Senin, 29 Agustus 2011

Kisah Nyata : Memetik Panen Dari Kesabaran

Ditengah gemuruhnya kota, ternyata Riyadh menyimpan bayak kisah. Kota ini menyimpan rahasia yang hanya diperdengarkan kepada telinga dan hati yang mendengar. Tentu saja, Hidayah adalah kehendak NYA dan Hidayah hanya akan diberikan kepada mereka yang mencarinya.

Ada sebuah energi yang luar biasa dari cerita yang kudengar beberapa hari yang lalu dari sahabat Saya mengenal banyak dari mereka, ada beberapa dari Palestina, Bahrain, Jordan, Syiria, Pakistan, India, Srilanka dan kebanyakan dari Mesir dan Saudi Arabia sendiri. Ada beberapa juga dari suku Arab yang tinggal dibenua Afrika. Salah satunya adalah teman dari Negara Sudan, Afrika.

Saya mengenalnya dengan nama Ammar Mustafa, dia salah satu Muslim kulit hitam yang juga kerja di Hotel ini.
Beberapa bulan ini saya tidak lagi melihatnya berkerja. Biasanya saya melihatnya bekerja bersama pekerja lainnya menggarap proyek bangunan di tengah terik matahari kota Riyadh yang sampai saat ini belum bisa ramah dikulit saya.



Hari itu Ammar tidak terlihat. Karena penasaran, saya coba tanyakan kepada Iqbal tentang kabarnya.
"Oh kamu tidak tahu?" Jawabnya balik bertanya, memakai bahasa Ingris khas India yang bercampur dengan logat urdhu yang pekat.

"Iyah beberapa minggu ini dia gak terlihat di Mushola ya?" Jawab saya.
Selepas itu, tanpa saya duga iqbal bercerita panjang lebar tentang Ammar. Dia menceritakan tentang hidup Ammar yang pedih dari awal hingga akhir, semula saya keheranan melihat matanya yang menerawang jauh. Seperti ingin memanggil kembali sosok teman sekamarnya itu.
Saya mendengarkan dengan seksama.

Ternyata Amar datang ke kota Riyadh ini lima tahun yang lalu, tepatnya sekitar tahun 2004 lalu. Ia datang ke Negeri ini dengan tangan kosong, dia nekad pergi meninggalkan keluarganya di Sudan untuk mencari kehidupan di Kota ini. Saudi arabia memang memberikan free visa untuk Negara Negara Arab lainnya termasuk Sudan, jadi ia bisa bebas mencari kerja disini asal punya Pasport dan tiket.

Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat. Do'a Ammar untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota ini demi keluarganya ternyata saat itu belum terkabul. Dia bekerja berpindah pindah dengan gaji yang sangat kecil, uang gajinya tidak sanggup untuk membayar apartemen hingga ia tinggal di apartemen teman temannya.
Meski demikian, Ammar tetap gigih mencari pekerjaan. Ia tetap mencari kesempatan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di Sudan.

Bulan pertama berlalu kering, bulan kedua semakin berat... Bulan ketiga hingga tahun tahun berikutnya kepedihan Ammar tidak kunjung berakhir.. Waktu bergeser lamban dan berat, telah lima tahun Ammar hidup berpindah pindah di Kota ini. Bekerja dibawah tekanan panas matahari dan suasana Kota yang garang. Tapi amar tetap bertahan dalam kesabaran.

Kota metropolitan akan lebih parah dari hutan rimba jika kita tidak tahu caranya untuk mendapatkan uang, dihutan bahkan lebih baik. Di hutan kita masih bisa menemukan buah buah, tapi di kota? Kota adalah belantara penderitaan yang akan menjerat siapa saja yang tidak mampu bersaing.

Riyadh adalah ibu kota Saudi Arabia. Hanya berjarak 7 jam dari Dubai dan 10 Jam jarak tempuh dengan bis menuju Makkah. Dihampir keseluruhan kota ini tidak ada pepohonan untuk berlindung saat panas. Disini hanya terlihat kurma kurma yang berbuah satu kali dalam setahun..
Amar seperti terjerat di belantara Kota ini. Pulang ke suddan bukan pilihan terbaik, ia sudah melangkah, ia harus membawa perubahan untuk kehidupan keluarganya di negeri Sudan. Itu tekadnya.

Ammar tetap tabah dan tidak berlepas diri dari keluarganya. Ia tetap mengirimi mereka uang meski sangat sedikit, meski harus ditukar dengan lapar dan haus untuk raganya disini.
Sering ia melewatkan harinya dengan puasa menahan dahaga dan lapar sambil terus melangkah, berikhtiar mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di Sudan.

Tapi Ammar pun Manusia. Ditahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu dengan teman temannya yang ia kenal, sudah lima tahun ia berpindah pindah kerja dan numpang di teman temannya tapi kehidupannya tidak kunjung berubah.
Ia memutuskan untuk pulang ke Sudan. Tekadnya telah bulat untuk kembali menemui keluarganya, meski dengan tanpa uang yang ia bawa untuk mereka yang menunggunya.

Saat itupun sebenarnya ia tidak memiliki uang, meski sebatas uang untuk tiket pulang. Ia memaksakan diri menceritakan keinginannya untuk pulang itu kepada teman terdekatnya. Dan salah satu teman baik amar memahaminya ia memberinya sejumlah uang untuk beli satu tiket penerbangan ke Sudan.
Hari itu juga Ammar berpamitan untuk pergi meninggalkan kota ini dengan niat untuk kembali ke keluarganya dan mencari kehidupan di sana saja.

Ia pergi ke sebuah Agen di jalan Olaya- Riyadh, utuk menukar uangnya dengan tiket. Sayang, ternyata semua penerbangan Riyadh-Sudan minggu ini susah didapat karena konflik di Libya, Negara tetangganya. Tiket hanya tersedia untuk kelas executive saja.

Akhirnya ia beli tiket untuk penerbangan minggu berikutnya. Ia memesan dari saat itu supaya bisa lebih murah. Tiket sudah ditangan, dan jadwal terbang masih minggu depan.
Ammar sedikit kebingungan dengan nasibnya. Tadi pagi ia tidak sarapan karena sudah tidak sanggup lagi menahan malu sama temannya, siang inipun belum ada celah untuk makan siang. Tapi baginya ini bukan hal pertama. Ia hampir terbiasa dengan kebiasaan itu.

Adzan dzuhur bergema.. Semua Toko Toko, Supermarket, Bank, dan Kantor Pemerintah serentak menutup pintu dan menguncinya. Security Kota berjaga jaga di luar kantor kantor, menunggu hingga waktu Shalat berjamaah selesai.

Ammar tergesa menuju sebuah masjid di pusat kota Riyadh. Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang, kemudian mengambil wudhu.. memabasahi wajahnya yang hitam legam, mengusap rambutnya yang keriting dengan air.
Lalu ia masuk mesjid. Shalat 2 rakaat untuk menghormati masjid. Ia duduk menunggu mutawwa memulai shalat berjamaah.

Hanya disetiap shalat itulah dia merasakan kesejukan, Ia merasakan terlepas dari beban Dunia yang menindihnya, hingga hatinya berada dalam ketenangan ditiap menit yang ia lalui.
Shalat telah selesai. Ammar masih bingung untuk memulai langkah. Penerbangan masih seminggu lagi.
Ia diam.

Dilihatnya beberapa mushaf al Qur'an yang tersimpan rapi di pilar pilar mesjid yang kokoh itu. Ia mengmbil salah satunya, bibirnya mulai bergetar membaca taawudz dan terus membaca al Qur'an hingga adzan Ashar tiba menyapanya.

Selepas Maghrib ia masih disana. Beberapa hari berikutnya, Ia memutuskan untuk tinggal disana hingga jadwal penerbangan ke Sudan tiba.

Ammar memang telah terbiasa bangun awal di setiap harinya. Seperti pagi itu, ia adalah orang pertama yang terbangun di sudut kota itu. Ammar mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa jiwa untuk shalat, membangunkan seisi kota saat fajar menyingsing menyapa Kota.

Adzannya memang khas. Hingga bukan sebuah kebetulan juga jika Prince (Putra Raja Saudi) di kota itu juga terpanggil untuk shalat Subuh berjamaah disana.
Adzan itu ia kumandangkan disetiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di kota Riyadh. Hingga jadwal penerbanganpun tiba. Ditiket tertulis jadwal penerbangan ke Sudan jam 05:23am, artinya ia harus sudah ada di bandara jam 3 pagi atau 2 jam sebelumnya.
Ammar bangun lebih awal dan pamit kepada pengelola masjid, untuk mencari bis menuju bandara King Abdul Azis Riyadh yang hanya berjarak kurang dari 30 menit dari pusat Kota.

Amar sudah duduk diruang tunggu dibandara, Penerbangan sepertinya sedikit ditunda, kecemasan mulai meliputinya. Ia harus pulang kenegerinya tanpa uang sedikitpun, padahal lima tahun ini tidak sebentar, ia sudah berusaha semaksimal mungkin.

Tapi inilah kehidupan, ia memahami bahwa dunia ini hanya persinggahan. Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatannya dengan Penggenggam Alam semesta ini dengan mengeluh. Ia tetap berjalan tertatih memenuhi kewajiban kewajibannya, sebagai Hamba Allah, sebagai Imam dalam keluarga dan ayah buat anak anaknya.
Diantara lamunan kecemasannya, ia dikejutkan oleh suara yang memanggil manggil namanya. Suara itu datang dari speaker dibandara tersebut, rasa kagetnya belum hilang Ammar dikejutkan lagi oleh sekelompok berbadan tegap yang menghampirinya.

Mereka membawa Ammar ke mobil tanpa basa basi, mereka hanya berkata "Prince memanggilmu". Ammarpun semakin kaget jika ia ternyata mau dihadapkan dengan Prince. Prince adalah Putra Raja, kerajaan Saudi tidak hanya memiliki satu Prince. Prince dan Princess mereka banyak tersebar hingga ratusan diseluruh jazirah Arab ini. Mereka memilii Palace atau Istana masing masing.

Keheranan dan ketakutan Ammar baru sirna ketika ia sampai di Mesjid tempat ia menginap seminggu terakhir itu, disana pengelola masjid itu menceritakan bahwa Prince merasa kehilangan dengan Adzan fajar yang biasa ia lantunkan.

Setiap kali Ammar adzan prince selalu bangun dan merasa terpanggil.. Hingga ketika adzan itu tidak terdengar, Prince merasa kehilangan. Saat mengetahui bahwa sang Muadzin itu ternyata pulang kenegerinya Prince langsung memerintahkan pihak bandara untuk menunda penerbangan dan segera menjemput Ammar yang saat itu sudah mau terbang untuk kembali ke Negerinya.

Singkat cerita, Ammar sudah berhadapan dengan Prince. Prince menyambut Ammar dirumahnya, dengan beberapa pertanyaan tentang alasan kenapa ia tergesa pulang ke Sudan.

Amarpun menceritakan bahwa ia sudah lima tahun di Kota Riyadh ini dan tidak mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk menghidupi keluarganya.

Prince mengangguk nganguk dan bertanya: "Berapakah gajihmu dalam satu bulan?" Amar kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan sering ia tidak punya gaji sama sekali, bahkan berbulan bulan tanpa gaji dinegeri ini.

Prince memakluminya. Beliau bertanya lagi: "Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah kamu dapati?"

Dahi Ammar berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun kebelakang. Ia lalu menjawabnya dengan malu: "Hanya SR 1.400", jawab Ammar.
Prince langsung memerintahkan sekretarisnya untuk menghitung uang. 1.400 Real itu dikali dengan 5 tahun (60 bulan) dan hasilnya adalah SR 84.000 (84 Ribu Real = Rp. 184. 800.000). Saat itu juga bendahara Prince menghitung uang dan menyerahkannya kepada Amar.
Tubuh Amar bergetar melihat keajaiban dihadapannya.

Belum selesai bibirnya mengucapkan Al Hamdalah, Prince baik itu menghampiri dan memeluknya seraya berkata: "Aku tahu, cerita tentang keluargamu yang menantimu di Sudan. Pulanglah temui istri dan anakmu dengan uang ini. Lalu kembali lagi setelah 3 bulan. Saya siapkan tiketnya untuk kamu dan keluargamu kembali ke Riyadh. Jadilah Bilall dimasjidku.. dan hiduplah bersama kami di Palace ini"

Ammar tidak tahan lagi menahan air matanya. Ia tidak terharu dengan jumlah uang itu, uang itu memang sangat besar artinya di negeri Sudan yang miskin. Ammar menangis karena keyakinannya selama ini benar, Allah sungguh sungguh memperhatikannya selama ini, kesabarannya selama lima tahun ini diakhiri dengan cara yang indah.

Ammar tidak usah lagi membayangkan hantaman sinar matahari disiang hari yang mengigit kulitnya. Ammar tidak usah lagi memikirkan kiriman tiap bulan untuk anaknya yang tidak ia ketahui akan ada atau tidak.
Semua berubah dalam sekejap! Lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Ammar. Tapi masa yang teramat singkat untuk kekuasaan Allah.

Nothing Imposible for Allah, Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah..
Bumi inipun Milik Allah,.. Alam semesta, Hari ini dan Hari Akhir serta Akhirat berada dalam Kekuasaan Nya.

Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan. Ini adalah cerita nyata yang tokohnya belum beranjak dari kota ini, saat ini Ammar hidup cukup dengan sebuah rumah di dalam Palace milik Prince. Ia dianugerahi oleh Allah di Dunia ini hidup yang baik, ia menjabat sebagai Muadzin di Masjid Prince Saudi Arabia di pusat kota Riyadh.
Subhanallah... Seperti itulah buah dari kesabaran.

ý"Jika sabar itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya. Jika kamu mulai berkata sabar itu ada batasnya, itu cukup berarti pribadimu belum mampu menetapi kesabaran karena sabar itu tak ada batasnya. Batas kesabaran itu terletak didekat pintu Syurga dalam naungan keridhaan Nya". (NAI)

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ "Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar". (Al Fushilat 35)

Allahuakbar!
Maha Benar Allah dengan segala Firman Nya
sumber : klik di sini

Ternyata Benar Benua Atlantis Itu Indonesia

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijGh4Oj8n9jssl4a2jeNR6I1ETD9x8Zze8boSPW6F9NJMuu6rqeTt-MDNIncZPH0PV41qVL6YeOWMg7DzPN5KM4iLEgUqJ_fsaCXLSmnvkCqN1NO_iwegzPZjeAaIOGTq7N74FV-j05ME/s1600/Indonesia+Truly+Atlantis+the+lost+continent+finally+found+by+arysio+santos.jpgSaya percaya kalau Benua Atlantis itu ada di Indonesia lihat saja tanah indonesia itu subur, banyak hasil laut, dan bumi, iklim tropis, dan masih banyak lagi. Tapi orang indonesia lebih suka mainnya di pabrik-pabrikan, padahal klo indonesia menjadi negara  agri bisnis mungkin menjadi negara sangat maju di dunia, dan ga perlu malu-maluin dengan menginpor pangan dari negara lain. Dan saya percaya kalau Indonesia menjadi negara agri bisnis, Indonesia dapat mensupply kebutuhan pangan dunia. Cuma sayang orang-orang indonesia lebih suka mengganti lahan mereka dengan pabrik.

Setelah penelitian beberapa tahun lalu dan perhitungan akurat serta tanda-tanda dan vegetasi alam dan kekayaan alam dan ternyata memang benar kalau Benua Atlantis itu Indonesia

Prof. Arysio Nunes Dos Santos menerbitkan buku yang menggemparkan : “Atlantis The Lost Continents Finally Found”. Dimana ditemukannya ? Secara tegas dinyatakannya bahwa lokasi Atlantis yang hilang sejak kira-kira 11.600 tahun yang lalu itu adalah di Indonesia (?!). Selama ini, benua yang diceritakan Plato 2.500 tahun yang lalu itu adalah benua yang dihuni oleh bangsa Atlantis yang memiliki peradaban yang sangat tinggi dengan alamnya yang sangat kaya, yang kemudian hilang tenggelam ke dasar laut oleh bencana banjir dan gempa bumi sebagai hukuman dari yang Kuasa. Kisah Atlantis ini dibahas dari masa ke masa, dan upaya penelusuran terus pula dilakukan guna menemukan sisa-sisa peradaban tinggi yang telah dicapai oleh bangsa Atlantis itu.

Pencarian dilakukan di Samudera Atlantik, Laut Tengah, Karibia, sampai ke kutub Utara. Pencarian ini sama sekali tidak ada hasilnya, sehingga sebagian orang beranggapan bahwa yang diceritakan Plato itu hanyalah negeri dongeng semata. Profesor Santos yang ahli Fisika Nuklir ini menyatakan bahwa Atlantis tidak pernah ditemukan karena dicari di tempat yang salah. Lokasi yang benar secara menyakinkan adalah Indonesia, katanya..

Prof. Santos mengatakan bahwa dia sudah meneliti kemungkinan lokasi Atlantis selama 29 tahun terakhir ini. Ilmu yang digunakan Santos dalam menelusur lokasi Atlantis ini adalah ilmu Geologi, Astronomi, Paleontologi, Archeologi, Linguistik, Ethnologi, dan Comparative Mythology. Buku Santos sewaktu ditanyakan ke ‘Amazon.com’ seminggu yang lalu ternyata habis tidak bersisa. Bukunya ini terlink ke 400 buah sites di Internet, dan websitenya sendiri menurut Santos selama ini telah dikunjungi sebanyak 2.500.000 visitors. Ini adalah iklan gratis untuk mengenalkan Indonesia secara efektif ke dunia luar, yang tidak memerlukan dana 1 sen pun dari Pemerintah RI.

Plato pernah menulis tentang Atlantis pada masa dimana Yunani masih menjadi pusat kebudayaan Dunia Barat (Western World). Sampai saat ini belum dapat dideteksi apakah sang ahli falsafah ini hanya menceritakan sebuah mitos, moral fable, science fiction, ataukah sebenarnya dia menceritakan sebuah kisah sejarah. Ataukah pula dia menjelaskan sebuah fakta secara jujur bahwa Atlantis adalah sebuah realitas absolut ?

Plato bercerita bahwa Atlantis adalah sebuah negara makmur dengan emas, batuan mulia, dan ‘mother of all civilazation’ dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalurgi, memiliki jaringan irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik, dan olahraga.

Warga Atlantis yang semula merupakan orang-orang terhormat dan kaya, kemudian berubah menjadi ambisius. Yang kuasa kemudian menghukum mereka dengan mendatangkan banjir, letusan gunung berapi, dan gempa bumi yang sedemikian dahsyatnya sehingga menenggelamkan seluruh benua itu.

Kisah-kisah sejenis atau mirip kisah Atlantis ini yang berakhir dengan bencana banjir dan gempa bumi, ternyata juga ditemui dalam kisah-kisah sakral tradisional di berbagai bagian dunia, yang diceritakan dalam bahasa setempat. Menurut Santos, ukuran waktu yang diberikan Plato 11.600 tahun BP (Before Present), secara tepat bersamaan dengan berakhirnya Zaman Es Pleistocene, yang juga menimbulkan bencana banjir dan gempa yang sangat hebat.

Bencana ini menyebabkan punahnya 70% dari species mamalia yang hidup saat itu, termasuk kemungkinan juga dua species manusia : Neandertal dan Cro-Magnon.
Sebelum terjadinya bencana banjir itu, pulau Sumatera, pulau Jawa, Kalimantan dan Nusa Tenggara masih menyatu dengan semenanjung Malaysia dan benua Asia.

Posisi Indonesia terletak pada 3 lempeng tektonis yang saling menekan, yang menimbulkan sederetan gunung berapi mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan terus ke Utara sampai ke Filipina yang merupakan bagian dari ‘Ring of Fire’.

Gunung utama yang disebutkan oleh Santos, yang memegang peranan penting dalam bencana ini adalah Gunung Krakatau dan ‘sebuah gunung lain’ (kemungkinan Gunung Toba). Gunung lain yang disebut-sebut (dalam kaitannya dengan kisah-kisah mytologi adalah Gunung Semeru, Gunung Agung, dan Gunung Rinjani.

Bencana alam beruntun ini menurut Santos dimulai dengan ledakan dahsyat gunung Krakatau, yang memusnahkan seluruh gunung itu sendiri, dan membentuk sebuah kaldera besar yaitu selat Sunda yang jadinya memisahkan pulau Sumatera dan Jawa.

Letusan ini menimbulkan tsunami dengan gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi dataran-dataran rendah diantara Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, diantara Jawa dan Kalimantan, dan antara Sumatera dan Kalimantan. Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa ‘fly-ash’ naik tinggi ke udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu sebagian besar masih ditutup es (Zaman Es Pleistocene) .

Abu ini kemudian turun dan menutupi lapisan es. Akibat adanya lapisan abu, es kemudian mencair sebagai akibat panas matahari yang diserap oleh lapisan abu tersebut.
Gletser di kutub Utara dan Eropah kemudian meleleh dan mengalir ke seluruh bagian bumi yang rendah, termasuk Indonesia. Banjir akibat tsunami dan lelehan es inilah yang menyebabkan air laut naik sekitar 130 meter diatas dataran rendah Indonesia. Dataran rendah di Indonesia tenggelam dibawah muka laut, dan yang tinggal adalah dataran tinggi dan puncak-puncak gunung berapi.

Tekanan air yang besar ini menimbulkan tarikan dan tekanan yang hebat pada lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya menimbulkan letusan-letusan gunung berapi selanjutnya dan gempa bumi yang dahsyat. Akibatnya adalah berakhirnya Zaman Es Pleitocene secara dramatis.

Dalam bukunya Plato menyebutkan bahwa Atlantis adalah negara makmur yang bermandi matahari sepanjang waktu. Padahal zaman pada waktu itu adalah Zaman Es, dimana temperatur bumi secara menyeluruh adalah kira-kira 15 derajat Celcius lebih dingin dari sekarang.

Lokasi yang bermandi sinar matahari pada waktu itu hanyalah Indonesia yang memang terletak di katulistiwa.

Plato juga menyebutkan bahwa luas benua Atlantis yang hilang itu “….lebih besar dari Lybia (Afrika Utara) dan Asia Kecil digabung jadi satu…”. Luas ini persis sama dengan luas kawasan Indonesia ditambah dengan luas Laut China Selatan.

Menurut Profesor Santos, para ahli yang umumnya berasal dari Barat, berkeyakinan teguh bahwa peradaban manusia berasal dari dunia mereka. Tapi realitas menunjukkan bahwa Atlantis berada di bawah perairan Indonesia dan bukan di tempat lain.
Walau dikisahkan dalam bahasa mereka masing-masing, ternyata istilah-istilah yang digunakan banyak yang merujuk ke hal atau kejadian yang sama.
Santos menyimpulkan bahwa penduduk Atlantis terdiri dari beberapa suku/etnis, dimana 2 buah suku terbesar adalah Aryan dan Dravidas.

Semua suku bangsa ini sebelumya berasal dari Afrika 3 juta tahun yang lalu, yang kemudian menyebar ke seluruh Eurasia dan ke Timur sampai Auatralia lebih kurang 1 juta tahun yang lalu. Di Indonesia mereka menemukan kondisi alam yang ideal untuk berkembang, yang menumbuhkan pengetahuan tentang pertanian serta peradaban secara menyeluruh. Ini terjadi pada zaman Pleistocene.

Pada Zaman Es itu, Atlantis adalah surga tropis dengan padang-padang yang indah, gunung, batu-batu mulia, metal berbagai jenis, parfum, sungai, danau, saluran irigasi, pertanian yang sangat produktif, istana emas dengan dinding-dinding perak, gajah, dan bermacam hewan liar lainnya. Menurut Santos, hanya Indonesialah yang sekaya ini (!). Ketika bencana yang diceritakan diatas terjadi, dimana air laut naik setinggi kira-kira 130 meter, penduduk Atlantis yang selamat terpaksa keluar dan pindah ke India, Asia Tenggara, China, Polynesia, dan Amerika.

Suku Aryan yang bermigrasi ke India mula-mula pindah dan menetap di lembah Indus. . Karena glacier Himalaya juga mencair dan menimbulkan banjir di lembah Indus, mereka bermigrasi lebih lanjut ke Mesir, Mesopotamia, Palestin, Afrika Utara, dan Asia Utara.
Di tempat-tempat baru ini mereka kemudian berupaya mengembangkan kembali budaya Atlantis yang merupakan akar budaya mereka.

Catatan terbaik dari tenggelamnya benua Atlantis ini dicatat di India melalui tradisi-tradisi cuci di daerah seperti Lanka, Kumari Kandan, Tripura, dan lain-lain. Mereka adalah pewaris dari budaya yang tenggelam tersebut.

Suku Dravidas yang berkulit lebih gelap tetap tinggal di Indonesia. Migrasi besar-besaran ini dapat menjelaskan timbulnya secara tiba-tiba atau seketika teknologi maju seperti pertanian, pengolahan batu mulia, metalurgi, agama, dan diatas semuanya adalah bahasa dan abjad di seluruh dunia selama masa yang disebut Neolithic Revolution.
Bahasa-bahasa dapat ditelusur berasal dari Sansekerta dan Dravida. Karenanya bahasa-bahasa di dunia sangat maju dipandang dari gramatika dan semantik. Contohnya adalah abjad. Semua abjad menunjukkan adanya “sidik jari” dari India yang pada masa itu merupakan bagian yang integral dari Indonesia.

Dari Indonesialah lahir bibit-bibit peradaban yang kemudian berkembang menjadi budaya lembah Indus, Mesir, Mesopotamia, Hatti, Junani, Minoan, Crete, Roma, Inka, Maya, Aztek, dan lain-lain. Budaya-budaya ini mengenal mitos yang sangat mirip. Nama Atlantis diberbagai suku bangsa disebut sebagai Tala, Attala, Patala, Talatala, Thule, Tollan, Aztlan, Tluloc, dan lain-lain.

Itulah ringkasan teori Profesor Santos yang ingin membuktikan bahwa benua atlantis yang hilang itu sebenarnya berada di Indonesia. Bukti-bukti yang menguatkan Indonesia sebagai Atlantis, dibandingkan dengan lokasi alternative lainnya disimpulkan Profesor Santos dalam suatu matrix yang disebutnya sebagai ‘Checklist’.

Terlepas dari benar atau tidaknya teori ini, atau dapat dibuktikannya atau tidak kelak keberadaan Atlantis di bawah laut di Indonesia, teori Profesor Santos ini sampai saat ini ternyata mampu menarik perhatian orang-orang luar ke Indonesia. Teori ini juga disusun dengan argumentasi atau hujjah yang cukup jelas.

Kalau ada yang beranggapan bahwa kualitas bangsa Indonesia sekarang sama sekali “tidak meyakinkan” untuk dapat dikatakan sebagai nenek moyang dari bangsa-bangsa maju yang diturunkannya itu, maka ini adalah suatu proses maju atau mundurnya peradaban yang memakan waktu lebih dari sepuluh ribu tahun. Contoh kecilnya, ya perbandingan yang sangat populer tentang orang Malaysia dan Indonesia; dimana 30 tahunan yang lalu mereka masih belajar dari kita, dan sekarang mereka relatif berada di depan kita.

Allah SWT juga berfirman bahwa nasib manusia ini memang dipergilirkan. Yang mulia suatu saat akan menjadi hina, dan sebaliknya. Profesor Santos akan terus melakukan penelitian lapangan lebih lanjut guna membuktikan teorinya. Kemajuan teknologi masa kini seperti satelit yang mampu memetakan dasar lautan, kapal selam mini untuk penelitian (sebagaimana yang digunakan untuk menemukan kapal ‘Titanic’), dan beragam peralatan canggih lainnya diharapkannya akan mampu membantu mencari bukti-bukti pendukung yang kini diduga masih tersembunyi di dasar laut di Indonesia.

Apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan bangsa Indonesia ? Bagaimana pula pakar Indonesia dari berbagai disiplin keilmuan menanggapi teori yang sebenarnya “mengangkat” Indonesia ke posisi sangat terhormat : sebagai asal usul peradaban bangsa-bangsa seluruh dunia ini ?

Coba kita renungkan penyebab Atlantis dulu dihancurkan : penduduk cerdas terhormat yang berubah menjadi ambisius serta berbagai kelakuan buruk lainnya (mungkin ‘korupsi’ salah satunya). Nah, salah-salah Indonesia sang “mantan Atlantis” ini bakal kena hukuman lagi nanti kalau tidak mau berubah seperti yang ditampakkan bangsa ini secara terang-terangan sekarang ini.

Demikian kutipan dari Catatan Bang Ferdy Dailami Firdaus tentang Teori Santos secara ringkas. Bagi yang berminat untuk membaca lebih jelas, dapat langsung ke website Profesor Arysio Nunes Dos Santos – Atlantis The Lost Continent Finally Found http://www.atlan.org/ 

INILAH Jalan raya paling mengerikan di dunia [Foto]

Bolivia's "Road of Death"

Nama jalan yang berada di Bolivia adalah North Yungas Road, jalan ini adalah jalan yang paling mengerikan di dunia. Kira-kira setiap dua minggu sekali akan terjadi satu kecelakaan fatal di jalan tersebut dan setiap tahun sekitar 200-300 orang meninggal di jalan yang panjang nya sekitar 80 km tersebut. Di tahun 1995, Inter-American Development Bank menamakan rute ini sebagai jalan yang paling berbahaya di dunia. 
 
Jalan ini merupakan jalan satu-satu nya menuju sebuah kota yang terletak di atas jalan tersebut Selain jalan nya yang dipinggir jurang dan tanpa pembatas, jalan yang licin, kabut yang menutupi jalan juga membuat banyaknya mobil-mobil yang jatuh kedalam jurang.
 






 

Persiden Teladan, Persiden Termiskin Di Dunia

Semoga ini menjadi bahan renungan kita, terutama orang kalangan atas pejabat dan menteri!!

Presiden Iran saat ini: Mahmoud Ahmadinejad, ketika di wawancara oleh TV Fox (AS) soal kehidupan pribadinya:

"Saat anda melihat di cermin setiap pagi, apa yang anda katakan pada diri anda?"
Jawabnya: "Saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan padanya:
"Ingat, kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran ."


Berikut adalah gambaran Ahmadinejad yang belum tentu orang ketahui, dan pastiyang membuat orang ternganga dan terheran-heran :

1. Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan
Ia menyumbangkan seluruh karpet Istana
Iran yang sangat tinggi nilainya itu
kepada masjid2 di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.

2. Ia mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP,
lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler
untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu, meski sederhana tetap terlihat impresive.


3. Di banyak kesempatan ia bercengkerama dengan petugas kebersihan di sekitar rumah dan kantor kepresidenannya.

4. Di bawah kepemimpinannya, saat ia meminta menteri2 nya untuk datang kepadanya
dan menteri2 tsb akan menerima sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan2 darinya,
arahan tersebut terutama sekali menekankan para menteri2nya untuk tetap hidup sederhana
dan disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi,
sehingga pada saat menteri2 tsb berakhir masa jabatannya dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak.

5. Langkah pertamanya adalah ia mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977,
sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran.
Rekening banknya bersaldo minimum, dan satu2nya uang masuk adalah uang gaji bulanannya.

6. Gajinya sebagai dosen di sebuah universitas hanya senilai US$ 250.

7. Sebagai tambahan informasi, Presiden masih tinggal di rumahnya.
Hanya itulah yang dimilikinyaseorang presiden dari negara yang penting baik secara strategis, ekonomis, politis,
belum lagi secara minyak dan pertahanan.
Bahkan ia tidak mengambil gajinya, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.

8. Satu hal yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yg selalu dibawa sang presiden tiap hari selalu berisikan sarapan;
roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira,
ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden.


9. Hal lain yang ia ubah adalah kebijakan Pesawat Terbang Kepresidenan,
ia mengubahnya menjadi pesawat kargo sehingga dapat menghemat pajak masyarakat dan untuk dirinya,
ia meminta terbang dengan pesawat terbang biasa dengan kelas ekonomi.

10. Ia kerap mengadakan rapat dengan menteri2 nya untuk mendapatkan info tentang kegiatan dan efisiensi yang sdh dilakukan,
dan ia memotong protokoler istana sehingga menteri2 nya dapat masuk langsung ke ruangannya tanpa ada hambatan.
Ia juga menghentikan kebiasaan upacara2 seperti karpet merah, sesi foto, atau publikasi pribadi,
atau hal2 spt itu saat mengunjungi berbagai tempat di negaranya.

11. Saat harus menginap di hotel, ia meminta diberikan kamar tanpa tempat tidur yg tidak terlalu besar
karena ia tidak suka tidur di atas kasur, tetapi lebih suka tidur di lantai beralaskan karpet dan selimut.
Apakah perilaku tersebut merendahkan posisi presiden?
Presiden Iran tidur di ruang tamu rumahnya sesudah lepas dari pengawal2nya yg selalu mengikuti kemanapun ia pergi.
Menurut koran Wifaq, foto2 yg diambil oleh adiknya tersebut,
kemudian dipublikasikan oleh media masa di seluruh dunia, termasuk amerika.




12. Sepanjang sholat, anda dapat melihat bahwa ia tidak duduk di baris paling muka



13. Bahkan ketika suara azan berkumandang,
ia langsung mengerjakan sholat dimanapun ia berada meskipun hanya beralaskan karpet biasa


14. baru-baru ini dia baru saja mempunyai Hajatan Besar Yaitu Menikahkan Puteranya. Tapi pernikahan putra Presiden ini hanya layaknya pernikahan kaum Buruh. Berikut dokumentasi pernikahan Putra Seorang Presiden




sebegitu sederhanakah dia?









Mudah-mudahan di pemilu yang akan datang kita akan memiliki Presiden seperti itu
 

Bintang Api Raksasa !

Bintang yang kita lihat ternyata punya warna dan ukuran yang berbeda-beda. Foto yang ditampilkan dalam artikel ini merupakan foto salah satu bintang yang cukup terkenal. Ia adalah bintang raksasa merah Betelguese ( kalau dilafal dalam bahasa inggris jadi terdengar  “Beetle-Juice” atau jus kumbang).
Bintang Betelguese dan nebula yang mengelilinginya. Kredit : ESO
Bintang tersebut memang tampak kecil di foto, hanya sebuah lingkaran merah di tengah. Tapi sebenarnya Beteguese ini sangat besar. Jika Matahari digantikan oleh Betelguese di Tata Surya maka besarnya bintang ini akan mencapai planet Jupiter! Bayangkan … jadi kalau Betelguese ditempatkan sebagai Matahari, Merkurius, Venus, Bumi, Mars sudah ditelan dan Jupiterlah yang menjadi planet pertama. 
 
Dulunya bintang Betelguese berukuran biasa saja seperti Matahari. Tapi ketika Betelguese bertambah tua, ia bertumbuh menjadi raksasa merah. Bintang itu jadi besar dan kesulitan untuk mempertahankan materi di lapisan terluarnya. Akibatnya lapisan materi ini tertiup ke angkasa dan membentuk awan gas dan debu yang cantik yang kita sebut nebula.  Pada foto, awan kabur yang berwarna merah, biru dan ungu yang mengelilingi sang bintang itulah yang merupakan nebula.

Karena nebula tidak seterang Betelguese, para astronom harus memblok sebagian cahaya bintang agar mereka dapat memotret nebula tersebut. Itulah sebabnya mengapa tampak piringan hitam di sekeliling bintang. Pada piringan itulah tempat dimana para astronom memblok atau menghalangi cahaya dari bintang terang untuk masuk ke teleskop sehingga nebula bisa dipotret.  Foto bintang Betelguese dipotret pada waktu yang berbeda baru kemudian digabungkan dengan foto nebula.

Foto yang diambil menunjukkan kalau nebula tidak merata di sekeliling Betelguese. Hal ini memberi informasi pada astronom kalau lapisan terluar bintang tertiup meninggalkan bintang pada waktu dan kecepatan berbeda. Dengan mempelajari foto tersebut, para astronom dapat mempelajari bagaimana bintang menciptakan terjadinya nebula.

Kamis, 25 Agustus 2011

Kisah ini sangat penting untuk memberikan pelajaran pelajaran berharga tentang makna keikhlasan sekaligus juga tentang istiqomah dan iltizam seorang hamba ketika dia memilih untuk menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya tempat untuk menyandarkan ke-tawakal-an sang hamba. Tawakal dan berserahnya pemuda itu kepada Allah SWT menyebabkan bukan saja dia seorang, malah keseluruhan rakyat mendapat hidayah dan beriman kepada Allah SWT. Begitu mulianya kisah ini sehingga Allah SWT berkehendak mengabadikannya dalam Al-Quran di surat Al-Buruj (Gugusan Bintang) dalam juz-amma, dan kemudian diterangkan dengan jelas oleh Nabi kita Muhammad SAW dalam hadits beliau seperti berikut ;

Shuhaib bin Sinaan Arrmmi ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
Di masa dahulu ada seorang raja (Yahudi) yang mempunyai seorang yang ahli sihir, kemudian ketika ahli sihir telah tua ia berkata kepada raja: "Kini aku telah tua dan mungkin telah dekat ajalku, karena itu anda kirim kepadaku seorang pemuda yang dapat aku ajarkan kepadanya ilmu sihir". Maka raja berusaha mendapat seorang pemuda untuk mempelajari ilmu sihir itu, sedang di tengah jalan antara tempat ahli sihir dengan rumah pemuda itu ada tempat seorang pendeta (ahli ibadah) yang mengajar agama, maka pada suatu masa pemuda itu singgah di tempat pendeta untuk mendengarkan pengajiannya, maka ia tertarik dengan ajaran pendeta itu sehingga jika ia terlambat datang kepada ahli sihir dia akan dipukul, dan bila terlambat kembali ke rumahnya juga dia dipukul, maka ia mengadu tentang kejadian itu kepada pendeta. Maka diajar oleh pendeta jika terlambat datang kepada ahli sihir supaya berkata aku ditahan oleh ibuku, dan bila terlambat kembali ke rumah katakan: Aku ditahan oleh ahli sihir. 

Maka berjalan beberapa lama kemudian itu, tiba-tiba pada suatu hari ketika ia akan (hendak) pergi, mendadak (tiba-tiba) di tengah jalan ada seekor binatang buas sehingga orang-orang tidak berani jalan di tempat itu, maka pemuda itu berkata: "Sekarang aku akan mengetahui yang mana lebih yang lebih baik di sisi Allah apakah ajaran pendeta atau ajaran ahli sihir", lalu ia mengambil sebutir batu dan berdoa "Ya Allah jika ajaran pendeta itu lebih baik di sisimu maka bunuhlah binatang itu supaya orang-orang dapat lalu lalang di tempat ini".Lalu dilemparkanlah batu itu, dan langsung terbunuh binatang itu. Dan orang-orang gembira karena telah dapat lalu lintas di jalan itu. 

Maka ia langsung memberitakan kejadian itu kepada Rahib (pendeta), maka berkatalah Rahib itu kepadanya : "Anda kini telah afdhat (pesan) daripadaku, dan anda akan diuji, maka jika diuji jangan sampai menyebut namaku". Kemudian pemuda itu dapat menyembuhkan orang buta dan sopak dan berbagai macam penyakit yang berat-berat pada semua orang. 

Ada seorang pembesar dalam majlis raja dan dia telah buta karena sakit mata, ketika ia mendengar berita bahwa ada seorang pemuda dapat menyembuhkan pelbagai macam penyakit maka ia segera pergi kepada pemuda itu sambil membawa hadiah yang banyak, sambil berkata: "sembuhkan aku, dan aku sanggup memberikan kepadamu apa saja yang anda suka". 

Jawab pemuda itu: "Aku tidak dapat menyembuhkan seseorang pun sedang yang menyembuhkan hanya Allah azza wajalla, jika engkau mau beriman (percaya) kepada Allah, maka aku akan berdoa semoga Allah menyembuhkan mu". 

Maka langsung dia beriman kepada Allah dan didoakan oleh pemuda dan seketika itu juga ia sembuh dengan izin Allah s.w.t. Kemudian ia kembali ke majlis raja sebagaimana biasanya, dan ditanya oleh raja "Hai Fulan siapakah yang menyembuhkan matamu" Jawabnya "Rabbi (Tuhanku)". Raja bertanya: "Aku?". Raja bertanya demikian karena merasa dirinya sebagai Tuhan. Jawabnya "Bukan, tetapi Tuhanku dan Tuhanmu yaitu Allah". Ditanya oleh Raja "Apakah anda mempunyai Tuhan selain Aku?" Jawabnya "Ya, Tuhan ku dan Tuhanmu adalah Allah". 

Maka disiksa oleh raja seberat-beratnya siksa sehingga terpaksa ia memberitahu raja itu akan pemuda yang mendoakannya untuk sembuh itu.
Maka segera dipanggil pemuda itu lalu berkata "Hai anak sungguh hebat sihirmu sehingga dapat menyebuhkan orang buta dan sopak dan berbagai macam penyakit" 

Jawab pemuda itu "Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan siapa pun, hanya semata-mata Allah azza wa jalla". Raja itu pun bertanya "Adakah aku?", "Tidak" jawab permuda itu. maka tanya raja itu "Adakah engkau ada tuhan lain selain aku?" Jawab pemuda "Ya, Tuhanku dan Tuhanmu hanya Allah". Maka pemuda itu ditangkap dan disiksa seberat-beratnya sehingga terpaksa dia menunjukkan pada Rahib yang mengajarnya. Maka dipanggil Rahib dan dipaksa untuk meninggalkan agamanya, tetapi Rahib tetap bertahan dan tidak mau beralih agama, maka diletakkan gergaji di atas kepalanya dan digergaji dari atas kepalanya hingga terbelah dua badannya. 

Kemudian kembali pemuda itu diperintah untuk meninggalkan agama yang dianutnya (agama tauhid), tetapi pemuda ini juga menolak perintah raja, Maka raja memerintahkan supaya dibawa ke puncak gunung dan di sana juga supaya ditawarkan kepadanya untuk meninggalkan agamanya dan mengikuti agama raja, jika tetap menolak supaya dilempar dari atas gunung itu, maka ketika telah sampai di atas gunung dan ditawarkan kepadanya pemuda untuk berubah agama, dan ditolak oleh pemuda itu. Kemudian pemuda itu berdoa "Allahumma ikfinihim bimaa syi’ta: (Ya Allah selesaikanlah urusanku dengan mereka ini dengan aku sehendak-Mu)". Tiba-tiba gunung itu bergoncang sehingga para pengawal berjatuhan dari atas bukit dan mati semuanya, maka segeralah pemuda itu kembali menemui raja, dan ketika ditanya: "Manakah orang-orang yang membawamu?". Jawabnya: "Allah yang menyelesaikan urusan mereka". 

Lalu pemuda itu ditangkap lagi dan kali ini dibawa ke laut dengan naik perahu, setelah sampai di tengah laut ditanyakan padanya jika ia mau mengubah agama, jika tidak maka lemparkan ke dalam laut dan ketika telah sampai di tengah laut pemuda itu berdoa: "Allahumma ikfinihim bimaa syi’ta", maka tenggelamlah orang yang membawanya semuanya dan segeralah pemuda kembali menghadap raja. Dan ketika ditanya oleh raja "Bagaimana keadaan orang-orang yang membawamu?" Jawabnya: "Allah yang menyelesaikan mereka". 

Kemudian pemuda itu berkata kepada raja "Engkau takkan dapat membunuhku kecuali jika engkau menurut perintahku maka dengan itu engkau akan dapat membunuhku" Raja bertanya: "Apakah perintahmu?" Jawab pemuda: "Kau kumpulkan semua orang di suatu lapangan, lalu engkau gantung aku di atas tiang, lalu kau ambil anak panah milikku ini dan kau letakkan di busur panah dan membaca: Bismillahi Rabbil ghulaarn (Dengan nama Allah Tuhan pemuda ini), kemudian anda lepaskan anak panah itu, maka dengan itu anda dapat membunuhku". Maka semua usul pemuda itu dilaksanakan oleh raja, dan ketika anak panah telah mengenai pelipis pemuda itu ia mengusap dengan tangannya dan langsung mati, maka semua orang yang hadir berkata: "Aamannaa birrabil ghulaam (Kami beriman kepada Tuhannya pemuda itu)". Sesudah itu ada orang memberitahu kepada raja bahwa semua rakyat telah beriman kepada Tuhannya pemuda itu, maka bagaimanakah usaha untuk menghadapi rakyat yang banyak ini. Maka raja memerintah supaya di setiap jalan digali parit dan dinyalakan api, dan tiap orang yang berjalan di sana, dan ditanya tentang agamanya, jika ia telap setia pada kami biarkan, tetapi jika ia tetap percaya kepada Allah masukkanlah ia ke dalam parit api itu.
Maka adanya orang berjejal-jejal (berbaris-baris) dorong mendorong yang masuk di dalam parit api itu, sehingga tiba seorang wanita yang menggendong(membawa) bayinya yang masih menyusu, ketika bayinya diangkat oleh pengikut-pengikut raja untuk dimasukkan kedalam parit berapi itu, wanita itu hampir menuruti mereka berganti agama karena sangat belas kasihan pada anaknya yang masih kecil itu, tiba-tiba anak bayi itu berbicara dengan suara lantang: "Sabarlah hai ibuku karena kau sedang mempertahankan yang kebenaran.”. Akhirnya mereka berdua terjun kedalam parit api yang menyala dan membakar.

(H.R. Ahmad, Muslim dan Annasa’i)
Berkata Ibnu Abbas kisah ini terjadi 70 tahun sebelum Nabi saw. 

Kepekaan Jiwa

Semua orang ingin bahagia. Cara orang mengejar kebahagiaan berbeda-beda. Akibatnya, berbeda pula kualitas kebahagiaannya. Ada yang semu dan ada yang sejati, Sisi luar dari kebahagiaan memang relatif. Tidak bisa disama-ratakan. Seperti soal selera makan, kesukaan akan warna, model, dan hal-hal fisik lainnya. Tetapi sisi dalam dari sebuah kebahagiaan berada pada ruang yang sama: kebahagiaan itu ada di hati. Pada sisi dalam inilah, tempat sebuah kebahagian diukur, apakah semu atau sejati. Dan bukan pada sisi luarnya. Memoles sisi luar sebuah kebahagiaan, dengan menyalahi dan melanggar suara hati, hanya akan menimbulkan kesenjangan, split personality, juga kebahagiaan yang sangat kabur. Dengan tulus mendengar kata hati, dengan tulus mengikuti nurani, banyak manfaat yang bisa kita peroleh,

1. Menjadi Manusia yang Sebenarnya
Dengan meniti jalan yang benar, yang tidak bertentangan dengan hati nurani, berarti manusia telah menemukan caranya yang tetap untuk hidup sebagai manusia. Sebaliknya, kesengsaraan di dunia yang paling besar, manakala seseorang setiap saat, setiap waktu, setiap detik, selalu digedor-gedor oleh kesadaran dirinya, oleh suara hatinya, karena kesalahan yang telah diperbuatnya. Apa yang dirasakan seorang tentara Amerika, Kapten John Plummer, salah satu contohnya. Mantan pilot Amerika pada perang Vietnam itu bertahun-tahun dihantui rasa bersalah, setelah serangan bom yang ia lakukan pada 1972 di Trang Bang – sekitar 40 kilometer Saigon – ternyata banyak memakan korban anak-anak kecil. Saat perintah kepadanya datang, Plummer sempat bertanya kepada atasannya tentang bahaya bom itu buat orang-orang sipil. Tetapi atasannya menyatakan bahwa mereka sudah meninggalkan desa. 

Tiga hari kemudian, Plummer mengambil koran militer di messnya. Ia sangat terkejut melihat foto seorang anak perempuan yang berlari tanpa selembar kain, dengan latar belakang asap pekat yang mengepul. Anak itu, Kim Phuc, nampak terus berlari dengan mimik menangis dan ketakutan. Plummer menatap foto Kim Phuc dengan perasaan hancur. Apalagi bila ia ingat anaknya, Louis, yang juga hampir seusia Kim. Dalam keadaan sangat terpukul, ia tunjukkan koran itu kepada petugas intelijen yang duduk di seberang, seraya mengatakan, "Saya yang melakukannya.”
Kim akhirnya selamat setelah 14 bulan dirawat dan menjalani operasi cangkok kulit 17 kali, Tetapi cangkok kulit itu membuatnya tidak bisa mengeluarkan keringat sehingga bila suhu panas, rasanya seperti diiris-iris ratusan pisau. Sementara Plummer, semakin kacau dan melarikan diri ke minunam keras, untuk menghilangkan rasa bersalahnya. Perkawinannya pun hancur. Ia bercerai pada 1979. Plummer benar-benar masuk ke lingkaran syetan. 

Waktu terus berjalan, hingga suatu hari, Kim yang sudah berusia 33 tahun akan datang pada sebuah acara Vietnam Veterans Memorials. Dalam kesempatan itu, Plummer berhasil menemui Kim, meski nyaris gagal. “I’m sorry, I am sorry. Saya (dulu) tidak bermaksud menyakitimu." Ia masih terus berusaha menjelaskan. Tetapi Kim segera menyahut, “Tidak mengapa.” Saya memaafkan, saya memaafkan," ucap Kim terbata.
Akibat Perang Vietnam, tiga juta tentara dan warga sipil Vietnam tewas. Perang itu juga menyebabkan dua juta warga Vietnam cacat karena pengaruh zat-zat kimia perontok tanaman yang digunakan angkatan udara AS. 72 liter zat kimia dipakai AS dalam perang itu. Sementara itu, 50.000 anak-anak dilahirkan cacat sebagai akibat dioksin (zat kuning) dan senjata kimia lain yang digunakan AS.

Suara hati nurani telah meluluhkan seorang Plummer. Ia baru bisa tenang, setelah dengan penuh keyakinan mendengar langsung kata maaf dari Kim. Dalam pertemuarn yang sangat mengharukan itu, keduanya berusaha saling menghibur.

2. Sahabat yang Paling Bisa Dipercaya
Suara hati kita, adalah sahabat terdekat dan terbaik kita. Suara hati kita tidak pernah berdusta. Meskipun kita berusaha mendustainya. Ia seperti cermin datar, yang bercerita tentang kita apa adanya. Bila tindakan kita baik, ia akan mengatakan baik. Bila buruk juga akan dikatakan buruk. Pertemuan kata hati dengan bimbingan wahyu ilahi telah mengantarkan seorang Cat Steven merengkuh jalan Islam. Padahal karirnya di dunia musik luar biasa. Kelahiran 21 Juli 1948 yang punya nama lengkap Stephen Demetre Georgiou itu menjadi penyanyi populer pada tahun 1970-an. Album-albumnya menuai sukses besar, terutama albumnya “Tea for The Tillerman”.

Hingga suatu hari tiba-tiba ia dikejutkan oleh terjemahan Al Qur’an surat Asy-Syu’ara, ayat 221-227, yang diberikan kakaknya, David Gordon. Ayat-ayat itu berkisah tentang syetan yang turun kepada para pendusta, juga tentang para penyair yang diikuti orang-orang sesat, yang suka berkata apa yang tidak mereka kerjakan. Kecuali para penyair yang beriman dan beramal shalih dan banyak menyebut Allah.

“Surat Asy-Syu’ara seketika telah membuat saya berhenti dari musik dan memaksa saya mengevaluasi hidup saya,” kata Yusuf Islam, alias Cat Steven mengisahkan saat-saat penting proses ke-Islamannya. Dalam sebuah kunjungannya ke Indonesia, di hadapan ratusan mahasiswa sebuah perguruan tinggi, ia sempat melantunkan Al-Qur’an dengan tenang. Sebagian hadirin tak kuasa menahan air matanya.

Tak jauh berbeda dengan kisah Maryam Jamilah. Wanita dari sebuah keluarga Yahudi bernama asli Margaret Marcus itu tinggal di pinggiran New York, Amerika Serikat. Kelahiran 3 Mei 1934 itu dikenal sebagai penulis dan intelektual yang menaruh minat besar dalam bidang agama, filsafat, sejarah, antropologi, sosiologi, dan biologi. Sejak kecil, Margaret yang biasa dipanggil Peggy, sangat giat mendalami berbagai keyakinan dalam rangka mencari kebenaran yang sesuai dengan hati nuraninya, Mulai dari keyakinan leluhurnya, kemudian keyakinan Kristen, Budha. Tetapi dari itu semua, ia belum mendapatkan kebenaran yang selama ini dia inginkan. Apalagi ia cenderung tidak mudah puas terhadap segala sesuatu, kecuali ia telah perdalam terlebih dahulu sesuatu tersebut. 

Sebenarnya sejak berumur 12 tahun, ia telah mengenal kehidupan Islam dari buku-buku yang ia baca. Seperti misalnya The Lance of Kanana, sebuah buku yang mengisahkan kehidupan seorang anak Badui yang tinggal di gurun Arab. Kemudian Camel Bells: A Boy of Baghdad, sebuah buku yang mengisahkan kehidupan seorang anak Irak miskin yang diangkat anak oleh sebuah keluarga Badui.

Setelah dewasa, interaksi dengan Islam semakin kuat tatkala ia membaca terjemahan Qur’an dan buku-buku karangan sarjana Barat yang masuk Islam, Muhammad Assad. Misalnya saja, The Road to Mecca dan Islam on the Crossroads. Akhirnya, pada 24 Mei 1964, ia memantapkan hatinya untuk masuk Islam secara terbuka di Islamic Mission di Brooklyn, New York. Sejah itu ia berganti nama menjadi Maryam Jamilah.
Segalanya memang harus dimulai dari kata hati. Hidayah memang datang dari Allah, tetapi proses pencarian hidayah itu berada dalam lingkup ikhtiar manusia. “Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.” (Qs. Muhammad: 17).

3. Pilar Penegakan Hukum yang Paling Kuat
Hati nurani adalah pilar paling kokoh untuk menegakkan hukum. Karena perangkat-perangkat fisik, bahkan aturan perundang-undangan sangat mudah direkayasa, dimanipulasi, bahkan dipalsukan. Seperti pada sidang Tragedi Priok, 12 September 1984. Pada 1999 lalu, HM Dault (almarhum), mantan Ketua Tim Pembela Kasus Tanjung Priok, menuturkan. Di persidangan, 28 mubalig muda yang dituduh terlibat kasus Priok, 

dihadapkan dengan sejumlah barang bukti, berupa golok, panah, bambu runcing dan clurit. Polisi dan jaksa menyebut, barang bukti itu digunakan 28 mubalig untuk menyerang kodim – bersama ribuan orang –, pada malam sebelum terjadinya kasus Priok. HM Dault lantas menanyakan pada saksi, seorang Babinsa yang membawa masuk barang bukti itu ke pengadilan. Dault bertanya, “Ini barang buktinya?” Dijawab, “Siap Pak!" “Bagus ya, kok baru-baru semua. Ini dibeli di mana?" lanjut Dault. “Siap Pak! Di pasar!” jawab Babinsa itu. Sidang pun geger dengan gelak tawa hadirin. Babinsa itu sendiri pucat setelah bicara demikian. Tidak saja manusia yang dituduh, golok-golok yang masih baru pun dituduh telah dipakai menyerang. Tetapi, kisah hakim pada kasus lain memberi pelajaran tentang sulitnya mendustai hati nurani. Meski sesudah itu, tidak semua hakim lantas bertindak adil. Seperti para hakim yang mengadili Umar Abduh, yang oleh penguasa masa Orba dikenakan tuduhan subversif dalam kasus Cicendo. Ia, yang sejak 1979 gencar berceramah menentang P-4 dan mewanti-wanti umat soal Pancasila yang akan dijadikan alat mengeliminir umat, ditangkap pada 1981. Di tahanan, seperti dialami para mubaligh muda saat itu, ia sempat dihajar 13 perwira dan kolonel selama 2 setengah jam. Selama 6 bulan ia diperiksa di kejaksaan, dengan menggunakan BAP hasil militer. Saat itu, beberapa jaksa ada pula yang memihak padanya dan menganjurkan, kalau mau “nekat” sekalian, tolak saja BAP itu di persidangan nanti.

Akhir 1982 perkaranya baru diadili. Dalam pledoi-nya, ia menyatakan pengadilan tidak berwenang mengadili perkaranya. Ia tak mau berhubungan dengan perkara itu, karena menurutnya, para hakim tidak mampu menunjukkan eksistensi sebagai seorang muslim. Ia pertanyakan, “Kalian sebagai muslim atau sebagai kafir menjadi hakim. Pengadilan ini pengadilan Islam atau pengadilan kafir?" Setelah itulah, di dalam penjara ia menerima surat beberapa hakim yang memohon maaf. Juga mohon pengertian supaya tidak menyangka hakim memiliki hati yang sedemikian buruk. Mereka memohon pengertian atas kondisi mereka, yang berada dalam tekanan. Ada lagi kisah pledoi yang dibacakan beberapa mubalig dalam kasus yang serupa, kasus Lampung, yang membuat hakim dan jaksa sampai menitikkan air mata. Di dalam pledoi para mubalig itu mengingatkan hakim dan jaksa soal tuntutan di akhirat bagi penegak hukum yang melanggar keadilan.
Mungkin manusia begitu perkasa bersembunyi dibalik struktur keangkuhannya, kebengisannya, atau kemunafikannya. Tetapi sebenarnya ia tidak akan pernah bisa berdusta pada hati nuraninya.

4. Mata Air Kedamaian
Kejujuran pada hati nurani, yang disirami dengan iman dan keyakinan kepada Allah, adalah mata air kedamaian yang tak pernah kering. Keduanya menjadikan seorang muslim tetap tegar, di saat orang lain berguguran. Ia membuat seorang muslim tetap tenang di saat orang lain ketakutan.

Zainab Al-Ghazali Al-Jabili, adalah contoh nyata bagaimana hati nurani dan iman menjadi mata air kedamaian yang luar biasa. Wanita pejuang Ikhwanul Muslimin itu tak sedikit pun merasa sedih ketika ia harus mendekam dalarn penjara pemerintah Mesir, di bahwa tangan diktator Garnal Abdul Naseer. Mula-mula, Zaenab dimasukkan ke sel 24. Sel ini sangat terkenal di kalangan para tahanan. Sel itu penuh dengan anjing-anjing buas. Tubuh Zaenab ditendang, dan segera dengan rapat pintu sel digembok. Tiba-tiba lampu menyala. 
Serentak anjing-anjing buas tersebut berebut menerkam seluruh tubuh Zaenab. Dalam keadaan ketakutan, ia menyibukkan diri dengan membaca Asmaul Husna. Di tengah tusukan taring-taring yang menghujam itu, Zaenab berdoa, “Ya Allah sibukkanlah diriku dengan Engkau dari yang lainnya. Engkaulah tempat mengadu, bawalah aku ke sisi-Mu, limpahilah aku anugerah-Mu. Anugerahkanlah cinta-Mu kepadaku dan tabahkanlah aku ya Allah dan semua kaurn muwahhidin.”

Beberapa saat setelah pintu sel terbuka barulah Zaenab menghentikan do’anya dan membuka mata. Alangkah menakjubkan dan kagetnya dia, melihat baju yang ia kenakan masih utuh dan seluruh tubuhnya tak ada cacat secuilpun. "Ya Allah, apakah seorang macam aku ini layak memperoleh anugerah-Mu dan kehormatan sebesar itu, kepada-Mu lah segala puja dan puji," begitu Zaenab berdo’a.

Beberapa hari kemudian, menjelang tengah hari yang terik, Zaenab baru saja dikeluarkan dari sel air. Selang beberapa saat seorang perwira bernama Shafat memasukkan seorang prajurit bertubuh raksasa hitam gempal. Shafat pun memerintahkannya untuk memperkosa Zaenab. “Kalau melawan, pecut saja!" begitu perintah Shafat kepada prajurit itu. Zaenab kembali menyibukkan diri dengan doa sembil menatap wajah prajurit itu tajam-tajarn. Tiba-tiba Zaenab terperanjat. Ternyata prajurit yang berwajah garang tersebut bersikap lembut dan berkata, “Jangan takut Khalah, saya tidak akan mengusikmu, meski mereka memotongku menjadi berkeping-keping.”

Prajurit itu bertanya, mengapa mereka menyiksanya. Zaenab menjawab, “Saya berda’wah untuk cita-cita agar hukum Islam diterapkan dalam negara ini.” Prajurit tersebut tidak melaksanakan perintah Shafat, hingga saat dhuhur tiba. Zaenab pun melaksankan sholat. Setelah selesai shalat, prajurit tersebut berkata kepada Zaenab, "Do’akan saya, semoga Allah memberi hidayah kepada saya agar menunaikan sholat." Lalu dengan geramnya prajurit tersebut berteriak, "Kalian bukan manusia! Semoga Tuhan menghancurkan rumah tanggamu, hai Abden Naser!"

Zaenab mengajari prajurit itu sholat, hingga ia berani sholat di dalam sel itu. Ketika ia tengah sholat, datanglah Shafat. Mendadak pintu sel terbuka dengan keras. Shafat langsung memukul orang tersebut sekeras-kerasnya. Prajurit itu dihadapkan ke pengadilan militer. Hingga akhirnya dihukum tembak mati.
Hal yang agak berbeda, terjadi pada seorang pastor di Indonesia, Pater Martinus Anton Wesel Brouwer. Biarawan pada Ordo Fransiskan yang biasa menyingkat namanya dengan MAW Brouwer itu dikenal sebagai seorang pastur dan ahli jiwa. Ia diakui telah meletakkan dasar psikologi di Indonesia. Sebagai seseorang yang memegang otoritas keagamaan dan faham tentang seluk beluk kehidupan dan jiwa manusia, tentunya ia begitu dekat dengan konsep kematian dan kehidupan sesudahnya berdasarkan keyakinannya. Tetapi tiga tahun sebelum kematiannya, ia mengatakan kepada kawannya, “Saya paling takut pada kematian." Ia menambahkan, “Sekarang saya takut mati, Ibarat seorang filsuf yang banyak berpikir tentang maut, saya merasa gentar ketika harus menghadapinya.”

Teman-temannya heran. Bukankah ia pastor? Bagaimanakah dengan keyakinannya bahwa ia telah diselamatkan? Salah seorang sahabatnya mengatakan, "Hendaknya Pater bersikap pasrah seperti orang Islam.” Pater menjawab, “Ya, saya akan banyak belajar dari orang Islam.” Akhirnya pada 19 Agustus 1991, kematian yang ditakutinya itu datang juga. Sebelumnya ia berhari-hari tidak mau makan dan minum, barangkali disebabkan oleh bayang-bayang malaikat maut.
Kematian dan kehidupan hanya datang sekali. Ada yang menyongsongnya dengan tenang, ada pula yang penuh kegundahan. Kematian adalah pelajaran bagi orang-orang yang mau mendengar kata hatinya, untuk kemudian mencari dan memohon petujuk Allah swt.

5. Pilar Keseimbangan
Suara hati nurani adalah titian fitrah. Segala makhluk diciptakan Allah atas fitrahnya yang lurus. Begitupun alam semesta, dari binatang hingga tumbuh-tumbuhannya. Fitrah adalah pilar keseimbangan.
Kalau kita perhatikan data grafik curah hujan pada setiap musim hujan, maka pada hujan pertama curahnya umumnya relatif kecil. Artinya hanya terjadi gerimis, dan belum hujan lebat. Demikian pula untuk menuju hujan kedua atau ketiga, pasti ada selang waktu beberapa hari. Ternyata ada rahasia keseimbangan di balik proses itu. Hujan gerimis pertama kali ternyata berpengaruh terhadap partikel-partikel tanah kering (sehabis musim kemarau), Dan partikel-pertikel ini diperkuat oleh benang-benang yang dihasilkan jamur-jamur tanah. Jamur-jamur itu mulai aktif saat gerimis pertama tiba. Ilmuwan Watson, Stojanovic, Haris dan Martin mengemukakan bahwa kondisi ini terbentuk oleh agregat-agregat tanah yang mantap. Adapun adanya selang waktu hujan mengakibatkan terjadinya pembengkakan dan pengerutan (sweelling and shrinking) pada tanah. Menurut llmuwan Raver, Hewitt dan Dexter hal ini sangat penting bagi penyempurnaan agregasi tanah. Sehingga kondisi tanah pertanian menjadi sempurna, dan para petani akan mudah mengolahnya. Selain itu, proses-proses itu menjadikan tanah telah siap menerima hujan deras selanjutnya. Siapnya tanah untuk menerima hujan deras itu berarti mampu meminimalisir potensi erosi yang kemungkinan besar muncul. Begitulah alam berjalan di atas fitrahnya. Seperti yang telah dijelaskan Allah, “Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran tertentu." (Qs. Al-Mukminun: 18).

Segalanya begitu jelas. Hati nurani yang bersih, suara hati yang jujur memberi kita begitu banyak kebaikan. Sebuah pemberian yang tanpa pamrih dan tak pernah habis, Hanya dibutuhkan kesungguhan, kerelaan, dan kelapangan untuk mendengarkan suara-suara hati nurani. Untuk kemudian memohon taufik kepada Allah atas segala keputusan yang terjadi sesudah itu.  –wallahu’alam-
sumber : http://beranda.blogsome.com/