Meski pun luas arealnya tidak mencapai dua kilometer, namun Kota
Banda Naira yang tersembunyi di balik gunung berapi aktif ini sudah
dikenal dunia sekitar abad XV silam, tepatnya pada era penjelajahan
samudera oleh sejumlah bangsa Eropa maupun saudagar asal Arab, India,
dan Gujarat.
Sulit dan mahalnya harga rempah-rempah dunia saat
itu, maupun keinginan mencari daerah jajahan baru bagi bangsa Eropa
membuat mereka berlayar jauh ke wilayah timur dan bisa menemukan
kepulauan Indonesia, dan terus berpetualang mencari pusat rempah-rempah
ke Maluku dan Maluku Utara.
Beberapa pulau di Maluku dan Maluku
Utara memang ditemukan komoditas cengkih dan pala yang harum sehingga
bangsa Eropa seperti Portugis dan Belanda berani mengerahkan armada
kapal dan tentaranya berlayar menembus keganasan lautan untuk datang ke
Maluku.
Setiap lokasi yang didarati langsung dibangun benteng
pertahanan dan menjadikannya sebagai pusat pemerintahan, terutama di
Pulau Banda.
Mungkin orang masih mengingat sejarah lahirnya
perjanjian Zaragosa dan Tordesilas di Eropa yang intinya melakukan
penjelajahan samudera dengan cara berlayar melintasi kutub utara dan
selatan bumi dan akhirnya bertemu di Maluku atau Maluku Utara.
“Makanya
tidak heran kalau sekitar tahun 1511 silam, Bangsa Portugis pertama
kali menjejekkan kakinya di Pulau Banda dan berusaha membangun sebuah
benteng pertahanan,” kata salah satu warga Banda Naira, Abdullah Karem.
Pria
berusia sekitar 70-an tahun itu menuturkan, pengerjaan benteng oleh
Portugis yang terletak di atas bukit pada pesisir selatan Pulau Banda.
Kemudian
sekitar tahun 1603, masuklah Bangsa Belanda dan membuat pertahanan
dengan membangun “Port Nassau” atau benteng air sekitar tahun 1607 di
atas pondasi bekas benteng yang dibangun Portugis.
Pembangunan
benteng air ini melibatkan 700 prajurit Belanda dan dipimpin Admiral
Verhoef dibawah pemerintahan gubernur jenderal VOC yang opertama, Pieter
Both.
“Boleh dibilang organisasi dagang Belanda atau VOC pertama kali juga dibentuk di Pulau Banda,” katanya.
Dikatakan
Port Nassau atau benteng air karena posisi bangunannya dikelilingi
parit atau kanal-kanal air saat itu, meski kondisi sekarang sudah
mengering.
Kepala Kecamatan Banda Naira, Kadir Sarilan
menjelaskan, saat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang melakukan
pemugaran tahap pertama terhadap benteng air tersebut dengan
menggunakan APBN senilai Rp1,316 miliar.
Dari Port Nassau,
Kolonial Belanda di bawah perintah Gubernur Jenderal Pieter Both dan
dilanjutkan dengan gubernur jenderal lainnya mulai mendirikan
bangunan-bangunan antik lain bergaya Eropa antara lain istana mini
dengan tiang pilar yang tinggi dan banyak, benteng Belgica yang
berbentuk prisma, gereja, gedung pertemuan untuk kegiatan minum teh dan
tempat santai para pejabat organisasi dagang Belanda VOC, baik sipil
maupun militer.
Pada tahun 1667, Admiral Cornelis Speelman tiba di
Pulau Naira dan meminta Adrian de Leeuw yang merupakan seorang arsitek
ulung asal Belanda merancang benteng pertahanan yang baru guna
pengembangan Belgica II.
Benteng ini dirancang dengan struktur
pentagon dan ditopang lima menara besar pada bagian dalam benteng, dan
struktur pentagon lain dengan lima bastion di sisi luarnya.
Proses
pembangunan benteng yang bangunannya mirip dengan gedung pertahanan
Pentagon Amerika Serikat ini dimulai dari tahun 1672 hingga 1673 tanpa
mengalami kendala yang berarti.
Benteng ini dapat menampung 400
tentara dengan persenjataan lengkap serta meriam dan pada tahun 1795
dipugar oleh Francois van Boechkholz, namun dalam tahun 1796 mendapat
diserang serta direbut tentara Inggris dan menguasai Banda hingga awal
abad 19.
Tidak Tersaingi Asisten Deputi Pasar dan Bisnis
Kementerian Pariwisata, Taswir Abdulah mengatakan, salah satu kekuatan
Banda Naira ini tidak bisa disaingi oleh siapa pun termasuk sejarah
kebangsaan Indonesia.
Karena di Banda Naira, selain ada rumah yang
menjadi tempat pengasingan sejumlah tokoh nasional dan proklamator oleh
Belanda seperti Bung Hatta dan Cipto Mangunkusumo, jaman penjajahan
sangat menarik untuk dikisahkan kepada para turis sebagai salah satu
objek wisata sejarah.
“Jadi tidak berlebihan kalau Bupati Malteng,
Abua Tuasikal juga memberikan perhatian serius untuk mengembangkan
pariwisata di sini, bagaimana ada aksesnya, tarik minat orang berkunjung
sehingga kita undang banyak waratwan dari Jakarta supaya mereka
menulis,” kata Taswir saat menghadiri festival budaya Banda Naira 2015
yang diselenggarakan Pemkab Malteng.
Menurut dia, pariwisata itu
sebenarnya peran informasi dan publikasi jadi kita harus pandai
menginformasikan ke media nasional untuk menarik minat wisatawan asing
dan domestik.
“Khusus untuk istana ini bagus sekali pemandangannya
di tepi laut, saya lihat benteng Nasau juga sementara direhab, tetapi
perlu dilengkapai dengan kisah keberadaan bangunan khas Eropa abad 15
itu dan siapa saja figur yang menjabat sebagai gubernur jederal di
situ,” ujarnya.
Kementerian juga mengharapkan Festival akbar
budaya Banda Naira ini dijadikan kegiatan rutin setiap tahun agar
pemerintah pusat dan daerah bisa membesarkannya secara bersama sehingga
menjadi pemicu menarik kunjungan orang ke Pulau Banda.
“Saat ini
hampir seluruh daerah di Indonesia melaksanakan lomba seperti perahu
belang dan yang sudah menjadi tradisi rakyat Banda harus dipertahankan,”
kata Taswir.
Merasakan efek positif dari pembangunan pariwisata
tentu saja bisa dilihat perkembangannya secara signifikan pada lima
tahun mendatang dan berkembang secara bertahap, dan yang terpenting
adalah membuat paket-paket wisata kepada orang yang datang sambil nonton
berbagai kegiatan pesta rakyat.
Oleh karena itu, perlu
menghidupkan semua biro perjalanan supaya menjual paket ke sini,
kemudian diharapkan setiap hari ada penerbangan maupun jalur pelayaran
yang masuk Banda Naira.
Dia juga mengatakan nilai jual di sini
tinggi seperti keberadaan istana mini dapat disulap menjadi tempat
spesial untuk menjamu para turis yang ingin mencicipi aneka hidangan
khas Banda di situ.
“Kebetulan saya dan Pak Bupati ini lama di
Yogyakarta dan bisa melihat bagaimana orang ingin makan malam di istana
keraton, meski harus membayar mahal, sebab makan malam di hotel itu
biasa tetapi nilai jual bangunan bersejarah itu sangat tinggi dan harus
dirawat karena ini merupakan aset,” tandasnya.
Apalagi pemerintah
sekarang ini sangat serius mengembangkan pariwisata dan menargetkan 20
juta orang wisatawan asing dan 275 juta wisatawan domestik berkunjung ke
seluruh Indonesia.
Itu berarti semua daerah digerakkan untuk
meningkatkan program pengembangan pariwisata dan mendapatkan dukungan
penuh pihak kementerian.
“Kita fokus pada promosi daerah-daerah
yang serius ingin mengembangkan pariwisatanya dan Banda Naira terdapat
objek wisata sejarah dan budaya serta memiliki istana mini di tepi laut
yang dibangun sejak zaman Belanda menduduki pulau ini,” katanya.
Sementara
Bupati Malteng, Abua Tuasikal mengatakan, kegiatan ini menumbuhkan
semangat dan kecintaan masyarakat terhadap budaya lokal sekaligus
melestarikan budaya sebagai sumber inspirasi dan modal sosial yang turut
menentukan keberhasilan pemerintahan, pembangunan, dan kemaslahatan.
Pemkab
Malteng memastikan akan selalu menyelenggarakan kegiatan seperti ini
setiap tahun dan dijadikan momentum yang baik untuk melestarikan potensi
sejarah budaya Banda sebagai warisan budaya dunia, sekaligus dapat
menjadi ajang promosi potensi budaya dan wisata.
Hal itu dilakuian
agar pada waktunya dapat menarik minat investasi di bidang pariwisata
maupun menarik minat wisatawan lokal dan mancanegara untuk menambah
kontribusi bagi pembangunan sektor pariwisata.
“Adanya kegiatan
lokal dalam bentuk lomba perahu belang klompen raksasa, kuliner, mancing
tradisional, dan foto bawah laut tentunya dapat dimaknai sebagai upaya
merekam potensi keindahan alam dan budaya lokal yang dimunculkan sebagai
hasil cipta karya masyarakat di sini,” tandas Bupati.
Dengan
mewujudkan aneka kegiatan tersebut, diharapkan keindahan alam dan budaya
masyarakat sudah waktunya dikemas bukan saja sebagai suatu tontonan dan
hiburan, tetapi disajikan sebagai tuntunan dalam basis kebudayaan
masyarakat sesungguhnya untuk pembangunan karakter dan jati diri bangsa.
Melalui
momentum ini diharapkan basis-basis komunitas pendukung budaya lokal
maupun pelestarian sumberdaya alam sudah harus mendapat perhatian serius
semua pihak untuk diprogramkan untuk dibina serta diberdayakan.
Pemkab
menyadari potensi sumber daya alam dan budaya lokal yang tumbuh, hidup,
serta mekar dan berakar dalam masyarakat berabad-abad hingga kini telah
terbukti memberi warna dan nilai positif bagi kelangsungan berbangsa
dan bernegara.
“Saya harapkan kegiatan ini mampu menghasilkan
suatu pemahaman diantara pempus, pemda dan stakeholder tentang potensi
SDA dan kebudayaan lokal di kecamatan Banda yang dijadikan sebagai unsur
kebudayan Malteng,” ujarnya.
Kegiatan ini juga diharapkan dapat
dimanfaatkan sebagai ruang ekspresi budaya dan perekat hubungan sosial
masyarakat untuk mewujudkan kesamaan persepsi dalam memperkokoh
persatuan dan kesatuan kita menuju terwujudnya Malteng yang lebih
berkualitas, sejahtera, damai, dan berkeadilan.sumber : klik disini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar