Banyak manusia yang salah dalam melakukan perhitungan dalam mencari
keberuntungan. Banyak yang salah jalan. Terjebak dengan fatamorgana.
Sebagai seorang muslim, kita harus memahami apa sebenarnya tugas kita.
Allah telah menegaskan bahwa tujuan penciptaan kita adalah untuk
beribadah kepadanya. Rangkaian aktivitas apapun yang kita lakukan
hendaknya mengandung nilai ibadah.
Semua sisi-sisi kehidupan yang kita lalui terwarnai dengan nilai ibadah.
Islam telah mengatur semua sektor kehidupan, mengatur berbagai hal.
Mulai dari kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat dan secara
global dunia internasional. Mengatur hal-hal yang ringan dan berat.
Sudah selayaknya dan seharusnya kehidupan kita disesuaikan dengan apa
maunya Islam. Ketika ini mampu kita selaraskan, maka kebahagiaanlah yang
akan dapat kita raih.
Berikut kisah menarik dari Rasulullah yang perlu kita cermati dari
sebuah hadits Abu Hurairah rodhiyallohu anhu dari nabi shollallohu
alaihi wa sallam bersabda:
"Ketika ada seorang sedang berjalan di sebuah padang yang luas tak
berair, tiba-tiba dia mendengar suara dari awan (mendung), 'Siramilah
kebun si fulan!' maka awan itu menepi (menjauh) lalu mengguyurkan airnya
di tanah bebatuan hitam.
Ternyata ada saluran air dari saluran-saluran itu yang telah penuh
dengan air. Maka ia menelusuri (mengikuti) air itu. Ternyata ada seorang
laki-laki yang berada di kebunnya sedang mengarahkan air dengan
cangkulnya.
Kemudian dia bertanya, 'Wahai hamba Allah, siapakah nama anda?' dia menjawab, 'Fulan'.
Sebuah nama yang didengar dari awan tadi. Kemudian orang itu balik
bertanya, 'Mengapa anda menenyakan namaku?' dia menjawab, 'Saya
mendengar suara dari awan yang ini adalah airnya, mengatakan Siramilah
kebun si fulan! yaitu nama anda. Maka apakah yang telah anda kerjakan
dalam kebun ini?'
Dia menjawab, 'Karena anda telah mengatakan hal ini maka akan saya
ceritakan bahwa saya memperhitungkan (membagi) apa yang dihasilkan oleh
kebun ini; sepertiganya saya sedekahkan; sepertiganya lagi saya makan
bersama keluarga dan sepertiganya lagi saya kembalikan lagi ke kebun
(ditanam kembali). HR. Muslim
Dalam riwayat lain disebutkan:
Dan aku jadikan sepertiganya untuk orang-orang miskin dan peminta-minta serta ibnu sabil (orang yang sedang dalam perjalanan).
Yakinlah bahwa apa yang kita infaqkan di jalan Allah akan mendapatkan
balasan langsung di dunia, kalaupun belum ia akan kita dapatkan yang
lebih baik lagi di akhirat kelak. Jangan khawatir harta kita berkurang,
yakinlah ia akan bertambah dan menjadi barokah.
Allah SWT berfirman :
"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik
(menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat
gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah
menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu
dikembalikan." (Al-Baqarah: 245).
"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah
seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir. Pada tiap-tiap butir
seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia
kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) dan Maha Mengetahui."
(Al-Baqarah: 261).
Nabi SAW :
"Tiga hal yang aku bersumpah atas ketiganya;
1. Tidak berkurang harta karena shodaqoh,
2. Tidak teraniaya seorang hamba dengan aniaya yang ia sabar atasnya, melainkan Alalah Azza Wajalla menambahkan kemuliaan, dan
3. Tidak membuka seorang hamba pintu permintaan melainkan Allah membuka
atasnya pintu kefakiran" (HR Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Tiada pagi hari, melainkan ada dua malaikat yang turun, kemudian salah
satunya berkata (berdo’a) : “Ya Allah, berilah pengganti bagi orang yang
berinfak”, sedangkan yang lain berdo’a :”Ya Allah, timpakanlah kepada
orang yang kikir (tidak berinfak) kehancuran” [Muttafaqun alaih]
Sudahkah kita hari ini menginfaqkan sebagian dari harta kita?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar