Di setiap kesempatan manusia senantiasa ingin memperlihatkan
penampilan baik mereka. Namun, sering kali kita merasakan keanehan dalam
diri jika tampil tidak layak, beda dengan penampilan yang lahir dari
kehendak hati nurani dan fitrah kita sendiri. Olehnya itu, Al-Qur’an
sejak dini meletakkan petunjuk kehidupan bagi mereka yang ingin tampil
dengan menampilkan keindahan pesona Al-Qur’an, dan memberikan cerminan
hidup bagi mereka yang ingin menangkap sinyal-sinyal keindahan dan
kesempurnaan penciptaan Allah SWT.
Petunjuk dan cerminan hidup ini disimpulkan dalam firman-Nya berikut ini:
وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ
“Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. al-A’raf [7]: 26)
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ
Dan firman-Nya:
“Dan berbekallah! Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”. (QS. al-Baqarah [2]: 197)
Ayat
pertama masih dalam rangkaian alur cerita Nabi Adam dan istrinya Hawa
yang dikeluarkan dari surga setelah menanggalkan dari diri mereka
pakaian ketaqwaan karena tergoda oleh rayuan manis setan yang
menjanjikan kekekalan abadi di surga tersebut, sebab dari nampaknya aib
dan aurat mereka berdua.
Para pakar tafsir berbeda pendapat dalam memaknai kalimat (لِبَاسُ التَّقْوَى), pakaian ketaqwaan. Ini dapat dilihat di tafsir Imam Ibn Jarir at-Thabari sebagaimana berikut:
“Di antara mereka ada yang menafsirkan (لِبَاسُ التَّقْوَى) dengan iman, seperti Qatâda,
as-Sudiyyi, dan Ibn Juraij. Ada juga dari mereka yang memaknainya
dengan makna malu, seperti: Ma’bad al-Juhni. Ada pula yang
mengartikannya dengan amal shalih, seperti: Ibn Abbâs.
Sementara itu, di periwayatan lain beliau menafsirkannya dengan pribadi
baik, dan Urwah bin az-Zubair sendiri dengan takut kepada Allah.
Penafsiran-penafsiran ini diperkaya dengan penafsiran Ibn Zaid yang
lebih memilih makna menutup aurat terhadap kalimat tersebut.”[[1]]
Penafsiran
terhadap kalimat ini tidak berhenti sampai di sini. Di sana ada
kelompok lain yang menyuguhkan terhadapnya makna alat-alat perang,
seperti perisai dan baju perang. Di antara mereka itu: Zaid bin Ali bin
al-Husain dan Abu Muslim al-Ashfahâni.[[2]]
Penafsiran ini dilegitimasi Ustadz Muhammad Rasyid Ridha dalam pernyataannya berikut ini:
“Tidak
ada larangan bagi kami untuk mempergunakan ketaqwaan dalam kedua makna
tersebut: ketaqwaan terhadap Allah dengan iman dan amal shalih, dan
takut terhadap ancaman musuh dengan mengenakan baju besi dan perisai.
Pemaknaan ini boleh-boleh saja dilihat dari kata at-Taqwa itu sendiri (التَّقْوَي) yang mempunyai makna ganda: makna hakiki dan majazi.”[[3]]
Hemat
penulis, dengan mengedepankan makna yang dikehendaki sistematika
Al-Qur’an, maka makna yang paling sesuai dengan konteks cerita Nabi Adam
dan Hawa adalah makna ketaqwaan yang meliputi seluruh perilaku dan
sifat terpuji, seperti yang dinukil al-Hafidzh Ibn Jarir at-Thabari dari
para pakar tafsir terdahulu.
Jika ada yang bertanya dan berkata:
“Kenapa Anda lebih cenderung memilih makna tersebut, bukan makna lain?
Bukankah makna-makna tersebut layak mewakili penafsiran terhadap
ketaqwaan yang ada pada (لِبَاسُ التَّقْوَى)?”
Kepada Anda ayat ini memberikan jawaban seperti ini:
“Kata tunjuk (ذَلِكَ)
dipergunakan untuk menunjuk sebuah benda yang berada di tempat yang
jauh dari orang yang sedang menunjuknya. Hematnya, kata ini tidak
dipergunakan kecuali untuk mengisyaratkan bahwa di sana ada dua pakaian:
pakaian yang menutupi aurat, dan pakaian ketaqwaan. Akan tetapi,
pakaian ketaqwaan jauh lebih baik dan mulia dari pakaian materi yang
hanya menutupi jasmani saja, pakaian yang setiap waktu ditanggalkan dan
usang. Olehnya itu, mengembalikan kata tunjuk tersebut kepada pakaian
ketaqwaan jauh lebih tepat dari makna-makna lain sesuai dengan konteks
sistematika cerita Adam dan Hawa.”
Jika Anda belum puas
dengan jawaban ini dan ingin bukti lain, maka ayat lain pun menjawab
keragu-raguan Anda sebagaimana berikut ini:
وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِّنْ عِندِ اللَّهِ خَيْرٌ ۖ لَّوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ ﴿١٠٣﴾
“Sesungguhnya
kalau mereka beriman dan bertaqwa, (niscaya mereka akan mendapat
pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik,
kalau mereka mengetahui.” (QS. al-Baqarah [2]: 103)
Hemat
penulis, pakaian materi hanya menutupi cacat dan aib lahiriah di dunia
saja, sedangkan, pakaian ketaqwaan menjaga Anda dari aib yang
menyebabkan murka Sang Maha Pencipta. Bukan hanya itu, pakaian ketaqwaan
sarana efektif dalam menjaga harkat dan martabat manusia untuk tidak
tercoreng oleh rasa malu dari dekadensi moral dan akhlaq. Jadi, pakaian
akhlaq selain memberikan rasa aman terhadap jiwa, ia juga menutupi aurat
lahiriah dengan sendirinya, meski kadang tidak disadari.
Syekh Mutawalli as-Sya’râwi berkata:
“Jika kita melihat ketelitian Al-Qur’an dalam memaparkan makna ayat di atas, maka kita menjumpai kalimat (مَثُوْبَة), yang artinya pahala, berasal dari makna sejenis kata (الثَّوْبُ),
yang berarti pakaian. Penjelasannya seperti ini: manusia dahulu kala
mengambil kulit binatang sebagai materi dasar terhadap pakaian mereka.
Pemilik binatang menyerahkan kulit yang telah disamak kepada mereka yang
pintar mengolahnya menjadi pakaian yang siap pakai. Proses seperti ini
dikatakan (مَثُوْبَة) karena
kebaikan kembali kepada pemilik bahan baku dari pakaian tersebut,
sehingga dengan sendirinya dia memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.
Demikian pula dengan pahala dari amal baik, ia senantiasa kembali
menyapa Anda dengan membawa mega kebaikan.
Berangkat dari
sini, Allah SWT memberitahu kita bahwa pakaian gunanya menutup aurat,
dan amal baik menutupi penyakit-penyakit maknawi dan kejiwaan dalam diri
manusia. Dan tentunya, Pakaian ketaqwaan jauh lebih baik dari pakaian
yang hanya menutupi aurat. Itu karena pahala ketaqwaan sendiri datang
langsung dari Allah SWT.”[[4]]
Tentunya,
dengan menelaah lebih jauh hakikat pemaparan Al-Qur’an tentang tema
ketaqwaan di kedua ayat tersebut, saya yakin keragu-raguan Anda pergi
dengan sendirinya. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan Anda untuk
bertanya dan berkata: “yah benar sekali, tetapi bagaimanakah cara
aku memakai pakaian-pakaian yang mahal dan indah itu tanpa menanggalkan
pakaian ketaqwaan dalam diriku. Bukankah puji diri kadang muncul di
balik rayuan keindahan penampilan dan berkata: “wahai diriku! Sungguh
indah penampilanmu dengan baju itu. Engkau akan tampil beda dan memukau
jika mengenakan kostum ini””
Ustadz Said Nursi menjawab pertanyaan Anda di salah satu pernyataan monumental beliau berikut ini:
“Sesungguhnya
tujuan terpenting dari penciptaan semua entitas kehidupan adalah
melihat Sang Maha Pencipta. Artinya, mereka dituntut memperlihatkan
kesempurnaan penciptaan diri mereka, ukiran-ukiran manifestasi
nama-nama-Nya (Asmaul husna), hikmah penciptaan, dan hadiah kasih
sayang-Nya yang sangat luas. Semuanya itu diperlihatkan di hadapan-Nya,
sehingga dengan sendirinya ia menjadi cermin yang melukiskan keindahan
dan kesempurnaan-Nya.”[[5]]
Hemat
penulis, tidak ada larangan terhadap seseorang untuk tidak memakai
jenis produk pakaian tertentu, selagi ia masih memenuhi standar syariat.
Akan tetapi, hendaknya penampilan itu tidak didasari oleh ujub dan rasa
percaya diri yang berlebihan, melainkan ia menjadi cermin terhadap
keindahan dan kesempurnaan penciptaan Allah kepada orang lain. Artinya,
Anda wajib berniat seperti ini di setiap kali dandan dan bersolek.
Karena hanya dengan itu, Anda akan mendapatkan pahala berpakaian yang
senantiasa dihiasi oleh ketaqwaan.
Kemudian, dengan dandanan
seperti ini orang lain bisa jadi menemukan pancaran ukiran-ukiran
manifestasi nama-nama Allah SWT yang bisa menuntun mereka untuk lebih
dekat lagi dengan-Nya. Karena dengan penampilan yang indah, orang lain
menemukan keindahan mutlak Sang Pencipta, keindahan itu tidak lain
kecuali percikan dari muara keindahan yang tidak kunjung habis,
keindahan yang tidak pernah menjenuhkan, dan keindahan yang memberitahu
bahwa yang indah itu tatkala Anda telah menemukan sumber keindahan itu
sendiri, bukan hanyut dari keindahan yang dibiaskan oleh materi
tertentu, dan terjebak oleh batasan ruang waktu dan tempat.
Selanjutnya,
dengan penampilan apik dan anggun, orang lain menemukan kesempurnaan
ciptaan-Nya. Mereka menyadari bahwa tidak satu pun dari anggota tubuh
Anda yang menunjukkan ketidakserasian dengan anggota tubuh lain sebelum
dan sesudah menghias diri. Setiap dari anggota tubuh itu terlihat oleh
mereka tersenyum dan berkata: “Wahai sobatku! Lihat aku dan temukan
kesempurnaan penciptaan Zat yang menciptakanku! Sungguh sangat jelas
bagimu, lebih jelas dari terik sinar matahari di siang hari. Adakah aku
mengganggu keindahan dan kesempurnaan penciptaan yang dilukiskan anggota
tubuh lain? Tentu tidak, karena tujuan terciptaku sama dengan tujuan
penciptaannya. Setiap dari kami melukiskan keindahan manifestasi
keagungan, kesempurnaan dan keindahan penciptaan-Nya. Jika Anda tidak
melihat itu atau sulit menangkap sinyal tersebut, maka bercerminlah
kepada dirimu sendiri, niscaya engkau akan menemukannya.”
Dan
jika engkau melihat kearifan budi, ketegasan sikap dan toleransi antar
sesama terpancar darinya, maka ketahuilah bahwa semua itu terilhami dari
pesan-pesan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW!
Di penghujung
tulisan singkat ini, saya mengajak pemerhati tema-tema keislaman untuk
menyuarakan makna yang dilukiskan ayat-ayat di atas:
“Anda
boleh saja bersolek dengan mode dan gaya apapun. Akan tetapi, hendaknya
dandanan itu menjadi cermin terhadap orang lain untuk melihat keindahan
Sang Maha Indah yang telah memberi Anda keindahan penciptaan. Anda jika
berhias, jangan lupa sertakan niat itu! Jangan bercermin hanya untuk
melihat keindahan wajah Anda sendiri, mempertontonkan keindahan yang
Allah titipkan di wajah itu kepada orang lain. Jika seseorang kagum
kepada ketampanan dan kecantikan Anda, maka kembalikan pujian itu kepada
Allah yang Maha Mulia dan berkata: (هَذَا مِنْ فَضْل رَبِّيْ)“, ini adalah kemuliaan dari Tuhan-Ku.”
Dengan sikap seperti ini, Anda senantiasa berpakaian dengan hiasan
ketaqwaan yang menjanjikan pahala tersendiri. Maka dari itu, mari kita
mengingat dan membaca doa di bawah ini setiap kali bercermin:
اللَّهُمَّ أَغْنِنِي بالعِلْمِ، وَزَيِّنِّي بِالحِلْم، وَأَكْرِمْنِي بِالتَّقْوَى، وَجَمِّلْنِي بِالْعَافِيَةِ.
“Ya
Allah, anugerahi aku ilmu, hiasi aku dengan kesopansantunan, muliakan
aku dengan ketaqwaan, dan percantik diriku dengan kesehatan, baik
jasmani maupun rohani.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar