Pernah dengar nama Pulau Run di Maluku? Kalau tidak pernah, bisa
dimaklumi. Pulau yang terletak di Kepulauan Banda (Maluku) ini sangat
kecil, hanya 3 kali 1 kilometer besarnya. Tapi pulau inilah yang
mengubah sejarah dunia. Kalau tidak gara-gara buah pala dari Pulau Run,
kota New York saat ini mungkin masih bernama New Amsterdam.
Belanda
dan Inggris ketika itu tidak rukun seperti sekarang. Keduanya saling
bercakaran yang dikenal dengan nama Perang Inggris-Belanda (Anglo-Dutch
Wars) yang berlarutan selama lebih dari 100 tahun (1652-1784).
Gara-garanya adalah perebutan dominasi atas jalur perdagangan melalui
laut di antara kedua negara adikuasa maritim tersebut.
Pulau Run
sendiri, walaupun ukurannya kecil tapi kaya dengan pohon pala yang
menjadi incaran penduduk Eropa, tak henti-hentinya menjadi rebutan
antara Inggris dan Belanda. Para pedagang Inggris di bawah bendera
perusahaan East India Company pertama kali datang di Pulau Run pada
tahun 1603 yang kemudian mengikat perjanjian dengan penduduk lokal untuk
menjual buah pala hanya kepada Inggris.
Perusahaan dagang
Belanda, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) datang di Amboyna
(Ambon) pada tahun 1605 dipimpin oleh Steven van der Hagen. Ibarat
anjing bertemu kucing, pertemuan VOC dan East India Company di Kepulauan
Maluku menciptakan ketegangan yang memaksa pemerintah kedua negara
meneken persetujuan Treaty of Defence di London (1619) yang intinya
kedua perusahaan harus bekerjasama secara adil.
Dasar anjing dan
kucing, walaupun sudah meneken perjanjian kerjasama, keduanya masih
bercakaran. Puncaknya adalah peristiwa Pembantaian Amboyna (1623) yang
menyaksikan sepuluh orang Inggris dipenggal kepalanya oleh pihak Belanda
atas tuduhan melakukan konspirasi untuk membunuh kepala VOC Amboyna,
Herman van Speult.
Pembantaian Amboyna ini di kemudian hari
dijadikan alat propaganda oleh pihak Inggris untuk mengobarkan Perang
Inggris-Belanda. Walaupun tragedi Pembantaian Amboyna sudah dicoba
diselesaikan secara politik melalui Perjanjian Westminster (1654), masih
ada pihak-pihak di Inggris yang mencoba membangkitkan kenangan atas
tragedi tersebut, yang kemudian menjadi sebab utama berkobarnya Perang
Inggris-Belanda babak kedua (1665-1667).
Inggris yang masih
menyimpan dendam atas Pembantaian Amboyna, melakukan provokasi dengan
menyerang kapal-kapal Belanda dan tidak balas menghormat ketika awak
kapal Belanda menghormati bendera Inggris. Pada 24 Juni 1664 Inggris
melakukan provokasi luar biasa dengan menyerang koloni Belanda di
Amerika Utara, yaitu New Amsterdam (sekarang New York). Belanda balik
membalas dengan merampas pos-pos perdagangan Inggris di Afrika. Akhirnya
perang babak kedua secara resmi dideklarasikan oleh Raja Inggris
Charles II pada 4 Maret 1665.
Bak-bik-buk selama dua tahun,
akhirnya keduanya lagi-lagi berdamai. Di kota Breda (Belanda) yang
terkenal dengan akademi militernya, Inggris dan Belanda menandatangai
Perjanjian Breda (Treaty of Breda) pada 31 Juli 1667. Dua poin
terpenting perjanjian tersebut adalah:
1. Inggris mendapat klaim
atas koloni Belanda di Amerika Utara yang bernama New Amsterdam, yang
kemudian ditukar namanya menjadi New York;
2. Sebagai gantinya, Belanda mendapat kuasa penuh atas Pulau Run di Maluku yang kaya-raya dengan tanaman pala.
Mungkin
Anda baru sadar bahwa Pulau Run yang namanya jarang masuk berita itu
ternyata pernah dibarter dengan New York yang kini menjadi salah satu
kota tersibuk di dunia!sumber : klik disini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar