Jika kita berbicara tentang para mujahid yang dirindu para bidadari
syurga selayaknya Imam Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb, dan Abdullah Azzam,
rasanya belum lengkap apabila belum membahas ini dalam versi
muslimahnya. Ya, mujahidah abad ini yang menjadi salah satu orang yang
patut membuat cemburu para bidadari di syurga adalah Zainab Al-Ghazali.
Muslimah tangguh itu seorang aktivis dan pendiri Jamaat Al-Sayyidat
Al-Muslimat (Perhimpunan Perempuan Muslim) saat usianya masih sangat
muda, 18 tahun. Beliau juga biasa disebut sebagai pejuang wanita
Ikhwanul Muslimin.
Zainab Al-Ghazali adalah wanita yang sangat
luar biasa. Tokoh perempuan asal Mesir ini begitu gigih memperjuangkan
persamaan hak kaum perempuan berdasarkan keyakinannya, sesuai doktrin
ajaran Islam yang benar. Dia tidak setuju dengan ide-ide sekuler tentang
gerakan pembebasan perempuan. Perhimpunan yang didirikannya pun mampu
melahirkan generasi dai-dai wanita yang mempertahankan status perempuan
dalam Islam. Mereka meyakini dan mampu meyakinkan masyarakat bahwa agama
Islam memberikan peluang sebesar-besarnya bagi perempuan untuk
memainkan peranan penting di masyarakat, baik itu memiliki pekerjaan,
terjun di dunia politik, dan bebas dalam mengeluarkan, namun tetap tidak
mengesampingkan fungsi utama perempuan dalam mengurus rumah tangga dan
sebagai ibu.
Zainab Al-Ghazali mengingatkan kita pada sosok yang
begitu dekat dengan negeri ini, RA. Kartini. Begitu pun dengan
tulisan-tulisannya. Jika kita ingat tulisan Kartini yang berjudul “Habis
Gelap Terbitlah Terang” mengandung gagasan dan kecaman terhadap Barat,
maka buah pena dari Zainab Al-Ghazali mampu menyeret dirinya hingga ke
dalam tahanan.
Suatu ketika ia melihat kondisi pemerintahan
Mesir melakukan kezhaliman yang luar biasa. Dilandasi semangatnya yang
mendalam, Zainab mengirimkan tulisan ke media massa nasional yang isinya
mengkritisi kebijakan pemerintah Mesir. Tulisan Zainab serta-merta
mendapat respons negatif dari pemerintah Mesir. Maka, pada suatu malam
diculiklah Zainab oleh aparat pemerintah Mesir. Zainab lalu dimasukkan
ke kamar sempit yang gelap gulita dalam kondisi terikat. Beberapa menit
kemudian lampu kamar dinyalakan. Dan ternyata di dalam kamar tersebut
telah berkumpul puluhan ekor anjing yang disiapkan untuk menyiksa
Zainab. Dengan dibalut pakaian putih, Zainab tak henti-hentinya berdoa.
“Ya Allah, sibukkanlah aku dengan mengingati-Mu, sehingga hal yang lain tak terasakan olehku”
Anjing-anjing
tadi pun menyerang Zainab. Menggigit sekujur tubuh Zainab. Ia hanya
mampu memejamkan mata, tak sanggup menyaksikan puluhan anjing tadi
menggerogoti tubuhnya. Tak berapa lama kemudian, pintu kamar dibuka
kembali dan lampu dinyalakan. Subhanallah, dengan izin Allah, Zainab tak
mendapati sedikit pun luka di sekujur tubuhnya. Allah Azza wa Jalla
telah menunjukkan kekuasaan-Nya pada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki.
Dan Zainab sebagai juru dakwah tulisan telah melakukan hal yang patut
menjadi renungan untuk para aktivis dakwah tulisan pada hari ini.” (Dalam “Tinta-Tinta Dakwah”, Dwi Suwiknyo dkk)
Zainab
Al-Ghazali meninggalkan jejak perjuangannya, ia wafat pada 3 Agustus
2005 di usia 88 tahun. Zainab telah mengajarkan banyak hal, dari
kekuatan aqidahnya, perjuangan kewanitaannya hingga goresan-goresan
penanya. Bahkan saat bebas dari tahanan ia mampu melahirkan karya
berjudul Ayyamun min Hayati (Hari-Hari dari Hidupku). Di
dalamnya, ia melukiskan bagaimana ia menerima siksaan yang melampaui
kekuatan kebanyakan laki-laki saat berada dalam tahanan. Salah satunya
adalah saat ia dimasukkan ke dalam ruangan gelap yang dipenuhi
anjing-anjing lapar. Dalam buku itu, Zainab menegaskan bahwa hanya
pertolongan Allah dan keyakinanlah yang membuatnya tabah dan membuatnya
dapat bertahan hidup.
Ya, hanya kekuatan aqidah yang menghujam
dari hati seorang muslim yang mampu mengantarkan kita pada ridha-Nya,
meskipun pengorbanan yang ada datang bertubi-tubi. Saya jadi teringat
dengan kisah Sayyid Quthb saat menjelang eksekusi kematiannya. Saat itu
Sayyid Quthb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Telunjuk yang
senantiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalat, menolak
untuk menuliskan barang satu huruf penundukkan atau menyerah kepada
rezim thawaghut….”
Semoga dari kisah perjuangan para
mujahid dan mujahidah ini dapat membuat kita semakin mencintai
perjuangan di jalan-Nya. Amin allahumma amin…
klik disini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar