Jambu biji memang tidak sepopuler jeruk atau semahal apel. Jika Anda
berpikir jeruk adalah yang terbaik untuk vitamin C, Anda perlu mencoba
jambu biji.
Satu jambu biji memiliki 165 miligram (mg) vitamin C.
Sementara, satu jeruk hanya mengandung 69 mg saja. Kandungan vitamin C
pada jambu biji ini efektif dalam mengobati infertilitas pria.
Di
bawah kulitnya yang hijau, jambu biji memiliki banyak manfaat yang
ditawarkan. Satu buah jambu sehari berguna mengurangi resiko penyakit
mulai dari flu biasa, gusi bengkak, tekanan darah tinggi, obesitas,
diabetes sampai kanker.
Jambu biji memiliki serat makanan
berlimpah sehingga baik dikonsumsi bagi yang mengalami sembelit. Bagi
yang sedang mencoba untuk menurunkan berat badan, tingginya kandungan
serat jambu biji juga sangat bermanfaat.
Buah ini kaya vitamin, serat dan mineral.
Jika dijadikan bagian dari makanan sehari-hari, penelitian menunjukkan
jambu biji sangat efektif mencegah kanker dan penyakit jantung. Buah
yang memiliki nama latin Psidium guajava ini membantu tubuh memerangi radikal bebas yang dihasilkan selama metabolisme.
Para
peneliti bekerja untuk departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA)
telah menemukan bahwa jambu biji mungkin di antara buah terkaya
antioksidan. Buah yang lezat ini juga memiliki beta karoten, kalium dan
serat larut.
Jambu biji dapat meningkatkan kesehatan jantung
dengan mengendalikan tekanan darah dan kolesterol. Kemampuan jambu biji
untuk menurunkan tekanan darah disebabkan adanya kandungan kalium.
Kalium merupakan elektrolit yang penting untuk reaksi listrik dalam
tubuh termasuk pada jantung.
Buah ini juga dikenal bisa menyembuhkan luka eksternal serta
mengobati pendarahan hidung dan gusi. Buah yang hidup di daerah tropis
ini bisa juga mencegah penyakit 'orang tua' seperti pikun dan katarak.
Adanya karbohidrat kompleks dan kandungan serat yang tinggi bisa
bermanfaat untuk menurunkan kadar kolesterol dan gula darah.
Makan
satu jambu biji untuk sarapan memberikan dosis harian yang sangat
dibutuhkan seperti zat besi, asam folat, kalsium, serat, protein,
karbohidrat, vitamin A, B dan banyak vitamin C. Kandungan lemak total
satu jambu biji sekitar 0,9 gram atau 84 kalori. Dibandingkan dengan
apel, buah ini memiliki 38 persen lemak dan 42 persen kalori yang lebih
sedikit.
sumber : klik disini
Selasa, 06 Desember 2011
Rabu, 02 November 2011
Cuek Pada Qur’an Adalah Bencana
Begitulah dahulu yang dirasakan oleh sahabat-sahabat Rasulullah dan kaum muslimin generasi awal.
Dikisahkan ketika Rasulullah berada dalam kondisi kritis menghadapi sakaratul maut dan kembali kepada kekasihnya, Allah swt, para sahabat dihadapkan dengan keadaan yang demikian dahsyat. Imam Qurthubi -rahimahullah- mengatakan bahwa wafatnya Rasulullah adalah musibah terbesar umat Islam sejak saat itu hingga hari kiamat kelak. Mengapa? Menurut beliau, setidaknya ada beberapa hal menjadikan kewafatan Rasulullah adalah musibah besar dalam kehidupan kaum muslimin:
1. Terputusnya wahyu Allah.
Wahyu Allah adalah kitabullah, al-Qur’an al-Karim, pusaka umat Islam sampai akhir zaman. Wafatnya Rasulullah sebagai nabi terakhir berarti terputus sudah kelangsungan wahyu yang merupakan petunjuk bagi hidup manusia. Tidak ada lagi yang namanya komunikasi langsung antara seorang hamba dengan Tuhannya dalam bentuk yang komunikatif. Selama Rasulullah hidup, wahyu seolah sebagai respon atas apa yang terjadi antara kejadian, wahyu, Rasulullah dan Allah swt. Tapi, setelah Rasulullah telah tiada semua itu terputus habis. Oleh karena itu, kebanyakan para sahabat menangis dan sedih dengan kepergian Rasulullah. Dan kita diperintahkan untuk selalu teringat dengan musibah wafatnya Rasulullah saw ini ketika dihadapkan dengan musibah hidup yang sebenarnya tidak seberapa dengan musibah kepergiannya beliau ke haribaan Allah swt. Hal ini bertujuan agar kita sadar dan memandang bahwa musibah sebesar apapun yang kita hadapi masih ringan dan harus dihadapi dengan sabar, ikhlas dan ridho.
Rasulullah saw bersabda:
إذا أصاب أحدكم مصيبة فليذكر مصابه بى فإنها أعظم المصائب
“Apabila salah seorang di antara kalian tertimpa musibah hendaknya ia mengingat musibahnya dengan musibah (kewafatan) ku. Karena musibahku itu adalah musibah terbesar umat ini.” (Silsilah Shahihah oleh Albani No. 1106)
Rasulullah wafat berarti tidak ada lagi nabi setelah beliau saw. Dan di sini kita patut sedih. Rasulullah yang meninggalkan hadits dan siroh beliau saja yang dicatat oleh para sahabat setia beliau. Dengan al-Quran dan hadits nabi ini Insya Allah kita akan selamat dunia dan akhirat.
2. Berhentinya estafet kenabian.
Apabila ketika beliau saw wafat saja banyak para sahabat yang terguncang hebat, maka apa lagi dengan kita yang sudah sangat lama ditinggal beliau dan jauh dari ajaran yang dibawanya. Tentunya akan sangat besar musibah yang kita hadapi sekarang.
Perhatikan bagaimana hebatnya guncangan yang terjadi pada para sahabat Rasulullah. Ketika Rasulullah wafat, Ali menyendiri hening di rumah istrinya Fathimah ra. Utsman sendiri terdiam karenanya. Umar bin Khattab ra tidak terima beliau wafat dengan menyebut-nyebut kepada kaum muslimin bahwa Muhammad tidak wafat. Tapi ia pergi sebentar kepada Tuhannya seperti halnya nabi Musa alaihissalam. Dan kelak akan kembali lagi ke dunia ini. (Lihat Kitab al-Awashim minal Qowashim hal. 38)
Sementara Abu Bakar tetap tenang, tegar dan ridho. Baik ketika melepas kekasihnya, Rasulullah saw ataupun ketika menghadapi ‘sikap’ Umar yang tidak terima kepergian Rasulullah.
3. Terputusnya kebaikan dan awal berkurangnya segala kebaikan manusia.
Tentu saja kewafatan Rasulullah sebagai nabi akhir zaman dan pembawa petunjuk Allah meninggalkan jejak yang begitu menyedihkan. Bagaimana tidak? Al-Qur’an sebagai petunjuk dan sumber kebaikan telah terputus dari tengah-tengah hausnya para sahabat dan umat Islam.
Begitu pula, wafatnya beliau menandakan awal dari kurangnya kebaikan dan awal dari proses pergiliran munculnya kejahatan. Baca kembali bagaimana guncangnya dunia Arab. Yang paling parah adalah munculnya kaum murtaddin (orang-orang murtad) dari agama Allah.
Umat Islam saat itu bagaikan anak-anak domba di malam hari karena kehilangan nabinya. (Siroh Ibnu Hisyam)
Lalu bagaimana sebagai umat Rasulullah yang hidup di akhir zaman kita berbuat?
Hanya ada satu jawaban. Yakni kembali kepada al-Qur’an. Membaca, merenungi, menghayati dan menghafalkannya semampu mungkin. Insya Allah dengan melakukan interaksi intensif seperti ini kelangsungan wahyu Allah akan tetap kita rasakan. Kebaikan pun pasti selalu peroleh lewat tadabbur dan penghayatan yang mendalam. Karena memang al-Qur’an ini akan selalu relevan dengan waktu dan zaman. Hafalkan al-Quran sebanyak dan semampu kita. Jangan lewatkan ia sebagai wirid harian bagi anda yang sudah hafal beberapa juz dan halaman.
Dari tadabbur dan interaksi yang baik ini, akan lahir keinginan untuk meniti siroh beliau saw dalam amaliah praktek operasional. Tanpa hadits-hadits nabi yang shahih tidak ada petunjuk Allah yang bisa kita timba. Karena siroh Rasulullah bagaikan buku panduan sebuah barang baru yang telah kita beli. Tanpa buku panduan itu mustahil kita bisa benar dalam menggunakan barang baru itu. Atau mungkin malah rusak tidak karuan.
Begitu pula peran sunnah, hadits dan siroh Rasulullah yang harum dan mutawatir. Rasulullah saw telah wafat, wahyu sudah terputus, kebaikan sudah mulai berkurang dan banyak umat, paham dan aliran muncul ke permukaan hidup manusia. Hingga saat ini dan sampai akhir zaman nanti. Mari kita pegang kuat-kuat pesan Rasulullah saw yang sudah wafat dan meninggalkan kita untuk tetap setia dan komitmen bersama al-Qur’an dan sunnah. Insya Allah nuansa wahyu, kenabian dan kebaikan Allah selalu bersama kita. Amiin.
Wallahu a’lam bish-showab.
sumber : http://www.fimadani.com
Godaan Setan Terhadap Pembaca Al Quran
Iblis telah bersumpah atas nama Allah untuk menyesatkan manusia dan menggiring mereka ke neraka. Ia tidak akan membiarkan generasi umat ini mewariskan Al Quran kepada generasi selanjutnya. Ia tidak ingin keimanan mereka tumbuh agar mereka mudah tergoda, tidak ingin mereka berada di jalan yang lurus, dan tidak ingin mereka masuk surga.
Iblis sudah mengetahui betapa hebat pengaruh Al Quran terhadap generasi sahabat Rasulullah saw. Jika hal itu juga terjadi pada generasi selanjutnya (dan umat ini secara keseluruhan) jelas akan mempersulit langkah iblis menggoda umat. Sementara, iblis sama sekali tak mungkin merekayasa Al Quran, sebab Allah sendiri yang menjamin akan menjaganya.Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al Quran, dan sungguh Kami pula yang akan menjaganya.“(QS Al Hijr: 9).
Lalu, apa yang dilakukan setan terhadap Al Quran?!
Setan melancarkan aksinya sedikit demi sedikit. Pelan-pelan, ia menjauhkan umat Islam dari Al Quran. Pun jika ada yang berinteraksi dengannya, itu pada hal-hal yang tidak substantif. Al Quran hadir di tengah umat dalam bentuk mushaf, namun nilai-nilainya hilang tanpa berbekas. Umat tidak menyadari jika Al Quran sesungguhnya telah tersisih dalam kehidupan mereka.
Mushaf Al Quran dijumpai di mana-mana. Ayat-ayatnya berkumandang di mana-mana. Tak terhitung lembaga yang telah berhasil mencetak puluhan ribu para penghafal Al Quran. Sepanjang bulan Ramadhan, umat Islam rajin membacanya, berlomba-lomba mengkhatamkannya sebanyak mungkin untuk mendapatkan kebaikan dan pahalanya.
Itulah yang terjadi di tengah-tengah umat saat ini. Umat lebih menaruh perhatian kepada mushaf, bacaan dan hafalan Al Quran. Ketika ada seruan untuk kembali kepada nilai-nilai hakiki Al Quran, tidak ada respon dari mereka. Mereka tuli. Bahkan, dengan bangga mereka berkata, “Apalagi yang harus kami lakukan terhadap Al Quran setelah apa yang sudah kami lakukan sekarang? Bukankah jerih payah dan usaha keras kami sudah cukup?”
Tipu Daya Iblis
Setan benar-benar telah berhasil membuat umat Islam secara pelan-pelan berpaling dan tak lagi mau memetik manfaat Al Quran. Itu tidak terjadi hanya dalam sehari, tetapi melalui proses dan telah berlangsung berabad-abad hingga sampai ke masa kita sekarang ini.
Yang dijadikan pintu masuk tipu daya setan adalah kebodohan dan hawa nafsu. Dari dua pintu itu muncul pintu-pintu lain yang mengantarkan seseorang ke tujuan yang diinginkan setan.
Sebenarnya setan tidak mempunya kekuatan langsung atas diri manusia. Kekuatan setan akan berpengaruh hanya jika bertemu hawa nafsu atau kebodohan. Buta terhadap hakikat dan tujuan Al Quran adalah pintu besar tempat setan masuk untuk membujuk dan memperdayai manusia.
Pintu-pintu yang merupakan cabang dari dua pintu utama di atas -kebodohan dan hawa nafsu- sungguh tak terhitung jumlahnya. Semua menuju satu titik: membuat manusia berpaling dan tidak memetik manfaat hakiki Al Quran.
Setan Pantang Menyerah
Yang pertama kali dilakukan setan agar umat Islam tak menghidupkan Al Quran adalah membujuk mereka untuk tidak membacanya, atau berbuat mereka menunda-nunda membacanya, atau menyibukkan mereka dengan pekerjaan lain.
Jika tak mampu menahan umat membaca Al Quran, setan akan menggoda mereka dengan membuat mereka lelah dan mengantuk, atau mendorong mereka membacanya karena hawa nafsu mendapatkan pahala tanpa merenungkan maknanya, atau membuat lidah mereka sulit membaca ayat-ayat, atau mengingatkan mereka tentang urusan-urusan lain sehingga mereka segera mengurungkan niat membacanya, atau mengarahkan mereka berfokus hanya kepada cara baca yang bagus.
Ibnu Hubairah mengatakan, di antara tipu daya setan adalah menjauhkan orang dari kemauan merenungi Al Quran. Setan tahu, petunjuk kebenaran Al Quran diraih dengan cara merenunginya. Setan berbisik, “Bahaya!” Orang pun akan berkata, “Aku tidak membaca Al Quran justru karena berhati-hati.” (Tadabbur Al Quran, Al Sunaidi, hal 48, dinukil dari Dzayl Thabaqot Al Hanabilah, Ibnu Rajab, 3/273).
Imam Al Ghazali berkata, “Di antara cara setan menjadikan orang-orang tidak mempedulikan kandungan Al Quran adalah membuat mereka menekuni secara berlebihan tata cara baca Al Quran. Setan selalu membisikkan bahwa mereka salah membaca huruf-huruf. Jika sudah begitu, bagaimana mereka punya waktu untuk mengungkap kandungan makna Al Quran?! Setan akan tertawa gembira.” (Ihya Ulumuddin, 1/439. 440)
Dalam kesempatan lain Al Ghazali berkata, “Jika merenungi petunjuk Nabi soal membaca Al Quran, bagaimana beliau tak menyalahkan model-model bacaan para sahabat, kita akan tahu, perhatian berlebihan terhadap cara membaca huruf Al Quran bukan termasuk hal yang pernah dicontohkan beliau.”(Ighatsah Al Lahfan, 1/254)
Setan Pasti Menggoda
Sudah menjadi janji setan bahwa ia akan menjauhkan umat dari pengaruh Al Quran -sejak surah pertama turun sampai kapan pun, agar mereka tersesat dari jalan yang lurus. Kita pun menjadi paham kenapa hanya ketika hendak membaca Al Quran saja seseorang diperintahkan membaca doa ta’awwudz atau memohon perlindungan dari godaan setan.
Allah berfirman, “Jika hendak membaca Al Quran, mohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”(QS An Nahl: 98)
Suatu perintah khusus yang tidak dikaitkan dengan ritual lain seperti berzikir, berpuasa, bersedekah dan sebagainya.
Ini menjadi bukti jika setan akan selalu berusaha menjauhkan manusia dari Al Quran, menghalangi mereka memetik manfaat darinya. Setan tahu nilai yang dikandung Al Quran, kemampuannya menjadi terapi jiwa dan mengubah keadaan seseorang.
Ibnu Qayyim -rahimahullah- mengatakan, “Setan menyeret pembaca Al Quran dengan sekawanan kuda sampai pembaca itu lupa pada tujuan pokok Al Quran: untuk direnungkan, dipahami, dan diketahui kehendak Allah terhadap Al Quran. Setan akan menghalangi pembaca untuk memahami tujuan Al Quran, sehingga ia tidak dapat memetik manfaat secara maksimal darinya. Itu sebabnya kita diperintahkan memohon perlindungan Allah dari setan ketika hendak membaca Al Quran.”( Ighatsah Lahfan, 1/149)
Kita jadi mengerti mengapa ketika hendak membaca Al Quran terkadang kita teringat hal-hal yang sebelumnya tidak terpikirkan, membuat kita bingung, tenggelam memikirkannya, sampai kemudian tidak jadi membacanya. Atau terkadang kita tiba-tiba terserang kantuk ketika memulai membacanya.
sumber : http://www.fimadani.com
Minggu, 30 Oktober 2011
Ingin Berumur Panjang, Menikahlah!
Ternyata, menikah bukan hanya sebuah penyaluran sifat fitrah manusia,
namun sangat bagus dari segi kesehatan. Sebuah penelitian menunjukkan
menikah dapat memperpanjang umur seseorang hingga 17 tahun. Luar biasa
kan?
“The American Journal Of Epidemiology” merilis berbagai data hasil
dari 90 penelitian yang dilakukan para peneliti dari University of
Louisville. Ternyata pria lajang memiliki risiko kematian 32 % lebih
tinggi dibandingkan pria yang menikah. Itu artinya, mereka kemungkinan
meninggal 8 – 17 tahun lebih cepat dari rata-rata pria yang sudah
menikah. Penilitian juga menunjukkan bahwa wanita lajang memiliki
harapan hidup sebanyak 23 %, atau 7 – 15 tahun lebih rendah dibandingkan
mereka yang telah memiliki pasangan hidup.
Para lajang yang masih muda punya resiko kematian dini yang lebih
tinggi lagi. Resiko kematian untuk mereka yang masih lajang dan berusia
30-39 tahun sebesar 128 % lebih tinggi dibandingkan mereka yang sudah
menikah dengan kisaran umur yang sama. Di sisi lain, para lajang yang
sudah berusia 70 tahun hanya memiliki resiko kematian 16 % lebih tinggi.
Mungkin ini disebabkan karena mereka telah “sukses” melalui masa lajang
di usia muda (baca ulasannya di
http://id.berita.yahoo.com/menikah-bikin-umur-lebih-panjang.html).
Hal ini semakin menguatkan pemahaman bahwa menikah adalah jalan
penyaluran fitrah kemanusiaan. Pernikahan merupakan sebuah ajaran yang
sesuai dengan fitrah manusia, yang akan menghindarkan manusia dari
penyimpangan. Baik penyimpangan yang disebabkan karena kecenderungan
nafsu yang dibebaskan, maupun karena dikekangnya kecenderungan nafsu
tanpa adanya penyaluran. Agama telah memberikan jalan keluar yang sangat
manusiawi berupa pernikahan.
Ketika gejolak syahwat dibiarkan bebas untuk memilih cara penyaluran,
akan berdampak kepada berkembangnya berbagai penyakit seksual menular
yang telah terbukti melemahkan kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.
Penyakit AIDS merupakan salah satu contohnya. Penyakit ini telah menjadi
momok yang menakutkan di kalangan para pemuja kebebasan, pada saat yang
sama menjadi ancaman bagi kekokohan dan ketahanan sosial secara lebih
luas. Menyalurkan kecenderungan nafsu secara liar dan bebas, tanpa
aturan dan etika moral, terbukti telah mempercepat kematian.
Namun jika kecenderungan syahwat dikekang dan dimatikan tanpa
penyaluran, hal inipun membahayakan kesehatan jiwa. Fitrah manusia
menjadi tidak tersalurkan, dan memunculkan desakan keinginan yang
terpendam. Kecuali apabila mereka bisa menyalurkan dengan jalan iman,
sehingga tetap memiliki ruang penyaluran yang bercorak spiritual.
Apabila tidak ada ruang penyaluran sama sekali, yang terjadi hanyalah
ketidakseimbangan yang berdampak kepada kesehatan jiwa. Sumbatan ini
bisa membuat keguncangan jiwa, karena tumpukan keinginan tanpa ada jalan
penyaluran.
Hasil penelitian sosial sudah barang tentu sangat relatif, tidak bisa
dijadikan sebagai acuan yang bersifat mutlak. Kita tidak dituntut untuk
“beriman” dengan hasil penelitian. Namun penelitian di atas bisa
memberikan gambaran dan penjelasan yang lebih rasional tentang manfaat
pernikahan secara lebih akademis. Bukan hanya tinjauan agama, moral,
sosial dan psikologi, namun bahkan dikuatkan dengan tinjauan ilmiah
hasil dari serangkaian studi dan riset.
Maka, jika ingin berumur panjang, menikahlah wahai para bujangan.
Survei telah memberikan data dan hasilnya. Tinggal kita melaksanakan
sesuai ketentuan agama, dan sesuai pula dengan aturan dari negara.
3 langkah kebahagiaan dalam Rumah Tangga
وَمِنْ
ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا
إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ
لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (الروم21(
“Dan di antara
tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri
dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berfikir.” Ar Rum:21Menikah Bukti Keagungan Allah
Ayat ini sebenarnya bagian dari cerita tanda-tanda keagungan Allah swt. dan kekuasaan-Nya. Bahwa semua yang ada di langit dan di bumi dan segala yang terjadi datang dari-Nya. Termasuk diciptakannya manusia berpasang-pasangan yang dengannya terjadi kelanjutan hidup, seperti yang disebutkan pada ayat di atas. Karenanya hakikat pernikahan dan rumah tangga bagi Allah swt. adalah ikatan yang sangat agung. Karena dengannya nampak keagungan-Nya.
Sebaliknya, ketika manusia hidup di alam perzinaan, yang nampak hanyalah kebinatangan. Bila kebinatangan yang menonjol dalam hidup manusia, kerusakan pasti akan meraja lela. Paling tidak yang pertama kali hancur adalah kemanusiaan. Manusia tidak lagi perduli dengan rumah tangga. Bila rumah tangga hancur, garis nasab akan hilang. Lama ke lamaan manusia tidak tahu lagi siapa sebenarnya yang ia gauli. Tidak mustahil suatu saat – bahkan ini sudah banyak terjadi – akan lahir seorang anak dari hubungan ayah dengan anaknya, atau hubungan ibu dengan anaknya, atau hubungan antara saudara seayah dan sebagainya.
Karena itu pada ayat di atas, Allah swt. menjadikan hakikat berpasang-pasangan sebagai bukti keagungan-Nya, supaya manusia tidak begitu mudah merendahkan dirinya dengan menganggap bahwa berhubungan dengan siapa saja boleh-boleh saja. Tidak, janganlah sekali-kali perbuatan ini dilakukan. Sebab dengan melakukan perzinaan seseorang tidak saja mengahancurkan kemanusiaannya sendiri melainkan lebih dari itu ia telah merendahkan Allah swt. dengan meremehkan tanda-tanda keagungan-Nya.
Jelasnya bahwa dari ayat di atas setidaknya ada tiga langkah yang bisa kita bahas secara mendalam dalam tulisan ini untuk mencapai kebahagiaan dalam rumah tangga:
(a) Bangun Jiwa Sakinah
(b) Hidupkan Semangat Mawaddah
(c) Pertahankan Spirit Rahmah.
Dan
ketiga langkah ini adalah bekal utama setiap rumah tangga. Bila salah
satunya hilang, rumah tangga akan rapuh dan mudah retak. Karena itu
hendaklah ketiga langkah tersebut benar-benar dicapai secara maksimal,
atau paling tidak mendekatinya.Bangun Jiwa Sakinah
Allah berfirman: litaskunuu ilaihaa, artinya agar kau berteduh wahai para suami kepada istrimu. Kata litaskunuu diambil dari kata sakana yaskunu artinya berdiam atau berteduh. Dari kata sakana ini di ambil istilah sakinah yang kemudian diartikan tenang. Memang bisa saja kata sakana diartikan tenang, tetapi pengertian dalam ayat ini lebih dalam lagi dari sekedar tenang.
Syaikh Ibn Asyur dalam tafsirnya At Tahrir wat Tanwiir mengartikan kata litaskunuu dengan dengan tiga makna:
(1) lita’lafuu artinya agar kamu saling mengikat hati, seperti uangkapan ta’liiful quluub. Dalam surah Al Anfal: 63 Allah berfirman: wa allafa baina quluubihim (Dialah Allah yang telah mempersatukan hati di antara mereka). Dengan makna ini maka antara suami istri hendaknya benar-benar membangun ikatan hati yang kuat. Dan sekuat-kuat pengikat hati adalah iman. Maka semakin kuat iman seseorang, semakin kuat pula ikatan hatinya dalam rumah tangganya. Sebaliknya semakin lemah iman seseorang, bisa dipastikan bahwa rumah tangga tersebut akan rapuh dan mudah retak.
(2) Tamiiluu ilaihaa artinya kau condong kepadanya. Condong artinya pikiran, perasaan dan tanggung jawab tercurah kepadanya. Dengan makna ini maka suami istri bukan sekedar basa-basi untuk bersenang-senang sejenak. Melainkan benar-benar dibangun di atas tekad yang kuat untuk membangun masa depan rumah tangga yang bermanfaat. Karenanya harus ada kecondongan dari masing-masing suami istri. Tanpa kecondongan pasti akan terjadi keterpaksaan.
Karena itu orang tua jangan memaksakan kehendaknya jika memang ternyata dalam diri anaknya tidak ada kecondongan. Saya sering menemukan seorang anak muda mengeluh karena dipaksa orang tuanya untuk menikah dengan si fulanah. Sementara dalam diri anak muda tersebut tidak ada kecondongan sama sekali. Tapi orang tuanya mengancam dan bahkan menganggap ia bukan anaknya jika tidak mengikuti keinginannya.
Ini tentu sikap yang tidak pada tempatnya. Orang tua harus tahu bahwa sakinah dalam rumah tangga tidak akan di capai tanpa adanya kecondongan. Pun orang tua harus tahu bahwa yang akan hidup bersama istrinya adalah sang anak. Maka tidak benar menggunakan kartu merah orang tua, untuk memaksakan kecondongannya supaya anak mengikutinya.
Seringkali rumah tangga hancur karena orang tua tidak meperhatikan kecondongan sang anak. Karena itu untuk membangun sakinah harus ada dalam diri masing-masing suami istri kecondongan.
(3) Tathma’innuu biha artinya kau merasa tenang dengannya.
Dalam surah Ar Ra’d:28 Allah berfirman: alaa bidzikrillahi tathma’innul quluub (Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram). Dari sini nampak bahwa untuk mencapai ketenangan dalam rumah tangga hanya dengan banyak berdzikir kepada Allah.
Para ulama menyebutkan bahwa dzikir ada tiga dimensi: dzikurullisan (dzikir dengan lidah), dzikrul qalb (dzikir dengan hati) maksudnya hatinya selalu sadar dan ingat kepada Allah, dan dzikrul haal (dzikir dengan perbuatan), maksudnya seluruh perbuatannya selalu dalam ketaatan kepada Allah swt. Maka sungguh tidak mungkin mencapai sakinah rumah tangga yang penuh dengan kemaksiatan kepada Allah swt.
Termasuk kemaksiatan ketika masing-masing suami suka berbohong. Banyak rumah tangga yang retak karena ketidak jujuran masing-masing suami istri. Bila seorang suami suka berbohong pasti sang istri akan gelisah. Selanjutnya ketenangan akan hilang dalam rumah tangga. Sebaliknya bila istri suka berbohong, sang suami pasti tidak akan merasa tenang bersamanya. Bila suami tidak tenang, bisa jadi kelak rumah tangga akan terancam. Dari sini perceraian demi perceraian terjadi. Asal muasalnya karena kebiasaan tidak jujur dan dosa-dosa.
Hidupkan Semangat Mawaddah
Mawaddah artinya cinta. Imam Hasan Al Bashri mengartikan kata mawaddah sebagai metafor dari hubungan seks. Jelasnya bahwa mawaddah adalah perasaan cinta dan senang dengannya rumah tangga menjadi bergairah dan penuh semangat. Tanpa mawaddah rumah tangga akan kering. Mawaddah biasanya sangat personal. Ia tidak tergantung kepada kecantikan istri atau ketampanan suami. Boleh jadi di mata banyak orang wanita itu tidak cantik, tetapi sang suami sangat mencintainya. Pun boleh jadi wanita itu disepakati sebagai wanita cantik, tetapi sang suami ternyata sangat membencinya.
Sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa cinta biasanya sering menggebu di masa muda atau di awal-awal pernikahan. Lama ke lamaan setelah masuk dalam rutinitas rumah tangga, getaran cinta menjadi melemah. Karenanya Allah swt. bekali rahmah sebagai pengimbangnya, supaya ketika sinyal cinta mulai redup, masih ada semangat rahmah yang akan menyelamatkan rumah tangga tersebut. Lain halnya dengan orang-orang yang membangun rumah tangga hanya dengan modal cinta, rumah tangga rentan mudah roboh dan tidak kokoh.
Ibarat mesin, mawaddah adalah dinamo penggerak yang mengairahkan. Dengan mawaddah rumah tangga menjadi dinamis dan produktif. Sebaliknya bila jiwa mawaddah hilang, rumah tangga akan menjadi monoton tanpa dinamika sama sekali. Dalam penelitian saya minimal ciri mawaddah ada tiga:
(a) Katsratut tahaady (selalu saling memberi hadiah), karena seperti kata Nabi saw. dengan saling memberi hadiah cinta akan selalu hangat.
(b) Katsratu dzikrihi (selalu saling mengingat kebaikannya). Sebab dengan mengingat kebaikannya seseorang akan selalu merasa berhutang budi. Hindari melihat keburukan dan kekurangannya, karena itu akan menumbuhkan kebencian dan perselisihan tiada henti.
(c) Katsratul ittishaali ma’ahu (selalu saling berkomunikasi) sebab dari kemunikasi akan hilang prasangka. Banyak hal yang sebenarnya dimaksudkan untuk kebaikan, tetapi karena lemahnya komunikasi seringkali kesalahpahaman terjadi.
Pertahankan Spirit Rahmah
Rahmah artinya kasih sayang, diambil dari kata rahima yarhamu. Dari kata ini pula diambil kata ar rahmaan salah satu nama Allah swt. Bahwa Allah Maha Penyayang. Para ahli tafsir mengatakan bahwa rahman-Nya Allah meliputi seluruh mahluk-Nya: manusia, binatang, dan mahluk-mahluk lainnya. Termasuk orang-orang yang tidak beriman, karenanya mereka masih bisa hidup dan bisa menikmati fasilitas kehidupan dari Allah, padahal mereka setiap hari tidak mentaati-Nya. Kata rahmah lebih bermakna kesungguhan untuk berbuat baik kepada orang lain, apa lagi kepada keluarga.
Memang setiap orang mempunyai kekurangan, dan tidak ada seorang pun yang mecapai kesempurnaan. Maka jika setiap manusia selalu mempersepsikan adanya pasangan yang sempurna, pasti pada akhirnya ia tidak akan pernah punya pasangan. Dalam pepatah Arab dikatakan: “Man talaba akhan bilaa ‘aibin laqiya bilaa akhin (orang yang mencari kawan tanpa cacat, pasti pada akhirnya ia tidak akan punya kawan).
Kata rahmah lebih mencerminkan sikap saling memahami kekuarangan masing-masing lalu berusaha untuk saling melengkapi. Sikap rahmah menekankan adanya sikap saling tolong menolong dalam bersinergi, sehingga kekurangan berubah menjadi kesempurnaan.
Sikap rahmah seringkali berperan ketika semangat cinta mulai menurun. Biasanya itu terjadi setelah usia suami istri sama-sama mencapai tahap tua. Cucu sudah mulai banyak. Badan banyak sakit-sakitan. Pada saat itu kebertahanan rumah tangga sangat ditopang oleh kekuatan rahmah (kasih sayang).
Karena itu mawaddah dan rahmah ibarat dua sayap bagi burung. Bila kedua sayap itu berfungsi dengan baik, maka rumah tangga akan berjalan penuh kebahagiaan. Ibarat burung terbang di angkasa, ia menikmati keindahan alam semesta dan penuh dengan kelapangan dada. Tanpa sedikit pun ada beban di hatinya. Terbang ke mana saja ia mau, tidak ada hambatan dan kesulitan.
Kesadaran Akhirat
Pada penutup ayat di atas Allah swt. berfirman: inna fiidzaalika laayatil liqawmiyyatafakkaruun maksudnya bahwa itu semua merupakan bukti bagi orang-orang yang berpikir. Yaitu orang-orang yang menggunakan akalnya untuk memahami ajaran Allah swt.
Dalam Al Qur’an
banyak sekali penegasan bahwa kelak di hari Kiamat banyak manusia
menyesal karena selama di dunia tidak menggunakan akalnya. Allah swt.
berfirman,
“Dan mereka berkata:
“Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya
tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” Al Mulk:10
Dari
sini nampak bahwa yang membedakan antara manusia dan mahluk lainnya
adalah karena manusia Allah bekali akal. Dan di antara ciri orang-orang
berakal bahwa ia selalu menegakkan kedamaian dalam hidupnya terutama
minimal dalam rumah tangganya. Maka ketika ia tidak bisa membangun
kedamaian dalam rumah tangganya, bisa dipastikan ia akan gagal dalam
lapangan kehidupan yang lain.
Kesadaran akhirat seperti inilah yang harus selalu dicamkan oleh setiap suami istri, karena hanya dengan kesadaran ini semua prilaku akan menjadi baik dan rumah tangga akan dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Wallahu’ alam bishshwab.
Sumber:klik disini
Bagaimana Berdandan ala Al-Qur’an?
Di setiap kesempatan manusia senantiasa ingin memperlihatkan
penampilan baik mereka. Namun, sering kali kita merasakan keanehan dalam
diri jika tampil tidak layak, beda dengan penampilan yang lahir dari
kehendak hati nurani dan fitrah kita sendiri. Olehnya itu, Al-Qur’an
sejak dini meletakkan petunjuk kehidupan bagi mereka yang ingin tampil
dengan menampilkan keindahan pesona Al-Qur’an, dan memberikan cerminan
hidup bagi mereka yang ingin menangkap sinyal-sinyal keindahan dan
kesempurnaan penciptaan Allah SWT.
Petunjuk dan cerminan hidup ini disimpulkan dalam firman-Nya berikut ini:
وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ
“Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. al-A’raf [7]: 26)
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ
Dan firman-Nya:
“Dan berbekallah! Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”. (QS. al-Baqarah [2]: 197)
Ayat
pertama masih dalam rangkaian alur cerita Nabi Adam dan istrinya Hawa
yang dikeluarkan dari surga setelah menanggalkan dari diri mereka
pakaian ketaqwaan karena tergoda oleh rayuan manis setan yang
menjanjikan kekekalan abadi di surga tersebut, sebab dari nampaknya aib
dan aurat mereka berdua.
Para pakar tafsir berbeda pendapat dalam memaknai kalimat (لِبَاسُ التَّقْوَى), pakaian ketaqwaan. Ini dapat dilihat di tafsir Imam Ibn Jarir at-Thabari sebagaimana berikut:
“Di antara mereka ada yang menafsirkan (لِبَاسُ التَّقْوَى) dengan iman, seperti Qatâda,
as-Sudiyyi, dan Ibn Juraij. Ada juga dari mereka yang memaknainya
dengan makna malu, seperti: Ma’bad al-Juhni. Ada pula yang
mengartikannya dengan amal shalih, seperti: Ibn Abbâs.
Sementara itu, di periwayatan lain beliau menafsirkannya dengan pribadi
baik, dan Urwah bin az-Zubair sendiri dengan takut kepada Allah.
Penafsiran-penafsiran ini diperkaya dengan penafsiran Ibn Zaid yang
lebih memilih makna menutup aurat terhadap kalimat tersebut.”[[1]]
Penafsiran
terhadap kalimat ini tidak berhenti sampai di sini. Di sana ada
kelompok lain yang menyuguhkan terhadapnya makna alat-alat perang,
seperti perisai dan baju perang. Di antara mereka itu: Zaid bin Ali bin
al-Husain dan Abu Muslim al-Ashfahâni.[[2]]
Penafsiran ini dilegitimasi Ustadz Muhammad Rasyid Ridha dalam pernyataannya berikut ini:
“Tidak
ada larangan bagi kami untuk mempergunakan ketaqwaan dalam kedua makna
tersebut: ketaqwaan terhadap Allah dengan iman dan amal shalih, dan
takut terhadap ancaman musuh dengan mengenakan baju besi dan perisai.
Pemaknaan ini boleh-boleh saja dilihat dari kata at-Taqwa itu sendiri (التَّقْوَي) yang mempunyai makna ganda: makna hakiki dan majazi.”[[3]]
Hemat
penulis, dengan mengedepankan makna yang dikehendaki sistematika
Al-Qur’an, maka makna yang paling sesuai dengan konteks cerita Nabi Adam
dan Hawa adalah makna ketaqwaan yang meliputi seluruh perilaku dan
sifat terpuji, seperti yang dinukil al-Hafidzh Ibn Jarir at-Thabari dari
para pakar tafsir terdahulu.
Jika ada yang bertanya dan berkata:
“Kenapa Anda lebih cenderung memilih makna tersebut, bukan makna lain?
Bukankah makna-makna tersebut layak mewakili penafsiran terhadap
ketaqwaan yang ada pada (لِبَاسُ التَّقْوَى)?”
Kepada Anda ayat ini memberikan jawaban seperti ini:
“Kata tunjuk (ذَلِكَ)
dipergunakan untuk menunjuk sebuah benda yang berada di tempat yang
jauh dari orang yang sedang menunjuknya. Hematnya, kata ini tidak
dipergunakan kecuali untuk mengisyaratkan bahwa di sana ada dua pakaian:
pakaian yang menutupi aurat, dan pakaian ketaqwaan. Akan tetapi,
pakaian ketaqwaan jauh lebih baik dan mulia dari pakaian materi yang
hanya menutupi jasmani saja, pakaian yang setiap waktu ditanggalkan dan
usang. Olehnya itu, mengembalikan kata tunjuk tersebut kepada pakaian
ketaqwaan jauh lebih tepat dari makna-makna lain sesuai dengan konteks
sistematika cerita Adam dan Hawa.”
Jika Anda belum puas
dengan jawaban ini dan ingin bukti lain, maka ayat lain pun menjawab
keragu-raguan Anda sebagaimana berikut ini:
وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِّنْ عِندِ اللَّهِ خَيْرٌ ۖ لَّوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ ﴿١٠٣﴾
“Sesungguhnya
kalau mereka beriman dan bertaqwa, (niscaya mereka akan mendapat
pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik,
kalau mereka mengetahui.” (QS. al-Baqarah [2]: 103)
Hemat
penulis, pakaian materi hanya menutupi cacat dan aib lahiriah di dunia
saja, sedangkan, pakaian ketaqwaan menjaga Anda dari aib yang
menyebabkan murka Sang Maha Pencipta. Bukan hanya itu, pakaian ketaqwaan
sarana efektif dalam menjaga harkat dan martabat manusia untuk tidak
tercoreng oleh rasa malu dari dekadensi moral dan akhlaq. Jadi, pakaian
akhlaq selain memberikan rasa aman terhadap jiwa, ia juga menutupi aurat
lahiriah dengan sendirinya, meski kadang tidak disadari.
Syekh Mutawalli as-Sya’râwi berkata:
“Jika kita melihat ketelitian Al-Qur’an dalam memaparkan makna ayat di atas, maka kita menjumpai kalimat (مَثُوْبَة), yang artinya pahala, berasal dari makna sejenis kata (الثَّوْبُ),
yang berarti pakaian. Penjelasannya seperti ini: manusia dahulu kala
mengambil kulit binatang sebagai materi dasar terhadap pakaian mereka.
Pemilik binatang menyerahkan kulit yang telah disamak kepada mereka yang
pintar mengolahnya menjadi pakaian yang siap pakai. Proses seperti ini
dikatakan (مَثُوْبَة) karena
kebaikan kembali kepada pemilik bahan baku dari pakaian tersebut,
sehingga dengan sendirinya dia memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.
Demikian pula dengan pahala dari amal baik, ia senantiasa kembali
menyapa Anda dengan membawa mega kebaikan.
Berangkat dari
sini, Allah SWT memberitahu kita bahwa pakaian gunanya menutup aurat,
dan amal baik menutupi penyakit-penyakit maknawi dan kejiwaan dalam diri
manusia. Dan tentunya, Pakaian ketaqwaan jauh lebih baik dari pakaian
yang hanya menutupi aurat. Itu karena pahala ketaqwaan sendiri datang
langsung dari Allah SWT.”[[4]]
Tentunya,
dengan menelaah lebih jauh hakikat pemaparan Al-Qur’an tentang tema
ketaqwaan di kedua ayat tersebut, saya yakin keragu-raguan Anda pergi
dengan sendirinya. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan Anda untuk
bertanya dan berkata: “yah benar sekali, tetapi bagaimanakah cara
aku memakai pakaian-pakaian yang mahal dan indah itu tanpa menanggalkan
pakaian ketaqwaan dalam diriku. Bukankah puji diri kadang muncul di
balik rayuan keindahan penampilan dan berkata: “wahai diriku! Sungguh
indah penampilanmu dengan baju itu. Engkau akan tampil beda dan memukau
jika mengenakan kostum ini””
Ustadz Said Nursi menjawab pertanyaan Anda di salah satu pernyataan monumental beliau berikut ini:
“Sesungguhnya
tujuan terpenting dari penciptaan semua entitas kehidupan adalah
melihat Sang Maha Pencipta. Artinya, mereka dituntut memperlihatkan
kesempurnaan penciptaan diri mereka, ukiran-ukiran manifestasi
nama-nama-Nya (Asmaul husna), hikmah penciptaan, dan hadiah kasih
sayang-Nya yang sangat luas. Semuanya itu diperlihatkan di hadapan-Nya,
sehingga dengan sendirinya ia menjadi cermin yang melukiskan keindahan
dan kesempurnaan-Nya.”[[5]]
Hemat
penulis, tidak ada larangan terhadap seseorang untuk tidak memakai
jenis produk pakaian tertentu, selagi ia masih memenuhi standar syariat.
Akan tetapi, hendaknya penampilan itu tidak didasari oleh ujub dan rasa
percaya diri yang berlebihan, melainkan ia menjadi cermin terhadap
keindahan dan kesempurnaan penciptaan Allah kepada orang lain. Artinya,
Anda wajib berniat seperti ini di setiap kali dandan dan bersolek.
Karena hanya dengan itu, Anda akan mendapatkan pahala berpakaian yang
senantiasa dihiasi oleh ketaqwaan.
Kemudian, dengan dandanan
seperti ini orang lain bisa jadi menemukan pancaran ukiran-ukiran
manifestasi nama-nama Allah SWT yang bisa menuntun mereka untuk lebih
dekat lagi dengan-Nya. Karena dengan penampilan yang indah, orang lain
menemukan keindahan mutlak Sang Pencipta, keindahan itu tidak lain
kecuali percikan dari muara keindahan yang tidak kunjung habis,
keindahan yang tidak pernah menjenuhkan, dan keindahan yang memberitahu
bahwa yang indah itu tatkala Anda telah menemukan sumber keindahan itu
sendiri, bukan hanyut dari keindahan yang dibiaskan oleh materi
tertentu, dan terjebak oleh batasan ruang waktu dan tempat.
Selanjutnya,
dengan penampilan apik dan anggun, orang lain menemukan kesempurnaan
ciptaan-Nya. Mereka menyadari bahwa tidak satu pun dari anggota tubuh
Anda yang menunjukkan ketidakserasian dengan anggota tubuh lain sebelum
dan sesudah menghias diri. Setiap dari anggota tubuh itu terlihat oleh
mereka tersenyum dan berkata: “Wahai sobatku! Lihat aku dan temukan
kesempurnaan penciptaan Zat yang menciptakanku! Sungguh sangat jelas
bagimu, lebih jelas dari terik sinar matahari di siang hari. Adakah aku
mengganggu keindahan dan kesempurnaan penciptaan yang dilukiskan anggota
tubuh lain? Tentu tidak, karena tujuan terciptaku sama dengan tujuan
penciptaannya. Setiap dari kami melukiskan keindahan manifestasi
keagungan, kesempurnaan dan keindahan penciptaan-Nya. Jika Anda tidak
melihat itu atau sulit menangkap sinyal tersebut, maka bercerminlah
kepada dirimu sendiri, niscaya engkau akan menemukannya.”
Dan
jika engkau melihat kearifan budi, ketegasan sikap dan toleransi antar
sesama terpancar darinya, maka ketahuilah bahwa semua itu terilhami dari
pesan-pesan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW!
Di penghujung
tulisan singkat ini, saya mengajak pemerhati tema-tema keislaman untuk
menyuarakan makna yang dilukiskan ayat-ayat di atas:
“Anda
boleh saja bersolek dengan mode dan gaya apapun. Akan tetapi, hendaknya
dandanan itu menjadi cermin terhadap orang lain untuk melihat keindahan
Sang Maha Indah yang telah memberi Anda keindahan penciptaan. Anda jika
berhias, jangan lupa sertakan niat itu! Jangan bercermin hanya untuk
melihat keindahan wajah Anda sendiri, mempertontonkan keindahan yang
Allah titipkan di wajah itu kepada orang lain. Jika seseorang kagum
kepada ketampanan dan kecantikan Anda, maka kembalikan pujian itu kepada
Allah yang Maha Mulia dan berkata: (هَذَا مِنْ فَضْل رَبِّيْ)“, ini adalah kemuliaan dari Tuhan-Ku.”
Dengan sikap seperti ini, Anda senantiasa berpakaian dengan hiasan
ketaqwaan yang menjanjikan pahala tersendiri. Maka dari itu, mari kita
mengingat dan membaca doa di bawah ini setiap kali bercermin:
اللَّهُمَّ أَغْنِنِي بالعِلْمِ، وَزَيِّنِّي بِالحِلْم، وَأَكْرِمْنِي بِالتَّقْوَى، وَجَمِّلْنِي بِالْعَافِيَةِ.
“Ya
Allah, anugerahi aku ilmu, hiasi aku dengan kesopansantunan, muliakan
aku dengan ketaqwaan, dan percantik diriku dengan kesehatan, baik
jasmani maupun rohani.”
Sumber: klik disini
Label:
Akhlak,
Mawas Diri,
Tsaqafah Islamiyah,
wanita
Subhanallah, Fakta Mengagumkan Seputar Adzan
Pembahasan tentang 5 fakta mengagumkan seputar adzan berikut ini mungkin
bisa menambah wawasan anda terutama bagi anda yang beragama Islam.
Adzan adalah media luar biasa untuk mengumandangkan tauhid terhadap yang Maha Kuasa dan risalah (kenabian) Nabi Muhammad saw. Adzan juga merupakan panggilan shalat kepada umat Islam, yang terus bergema di seluruh dunia lima kali setiap hari.
Betapa mengagumkan suara adzan itu, dan bagi umat Islam di seluruh dunia, adzan merupakan sebuah fakta yang telah mapan. Indonesia misalnya, sebagai sebuah negara terdiri dari ribuan pulau dan dengan penduduk muslim terbesar di dunia.
1 . Kalimat Penyeru Yang Mengandung "Kekuatan Supranatural"
Ketika azan berkumandang, kaum yang bukan sekedar muslim, tetapi juga beriman, bergegas meninggalkan seluruh aktivitas duniawi dan bersegera menuju masjid untuk menunaikan salat berjamaah. Simpul-simpul kesadaran psiko-religius dalam otak mereka mendadak bergetar hebat, terhubung secara simultan, dan dengan totalitas kesadaran seorang hamba (abdi) mereka bersimpuh, luruh dalam kesyahduan ibadah shalat berjamaah.
2. Asal Mula Yang Menakjubkan:
Pada jaman dulu, Rasulullah Saw. kebingungan untuk menyampaikan saat waktu shalat tiba kepada seluruh umatnya. Maka dicarilah berbagai cara. Ada yang mengusulkan untuk mengibarkan bendera pas waktu shalat itu tiba, ada yang usul untuk menyalakan api di atas bukit, meniup terompet, dan bahkan membunyikan lonceng. Tetapi semuanya dianggap kurang pas dan kurang cocok.
Adalah Abdullah bin Zaid yang bermimpi bertemu dengan seseorang yang memberitahunya untuk mengumandangkan adzan dengan menyerukan lafaz-lafaz adzan yang sudah kita ketahui sekarang. Mimpi itu disampaikan Abdullah bin Zaid kepada Rasulullah Saw. Umar bin Khathab yang sedang berada di rumah mendengar suara itu. Ia langsung keluar sambil menarik jubahnya dan berkata: "Demi Tuhan Yang mengutusmu dengan Hak, ya Rasulullah, aku benar-benar melihat seperti yang ia lihat (di dalam mimpi). Lalu Rasulullah bersabda: "Segala puji bagimu." yang kemudian Rasulullah menyetujuinya untuk menggunakan lafaz-lafaz adzan itu untuk menyerukan panggilan shalat.
3. Adzan Senantiasa Ada Saat Peristiwa2 Penting:
Adzan Digunakan islam untuk memanggil Umat untuk Melaksanakan shalat. Selain itu adzan juga dikumandangkan disaat-saat Penting. Ketika lahirnya seorang Bayi, ketika Peristiwa besar .
Peristiwa besar yang dimaksud adalah
- Fathu Makah : Pembebasan Mekkah merupakan peristiwa yang terjadi pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H, dimana Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan, sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka'bah. Lalu Bilal Mengumandangkan Adzan Diatas Ka'bah
- Perebutan kekuasaan Konstatinopel : Konstantinopel jatuh ke tangan pasukan Ottoman, mengakhiri Kekaisaran Romawi Timur. lalu beberapa perajurit ottoman masuk kedalam Ramapsan terbesar Mereka Sofia..lalu mengumandangkan adzan disana sebagai tanda kemenagan meraka.
4. Adzan Sudah Miliyaran kali Dikumandangkan:
Sejak pertama dikumandangkan sampai saat ini mungkin sudah sekitar 1500 tahunan lebih adzan dikumandangkan. Anggaplah setahun 356 hari . berarti 1500 tahun X 356 hari= 534000 dan kalikan kembali dengan jumlah umat islam yang terus bertambah tiap tahunnya. Kita anggap umat islam saat ini sekitar 2 miliyar orang dengan persentase 2 milyar umat dengan 2 juta muadzin saja. Hasilnya =
534.000 x 2.000.000 = 1.068.000.000.000 dikalikan 5 = 5.340.000.000.000
5. Adzan Ternyata Tidak Pernah Berhenti Berkumandang
Proses itu terus berlangsung dan bergerak ke arah barat kepulauan Indonesia. Perbedaan waktu antara timur dan barat pulau-pulau di Indonesia adalah satu jam. Oleh karena itu, satu jam setelah adzan selesai di Sulawesi, maka adzan segera bergema di Jakarta, disusul pula sumatra. Dan adzan belum berakhir di Indonesia, maka ia sudah dimulai di Malaysia. Burma adalah di baris berikutnya, dan dalam waktu beberapa jam dari Jakarta, maka adzan mencapai Dacca, ibukota Bangladesh. Dan begitu adzan berakhir di Bangladesh, maka ia ia telah dikumandangkan di barat India, dari Kalkuta ke Srinagar. Kemudian terus menuju Bombay dan seluruh kawasan India.
Srinagar dan Sialkot (sebuah kota di Pakistan utara) memiliki waktu adzan yang sama. Perbedaan waktu antara Sialkot, Kota, Karachi dan Gowadar (kota di Baluchistan, sebuah provinsi di Pakistan) adalah empat puluh menit, dan dalam waktu ini, (Dawn) adzan Fajar telah terdengar di Pakistan. Sebelum berakhir di sana, ia telah dimulai di Afghanistan dan Muscat. Perbedaan waktu antara Muscat dan Baghdad adalah satu jam. Adzan kembali terdengar selama satu jam di wilayah Hijaz al-Muqaddas (Makkah dan Madinah), Yaman, Uni Emirat Arab, Kuwait dan Irak.
Perbedaan waktu antara Bagdad dan Iskandariyah di Mesir adalah satu jam. Adzan terus bergema di Siria, Mesir, Somalia dan Sudan selama jam tersebut. Iskandariyah dan Istanbul terletak di bujur geografis yang sama. Perbedaan waktu antara timur dan barat Turki adalah satu setengah jam, dan pada saat ini seruan shalat dikumandangkan.
Iskandariyah dan Tripoli (ibukota Libya) terletak di lokasi waktu yang sama. Proses panggilan Adzan sehingga terus berlangsung melalui seluruh kawasan Afrika. Oleh karena itu, kumandang keesaan Allah dan kenabian Muhammad saw yang dimulai dari bagian timur pulau Indonesia itu tiba di pantai timur Samudera Atlantik setelah sembilan setengah jam.
Sebelum Adzan mencapai pantai Atlantik, kumandang adzan Zhuhur telah dimulai di kawasan timur Indonesia, dan sebelum mencapai Dacca, adzan Ashar telah dimulai. Dan begitu adzan mencapai Jakarta setelah kira-kira satu setengah jam kemudian, maka waktu Maghrib menyusul. Dan tidak lama setelah waktu Maghrib mencapai Sumatera, maka waktu adzan Isya telah dimulai di Sulawesi! Bila Muadzin di Indonesia mengumandangkan adzan Fajar, maka muadzin di Afrika mengumandangkan adzan untuk Isya.
Adzan adalah media luar biasa untuk mengumandangkan tauhid terhadap yang Maha Kuasa dan risalah (kenabian) Nabi Muhammad saw. Adzan juga merupakan panggilan shalat kepada umat Islam, yang terus bergema di seluruh dunia lima kali setiap hari.
Betapa mengagumkan suara adzan itu, dan bagi umat Islam di seluruh dunia, adzan merupakan sebuah fakta yang telah mapan. Indonesia misalnya, sebagai sebuah negara terdiri dari ribuan pulau dan dengan penduduk muslim terbesar di dunia.
1 . Kalimat Penyeru Yang Mengandung "Kekuatan Supranatural"
Ketika azan berkumandang, kaum yang bukan sekedar muslim, tetapi juga beriman, bergegas meninggalkan seluruh aktivitas duniawi dan bersegera menuju masjid untuk menunaikan salat berjamaah. Simpul-simpul kesadaran psiko-religius dalam otak mereka mendadak bergetar hebat, terhubung secara simultan, dan dengan totalitas kesadaran seorang hamba (abdi) mereka bersimpuh, luruh dalam kesyahduan ibadah shalat berjamaah.
2. Asal Mula Yang Menakjubkan:
Pada jaman dulu, Rasulullah Saw. kebingungan untuk menyampaikan saat waktu shalat tiba kepada seluruh umatnya. Maka dicarilah berbagai cara. Ada yang mengusulkan untuk mengibarkan bendera pas waktu shalat itu tiba, ada yang usul untuk menyalakan api di atas bukit, meniup terompet, dan bahkan membunyikan lonceng. Tetapi semuanya dianggap kurang pas dan kurang cocok.
Adalah Abdullah bin Zaid yang bermimpi bertemu dengan seseorang yang memberitahunya untuk mengumandangkan adzan dengan menyerukan lafaz-lafaz adzan yang sudah kita ketahui sekarang. Mimpi itu disampaikan Abdullah bin Zaid kepada Rasulullah Saw. Umar bin Khathab yang sedang berada di rumah mendengar suara itu. Ia langsung keluar sambil menarik jubahnya dan berkata: "Demi Tuhan Yang mengutusmu dengan Hak, ya Rasulullah, aku benar-benar melihat seperti yang ia lihat (di dalam mimpi). Lalu Rasulullah bersabda: "Segala puji bagimu." yang kemudian Rasulullah menyetujuinya untuk menggunakan lafaz-lafaz adzan itu untuk menyerukan panggilan shalat.
3. Adzan Senantiasa Ada Saat Peristiwa2 Penting:
Adzan Digunakan islam untuk memanggil Umat untuk Melaksanakan shalat. Selain itu adzan juga dikumandangkan disaat-saat Penting. Ketika lahirnya seorang Bayi, ketika Peristiwa besar .
Peristiwa besar yang dimaksud adalah
- Fathu Makah : Pembebasan Mekkah merupakan peristiwa yang terjadi pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H, dimana Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan, sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka'bah. Lalu Bilal Mengumandangkan Adzan Diatas Ka'bah
- Perebutan kekuasaan Konstatinopel : Konstantinopel jatuh ke tangan pasukan Ottoman, mengakhiri Kekaisaran Romawi Timur. lalu beberapa perajurit ottoman masuk kedalam Ramapsan terbesar Mereka Sofia..lalu mengumandangkan adzan disana sebagai tanda kemenagan meraka.
4. Adzan Sudah Miliyaran kali Dikumandangkan:
Sejak pertama dikumandangkan sampai saat ini mungkin sudah sekitar 1500 tahunan lebih adzan dikumandangkan. Anggaplah setahun 356 hari . berarti 1500 tahun X 356 hari= 534000 dan kalikan kembali dengan jumlah umat islam yang terus bertambah tiap tahunnya. Kita anggap umat islam saat ini sekitar 2 miliyar orang dengan persentase 2 milyar umat dengan 2 juta muadzin saja. Hasilnya =
534.000 x 2.000.000 = 1.068.000.000.000 dikalikan 5 = 5.340.000.000.000
5. Adzan Ternyata Tidak Pernah Berhenti Berkumandang
Proses itu terus berlangsung dan bergerak ke arah barat kepulauan Indonesia. Perbedaan waktu antara timur dan barat pulau-pulau di Indonesia adalah satu jam. Oleh karena itu, satu jam setelah adzan selesai di Sulawesi, maka adzan segera bergema di Jakarta, disusul pula sumatra. Dan adzan belum berakhir di Indonesia, maka ia sudah dimulai di Malaysia. Burma adalah di baris berikutnya, dan dalam waktu beberapa jam dari Jakarta, maka adzan mencapai Dacca, ibukota Bangladesh. Dan begitu adzan berakhir di Bangladesh, maka ia ia telah dikumandangkan di barat India, dari Kalkuta ke Srinagar. Kemudian terus menuju Bombay dan seluruh kawasan India.
Srinagar dan Sialkot (sebuah kota di Pakistan utara) memiliki waktu adzan yang sama. Perbedaan waktu antara Sialkot, Kota, Karachi dan Gowadar (kota di Baluchistan, sebuah provinsi di Pakistan) adalah empat puluh menit, dan dalam waktu ini, (Dawn) adzan Fajar telah terdengar di Pakistan. Sebelum berakhir di sana, ia telah dimulai di Afghanistan dan Muscat. Perbedaan waktu antara Muscat dan Baghdad adalah satu jam. Adzan kembali terdengar selama satu jam di wilayah Hijaz al-Muqaddas (Makkah dan Madinah), Yaman, Uni Emirat Arab, Kuwait dan Irak.
Perbedaan waktu antara Bagdad dan Iskandariyah di Mesir adalah satu jam. Adzan terus bergema di Siria, Mesir, Somalia dan Sudan selama jam tersebut. Iskandariyah dan Istanbul terletak di bujur geografis yang sama. Perbedaan waktu antara timur dan barat Turki adalah satu setengah jam, dan pada saat ini seruan shalat dikumandangkan.
Iskandariyah dan Tripoli (ibukota Libya) terletak di lokasi waktu yang sama. Proses panggilan Adzan sehingga terus berlangsung melalui seluruh kawasan Afrika. Oleh karena itu, kumandang keesaan Allah dan kenabian Muhammad saw yang dimulai dari bagian timur pulau Indonesia itu tiba di pantai timur Samudera Atlantik setelah sembilan setengah jam.
Sebelum Adzan mencapai pantai Atlantik, kumandang adzan Zhuhur telah dimulai di kawasan timur Indonesia, dan sebelum mencapai Dacca, adzan Ashar telah dimulai. Dan begitu adzan mencapai Jakarta setelah kira-kira satu setengah jam kemudian, maka waktu Maghrib menyusul. Dan tidak lama setelah waktu Maghrib mencapai Sumatera, maka waktu adzan Isya telah dimulai di Sulawesi! Bila Muadzin di Indonesia mengumandangkan adzan Fajar, maka muadzin di Afrika mengumandangkan adzan untuk Isya.
sumber : klik disini
Kualitas Ibu Menentukan Kualitas Anak
Kualitas Ibu Menentukan Kualitas Anak adalah tema Seminar Online
Kharisma pada pekan terakhir bulan Mei 2008. Diikuti lebih dari 50
peserta dari berbagai negara di dunia, di antaranya adalah Inggris,
Belanda, Jerman, Austria, Jepang, Australia dan tentunya Indonesia.
Acara ini di selenggarakan di Chatroom Paltalk dan Yahoo Messenger
selama kurang lebih 90 menit.
Tema tersebut dibawakan oleh Ibu Dra. Wirianingsih yang sangat
kompeten menceritakan pengalaman beliau dalam mendidik dan membesarkan
putra/i-nya hingga mereka terbukti tidak hanya berprestasi secara
akademik namun juga menjadi penghafal Al Qur’an. Dalam surat An Nisa’:
9, Allah mengingatkan agar orangtua tidak meninggalkan anak yang lemah
di kemudian hari, baik itu lemah iman, lemah akal, lemah pikiran, lemah
fisik, ataupun lemah mental. Hal ini jelas sangat berkaitan dengan
ibu. Karena anak melekat erat pada ibunya secara fisik, maupun secara
psikis.
Beliau juga mengingatkan bahwa yang sering dilupakan oleh kebanyakan
orang adalah kualitas ayahnya. Karena kualitas ibu tidak dapat berdiri
dengan sendirinya. Dia merupakan satu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini disebutkan oleh
Allah dalam surat An Nisa’: 34 bahwa “Laki-laki itu adalah pemimpin kaum
perempuan di dalam rumah tangga atau keluarga.” Jadi kaum laki-lakilah
yang menduduki posisi sebagai decision maker yang akan menjadi
penentu arah pembinaan keluarga. Rasulullah saw juga mengingatkan kepada
para sahabatnya bahwa “Carilah kalian tempat perhentian yang baik,
karena darinya engkau akan mendapatkan keturunan yang baik pula.” Hal
ini dilakukan jauh sebelum menikah sehingga jika kita mau menentukan
kualitas ibu juga harus dipertimbangkan kualitas dari laki-lakinya.
Perempuan-perempuan yang sholih dan taat kepada Allah dapat menjaga
diri ketika suami tidak ada, adalah karena Allah menjaga mereka, hal ini
dalam konteks kewajiban suami menjaga istrinya. Di sini terlihat jelas
peran laki-laki yang akan menjadi seorang suami dan ayah. Jika kelak
Allah karuniakan kepadanya seorang anak perempuan, sejauhmana visi
seorang ayah, dalam hal menjadikan anak-anak perempuannya menjadi
anak-anak yang berkualitas. Hal ini diingatkan oleh Rasulullah saw dalam
sebuah hadist, “Barangsiapa yang mempunyai anak perempuan kemudian dia
didik dengan sebaik-baiknya pendidikan, dia akan menjadi pagar bagi
orang tuanya dari siksa api neraka.” Maka didiklah anak-anak perempuan
kalian dengan sebaik-baiknya pendidikan. Dalam riwayat lain diceritakan
ketika ada seorang anak mencuri, yang dipanggil ayahnya bukan ibunya.
Ketika ditanya anaknya menjawab, “Ayahku tidak memberiku seorang ibu
yang baik, ayahku tidak memberiku nama yang baik dan ayahku tidak pernah
mengajarkan Al Qur’an untukku.” Hal ini menggambarkan bahwa kualitas
ibu ditentukan dari bagaimana seorang laki-laki memilihkan ibu yang baik
buat anak-anaknya. Jadi konsep kualitas ibu yang baik dimulai dari
konsep pra nikah.
Dalam konteks ibu sebagai sebuah institusi. Kita sering mendengar ibu
negara, jika kita mendapati ibu yang baik maka negara juga akan baik.
Jika ibunya rusak maka negara juga akan rusak. Hal itu setidaknya dalam
konteks bagaimana negara memperhatikan kaum wanita dengan sebaik-baiknya
perlakuan. Sehingga mereka berhak mendapatkan pendidikan yang
sebaik-baiknya, karena kelak mereka akan menjadi seorang ibu yang
berkualitas, cerdas dan berdaya guna, serta bertakwa kepada Allah.
Sehingga dalam hal politik, kualitas ibu juga tidak mungkin dapat
berdiri sendiri.
Ibu yang aktif di organisasi Salimah (Persaudaraan Muslimah) dan ASA
(Aliansi Selamatkan Anak Indonesia) ini memaparkan data yang beliau
dapatkan dari Menko Kesra tahun 2005, bahwa masih banyak wanita
Indonesia yang buta huruf, setidak-tidaknya ada 10 %. Sehingga Menko
Kesra mencanangkan Gerakan Wanita Bebas Buta Aksara. Dari data yang
dimiliki oleh ASA di daerah Mega Mendung ditemukan masih banyak
anak-anak umur 9 sampai 11 tahun baru kelas 1 SD. Di Cirebon ada budaya
yang sekarang sedang marak bahwa banyak orang tua yang lebih bangga
punya anak perempuan yang kemudian bisa mereka dandani meskipun sekedar
bisa baca dan sedikit berhitung dengan harga Rp 5 juta dibandingkan
jika mereka harus menggarap sawah selama 1 tahun, belum tentu
mendapatkan hasil sebesar itu. Dan ternyata dari sekian banyak angka
yang ada, lebih dari 50%-nya adalah kaum muslimah.
Sangat menyedihkan jika melihat data-data yang ada di lapangan bahwa
begitu banyaknya anak-anak yang masih berusia dini kisaran 9-11 tahun
yang terlibat narkoba dan aborsi. Pertanyaannya kemudian ke mana orang
tua mereka?
Jadi kualitas ibu tidak dapat berdiri sendiri, baik ibu sebagai
seorang individu dan juga ibu sebagai sebuah institusi dalam hal
kebijakan negara. Kedua-duanya tidak dapat dipisahkan. Karena dalam hal
ini membicarakan kualitas ibu sebagai seorang individu maka yang akan
ditekankan di sini adalah mensyukuri bahwa insya Allah kita
dianugerahkan oleh Allah kelebihan dari sisi materi, kecukupan ilmu,
mungkin juga kesempatan berprestasi untuk bisa eksis lebih baik lagi.
Harus ada kemauan regenerasi di sini. Jadi dimulainya dengan
mendefinisikan ciri berkualitas seperti apa, kemudian berkualitas itu
dipergunakan untuk apa.
Menurut perempuan kelahiran Jakarta ini, arti berkualitas dalam
konteks ibu secara individu yang pertama adalah dalam konteks ibu
sebagai seorang hamba Allah. Cermin kepribadiannya akan tampak dari
bagaimana hubungan kedekatan dia dengan Allah SWT. Hal ini akan
terpancar dan menetes kepada anak-anaknya dan itu adalah cahaya Allah.
Artinya pancaran keimanan ibunya akan terpancar juga pada anak-anaknya.
“Barangsiapa yang beriman laki-laki dan perempuan, laki dan perempuan beramal sholih dan dia beriman”
Dengan penyebutan laki dan perempuan hendaknya kaum perempuan
berkualitas. Kaum ibu berkualitas, jadi istri juga berkualitas. Kualitas
yang dimaksudkan di sini yaitu kualitas keimanan kepada Allah. Kiat
yang beliau utarakan untuk mengarungi kehidupan ini, senjata yang paling
ampuh adalah beriman kepada Allah SWT.
Yang kedua adalah ilmunya. Dengan cara membedakan kata-kata pintar
dan cerdas inilah, beliau memaparkan arti penting sisi keilmuan seorang
ibu yang berkualitas. Pintar belum berarti cerdas namun cerdas sudah
pasti pintar. Banyak lulusan S1, S2 dan S3 yang pintar tapi sayangnya
mereka tidak cerdas, imbuh Beliau. Dalam pengertian Rasulullah saw,
cerdas yaitu orang yang membekali hidupnya dengan sebaik-baiknya
kemudian ia bersiap-siap untuk menghadapi kematian. Hal ini menjadi
berbeda jika dibandingkan dengan definisi cerdas yang dikemukakan oleh
pakar pendidikan, yaitu kemampuan individu untuk mengambilkan suatu
keputusan secara cepat dan tepat, dengan segala resikonya. Cerdas yang
dimaksudkan di sini yaitu cerdas mengelola dirinya, mengatur waktunya
dan cerdas menekan orang lain untuk menuntun mereka dalam kebaikan
kemudian merajutnya menjadi sebuah kekuatan besar membangkitkan bangsa
ini untuk mendapatkan ridha Allah.
Ketiga adalah berkualitas dari sisi fisik yaitu sehat badannya.
Jangan sampai potensinya besar tetapi sakit-sakitan. Hal ini tidak dapat
dimanfaatkan oleh orang lain atau umat. Berkualitas dari sisi fisik
akan menopang kualitas keimanan dan ilmu yang ada untuk dapat melakukan
aktifitas-aktifitas beramal.
Karya dari suatu pemikiran hanya akan dapat dibuktikan ketika kita beramal. Dan yang melakukan ini adalah jasad atau fisik.
Intinya menurut hemat beliau kualitas orang hidup sebagai seorang individu adalah bertakwa, cerdas, berakhlak dan berdaya guna.
Dari ketiga hal inilah maka dapat dikatakan bahwa kualitas ibu tidak
dapat berdiri sendiri dalam konteks individu karena terkait dengan
pemberdayaannya dirinya di dalam keluarga. Hubungannya dengan anak,
jelas di sini dapat dikatakan kualitas ibu menentukan kualitas anaknya.
Jangan sampai masih ada perbedaan kualitas pendidikan anak laki-laki
dengan anak perempuan dalam pengertian peningkatan pendidikan mereka
dalam kategori takaran yang sama. Jika ingin melakukan perubahan besar
terhadap kualitas anak perempuan atau kualitas ibunya, hal ini di mulai
dengan dengan melakukan perubahan pada paradigma cara mendidik
anak-anak di rumah. Terutama pada anak laki-laki karena ia nanti akan
menjadi bapak atau suami. Bagaimana ia memperlakukan istrinya sehingga
kelak istrinya dapat menjadi ibu yang berkualitas. Begitupun berlaku
pada anaknya, bagaimana ia mendidik anak perempuannya, sehingga ia
menjadi anak yang berkualitas. Hal ini jelas berjalan beriringan.
Jika ketiga hal ini sudah ada dalam diri seorang perempuan maka ia
akan berusaha menjadikan anak-anaknya dan suaminya seperti dirinya.
Karena orang-orang yang cerdas menginginkan lingkungan yang ada di
sekelilingnya cerdas pula, minimal untuk anak-anaknya. Banyak sekali
kasus ibu yang menelantarkan anak-anaknya. Menjadikan anak-anaknya bukan
problem solver malah menjadi problem maker.
Kembali beliau mengungkapkan kisah-kisah yang ada dalam Al-Qur’an
bagaimana seorang ibunda Hajar yang berkualitas yang dipilih oleh
seorang suami yang berkualitas seperti Nabiyullah Ibrahim melahirkan
seorang anak yang berkualitas yaitu Nabiyullah Ismail, yang kemudian
menurunkan Rasulullah SAW.
Sejarah Salafusshalih yang termasuk di dalam 30 tokoh-tokoh besar
yang berkualitas karena mereka memiliki ibu-ibu yang berkualitas, yang
juga dibarengi pula dengan bapak-bapak yang berkualitas sekelas imam
Syafi’i misalnya. Beliau ditinggal wafat ayahnya usia 6 tahun, namun
seluruh isi kepala ayahnya sudah diwariskan kepada ibunya, agar
meneruskan pendidikan anaknya sehingga menjadi ulama besar yang kita
kenal seperti sekarang ini dan mahzhabnya pun dipakai di Indonesia.
Hasan Al Banna pun memiliki ayah dan ibu yang berkualitas. Bapaknya
seorang ulama dan ibunya seorang yang cerdas. Jadilah ia seorang ulama
besar, arsitek peradaban pada awal abad ke-20 yang telah mampu melakukan
perubahan peradaban Islam yang ada sampai sekarang.
Berondongan pertanyaan dari peserta semakin terasa tatkala ibu yang
lahir 46 tahun lalu mengakhiri uraian materinya dengan pernyataan, jika
kita ingin menjadi ibu yang berkualitas, mulailah dengan mendekatkan
diri kepada Allah, mohon petunjuknya ke jalan yang lurus. Dan hanya
orang-orang yang diberi petunjuk ke jalan yang luruslah, yang
senantiasa mengajak orang lain untuk bersikap lurus.
Pertanyaan pertama datang dari seorang ibu, yang menanyakan tentang
di mana pendidikan Qur’an putra/i pembicara dilakukan. Pembicara yang
akrab disapa dengan panggilan Ibu Wiwi ini mengingatkan agar belajar
dari para salafusshalih, dengan melihat sejarah-sejarah masa lalu. Untuk
menjawab pertanyaan ini beliau menekankan bahwa pendidikan anak dua
pertiganya berasal dari rumah. Karena di situlah masa-masa penting
pertumbuhan anak.
Usia anak 0-7 tahun adalah Golden Age yaitu masa-masa pengasuhan
atau peletakan basis. Kita kaitkan hal ini dengan nasihat Rasulullah SAW
“Perintahkanlah anakmu shalat pada usia 7 tahun, kalau tidak mau shalat
7 tahun dipukul. Meskipun Rasulullah saw tidak mempelajari psikologi
namun itu semua diajarkan langsung oleh Allah yang Maha Mengetahui,
sumber segala ilmu yang ternyata sekarang ini pernyataan nabi telah
dibuktikan kebenarannya oleh para ahli.
Menilik pendidikan anak menurut Imam Ali ada 3 tahapan :
- 7 Tahun pertama perlakukan ia sebagai raja.
- 7 Tahun kedua perlakukan ia sebagai tawanan perang.
- 7 Tahun ketiga perlakukan ia sebagai seorang sahabat.
Jadi masa-masa 7 tahun pertama ada di rumah. Di sinilah anak seperti
tanah lempung yang masih bisa dibentuk. Para pakar otak mengatakan,
jika pada usia 0-6 tahun anak disia-siakan pertumbuhan otaknya, maka
ketahuilah pada usia 7 tahun otak tidak dapat tumbuh lagi. Maka
sebaiknya anak distimulasi, diasuh dan diberikan pendidikan dengan baik
pada usia anak 0-6 tahun.
Seorang ahli Psikologi Yahudi dan sekuler yang bernama Sigmund Freud
mengungkapkan, “Jika seseorang bermasalah pada usia dewasanya atau lepas
dari usia remaja menuju usia dewasanya, maka telusuri 5 tahun pertama
dalam kehidupannya.” Jadi hal ini sesuai dengan perkataan Rasulullah
saw. Rasulullah saw mengingatkan tentang pentingnya pendidikan anak
pada usia dini, karena terkait dengan ikatan emosional (emotional bonding).
Di usia ini anak-anak masih lekat dengan orang tuanya. Dari sisi
perkembangan emosi, Islam sudah mengingatkan bahwa dewasa dalam Islam
jika laki-laki dengan bermimpi, pada wanita jika ia sudah haid.
Sangatlah mungkin ia bermimpi pada usia 10 atau bahkan 9 tahun. Secara
umum 11-13 tahun. Disayangkan karena faktor tayangan-tayangan yang ada
di televisi, HP, pengaruh pornografi mempercepat anak laki-laki kita
mengalami ejakulasi dini pada usia 9 tahun.
Jadi perintah Nabi SAW untuk mewajibkan shalat pada usia 7 tahun
untuk mengantisipasi adanya perubahan emosional, seksual pada anak
ketika memasuki usia remaja. Begitu anak sudah baligh, maka dalam Islam
anak ini sudah memiliki kewajiban melaksanakan syariat Islam. Jadi
kematangan dalam hal ibadah juga sudah harus disiapkan sejak awal.
Menurut beliau keharusan untuk mengajarkan shalat pada usia 7 tahun
memberikan dampak yang positif karena jika pada usia 9 tahun ia sudah
mulai mengalami perubahan emosi terhadap lawan jenisnya, ingin
menunjukkan eksistensi dirinya, sudah mulai sering mengkhayal maka akan
sangat berbahaya sekali bagi orang tua jika melalaikan masa-masa penting
anak sebelum masa baligh. Oleh karena itu sangat diutamakan pendidikan
anak dua pertiganya di dalam rumah untuk menyikapi hal-hal yang tidak
diinginkan.
Pada usia 7 tahun kedua, orang tua tinggal menerapkan hal-hal yang
telah mereka berikan pada masa 7 tahun pertama, dalam bentuk
kedispilinan. Seperti shalat berapa kali sehari, kapan waktu untuk
menonton TV, apa saja yang boleh ditonton, dan lain-lain. Jadi
kesimpulannya pendidikan anak dua pertiganya ada di rumah, sisanya ada
di pesantren, SDIT atau sekolah-sekolah negeri.
Beliau meyakini bahwa kontrol di rumah yang baik akan menjaga anak
kita dari perbuatan-perbuatan yang tidak diinginkan. Tidak lupa beliau
menyampaikan bahwa hal-hal yang telah disampaikan ini dilihat dari aspek
normatifnya bukan dari aspek pribadi beliau.
Peserta dari Australia menanyakan usaha-usaha apa saja yang dapat
dilakukan untuk mendapatkan suami yang berkualitas. Ibu yang salah satu
putranya ada yang bersekolah di Kairo ini meminta untuk menentukan
terlebih dahulu definisi suami yang berkualitas. Jika melihat standar
umum yang disebutkan oleh Nabi SAW adalah ganteng, keturunan yang baik,
kaya dan bertakwa. Jika 3 hal yang pertama tidak mudah didapatkan maka
pilihlah yang bertakwa karena ia akan menuntun istrinya ke akhirat. Cara
mengetahui seseorang itu bertakwa adalah dilihat dari pergaulan,
teman-tamannya, bertanya kepada teman-temannya bagaimana ia berprilaku
sehari-harinya, bahkan kalau mungkin bertanya kepada musuhnya apa-apa
yang tidak diketahuinya. Setelah menentukan kriteria dan visi kemudian
berdoa kepada Allah meminta yang terbaik untuk kepentingan dakwah,
keluarga dan masa depan. Tak lupa beliau mengingatkan agar setiap hari
membaca surat Ar -Rahman.
Pertanyaan kemudian bergulir mengenai peluang menjadi ibu yang
berkualitas dengan disesuaikan permasalahan kesibukan ibu di luar rumah
dari seorang peserta di Den Haag. Dalam pandangan beliau bahwa tidak
boleh dipisahkan antara kegiatan di luar rumah dengan pendidikan anak.
Sebisa mungkin menyatukan keduanya. Karena sesungguhnya ketika seorang
ibu sedang aktif di luar rumah, adalah salah satu cara mengajarkan
kepada anak-anak bahwa hidup itu harus bermanfaat bagi orang lain. Di
sisi lain, seorang ibu jika bertemu dengan anaknya secara fisik, harus
berkualitas pertemuannya dengan anaknya. Misalnya kapan anak menyetorkan
hafalannya, kapan orang tua mengajarkan mereka memasak di rumah, kapan
waktu untuk jalan-jalan bersama keluarga, kapan orang tua belajar
dengan anak-anak. Jadi semua kegiatan tidak bisa dipisah-pisahkan.
Anak-anak pun akan memahami jika ibunya aktif di luar rumah adalah
salah satu cara untuk meningkatkan kualitas diri, sama dengan ketika
anak-anak sedang beraktifitas di luar rumah. Karena orangtuanya pun
beranggapan bahwa mereka beraktifitas di luar rumah untuk meningkatkan
kualitas dirinya. Jadi mereka pun tidak merasa ditinggalkan oleh ibunya.
Sebaliknya tidak bisa dijamin pula, jika ibu tidak pergi ke
mana-mana ia dapat menjadi ibu yang berkualitas. Banyak kecelakaan
kecil yang terjadi, justru ketika ibu sedang berada di rumah. Hanya
Allah-lah yang mampu menjaga anak-anak kita dengan baik. Kembali beliau
mengingatkan bahwa yang sangat berpengaruh di sini adalah faktor
kedekatan seorang ibu kepada Allah. Anak adalah titipan Allah maka
jagalah hubungan kita dengan Allah. Maka Allah akan menjaga kita.
Kebanyakan kesalahan yang ada adalah mengukur kualitas ibu dengan anak
dari frekuensi pertemuannya.
Namun standar ini menjadi lain jika memang seorang ibu, diberikan
potensinya oleh Allah untuk beraktifitas di rumah saja. Sederhananya
jangan mendzalimi diri sendiri dan orang lain. Maksudnya di sini adalah
dzalim jika ia bisa membawa ember 100 namun ia hanya membawa 10 ember,
begitupun sebaliknya jika ia hanya bisa membawa 100 namun ia justru
membawa 1000 ember.
Ada tips yang beliau berikan yaitu dengan cara maping waktu dengan merencanakan rentang waktu. Maping
waktu berguna untuk melihat sebanyak apa interaksi ibu dengan anak.
Ternyata seluruh kegiatan kita sesungguhnya lebih banyak bersama anak.
Kemudian buat rentang waktu yang disesuaikan dengan umur Nabi Muhammad
SAW, dibagi menjadi 3 rentang waktu yaitu 0-20 tahun yang sesuai dengan
rentang umur yang telah diutarakan oleh imam Ali untuk membentuk
kepribadian anak, 20-40 tahun di sini lah waktu untuk menimba ilmu atau
wawasan sebanyak-banyaknya, 40-60 tahun adalah usia produktif yaitu usia
di mana seseorang telah dapat memberikan kontribusi berbakti untuk umat
atau kepentingan terbaik dakwah.
Intinya adalah jika ingin memanage suatu kegiatan dilihat dari sejauh mana kita melihat kualitas waktu kita.
Dari kegiatan ibu di luar rumah pertanyaan peserta dari Berlin
beralih kepada tahapan-tahapan cara mendidik anak hingga bisa menghafal
Qur’an dalam usia yang masih muda. Ibu pemilik 4 cahaya mata yang telah
Hafidz Qur’an ini menjabarkan secara gamblang tentang tahapan-tahapan
itu, yaitu tahapan memilih pasangan, kekompakan visi suami istri dalam
membentuk keluarga Qur’ani, kemudian mencarikan lingkungan untuk anak
yang juga dekat dengan Al Qur’an, yang terakhir adalah rajin ke toko
buku.
Dengan rajin membawa anak-anak ke toko buku maka akan memperluas
wawasan anak. Diharapkan dengan banyaknya mereka berinteraksi dengan
dunia ilmu maka akan dapat memotivasi mereka dalam menghafal Qur’an.
Ketika ingin memiliki keluarga Qur’ani maka seyogyanya harus mencari
pasangan yang memiliki visi yang sama. Tentunya haruslah seseorang yang
bertakwa. Kekompakan di dalam rumah bisa di mulai dari kedua orang
tuanya, misalnya dengan senantiasa memutar murottal di rumah, di dalam
rumah tidak ada gambar-gambar yang syubhat, makanan dijaga dari hal-hal
yang haram dan syubhat, jika ingin mendengarkan musik, juga musik-musik
yang Islami, yang dapat mendekatkan anak kepada Allah.
Beliau mencontohkan salah satu keluarga di Iran yang anaknya menjadi
doktor hafidz Qur’an pada usia 7 tahun. Sebelum menikah mereka
menargetkan diri menjadi hafidz dan hafidzah. Ketika sedang menyusui di
barengi dengan membaca Al Qur’an, ketika akan berhubungan atau membaca
Qur’an, berwudhu terlebih dahulu, di dalam rumah mereka tidak ada
kalimat yang keluar kecuali kalimat Qur’an. Harus ada waktu-waktu yang
tidak boleh diganggu semasa seluruh keluarga sedang berinteraksi dengan
Al Qur’an. Harus dibuat sistem semacam itu.
Setelah itu carikan anak-anak lingkungan yang senantiasa dekat dengan
Al-Qur’an. Buat program liburan anak-anak dengan program tahfidz
Qur’an. Carikan teman atau kalau bisa sekolah yang dapat menunjang
kemampuannya untuk menghafal Qur’an. Jika merasa bahwa dengan
memasukkan anak-anak ke pesantren, justru akan menjauhkan diri dengan
anak-anak, maka mengapa tidak dilakukan di rumah. Hal ini justru akan
memperbanyak pahala bagi kedua orang tuanya.
Namun beliau menyayangkan bahwa di dalam masyarakat Islam Indonesia,
Qur’an belum menjadi bacaan yang sama asyiknya dengan novel.
Perbedaannya di sini adalah karena Qur’an merupakan kitab suci maka
godaannya menjadi banyak sekali.
Tentang pembagian rasa sayang ternyata juga menjadi pertanyaan
sahabat Kharisma dari London. Bagaimana pembicara membagi rasa sayangnya
kepada seluruh anak-anak dengan proporsional tanpa memilah-milahnya.
Pertanyaan ini langsung dikomentari oleh ibu 11 anak, bahwa di dunia
ini tidak ada yang adil dan proporsional. Keadilan dan proporsionalitas
hanya milik Allah. Beliau menekankan bahwa dirinya hanyalah manusia
biasa yang sedang dalam proses menjadi mahluk yang ingin dimuliakan oleh
Allah di hari kiamat. Intinya di sini adalah bahwa orang tua seharusnya
berada di jalan yang lurus, memiliki sifat istiqomah dan memiliki
kesadaran untuk kembali ke jalan yang lurus.
Mengenai fenomena tentang banyaknya ibu rumah tangga di Indonesia
yang harus bekerja karena tuntutan keluarga hingga pengasuhan anak
kurang mendapat perhatian dengan baik menjadi pekerjaan besar bagi
seluruh bangsa Indonesia. Berbicara masalah kualitas ibu, berarti
membicarakan kualitas ibu tidak hanya sebagai suatu individu namun juga
sebuah institusi yang tentunya tidak dapat dipisahkan dari kebijakan
politik.
Pemberdayaan perempuan secara menyeluruh adalah pekerjaan yang tidak
mudah namun tetap harus dimulai dari sekarang. Caranya dengan
memberikan contoh keteladanan kepada masyarakat dan lingkungan.
Hal ini
termasuk memberikan keteladanan kepada anak-anak. Insya Allah yang
lain nantinya akan mengikuti. Kegiatan para aktivis dakwah seharusnya
seiring sejalan dengan aktivitasnya di dalam rumah. Keduanya harus sama
berkualitasnya. Kaum ibu harus dapat memanage waktu dengan baik. Hal ini
harus dimulai dari diri sendiri. Beliau termasuk yang meyakini bahwa
20-30 tahun ke depan akan ada perubahan. Meskipun mungkin saja tidak
secara langsung mengalaminya namun anak cucu nanti yang akan
mengalaminya. Apa yang saat ini dipelajari hendaknya menjadi pemicu,
dapat memberikan prestasi. Sehingga ketika kelak mendapatkan amanah,
baik di suatu perusahaan ataupun di Eksekutif, atau bahkan di
Legislatif. Kelebihannya adalah jika kaum ibu memiliki amanah dan
memiliki kekuatan, maka kaum ibu dapat mengeluarkan kebijakan-kebijakan
yang kelak akan dapat memberdayakan kaum perempuan dan keluarganya. Kaum
Feminis memperjuangkan nilai-nilai yang sama dengan kita umat Islam,
hanya saja beda tujuan, niat dan caranya saja.
Pembicara baru saja menghadiri acara organisasi feminis sedunia yang
usia pergerakannya sudah 120 tahun, yang memperjuangkan hak-hak kaum
perempuan, namun tetap saja tidak terlalu ada perubahan yang signifikan
terhadap perlakuan yang di terima perempuan. Menurut hemat beliau
justru kaum perempuan tidak dapat berjuang hanya di depan kaumnya saja,
kaum perempuan seharusnya bergandengan tangan dengan kaum laki-laki.
Jika ada seorang laki-laki yang menjadi pejabat diharapkan kelak
kebijakan-kabijakan yang keluar darinya akan berpihak pada masalah
keluarga dan pemberdayan kaum perempuan.
Mengenai perencanaan keluarga (family planning) pun tak
luput menjadi pertanyan peserta dari Inggris. Hal ini harus dipahami
oleh semua orang bahwa membatasi jumlah anak bukanlah nilai-nilai
Islam. Prinsipnya dalam Islam adalah mengatur usia anak untuk
memberikan pendidikan yang berkualitas. Di dalam Islam pun tidak ada
aturan untuk memiliki atau bahkan melarang mempunyai anak banyak. Hanya
saja memiliki anak banyak juga harus disertai rasa tanggung jawab untuk
memelihara dan mendidik mereka. Yang tidak boleh adalah membatasi
jumlah anak karena takut akan kemiskinan, takut tidak mampu mendidik,
padahal ketakutan-ketakutan itu berasal dari opini publik yang telah
berhasil mempengaruhi cara berpikir masyarakat pada umumnya. Bahwa anak
kelak hanya akan menjadi beban bagi orang tuanya. Kemudian visi
pasangan suami istri dalam menentukan jumlah anak juga harus sejalan.
Hal itu tidak bisa diserahkan begitu saja kepada istrinya. Seolah-olah
pendidikan anak adalah beban bagi ibunya saja. Padahal yang lebih harus
bertanggung jawab di hadapan Allah adalah ayahnya. Ke mana keluarga akan
ia bawa, dibawa ke neraka atau ke syurga.
Jika menganggap anak adalah suatu beban, maka seterusnya ia akan
menjadi beban yang berat bagi kedua orang tuanya. Allah memberikan
kecendrungan sesuai dengan kecendrungan kita kepada Allah. Sesungguhnya
anak sudah memiliki hak hidupnya sebelum ia lahir. Orangtua tidak akan
tahu anak kelak akan menjadi apa. Karena semua itu adalah titipan dari
Allah maka orangtua harus senantiasa memelihara dan mendidik anak-anak
sebaik mungkin.
Yang terakhir dari family planning ini adalah bertumpu pada
kualitas pendidikan untuk anaknya. Yang harus diingat bagi setiap orang
tua adalah Allah tidak pernah menyia-nyiakan titipan-Nya.
Tentang penerapan konsep “perlakukan anak 7 tahun pertama seperti
raja” dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi bahasan dalam sesi tanya
jawab.
Menurut beliau, masa-masa anak usia 0-7 tahun adalah masa-masa di
mana anak mudah dibentuk dan juga masa-masa di mana anak menampakkan
fitrah aslinya sebagai seorang manusia. Di sini orang tua melihat
sendiri bagaimana seorang manusia itu sesungguhnya. Ia ingin disayang,
dihargai, disanjung, diakui dan diperlakukan secara sama. Perlakuan anak
di masa-masa ini adalah cerminan bagaimana orang tuanya
memperlakukannya. Kemudian perlakukan anak secara tegas bukan dengan
kekerasan. Jangan mudah menyalahkan anak, memvonis mereka tanpa
mendengarkan isi hati mereka.
Merujuk dari bagaimana Rasulullah memperlakukan sahabat terkecilnya
yaitu Anas bin Malik saat mereka sedang bersama-sama di dalam masjid.
Sehabis minum, Rasulullah SAW memberikan bekas minuman beliau kepadanya
bukan kepada sahabat-sahabatnya yang lain. Itu karena beliau tahu
betul bagaimana memperlakukan anak dengan cara yang baik. Anas bin
Malik ini adalah seseorang yang paling banyak meriwayatkan
hadits-hadits beliau.
Juga saat Rasulullah SAW melihat ada seorang ibu yang sedang
menggendong bayinya yang berusia di bawah 3 tahun. Beliau pangku bayi
itu dan takkala bayi tersebut berada di pangkuannya, kemudian ia pipis.
Serta merta si ibu memarahi bayi tersebut dengan maksud merasa bersalah,
karena telah memipisi Rasulullah SAW. Rasulullah SAW mengingatkan si
ibu agar tidak memarahi bayi itu yang dapat melukai jiwanya seumur
hidupnya, karena najis yang ada di pakaian Rasulullah akan dapat dengan
mudah dibersihkan dengan air, hanya dalam waktu 1 detik saja najis
yang ada di pakaiannya pun hilang.
Intinya perlakukan anak-anak dengan baik dan penuh kasih sayang pada 7
tahun pertama kehidupannya. Agar ia merasa nyaman dulu dengan kedua
orangtuanya, sehingga pada 7 tahun kedua, ia sudah mampu membedakan mana
yang baik dan mana yang buruk baginya. Misalnya pada saat orang tua
tidak berada di rumah, ia sudah mampu mengatur dirinya saat menonton
tayangan televisi.
Jika si anak sudah merasa nyaman dengan orang tuanya, perkembangan
otaknya pun sudah optimal, maka insya Allah pada 7 tahun ketiganya,
kelak ia akan menjadi sahabat terbaik orangtua. Misalnya saja ia
bercerita saat ia mulai senang dengan lawan jenis, tentang mimpi
pertamanya pun ia ceritakan kepada ibunya, juga jika ia ada masalah di
mana-mana yang pertama dicarinya adalah orang tuanya bukan orang lain.
Dituliskan kembali oleh Aninditya Nafianti, S. Kg.
Label:
amanah,
Pengetahuan,
Tsaqafah Islamiyah,
wanita
Kamis, 27 Oktober 2011
Orang - orang yang Didoakan oleh Malaikat
| Oleh : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi |
|
Allah SWT berfirman, "Sebenarnya
(malaikat - malaikat itu) adalah hamba - hamba yang dimuliakan, mereka
tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah -
perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan
yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa'at melainkan
kepada orang - orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati -
hati karena takut kepada-Nya" (QS Al Anbiyaa' 26-28)
Inilah orang - orang yang didoakan oleh para malaikat :
|
Label:
Akhlak,
Hikmah,
suplemen ruhiyah,
Tsaqafah Islamiyah
Langganan:
Komentar (Atom)

