahwa yang sering dilupakan oleh kebanyakan orang adalah  kualitas ayahnya. Karena kualitas ibu tidak dapat berdiri dengan  sendirinya. Dia merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan  antara laki-laki dan perempuan. Hal ini disebutkan oleh Allah dalam surat An Nisa’: 34 bahwa “Laki-laki itu adalah pemimpin kaum perempuan di dalam rumah tangga atau keluarga.” Jadi kaum laki-lakilah yang menduduki posisi sebagai decision maker yang akan menjadi penentu arah pembinaan keluarga. Rasulullah saw juga mengingatkan kepada para sahabatnya bahwa “Carilah kalian tempat perhentian yang baik, karena  darinya engkau akan mendapatkan keturunan yang baik pula.” Hal ini  dilakukan jauh sebelum menikah sehingga jika kita mau menentukan kualitas ibu juga harus dipertimbangkan kualitas dari laki-lakinya.
Perempuan-perempuan yang sholih dan taat kepada Allah dapat menjaga diri ketika suami tidak ada, adalah karena Allah menjaga mereka, hal ini dalam konteks kewajiban suami menjaga istrinya. Di sini terlihat jelas peran laki-laki yang akan menjadi seorang suami dan ayah. Jika kelak Allah karuniakan kepadanya seorang anak perempuan, sejauhmana visi seorang ayah, dalam hal menjadikan anak-anak perempuannya menjadi anak-anak yang berkualitas. Hal ini diingatkan oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadist, “Barangsiapa yang mempunyai anak perempuan kemudian dia didik dengan sebaik-baiknya pendidikan, dia akan menjadi pagar bagi orang tuanya dari siksa api neraka.” Maka didiklah anak-anak perempuan kalian dengan sebaik-baiknya pendidikan. Dalam riwayat lain diceritakan ketika ada seorang anak mencuri, yang dipanggil ayahnya bukan ibunya. Ketika ditanya anaknya menjawab, “Ayahku tidak memberiku seorang ibu yang baik, ayahku tidak memberiku nama yang baik dan ayahku tidak pernah mengajarkan Al Qur’an untukku.” Hal ini menggambarkan bahwa kualitas ibu ditentukan dari bagaimana seorang laki-laki memilihkan ibu yang baik buat anak-anaknya. Jadi konsep kualitas ibu yang baik dimulai dari konsep pra nikah.
Dalam konteks ibu sebagai sebuah institusi. Kita sering mendengar ibu negara, jika kita mendapati ibu yang baik maka negara juga akan baik. Jika ibunya rusak maka negara juga akan rusak. Hal itu setidaknya dalam konteks bagaimana negara memperhatikan kaum wanita dengan sebaik-baiknya perlakuan. Sehingga mereka berhak mendapatkan pendidikan yang sebaik-baiknya, karena kelak mereka akan menjadi seorang ibu yang berkualitas, cerdas dan berdaya guna, serta bertakwa kepada Allah. Sehingga dalam hal politik, kualitas ibu juga  tidak mungkin dapat berdiri sendiri.
Ibu yang aktif di organisasi Salimah (Persaudaraan Muslimah) dan ASA (Aliansi Selamatkan Anak Indonesia) ini memaparkan data yang beliau dapatkan dari Menko Kesra tahun 2005, bahwa masih banyak wanita Indonesia yang buta huruf, setidak-tidaknya ada 10 %.  Sehingga Menko Kesra mencanangkan Gerakan Wanita Bebas Buta Aksara. Dari data yang dimiliki oleh ASA di daerah Mega Mendung ditemukan masih  banyak anak-anak umur 9 sampai 11 tahun baru kelas 1 SD. Di Cirebon ada budaya yang sekarang sedang marak bahwa banyak orang tua yang lebih bangga punya anak perempuan yang kemudian bisa mereka dandani meskipun  sekedar bisa baca dan sedikit berhitung dengan harga Rp 5 juta dibandingkan jika mereka harus menggarap sawah selama 1 tahun, belum tentu mendapatkan hasil sebesar itu. Dan ternyata dari sekian banyak angka yang ada, lebih dari 50%-nya adalah kaum muslimah.
Sangat menyedihkan jika melihat data-data yang ada di lapangan bahwa begitu  banyaknya anak-anak yang masih berusia dini kisaran 9-11 tahun yang terlibat narkoba dan aborsi. Pertanyaannya kemudian ke mana orang tua mereka?
Jadi kualitas ibu tidak dapat berdiri sendiri, baik ibu sebagai seorang individu dan juga ibu sebagai sebuah institusi dalam hal kebijakan negara. Kedua-duanya tidak dapat dipisahkan. Karena  dalam hal ini membicarakan kualitas ibu sebagai seorang individu maka yang akan ditekankan di sini adalah mensyukuri bahwa insya Allah kita dianugerahkan oleh Allah kelebihan dari sisi materi, kecukupan ilmu, mungkin juga kesempatan berprestasi untuk bisa eksis lebih baik lagi. Harus ada kemauan regenerasi di sini. Jadi dimulainya dengan mendefinisikan ciri berkualitas seperti apa, kemudian berkualitas itu dipergunakan untuk apa.
Menurut  perempuan kelahiran Jakarta ini, arti berkualitas dalam konteks ibu secara individu yang pertama adalah dalam konteks ibu sebagai seorang hamba Allah. Cermin kepribadiannya akan tampak dari bagaimana hubungan kedekatan dia dengan Allah SWT. Hal ini akan terpancar dan menetes kepada anak-anaknya dan itu adalah cahaya Allah. Artinya pancaran keimanan ibunya akan terpancar juga pada anak-anaknya.
“Barangsiapa  yang beriman laki-laki dan perempuan, laki dan perempuan beramal sholih dan dia beriman”
Dengan penyebutan laki dan perempuan hendaknya kaum perempuan berkualitas. Kaum ibu berkualitas, jadi istri juga berkualitas. Kualitas yang dimaksudkan di sini yaitu kualitas keimanan kepada Allah. Kiat yang beliau utarakan untuk mengarungi kehidupan ini, senjata yang paling ampuh adalah beriman kepada Allah SWT.
Yang kedua adalah ilmunya. Dengan cara membedakan kata-kata pintar dan cerdas inilah, beliau memaparkan arti penting sisi keilmuan seorang ibu  yang berkualitas. Pintar belum berarti cerdas namun cerdas sudah  pasti pintar. Banyak lulusan S1, S2 dan S3 yang pintar tapi sayangnya mereka tidak cerdas, imbuh Beliau. Dalam pengertian Rasulullah saw, cerdas yaitu orang yang membekali hidupnya dengan sebaik-baiknya kemudian ia bersiap-siap untuk menghadapi kematian. Hal ini menjadi berbeda jika dibandingkan dengan definisi cerdas yang dikemukakan oleh pakar pendidikan, yaitu kemampuan individu untuk mengambilkan suatu keputusan secara cepat dan tepat, dengan segala resikonya. Cerdas yang dimaksudkan di sini yaitu cerdas mengelola dirinya, mengatur waktunya dan cerdas menekan orang lain untuk menuntun mereka dalam kebaikan kemudian merajutnya menjadi sebuah kekuatan  besar membangkitkan bangsa ini untuk mendapatkan ridha Allah.
Ketiga adalah berkualitas dari sisi fisik yaitu sehat badannya. Jangan sampai potensinya besar tetapi sakit-sakitan. Hal ini tidak dapat dimanfaatkan oleh orang lain atau umat. Berkualitas dari sisi fisik akan menopang kualitas keimanan dan ilmu yang ada untuk dapat melakukan aktifitas-aktifitas beramal.
Karya dari suatu pemikiran hanya akan dapat dibuktikan ketika kita beramal. Dan yang melakukan ini adalah jasad atau fisik.
Intinya menurut hemat beliau kualitas orang hidup sebagai seorang individu adalah bertakwa, cerdas,  berakhlak dan berdaya guna.
Dari ketiga hal inilah maka dapat dikatakan bahwa kualitas ibu tidak dapat berdiri sendiri dalam konteks  individu karena terkait dengan pemberdayaannya dirinya di dalam keluarga. Hubungannya dengan anak, jelas di sini dapat dikatakan kualitas ibu menentukan kualitas anaknya. Jangan sampai masih ada perbedaan kualitas pendidikan anak laki-laki dengan anak perempuan dalam pengertian peningkatan pendidikan mereka dalam kategori takaran  yang sama. Jika ingin melakukan perubahan besar terhadap kualitas anak  perempuan atau kualitas ibunya, hal ini di mulai dengan dengan melakukan perubahan pada paradigma cara mendidik anak-anak di rumah. Terutama pada anak laki-laki karena ia nanti akan menjadi bapak atau suami. Bagaimana ia memperlakukan istrinya sehingga kelak istrinya dapat menjadi ibu yang berkualitas. Begitupun berlaku pada anaknya, bagaimana ia mendidik anak perempuannya, sehingga ia menjadi anak yang  berkualitas. Hal ini jelas berjalan beriringan.
Jika ketiga hal ini sudah ada dalam diri seorang perempuan maka ia akan berusaha menjadikan anak-anaknya dan suaminya seperti dirinya. Karena orang-orang yang cerdas menginginkan lingkungan yang ada di sekelilingnya cerdas pula, minimal untuk anak-anaknya. Banyak  sekali kasus ibu yang menelantarkan anak-anaknya. Menjadikan anak-anaknya bukan problem solver malah menjadi problem maker.
Kembali beliau mengungkapkan kisah-kisah yang ada dalam Al-Qur’an bagaimana seorang ibunda Hajar yang berkualitas yang dipilih oleh seorang suami yang berkualitas seperti Nabiyullah Ibrahim melahirkan seorang anak yang berkualitas yaitu Nabiyullah Ismail, yang kemudian menurunkan Rasulullah SAW.
Sejarah Salafusshalih yang  termasuk di dalam 30 tokoh-tokoh besar yang berkualitas karena mereka memiliki ibu-ibu yang berkualitas, yang juga dibarengi pula dengan bapak-bapak yang berkualitas sekelas imam Syafi’i misalnya. Beliau ditinggal wafat ayahnya usia 6 tahun, namun seluruh isi kepala ayahnya sudah diwariskan kepada ibunya, agar meneruskan pendidikan anaknya sehingga menjadi ulama besar yang kita kenal seperti sekarang ini dan mahzhabnya pun dipakai di Indonesia.
Hasan Al Banna pun memiliki ayah dan ibu yang berkualitas. Bapaknya seorang ulama dan ibunya seorang yang cerdas. Jadilah ia seorang ulama besar, arsitek peradaban pada awal abad ke-20 yang telah mampu melakukan perubahan peradaban Islam yang ada sampai sekarang.
Berondongan pertanyaan dari peserta  semakin terasa tatkala ibu yang lahir 46 tahun lalu mengakhiri uraian  materinya dengan pernyataan, jika kita ingin menjadi ibu yang  berkualitas, mulailah dengan mendekatkan diri kepada Allah, mohon petunjuknya ke jalan yang lurus. Dan hanya orang-orang yang diberi  petunjuk ke jalan yang luruslah, yang senantiasa mengajak orang lain untuk bersikap lurus.
Pertanyaan pertama datang dari seorang ibu, yang menanyakan tentang di mana pendidikan Qur’an putra/i pembicara dilakukan. Pembicara yang akrab disapa dengan panggilan Ibu Wiwi ini  mengingatkan agar belajar dari para salafusshalih, dengan melihat sejarah-sejarah masa lalu. Untuk menjawab pertanyaan ini beliau menekankan bahwa pendidikan anak dua pertiganya berasal dari rumah. Karena di situlah masa-masa penting pertumbuhan anak.
Usia anak  0-7 tahun adalah Golden Age yaitu masa-masa pengasuhan atau peletakan basis. Kita kaitkan hal ini dengan nasihat Rasulullah SAW “Perintahkanlah anakmu shalat pada usia 7 tahun, kalau tidak mau shalat 7 tahun dipukul. Meskipun Rasulullah saw tidak mempelajari psikologi namun itu semua diajarkan langsung oleh Allah yang Maha Mengetahui, sumber segala ilmu yang ternyata sekarang ini pernyataan nabi telah dibuktikan kebenarannya oleh para  ahli.
Menilik pendidikan anak menurut Imam Ali ada 3 tahapan :
  1. 7 Tahun pertama perlakukan ia sebagai raja.
  2. 7 Tahun  kedua perlakukan ia sebagai tawanan perang.
  3. 7 Tahun ketiga  perlakukan ia sebagai seorang sahabat.
Jadi masa-masa 7 tahun  pertama ada di rumah. Di sinilah anak seperti tanah lempung yang masih bisa dibentuk. Para pakar otak mengatakan, jika pada usia 0-6 tahun anak disia-siakan pertumbuhan otaknya, maka ketahuilah pada usia 7 tahun otak tidak dapat tumbuh lagi. Maka sebaiknya anak distimulasi, diasuh dan diberikan pendidikan dengan baik pada usia anak 0-6  tahun.
Seorang ahli Psikologi Yahudi dan sekuler yang bernama Sigmund Freud mengungkapkan, “Jika seseorang bermasalah pada usia dewasanya atau lepas dari usia remaja menuju usia dewasanya, maka telusuri 5 tahun pertama dalam kehidupannya.” Jadi hal ini sesuai dengan perkataan Rasulullah saw. Rasulullah saw mengingatkan tentang  pentingnya pendidikan anak pada usia dini, karena terkait dengan ikatan emosional (emotional bonding). Di usia ini anak-anak masih lekat dengan orang tuanya. Dari sisi perkembangan emosi, Islam sudah mengingatkan bahwa dewasa dalam Islam jika laki-laki dengan bermimpi, pada wanita  jika ia sudah haid. Sangatlah mungkin ia bermimpi pada usia 10 atau  bahkan 9 tahun. Secara umum 11-13 tahun. Disayangkan karena faktor tayangan-tayangan yang ada di televisi, HP, pengaruh pornografi mempercepat anak laki-laki kita mengalami ejakulasi dini pada usia 9  tahun.
Jadi perintah Nabi SAW untuk mewajibkan shalat pada usia 7 tahun untuk mengantisipasi adanya perubahan emosional, seksual pada anak ketika memasuki usia remaja. Begitu anak sudah baligh, maka dalam Islam anak ini sudah memiliki kewajiban melaksanakan syariat Islam. Jadi kematangan dalam hal ibadah juga sudah harus disiapkan sejak awal.
Menurut beliau keharusan untuk mengajarkan shalat pada usia 7 tahun memberikan dampak yang positif karena jika pada usia 9 tahun ia  sudah mulai mengalami perubahan emosi terhadap lawan jenisnya, ingin menunjukkan eksistensi dirinya, sudah mulai sering mengkhayal maka akan sangat berbahaya sekali bagi orang tua jika melalaikan masa-masa penting anak sebelum masa baligh. Oleh karena itu sangat diutamakan pendidikan anak dua pertiganya di dalam rumah untuk  menyikapi hal-hal yang tidak diinginkan.
Pada usia 7 tahun  kedua, orang tua tinggal menerapkan hal-hal yang telah mereka berikan pada masa 7 tahun pertama, dalam bentuk kedispilinan. Seperti shalat berapa kali sehari, kapan waktu untuk menonton TV, apa saja yang boleh ditonton, dan lain-lain. Jadi kesimpulannya pendidikan anak dua pertiganya ada di rumah, sisanya ada di pesantren, SDIT atau  sekolah-sekolah negeri.
Beliau meyakini bahwa kontrol di rumah yang baik akan menjaga anak kita dari perbuatan-perbuatan yang tidak  diinginkan. Tidak lupa beliau menyampaikan bahwa hal-hal yang telah disampaikan ini dilihat dari aspek normatifnya bukan dari aspek pribadi beliau.
Peserta dari Australia menanyakan usaha-usaha apa saja yang dapat dilakukan untuk mendapatkan suami yang berkualitas. Ibu yang salah satu putranya ada yang bersekolah di Kairo ini meminta untuk menentukan terlebih dahulu definisi suami yang berkualitas. Jika melihat standar umum yang disebutkan oleh Nabi SAW adalah ganteng, keturunan yang baik, kaya dan bertakwa. Jika 3 hal yang pertama tidak mudah didapatkan maka pilihlah yang bertakwa karena ia akan menuntun istrinya ke akhirat. Cara mengetahui seseorang itu bertakwa adalah dilihat dari pergaulan, teman-tamannya, bertanya kepada  teman-temannya bagaimana ia berprilaku sehari-harinya, bahkan kalau  mungkin bertanya kepada musuhnya apa-apa yang tidak diketahuinya. Setelah menentukan kriteria dan visi kemudian berdoa kepada Allah meminta yang terbaik untuk kepentingan dakwah, keluarga dan masa depan. Tak lupa beliau mengingatkan agar setiap hari membaca surat Ar -Rahman.
Pertanyaan kemudian bergulir mengenai peluang menjadi ibu  yang berkualitas dengan disesuaikan permasalahan kesibukan ibu di luar rumah dari seorang peserta di Den Haag. Dalam pandangan beliau bahwa tidak boleh dipisahkan antara kegiatan di luar rumah dengan pendidikan anak. Sebisa mungkin menyatukan keduanya. Karena sesungguhnya ketika seorang ibu sedang aktif di luar rumah, adalah salah satu cara mengajarkan kepada anak-anak bahwa hidup itu harus bermanfaat bagi orang lain. Di sisi lain, seorang ibu jika bertemu dengan anaknya secara fisik, harus berkualitas pertemuannya dengan anaknya. Misalnya kapan anak menyetorkan hafalannya, kapan orang tua mengajarkan mereka memasak di rumah, kapan waktu untuk  jalan-jalan bersama keluarga, kapan orang tua belajar dengan anak-anak. Jadi semua kegiatan tidak bisa dipisah-pisahkan.
Anak-anak pun akan memahami jika ibunya aktif di luar rumah adalah salah satu cara  untuk meningkatkan kualitas diri, sama dengan ketika anak-anak sedang beraktifitas di luar rumah. Karena orangtuanya pun beranggapan bahwa  mereka beraktifitas di luar rumah untuk meningkatkan kualitas dirinya. Jadi mereka pun tidak merasa ditinggalkan oleh ibunya.
Sebaliknya  tidak bisa dijamin pula, jika ibu tidak pergi ke mana-mana ia dapat  menjadi ibu yang berkualitas. Banyak kecelakaan kecil yang terjadi, justru ketika ibu sedang berada di rumah. Hanya Allah-lah yang mampu menjaga anak-anak kita dengan baik. Kembali beliau mengingatkan bahwa yang sangat berpengaruh di sini adalah faktor kedekatan seorang ibu kepada Allah. Anak adalah titipan Allah maka jagalah hubungan kita dengan Allah. Maka Allah akan menjaga kita. Kebanyakan kesalahan yang ada adalah mengukur kualitas ibu dengan anak dari frekuensi pertemuannya.
Namun standar ini menjadi lain jika memang seorang ibu, diberikan potensinya oleh Allah untuk beraktifitas di rumah saja. Sederhananya jangan mendzalimi diri sendiri dan orang lain. Maksudnya di sini adalah dzalim jika ia bisa membawa ember 100 namun ia hanya membawa 10 ember, begitupun sebaliknya jika ia hanya bisa membawa 100 namun ia justru membawa 1000 ember.
Ada tips yang beliau berikan yaitu dengan cara maping waktu dengan merencanakan rentang waktu. Maping waktu berguna untuk melihat sebanyak apa interaksi ibu dengan anak. Ternyata seluruh kegiatan kita sesungguhnya lebih banyak bersama anak. Kemudian buat rentang waktu yang disesuaikan dengan umur Nabi Muhammad SAW, dibagi menjadi 3 rentang waktu yaitu 0-20 tahun yang sesuai dengan rentang umur yang telah diutarakan oleh imam Ali untuk membentuk kepribadian anak, 20-40 tahun di sini lah waktu untuk menimba ilmu atau wawasan sebanyak-banyaknya, 40-60 tahun adalah usia produktif yaitu usia di mana seseorang telah dapat memberikan kontribusi berbakti untuk umat atau kepentingan terbaik dakwah.
Intinya adalah jika ingin memanage suatu kegiatan dilihat dari sejauh mana kita melihat kualitas waktu kita.
Dari kegiatan ibu di luar rumah pertanyaan peserta dari Berlin beralih kepada tahapan-tahapan cara mendidik anak hingga bisa menghafal Qur’an dalam usia yang masih muda. Ibu pemilik 4 cahaya mata yang telah Hafidz Qur’an ini menjabarkan secara gamblang tentang tahapan-tahapan itu, yaitu tahapan memilih pasangan, kekompakan visi suami istri dalam membentuk keluarga Qur’ani, kemudian mencarikan lingkungan untuk anak yang juga dekat dengan Al Qur’an, yang terakhir adalah rajin ke toko buku.
Dengan rajin membawa anak-anak ke toko buku maka akan memperluas wawasan anak. Diharapkan dengan banyaknya  mereka berinteraksi dengan dunia ilmu maka akan dapat memotivasi mereka dalam menghafal Qur’an.
Ketika ingin memiliki keluarga Qur’ani maka seyogyanya harus mencari pasangan yang memiliki visi yang sama. Tentunya haruslah seseorang yang bertakwa. Kekompakan di dalam rumah bisa di mulai dari kedua orang tuanya, misalnya dengan senantiasa memutar murottal di rumah, di dalam rumah tidak ada gambar-gambar yang syubhat, makanan dijaga dari hal-hal yang haram dan syubhat, jika ingin mendengarkan musik, juga musik-musik yang Islami, yang dapat  mendekatkan anak kepada Allah.
Beliau mencontohkan salah satu  keluarga di Iran yang anaknya menjadi doktor hafidz Qur’an pada usia 7  tahun. Sebelum menikah mereka menargetkan diri menjadi hafidz dan hafidzah. Ketika sedang menyusui di barengi dengan membaca Al Qur’an, ketika akan berhubungan atau membaca Qur’an, berwudhu terlebih dahulu, di dalam rumah mereka tidak ada kalimat yang keluar kecuali kalimat  Qur’an. Harus ada waktu-waktu yang tidak boleh diganggu semasa seluruh  keluarga sedang berinteraksi dengan Al Qur’an. Harus dibuat sistem  semacam itu.
Setelah itu carikan anak-anak lingkungan yang senantiasa dekat dengan Al-Qur’an. Buat program liburan anak-anak dengan program tahfidz Qur’an. Carikan teman atau kalau bisa sekolah  yang dapat menunjang kemampuannya untuk menghafal Qur’an. Jika merasa  bahwa dengan memasukkan anak-anak ke pesantren, justru akan menjauhkan diri dengan anak-anak, maka mengapa tidak dilakukan di rumah. Hal ini justru akan memperbanyak pahala bagi kedua orang tuanya.
Namun beliau menyayangkan bahwa di dalam masyarakat Islam Indonesia, Qur’an belum menjadi bacaan yang sama asyiknya dengan novel. Perbedaannya di sini adalah karena Qur’an merupakan kitab suci maka godaannya menjadi banyak sekali.
Tentang pembagian rasa sayang ternyata juga menjadi pertanyaan sahabat Kharisma dari London. Bagaimana pembicara membagi rasa sayangnya kepada seluruh anak-anak dengan proporsional tanpa memilah-milahnya.
Pertanyaan ini langsung dikomentari oleh ibu 11 anak, bahwa di dunia ini tidak ada yang adil dan proporsional. Keadilan dan proporsionalitas hanya milik Allah. Beliau menekankan bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang sedang dalam proses menjadi mahluk yang ingin dimuliakan oleh Allah di hari kiamat. Intinya di sini adalah bahwa orang tua seharusnya berada di jalan yang lurus, memiliki sifat istiqomah dan memiliki kesadaran untuk kembali ke jalan yang lurus.
Mengenai fenomena tentang banyaknya ibu rumah tangga di Indonesia yang harus bekerja karena tuntutan keluarga hingga pengasuhan anak kurang mendapat perhatian dengan baik menjadi pekerjaan besar bagi seluruh bangsa Indonesia. Berbicara masalah kualitas ibu, berarti membicarakan kualitas ibu tidak hanya sebagai suatu individu namun juga sebuah institusi yang tentunya tidak dapat dipisahkan dari kebijakan politik.
Pemberdayaan perempuan secara menyeluruh adalah pekerjaan  yang tidak mudah namun tetap harus dimulai dari sekarang. Caranya  dengan memberikan contoh keteladanan kepada masyarakat dan lingkungan.
Hal ini termasuk memberikan keteladanan kepada anak-anak. Insya Allah  yang lain nantinya akan mengikuti. Kegiatan para aktivis dakwah  seharusnya seiring sejalan dengan aktivitasnya di dalam rumah. Keduanya harus sama berkualitasnya. Kaum ibu harus dapat memanage waktu dengan baik. Hal ini harus dimulai dari diri sendiri. Beliau termasuk  yang meyakini bahwa 20-30 tahun ke depan akan ada perubahan. Meskipun mungkin saja tidak secara langsung mengalaminya namun anak cucu nanti yang akan mengalaminya. Apa yang saat ini dipelajari  hendaknya menjadi pemicu, dapat memberikan prestasi. Sehingga ketika kelak mendapatkan amanah, baik di suatu perusahaan ataupun di Eksekutif, atau bahkan di Legislatif. Kelebihannya adalah jika kaum ibu memiliki amanah dan memiliki kekuatan, maka kaum ibu dapat mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang kelak akan dapat memberdayakan kaum perempuan dan keluarganya. Kaum Feminis memperjuangkan nilai-nilai yang sama  dengan kita umat Islam, hanya saja beda tujuan, niat dan caranya  saja.
Pembicara baru saja menghadiri acara organisasi feminis sedunia yang usia pergerakannya sudah 120 tahun, yang memperjuangkan hak-hak kaum perempuan, namun tetap saja tidak terlalu ada perubahan  yang signifikan terhadap perlakuan yang di terima perempuan. Menurut  hemat beliau justru kaum perempuan tidak dapat berjuang hanya di depan kaumnya saja, kaum perempuan seharusnya bergandengan tangan dengan kaum laki-laki. Jika ada seorang laki-laki yang menjadi pejabat diharapkan kelak kebijakan-kabijakan yang keluar darinya akan berpihak pada masalah keluarga dan pemberdayan kaum perempuan.
Mengenai perencanaan keluarga (family planning) pun tak luput  menjadi pertanyan peserta dari Inggris. Hal ini harus dipahami oleh  semua orang bahwa membatasi jumlah anak bukanlah nilai-nilai  Islam. Prinsipnya dalam Islam adalah mengatur usia anak untuk memberikan pendidikan yang berkualitas. Di dalam Islam pun tidak ada aturan untuk memiliki atau bahkan melarang mempunyai anak banyak. Hanya  saja memiliki anak banyak juga harus disertai rasa tanggung jawab untuk memelihara dan mendidik mereka. Yang tidak boleh adalah membatasi jumlah anak karena takut akan kemiskinan, takut tidak mampu mendidik, padahal ketakutan-ketakutan itu berasal dari opini publik  yang telah berhasil mempengaruhi cara berpikir masyarakat pada umumnya.  Bahwa anak kelak hanya akan menjadi beban bagi orang tuanya. Kemudian  visi pasangan suami istri dalam menentukan jumlah anak juga harus sejalan. Hal itu tidak bisa diserahkan begitu saja kepada istrinya. Seolah-olah pendidikan anak adalah beban bagi ibunya saja. Padahal yang lebih harus bertanggung jawab di hadapan Allah adalah ayahnya. Ke mana keluarga akan ia bawa, dibawa ke neraka atau ke syurga.
Jika menganggap anak adalah suatu beban, maka seterusnya ia  akan menjadi beban yang berat bagi kedua orang tuanya. Allah  memberikan kecendrungan sesuai dengan kecendrungan kita kepada Allah. Sesungguhnya anak sudah memiliki hak hidupnya sebelum ia  lahir. Orangtua tidak akan tahu anak kelak akan menjadi apa. Karena  semua itu adalah titipan dari Allah maka orangtua harus senantiasa  memelihara dan mendidik anak-anak sebaik mungkin.
Yang terakhir dari family planning ini adalah bertumpu pada kualitas pendidikan untuk anaknya. Yang harus diingat bagi setiap orang tua adalah Allah  tidak pernah menyia-nyiakan titipan-Nya.
Tentang penerapan konsep “perlakukan anak 7 tahun pertama seperti raja” dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi bahasan dalam sesi tanya jawab.
Menurut  beliau, masa-masa anak usia 0-7 tahun adalah masa-masa di mana anak mudah dibentuk dan juga masa-masa di mana anak menampakkan fitrah aslinya sebagai seorang manusia. Di sini orang tua melihat sendiri bagaimana seorang manusia itu sesungguhnya. Ia ingin disayang, dihargai, disanjung, diakui dan diperlakukan secara sama. Perlakuan anak di masa-masa ini adalah cerminan bagaimana orang tuanya memperlakukannya. Kemudian perlakukan anak secara tegas bukan dengan kekerasan. Jangan mudah menyalahkan anak, memvonis mereka  tanpa mendengarkan isi hati mereka.
Merujuk dari bagaimana Rasulullah memperlakukan sahabat terkecilnya yaitu Anas bin Malik saat mereka sedang bersama-sama di dalam masjid. Sehabis minum, Rasulullah  SAW memberikan bekas minuman beliau kepadanya bukan kepada  sahabat-sahabatnya yang lain. Itu karena beliau tahu betul bagaimana  memperlakukan anak dengan cara yang baik. Anas bin Malik ini adalah  seseorang yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits beliau.
Juga saat Rasulullah SAW melihat ada seorang ibu yang sedang menggendong bayinya yang berusia di bawah 3 tahun. Beliau pangku  bayi itu dan takkala bayi tersebut berada di pangkuannya, kemudian ia pipis. Serta merta si ibu memarahi bayi tersebut dengan maksud merasa bersalah, karena telah memipisi Rasulullah SAW. Rasulullah  SAW mengingatkan si ibu agar tidak memarahi bayi itu yang dapat  melukai jiwanya seumur hidupnya, karena najis yang ada di pakaian  Rasulullah akan dapat dengan mudah dibersihkan dengan air, hanya dalam  waktu 1 detik saja najis yang ada di pakaiannya pun hilang.
Intinya perlakukan anak-anak dengan baik dan penuh kasih sayang pada 7 tahun pertama kehidupannya. Agar ia merasa nyaman dulu dengan kedua orangtuanya, sehingga pada 7 tahun kedua, ia sudah mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk baginya. Misalnya pada saat orang tua tidak berada di rumah, ia sudah mampu mengatur dirinya saat menonton tayangan televisi.
Jika si anak sudah merasa nyaman dengan orang tuanya, perkembangan otaknya pun sudah optimal, maka insya Allah pada 7 tahun ketiganya, kelak ia akan menjadi sahabat terbaik orangtua. Misalnya saja ia bercerita saat ia mulai senang dengan lawan jenis, tentang mimpi pertamanya pun ia ceritakan kepada ibunya, juga jika ia ada masalah di mana-mana yang pertama dicarinya adalah orang tuanya bukan orang lain.
Dituliskan kembali oleh  Aninditya Nafianti, S. Kg.

Kamis, 27 Oktober 2011

Orang - orang yang Didoakan oleh Malaikat

Oleh : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi
 
Allah SWT berfirman, "Sebenarnya (malaikat - malaikat itu) adalah hamba - hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah - perintah-Nya.  Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa'at melainkan kepada orang - orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati - hati karena takut kepada-Nya" (QS Al Anbiyaa' 26-28)
Inilah orang - orang yang didoakan oleh para malaikat :
  1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.  Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya.  Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci'" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

  2. Orang yang duduk menunggu shalat.  Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia.  Ya Allah sayangilah ia'" (Shahih Muslim no. 469)

  3. Orang - orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat.  Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

  4. Orang - orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf).  Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

  5. Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu" (Shahih Bukhari no. 782)

  6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.  Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, 'Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'" (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

  7. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan 'ashar secara berjama'ah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal.  Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat 'ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat 'ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'" (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

  8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.  Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda' ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan.  Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'" (Shahih Muslim no. 2733)

  9. Orang - orang yang berinfak.  Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'.  Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'" (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

  10. Orang yang makan sahur. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang - orang yang makan sahur" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

  11. Orang yang menjenguk orang sakit.  Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh" (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, "Sanadnya shahih")

  12. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.  Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian.  Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain" (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)