Semua orang ingin bahagia. Cara orang mengejar kebahagiaan berbeda-beda. Akibatnya, berbeda pula kualitas kebahagiaannya. Ada yang semu dan ada yang sejati, Sisi luar dari kebahagiaan memang relatif. Tidak bisa disama-ratakan. Seperti soal selera makan, kesukaan akan warna, model, dan hal-hal fisik lainnya. Tetapi sisi dalam dari sebuah kebahagiaan berada pada ruang yang sama: kebahagiaan itu ada di hati. Pada sisi dalam inilah, tempat sebuah kebahagian diukur, apakah semu atau sejati. Dan bukan pada sisi luarnya. Memoles sisi luar sebuah kebahagiaan, dengan menyalahi dan melanggar suara hati, hanya akan menimbulkan kesenjangan, split personality, juga kebahagiaan yang sangat kabur. Dengan tulus mendengar kata hati, dengan tulus mengikuti nurani, banyak manfaat yang bisa kita peroleh,
1. Menjadi Manusia yang Sebenarnya
Dengan meniti jalan yang benar, yang tidak bertentangan dengan hati nurani, berarti manusia telah menemukan caranya yang tetap untuk hidup sebagai manusia. Sebaliknya, kesengsaraan di dunia yang paling besar, manakala seseorang setiap saat, setiap waktu, setiap detik, selalu digedor-gedor oleh kesadaran dirinya, oleh suara hatinya, karena kesalahan yang telah diperbuatnya. Apa yang dirasakan seorang tentara Amerika, Kapten John Plummer, salah satu contohnya. Mantan pilot Amerika pada perang Vietnam itu bertahun-tahun dihantui rasa bersalah, setelah serangan bom yang ia lakukan pada 1972 di Trang Bang – sekitar 40 kilometer Saigon – ternyata banyak memakan korban anak-anak kecil. Saat perintah kepadanya datang, Plummer sempat bertanya kepada atasannya tentang bahaya bom itu buat orang-orang sipil. Tetapi atasannya menyatakan bahwa mereka sudah meninggalkan desa.
Tiga hari kemudian, Plummer mengambil koran militer di messnya. Ia sangat terkejut melihat foto seorang anak perempuan yang berlari tanpa selembar kain, dengan latar belakang asap pekat yang mengepul. Anak itu, Kim Phuc, nampak terus berlari dengan mimik menangis dan ketakutan. Plummer menatap foto Kim Phuc dengan perasaan hancur. Apalagi bila ia ingat anaknya, Louis, yang juga hampir seusia Kim. Dalam keadaan sangat terpukul, ia tunjukkan koran itu kepada petugas intelijen yang duduk di seberang, seraya mengatakan, "Saya yang melakukannya.”
Kim akhirnya selamat setelah 14 bulan dirawat dan menjalani operasi cangkok kulit 17 kali, Tetapi cangkok kulit itu membuatnya tidak bisa mengeluarkan keringat sehingga bila suhu panas, rasanya seperti diiris-iris ratusan pisau. Sementara Plummer, semakin kacau dan melarikan diri ke minunam keras, untuk menghilangkan rasa bersalahnya. Perkawinannya pun hancur. Ia bercerai pada 1979. Plummer benar-benar masuk ke lingkaran syetan.
Waktu terus berjalan, hingga suatu hari, Kim yang sudah berusia 33 tahun akan datang pada sebuah acara Vietnam Veterans Memorials. Dalam kesempatan itu, Plummer berhasil menemui Kim, meski nyaris gagal. “I’m sorry, I am sorry. Saya (dulu) tidak bermaksud menyakitimu." Ia masih terus berusaha menjelaskan. Tetapi Kim segera menyahut, “Tidak mengapa.” Saya memaafkan, saya memaafkan," ucap Kim terbata.
Akibat Perang Vietnam, tiga juta tentara dan warga sipil Vietnam tewas. Perang itu juga menyebabkan dua juta warga Vietnam cacat karena pengaruh zat-zat kimia perontok tanaman yang digunakan angkatan udara AS. 72 liter zat kimia dipakai AS dalam perang itu. Sementara itu, 50.000 anak-anak dilahirkan cacat sebagai akibat dioksin (zat kuning) dan senjata kimia lain yang digunakan AS.
Suara hati nurani telah meluluhkan seorang Plummer. Ia baru bisa tenang, setelah dengan penuh keyakinan mendengar langsung kata maaf dari Kim. Dalam pertemuarn yang sangat mengharukan itu, keduanya berusaha saling menghibur.
2. Sahabat yang Paling Bisa Dipercaya
Suara hati kita, adalah sahabat terdekat dan terbaik kita. Suara hati kita tidak pernah berdusta. Meskipun kita berusaha mendustainya. Ia seperti cermin datar, yang bercerita tentang kita apa adanya. Bila tindakan kita baik, ia akan mengatakan baik. Bila buruk juga akan dikatakan buruk. Pertemuan kata hati dengan bimbingan wahyu ilahi telah mengantarkan seorang Cat Steven merengkuh jalan Islam. Padahal karirnya di dunia musik luar biasa. Kelahiran 21 Juli 1948 yang punya nama lengkap Stephen Demetre Georgiou itu menjadi penyanyi populer pada tahun 1970-an. Album-albumnya menuai sukses besar, terutama albumnya “Tea for The Tillerman”.
Hingga suatu hari tiba-tiba ia dikejutkan oleh terjemahan Al Qur’an surat Asy-Syu’ara, ayat 221-227, yang diberikan kakaknya, David Gordon. Ayat-ayat itu berkisah tentang syetan yang turun kepada para pendusta, juga tentang para penyair yang diikuti orang-orang sesat, yang suka berkata apa yang tidak mereka kerjakan. Kecuali para penyair yang beriman dan beramal shalih dan banyak menyebut Allah.
“Surat Asy-Syu’ara seketika telah membuat saya berhenti dari musik dan memaksa saya mengevaluasi hidup saya,” kata Yusuf Islam, alias Cat Steven mengisahkan saat-saat penting proses ke-Islamannya. Dalam sebuah kunjungannya ke Indonesia, di hadapan ratusan mahasiswa sebuah perguruan tinggi, ia sempat melantunkan Al-Qur’an dengan tenang. Sebagian hadirin tak kuasa menahan air matanya.
Tak jauh berbeda dengan kisah Maryam Jamilah. Wanita dari sebuah keluarga Yahudi bernama asli Margaret Marcus itu tinggal di pinggiran New York, Amerika Serikat. Kelahiran 3 Mei 1934 itu dikenal sebagai penulis dan intelektual yang menaruh minat besar dalam bidang agama, filsafat, sejarah, antropologi, sosiologi, dan biologi. Sejak kecil, Margaret yang biasa dipanggil Peggy, sangat giat mendalami berbagai keyakinan dalam rangka mencari kebenaran yang sesuai dengan hati nuraninya, Mulai dari keyakinan leluhurnya, kemudian keyakinan Kristen, Budha. Tetapi dari itu semua, ia belum mendapatkan kebenaran yang selama ini dia inginkan. Apalagi ia cenderung tidak mudah puas terhadap segala sesuatu, kecuali ia telah perdalam terlebih dahulu sesuatu tersebut.
Sebenarnya sejak berumur 12 tahun, ia telah mengenal kehidupan Islam dari buku-buku yang ia baca. Seperti misalnya The Lance of Kanana, sebuah buku yang mengisahkan kehidupan seorang anak Badui yang tinggal di gurun Arab. Kemudian Camel Bells: A Boy of Baghdad, sebuah buku yang mengisahkan kehidupan seorang anak Irak miskin yang diangkat anak oleh sebuah keluarga Badui.
Setelah dewasa, interaksi dengan Islam semakin kuat tatkala ia membaca terjemahan Qur’an dan buku-buku karangan sarjana Barat yang masuk Islam, Muhammad Assad. Misalnya saja, The Road to Mecca dan Islam on the Crossroads. Akhirnya, pada 24 Mei 1964, ia memantapkan hatinya untuk masuk Islam secara terbuka di Islamic Mission di Brooklyn, New York. Sejah itu ia berganti nama menjadi Maryam Jamilah.
Segalanya memang harus dimulai dari kata hati. Hidayah memang datang dari Allah, tetapi proses pencarian hidayah itu berada dalam lingkup ikhtiar manusia. “Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.” (Qs. Muhammad: 17).
3. Pilar Penegakan Hukum yang Paling Kuat
Hati nurani adalah pilar paling kokoh untuk menegakkan hukum. Karena perangkat-perangkat fisik, bahkan aturan perundang-undangan sangat mudah direkayasa, dimanipulasi, bahkan dipalsukan. Seperti pada sidang Tragedi Priok, 12 September 1984. Pada 1999 lalu, HM Dault (almarhum), mantan Ketua Tim Pembela Kasus Tanjung Priok, menuturkan. Di persidangan, 28 mubalig muda yang dituduh terlibat kasus Priok,
dihadapkan dengan sejumlah barang bukti, berupa golok, panah, bambu runcing dan clurit. Polisi dan jaksa menyebut, barang bukti itu digunakan 28 mubalig untuk menyerang kodim – bersama ribuan orang –, pada malam sebelum terjadinya kasus Priok. HM Dault lantas menanyakan pada saksi, seorang Babinsa yang membawa masuk barang bukti itu ke pengadilan. Dault bertanya, “Ini barang buktinya?” Dijawab, “Siap Pak!" “Bagus ya, kok baru-baru semua. Ini dibeli di mana?" lanjut Dault. “Siap Pak! Di pasar!” jawab Babinsa itu. Sidang pun geger dengan gelak tawa hadirin. Babinsa itu sendiri pucat setelah bicara demikian. Tidak saja manusia yang dituduh, golok-golok yang masih baru pun dituduh telah dipakai menyerang. Tetapi, kisah hakim pada kasus lain memberi pelajaran tentang sulitnya mendustai hati nurani. Meski sesudah itu, tidak semua hakim lantas bertindak adil. Seperti para hakim yang mengadili Umar Abduh, yang oleh penguasa masa Orba dikenakan tuduhan subversif dalam kasus Cicendo. Ia, yang sejak 1979 gencar berceramah menentang P-4 dan mewanti-wanti umat soal Pancasila yang akan dijadikan alat mengeliminir umat, ditangkap pada 1981. Di tahanan, seperti dialami para mubaligh muda saat itu, ia sempat dihajar 13 perwira dan kolonel selama 2 setengah jam. Selama 6 bulan ia diperiksa di kejaksaan, dengan menggunakan BAP hasil militer. Saat itu, beberapa jaksa ada pula yang memihak padanya dan menganjurkan, kalau mau “nekat” sekalian, tolak saja BAP itu di persidangan nanti.
Akhir 1982 perkaranya baru diadili. Dalam pledoi-nya, ia menyatakan pengadilan tidak berwenang mengadili perkaranya. Ia tak mau berhubungan dengan perkara itu, karena menurutnya, para hakim tidak mampu menunjukkan eksistensi sebagai seorang muslim. Ia pertanyakan, “Kalian sebagai muslim atau sebagai kafir menjadi hakim. Pengadilan ini pengadilan Islam atau pengadilan kafir?" Setelah itulah, di dalam penjara ia menerima surat beberapa hakim yang memohon maaf. Juga mohon pengertian supaya tidak menyangka hakim memiliki hati yang sedemikian buruk. Mereka memohon pengertian atas kondisi mereka, yang berada dalam tekanan. Ada lagi kisah pledoi yang dibacakan beberapa mubalig dalam kasus yang serupa, kasus Lampung, yang membuat hakim dan jaksa sampai menitikkan air mata. Di dalam pledoi para mubalig itu mengingatkan hakim dan jaksa soal tuntutan di akhirat bagi penegak hukum yang melanggar keadilan.
Mungkin manusia begitu perkasa bersembunyi dibalik struktur keangkuhannya, kebengisannya, atau kemunafikannya. Tetapi sebenarnya ia tidak akan pernah bisa berdusta pada hati nuraninya.
4. Mata Air Kedamaian
Kejujuran pada hati nurani, yang disirami dengan iman dan keyakinan kepada Allah, adalah mata air kedamaian yang tak pernah kering. Keduanya menjadikan seorang muslim tetap tegar, di saat orang lain berguguran. Ia membuat seorang muslim tetap tenang di saat orang lain ketakutan.
Zainab Al-Ghazali Al-Jabili, adalah contoh nyata bagaimana hati nurani dan iman menjadi mata air kedamaian yang luar biasa. Wanita pejuang Ikhwanul Muslimin itu tak sedikit pun merasa sedih ketika ia harus mendekam dalarn penjara pemerintah Mesir, di bahwa tangan diktator Garnal Abdul Naseer. Mula-mula, Zaenab dimasukkan ke sel 24. Sel ini sangat terkenal di kalangan para tahanan. Sel itu penuh dengan anjing-anjing buas. Tubuh Zaenab ditendang, dan segera dengan rapat pintu sel digembok. Tiba-tiba lampu menyala.
Serentak anjing-anjing buas tersebut berebut menerkam seluruh tubuh Zaenab. Dalam keadaan ketakutan, ia menyibukkan diri dengan membaca Asmaul Husna. Di tengah tusukan taring-taring yang menghujam itu, Zaenab berdoa, “Ya Allah sibukkanlah diriku dengan Engkau dari yang lainnya. Engkaulah tempat mengadu, bawalah aku ke sisi-Mu, limpahilah aku anugerah-Mu. Anugerahkanlah cinta-Mu kepadaku dan tabahkanlah aku ya Allah dan semua kaurn muwahhidin.”
Beberapa saat setelah pintu sel terbuka barulah Zaenab menghentikan do’anya dan membuka mata. Alangkah menakjubkan dan kagetnya dia, melihat baju yang ia kenakan masih utuh dan seluruh tubuhnya tak ada cacat secuilpun. "Ya Allah, apakah seorang macam aku ini layak memperoleh anugerah-Mu dan kehormatan sebesar itu, kepada-Mu lah segala puja dan puji," begitu Zaenab berdo’a.
Beberapa hari kemudian, menjelang tengah hari yang terik, Zaenab baru saja dikeluarkan dari sel air. Selang beberapa saat seorang perwira bernama Shafat memasukkan seorang prajurit bertubuh raksasa hitam gempal. Shafat pun memerintahkannya untuk memperkosa Zaenab. “Kalau melawan, pecut saja!" begitu perintah Shafat kepada prajurit itu. Zaenab kembali menyibukkan diri dengan doa sembil menatap wajah prajurit itu tajam-tajarn. Tiba-tiba Zaenab terperanjat. Ternyata prajurit yang berwajah garang tersebut bersikap lembut dan berkata, “Jangan takut Khalah, saya tidak akan mengusikmu, meski mereka memotongku menjadi berkeping-keping.”
Prajurit itu bertanya, mengapa mereka menyiksanya. Zaenab menjawab, “Saya berda’wah untuk cita-cita agar hukum Islam diterapkan dalam negara ini.” Prajurit tersebut tidak melaksanakan perintah Shafat, hingga saat dhuhur tiba. Zaenab pun melaksankan sholat. Setelah selesai shalat, prajurit tersebut berkata kepada Zaenab, "Do’akan saya, semoga Allah memberi hidayah kepada saya agar menunaikan sholat." Lalu dengan geramnya prajurit tersebut berteriak, "Kalian bukan manusia! Semoga Tuhan menghancurkan rumah tanggamu, hai Abden Naser!"
Zaenab mengajari prajurit itu sholat, hingga ia berani sholat di dalam sel itu. Ketika ia tengah sholat, datanglah Shafat. Mendadak pintu sel terbuka dengan keras. Shafat langsung memukul orang tersebut sekeras-kerasnya. Prajurit itu dihadapkan ke pengadilan militer. Hingga akhirnya dihukum tembak mati.
Hal yang agak berbeda, terjadi pada seorang pastor di Indonesia, Pater Martinus Anton Wesel Brouwer. Biarawan pada Ordo Fransiskan yang biasa menyingkat namanya dengan MAW Brouwer itu dikenal sebagai seorang pastur dan ahli jiwa. Ia diakui telah meletakkan dasar psikologi di Indonesia. Sebagai seseorang yang memegang otoritas keagamaan dan faham tentang seluk beluk kehidupan dan jiwa manusia, tentunya ia begitu dekat dengan konsep kematian dan kehidupan sesudahnya berdasarkan keyakinannya. Tetapi tiga tahun sebelum kematiannya, ia mengatakan kepada kawannya, “Saya paling takut pada kematian." Ia menambahkan, “Sekarang saya takut mati, Ibarat seorang filsuf yang banyak berpikir tentang maut, saya merasa gentar ketika harus menghadapinya.”
Teman-temannya heran. Bukankah ia pastor? Bagaimanakah dengan keyakinannya bahwa ia telah diselamatkan? Salah seorang sahabatnya mengatakan, "Hendaknya Pater bersikap pasrah seperti orang Islam.” Pater menjawab, “Ya, saya akan banyak belajar dari orang Islam.” Akhirnya pada 19 Agustus 1991, kematian yang ditakutinya itu datang juga. Sebelumnya ia berhari-hari tidak mau makan dan minum, barangkali disebabkan oleh bayang-bayang malaikat maut.
Kematian dan kehidupan hanya datang sekali. Ada yang menyongsongnya dengan tenang, ada pula yang penuh kegundahan. Kematian adalah pelajaran bagi orang-orang yang mau mendengar kata hatinya, untuk kemudian mencari dan memohon petujuk Allah swt.
5. Pilar Keseimbangan
Suara hati nurani adalah titian fitrah. Segala makhluk diciptakan Allah atas fitrahnya yang lurus. Begitupun alam semesta, dari binatang hingga tumbuh-tumbuhannya. Fitrah adalah pilar keseimbangan.
Kalau kita perhatikan data grafik curah hujan pada setiap musim hujan, maka pada hujan pertama curahnya umumnya relatif kecil. Artinya hanya terjadi gerimis, dan belum hujan lebat. Demikian pula untuk menuju hujan kedua atau ketiga, pasti ada selang waktu beberapa hari. Ternyata ada rahasia keseimbangan di balik proses itu. Hujan gerimis pertama kali ternyata berpengaruh terhadap partikel-partikel tanah kering (sehabis musim kemarau), Dan partikel-pertikel ini diperkuat oleh benang-benang yang dihasilkan jamur-jamur tanah. Jamur-jamur itu mulai aktif saat gerimis pertama tiba. Ilmuwan Watson, Stojanovic, Haris dan Martin mengemukakan bahwa kondisi ini terbentuk oleh agregat-agregat tanah yang mantap. Adapun adanya selang waktu hujan mengakibatkan terjadinya pembengkakan dan pengerutan (sweelling and shrinking) pada tanah. Menurut llmuwan Raver, Hewitt dan Dexter hal ini sangat penting bagi penyempurnaan agregasi tanah. Sehingga kondisi tanah pertanian menjadi sempurna, dan para petani akan mudah mengolahnya. Selain itu, proses-proses itu menjadikan tanah telah siap menerima hujan deras selanjutnya. Siapnya tanah untuk menerima hujan deras itu berarti mampu meminimalisir potensi erosi yang kemungkinan besar muncul. Begitulah alam berjalan di atas fitrahnya. Seperti yang telah dijelaskan Allah, “Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran tertentu." (Qs. Al-Mukminun: 18).
Segalanya begitu jelas. Hati nurani yang bersih, suara hati yang jujur memberi kita begitu banyak kebaikan. Sebuah pemberian yang tanpa pamrih dan tak pernah habis, Hanya dibutuhkan kesungguhan, kerelaan, dan kelapangan untuk mendengarkan suara-suara hati nurani. Untuk kemudian memohon taufik kepada Allah atas segala keputusan yang terjadi sesudah itu. –wallahu’alam-
sumber : http://beranda.blogsome.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar