Jumat, 03 Juni 2011

Pilar Pilar Keimanan Jundiyah

   Keimanan merupakan motor penggerak segala aktivitas Jundiyyah untuk mengendalikan perkataan, perbuatan, gerak langkah hingga getaran yang berdetak dalam hati. Bahkan lintasan–lintasan khayal yang berada dalam pikiran Jundiyyah pun sangat ditentukan oleh kemantapan dan kekokohan keimanan. Jika di dalamnya ada sedikit ketimpangan atau ketidakberesan maka hal tersebut akan menimbulkan kerusakan pada gerak hidup dan langkah dakwahnya.

   Keimanan, yang lahir dari roh spiritual yang berlafadzkan Laa ilaaha illallah, bukan kata tanpa makna dan retorika tanpa komitmen. Bukan ikrar–ikrar palsu atau janji kosong tanpa konsekuensi. Tapi lafadz tersebut pintu masuk seseorang khususnya Jundiyyah ke dalam bangunan islam, yang menjadi pembeda antara mukmin dan kafir. dan ia harus menjadi roh segala aktivitas kehidupan, dan mencerminkan kepribadian Rabbani dalam diri kita.

   Karenanya jika Jundiyyah memahami dengan Syamil mutakammil, dan berinteraksi dengannya dalam setiap gerak lahir maupun batin, maka keimanan terhadap lafadz tersebut akan menuntut kita memiliki spontanitas untuk selalu menempuh hidup penuh perhitungan. Karena Jundiyyah sadar, bahwa setiap gerak dan diamnya merupakan realisasi ikrar yang diucapkannya. Inilah kalimat yang memberi kekuatan, keteguhan, kesabaran, keberanian, dan keyakinan yang dalam saat meniti kehidupan. Semua terealisasi pada apa yang berhasil dicapai oleh generasi hasil Tarbiyah Rasulullah, yang langsung dipuji oleh Allah,
“Kamu adalah sebaik–baik ummat yang ditampilkan kepada manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (QS.Ali Imran:110)

   Ada beberapa karakter keimanan yang ada pada diri para sahabat. Generasi hasil Tarbiyah Rasulullah, yang mestinya melekat pada diri Jundiyyah atau orang–orang yang beriman. Dan karakter ini jika dibangun dengan baik, maka ia akan menjadi kekuatan yang akan mendatangkan pertolongan—kemenangan dakwah—islam.
Sur’atul istijabah (bersegera memenuhi perintah Allah) yang disebut oleh Sayyid Quthb sebagai tindakan pemenuhan fitrah untuk memenuhi panggilan da’wah yang hanif. Di dalamnya ada indikasi kejujuran, kelapangan, geliat jiwa—kobaran semangat, pemahaman yang benar, dan satu respon jiwa yang kuat lagi hebat atas kebenaran yang telah nyata.

   Landasan utama terwujudnya sur’atul istijabah adalah ma’rifah yang shahih terhadap keberadaan Allah, Sang Pencinta dan pengatur kehidupan ini. Dialah yang memberi nikmat lahir dan batin, mengatur alam seisinya demi kemaslahan manusia. Dia pula yang menurunkan aturan, hukum, dan rencana seluruh hamba-Nya. Ma’rifat seperti ini akan melahirkan mahabbah yang tinggi pada-Nya.
Kesegeraan Jundiyyah untuk merespon semua perintah Allah tergantung pada tingkat mahabbah. Semakin besar mahabbah Jundiyyah kepada Allah semakin cepat pula ia merespon atau menyambut seruan Allah—panggilan Allah.

   "Katakanlah: “Jika kamu benar–benar mencintai Allah, ikutilah aku niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa–dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran : 31)
Konsekwensi Jundiyyah dari sikap Asyaddu hubban lillah adalah Ittiba’u rasul. Karenanya Allah menghadirkan Muhammad saw di tengah umatnya selain sebagai Rasul yang wajib ditaati juga sebagai teladan yang wajib kita teladani segala gerak gerik aktivitas hidupnya. Baik Beliau sebagai seorang da’I (juru da’wah), sebagai pemimpin, sebagai suami, sebagai ayah, sebagai tetangga, dan sebagai manusia, “Dan kami tidak mengutus seorang Rasul, melainkan untuk dita’ati dengan seizing Allah…”(An  Nisa :64)           
Dengan sikap sur’atul istijabah, maka kita melihat bagaimana sejarah umat terbaik dahulu mengekspresikan keterpanggilan mereka terhadap seruan Allah. Tanah Madinah dibanjiri khamar ketika turun ayat yang mengharamkannya, dan ketika ada kewajiban berhijab ramai–ramai perempuan merobek kain–kain mereka untuk menutupi sesuatu yang Allah perintahkan.

   Dikisahlah dari Anas bin Malik ra berkata: “Kami tidak mempunyai khamar selain perasan anggur yang kalian beri nama sari anggur. Sesungguhnya aku memberi minum Abu Thalhah, fulan dan fulan ketika seorang laki–laki datang lalu  berkata: “Apakah berita telah sampai kepada kalian?” Mereka bertanya: “Apakah itu?” Orang tersebut menjawab: “Khamar telah diharamkan.” Mereka berkata: “Alirkan kendi itu, hai Anas!” mereka tidak menanyakan tentang khamr dan tidak meminumnya lagi sejak itu.

Bergetarnya hati karena Allah.

    Seperti yang digambarkan oleh Allah dalam surat Al Anfal ayat 2 “Sesungguhnya orang–orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut asma Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan pada mereka ayat–ayat-Nya, bertambahlah keimanan mereka dan kepada Rabb mereka bertawakkal” Bergetarnya hati karena takut dapat menyelamatkan Jundiyyah dari kemaksiatan. Karena jika rasa takut menguasai manusia, ia akan mempengaruhi hatinya hingga terjadi mimik muka, gemetarnya badan, dan mengalirnya air mata.
Orang yang takut pada Allah akan selalu merasa diawasi oleh-Nya, dan ia akan senantiasa berwaspada terhadap segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Karenanya tidak pernah merasa aman dari siksa-Nya sebagaimana yang dituturkan oleh Rasulullah, “Sesungguhnya orang mukmin itu melihat dosanya seolah–olah ia duduk di bawah gunung, dan ia takut gunung itu akan menjatuhinya. Dan sesungguhnya orang yang durhaka itu melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat di atas hidungnya, lalu ia berbuat pada lalat tersebut demikian (menghalau).” (HR. Bukhari) 

Tawakkal kepada Allah.

    Sebab tawakkal bagi Jundiyyah merupakan puncak kepasrahan dan totalitas penyerahan segala urusan kepada Allah. Ia terwujud setelah lahirnya tsiqah dan I’timad kepada Allah. Karena jika Allah menghendaki sesuatu, dia menjadi ada, bila tidak, maka tidak ada. Dan kewajiban Jundiyyah mengambalikan segalanya kepada Allah, karena tidak ada daya upaya kecuali dari-Nya. 

   Namun harus diyakini bahwa bertawakkal bukan berarti meninggalkan ikhtiar, karena Allah memerintahkan kepada semua hamba-Nya untuk berikhtiar sebelum bertawakkal. Jadi, ikhtiar merupakan manifestasi kepatuhan pada Allah, sementara tawakkal dalam hati adalah realisasi keimanan kepada-Nya, “Barangsiapa yang bertaqwa pada Allah niscaya ia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberi rizqi dari arah yang tiada di sangka – sangka. Dan barang siapa bertawakkal pada Allah niscaya Allah mencukupkannya.” (QS. Ath Thalaq : 2 – 3)
Cermin yang utuh bagi seorang Jundiyyah untuk belajar tawakkal adalah Siti Hajar. Teladan yang luhur ada pada pribadi Siti Hajar ketika beliau bersama putranya Ismail yang masih bayi ditinggal oleh Nabiyullah Ibrahim. Saat itu Siti Hajar bertanya: “Hai Ibrahim, kemanakah engkau akan pergi? Engkau tinggalkan kami di lembah yang tak berpenghuni dan tidak ada apa–apanya?” Siti Hajar mengatakan hal ini berulang–ulang namun Ibrahim tak menoleh kepadanya. Dan akhirnya Siti Hajar bertanya: “Apakah Allah memerintahkan engkau melakukan ini?” “Ya,” jawab Ibrahim. “Kalau begitu, pasti Allah tidak akan menyia–nyiakan kami.”

Mengiringi iman dengan amal shalih. 

 Kurang lebih lima puluh tempat dalam Al Qur’an, Allah menghubungkan keimanan dengan amal shalih. Jadi, keimanan itu mesti berwujud, dan wujud keimanan adalah amal shalih. Adalah dusta keimanan seseorang yang tanpa diiringi amalan, dan bukan amal shalih namanya bila tidak dilandasi keimanan. Karena islam adalah dunul ‘ilmi wal ‘amal, dinu da’wah wal harakah. Karenanya ketika amal shalih Jundiyyah bertambah, maka iman pun bertambah pula. Seperti dalam sabda Rasulullah saw, “Iman itu bertambah dan berkurang, bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.”

Mencintai orang shalih.

    Ukhuwah merupakan kebutuhan fitrah Jundiyyah, dan setiap manusia secara alami memerlukannya. Bagi seorang muslim, batas ukhuwah bukanlah persamaan kepentingan, persamaan jama’ah, etnis, geografis, melainkan wilayah aqidah. Kita bersaudara dan bermusuhan karena Allah. Persamaan aqidah akan membawa pada persamaan visi hidup, dan orientasi perjuangan. Karenan itulah ukhuwah bisa kokoh berdiri, dan mengakar dalam jiwa orang – orang mukmin.

   Bersaudara bukanlah hal yang direkayasa, dibuat–buat, apalagi dipaksakan. Tumbuh dan berkembangnya perasaan cinta dan kasih sayang di hati, karena Allah telah berkenan mengikat hati orang–orang beriman dalam sebuah jalinan persaudaraan, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imrah : 103)
"Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)[622]. walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana.”(Al Anfal : 63)
Ya. Ukhuwah harus merupakan akibat dari komitmen atau iltizam pada dienullah. Merealisasikan ukhuwah identik dengan merealisasikan keimanan. Karena tidak ada iman tanpa ukhuwah, dan iman pasti melahirkan ukhuwah. Dan proses ukhuwah yang tergambar dalam sejarah kaum Muhajirin dan Anshor, sarat dengan pelajaran berharga bagi kondisi umat islam saat ini. Bagaimana mereka saling memuliakan dan saling menghormati, bahkan sampai pada tingkat Itsar, yaitu mendahulukan kepentingan saudaranya di atas kepentingan diri pribadi, “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung” (Al Hasyr: 9)

   Demikianlah, proses merealisasikan karakteristik keimanana sebagai sebuah konsekwensi dan tuntutan syahadat kita. Dan hal tersebut membutuhkan perjuangan yang maksimal, juga perngorbanan yang tidak sedikit. Karena surga memang mahal…!http://www.pks-jaksel.or.id/Article1575.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar